Perkembangan industri telekomunikasi khususnya komunikasi bergerak, mulai bertumbuh signifikan sejak teknologi GSM masuk di Indonesia (1994) menggantikan teknologi AMPS dengan segala keunggulannnya mulai cakupannya, mobilitas roaming serta ukuran dan harga ponsel yang menjadi lebih terjangkau konsumen. Sejarah operator GSM dimulai dari Satelindo (1994), Telkomsel (1995) dan XL (1996) kala itu. Menarik melihat perkembangan telekomunikasi bergerak dalam kurun waktu lebih dari dua dasa warsa, saya pribadi mengklasifikasinya dalam periode tersebut sebagai berikut: fase adaptasi dan pertumbuhan (1994-2006), fase yield (2007-2010), konsolidasi operator (2011- ? ).
Pada masa awal saat adaptasi teknologi baru (GSM) diikuti pertumbuhan yang signifikan (masa keemasan) tentu menarik hadirnya operator baru lainnya seperti IM3 yang dimiliki Indosat (saat itu core business-nya di bidang SLI: Sambungan Langsung Internasional berikut layanan satelit) dan memiliki saham di Telkomsel. Setelah menjual seluruh sahamnya di Telkomsel, Indosat mengakusisi Satelindo dan melakukan merger dengan IM3 menjadi operator GSM Indosat. Sekitar 2005 hadir operator baru dengan teknologi alternatif lainnya (CDMA) seperti Mobile 8, Esia, Flexi (Telkom), Star One (Indosat), Ceria (Sampoerna Telekom, di sekitar Sumatera), kemudian dilanjutkan hadirnya Lippo Telekom (mulai dari Jawa Timur yang kemudian melebur jadi Natrindo Selular dan diakusisi oleh Maxis Malaysia dan Saudi Telekom, kemudian menjadi Axis dan pada 2013 diakusisi XL Axiata), Charoen Phokpand membeli lisensi 3G yang kemudian bermitra dengan Huthchinson (Three).
Mengiringi Perjalanan Tiga Operator Telekomunikasi
Dalam kurun waktu hampir 20 tahun banyak perubahan signifikan yang terjadi menandakan dinamika industri komunikasi bergerak di tanah air. Dan tentunya banyak pihak yang berperan dan memberi sumbangsih di dalamnya, rasanya terlalu banyak kalau disebutkan satu per satu. Menariknya ada sosok istimewa yang berkiprah pada perjalanan operator GSM tiga besar (Tellkomsel, Indosat dan XL Axiata). Sosok tersebut adalah Hasnul Suhaimi yang telah berkarir selama 33 tahun ini, tidak hanya bertangan dingin menghadapi tantangan dalam perjalanan memimpin ke tiga operator besar tersebut, namun juga ikut memberi pembelajaran pada publik baik dalam menjalankan good corporate governance termasuk di dalamnya transparansi informasi pada para stakeholder.
Berikut milestone perjalanan karir berikut portfolionya yang dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi kita bersama:
Pengadaan Teknologi dan Investasi Besar
Pada akhir 90-an meski saat itu jumlah pemain masih sedikit, karakteristik pengguna ponsel GSM menunjukkan pola pergerakan dinamis termasuk roaming terutama saat perjalanan bisnis dan perjalanan antar kota. Saat itu XL (ProXL) bermain segmen premium dengan kampanye XL Bening-nya menawarkan free-roaming untuk penerima panggilan. Sedangkan Telkomsel(Simpati) yang coverage area saat itu hanya per provinsi, dimana saat itu jika pelanggannya melakukan perjalanan ke luar coverage area meski hanya menerima panggilan telepon akan terkena biaya roaming. Hal itu tidak jarang bagi konsumen Telkomsel bila saat berpergian keluar kota, jika menerima telepon akan menjawab singkat dan cepat sambil menekankan kalau sedang berada di luar kota agar terkena biaya roaming seminimal mungkin.
Menarik melihat korelasi pengalaman berkomunikasi saat itu dengan pengalaman seorang Hasnul Suhaimi yang sejak tahun 1998 ditugaskan menjadi Direktur Niaga Telkomsel, dimana pada tahun tersebut terjadi krisis moneter berdampak ke semua lini, tidak terkecuali daya beli serta demand juga yang menurun termasuk produk pasca bayar HALO (subscription fee per bulan Rp 65.000) meski tarif percakapan per menit 30% lebih murah dari produk kompetitor. Selain itu, problem daya saing produk prabayar andalan Telkomsel Simpati saat itu seperti roaming & coverage area sebagaimana sudah disinggung sebelumnya.
Hasnul pun memperjuangkan implementasi Inteligent Network yang berperan dalam pengaturan fitur-fitur layanan berikut dengan model pentarifannya secara dinamis. Telkomsel saat itu kemudian menawarkan free-roaming bagi penerima panggilan telepon meski berada di luar coverage areanya sepanjang masih di dalam negeri. Yang jelas keberadaan Inteligent Netwrok memberi fleksibilitas dalam pemberlakuan layanan fitur dengan berbagai model pentarifan berikut kompleksitasnya dengan sumber daya yang lebih efisien. Setelah keberhasilan mengembangkan dan meluncurkan Simpati Nusantara dan kartu HALO Keluarga yang mengdongkrak peningkatan (pertumbuhan) 10% dari pangsa pasar sebelumnya, kemudian masuk masa keemasannya sempat menyentuh dua per tiga pangsa pasar dengan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) margin melebihi 70% seperti yang dituturkan Hasnul mengenang keberhasilan tersebut.
Paket HALO Kelurga ini merupakan inovasi dan solusi kartu HALO sebelumnya yang dikembangkan agar memungkinkan anggota keluarga menikmati layanan kartu HALO dengan konsep paket hemat keluarga saat itu dengan subscription fee per bulan untuk:
-Kartu Utama : Rp. 65.000,00
-Kartu Tambahan 1: Rp 45.000,00
-Kartu Tambabahan 2-5 : Rp 25.000,00
Penguasaan Medan, Strategi dan Target
Dua tahun setelah ditugaskan di Telkomsel (2000) Hasnul diminta kembali ke Indosat, mendapat tugas untuk membidani operator baru IM3 yang direncanakan hadir pada tahun 2001. Pada saat itu (2000) pasar sudah didominasi oleh ke tiga pionir operator GSM besar yang masing-masing memiliki keunggulan komparatifnya masing-masing oleh tiga operator besar: Telkomsel (Coverage), Satelindo (Price) dan XL (Quality). IM3 yang akan hadir mau tidak mau harus punya keunggulan kompetitif, di satu sisi competitive adventage mapping, seperti coverage, price and quality sudah ada leadernya. Hasnul melihat niche market dari value added service yang masih bisa digarap. Target market yang disasar saat itu adalah anak muda. Totalitas menyasar target anak muda dilakukan Hasnul beserta timnya termasuk berkonsultasi pada tokoh yang tahu pasar anak muda saat itu, dengan membahas meliputi Segmen, Targeting, Positioning, Product Feature, Consumer Benefit, Place, Promo dan semuanya on the track. Rencana harga pun yang ditetapkan hanya 10% lebih rendah dari market leader saat itu (Telkomsel). Saat seminggu sebelum lauching, Hasnul mendapatkan masukkan dari berbagai sumber bahwa price setting 10% lebih rendah dari market leader tersebut, cukup sensitive bagi anak muda sebagaimana yang menjadi main target IM3. Begitu mendapati hal itu bisa menjadi persoalan serius, apalagi pricing yang salah saat launching dampaknya sangat kritikal. Saat itu dalam waktu seminggu sebelum launching Hasnul beserta tim diperhadapkan isu pricing lebih tepatnya penentuan harga untuk lebih rendah dari pricing semula (10% lebih murah dari market leader) sampai opsi free pricing. Koordinasi lintas departemen pun dilakukan sampai dicapainya pricing starter-kit sim-card yang berkisar Rp. 5.000,00.
Setelah berkonsolidasi serta mendengar masukan dari dealer dan pelaku industri yang tahu pasar anak muda, termasuk mengenai sisi pricing yang cukup sensitive terutama pada segmen anak muda. Dengan investasi awal, IM3 meluncurkan layanannya dengan program dan competitive advantage dan targetnya sebagai berikut
-Launching di 6 kota Batam, Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta dan Bali. Saat itu berkontribusi 60 % dari market nasional,
-menggunakan frekuensi GSM 1800 MHz, dengan pertimbangan meksi coverage lebih pendek namun kapasitasnya 4 kali lebih bayak dibanding GSM 900 MHz,
-target market 58% segmen anak muda di 6 kota.
Strategi akusisi pelanggan dilakukan dengan memberi free-call selama 3 bulan. Hasilnya dalam 3 bulan market share pelanggan mencapai 5%, trafik naik namun masih belum ada revenue, di sisi lain pelanggan happy dengan program tersebut. Setelah masa honey-moon 3 bulan gratis, saatnya pemberlakuan tarif. Atas beberapa masukan termasuk dari dealer di lapangan, prediksi dampak dari time to chage setelah 3 bulan gratis, akan ada penurunan sebanyak 50%. Suatu tantangan lain yang harus dihadapi, mengingat tidak mudah untuk mengubah kondisi (pra-kondisi kan) apa lagi transisi ke pola yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya dalam hal ini mulai pemberlakuan tarif (berbayar). Kemudian pendekatan inovatif dilakukan, seminggu sebelum pemberlakuan tarif (berbayar) pelanggan dikirimi sms yang mengucapkan terima kasih atas kesetiaannya menggunakan layanan IM3 sambil diberi insentif pengiriman pulsa sebesar Rp 25.000 yang dapat digunakan saat pemberlakukan tarif. Bukan hanya itu saja, insentif lainnya tarif yang dikenakan pada bulan pertama hanya 50% dari tarif normal. Berkurangnya jumlah pelanggan pada masa transisi pun tidak dapat dihindarkan, kalkulasi sekitar 20%. Dari implementasinya, jumlah pelanggan berkurang hanya sekitar 5 % (tidak seperti kalkulasi awal 20 %).
Dalam 3 tahun target market tercapai. Pada tahun 2005 pelanggan IM3 mencapai 3 juta (8 % market share).
Babak Baru: Privatisasi, Stabilisasi dan Kompetisi
Saat Indosat menjual sahamnya di Telkomsel, yang hasilnya digunakan untuk mengakusisi Satelindo untuk kemudian di merger dengan IM3 dalam satu binsis induk operator GSM Indosat. Di tahun 2003 Hasnul diangkat menjadi salah satu direktur Indosat (Direktur Niaga), sebelum tiga tahun kemudian (2005) menjadi Direktur Utama Indosat. Babak baru dengan Indosat berserta tiga tantangan besar yang harus dihadapi saat itu:
1.Privatisasi Indosat, yang sebagian besar sahamnya dijual ke STT Singapura
2.Stabilisasi pasca akusisi Satelindo dan merger Satelindo-IM3
3.Kompetisi pasca Telkom diijinkan masuk pasar internasional dan Indosat masuk pasar domestik.
Merebut Pangsa Pasar: Menggeser Peringkat Dua
Setelah membidangi IM3 sejak 2000 yang menjadi cikal bakal operator GSM Indosat, meninggalkan Indosat (Juni 2006) Hasnul menerima tantangan baru untuk meningkatkan pertumbuhan dan pangsa pasar operator GSM lainnya XL.
Tantangan baru menahkodai XL adalah mendongkrak pertumbuhan XL sehingga merebut pangsa pasar sekaligus naik kelas menjadi peringkat dua pemimpin pasar. Pada masa itu XL memang berada di jajaran top three, dibawah Telkomsel (pemimpin pasar dan Indosat. Pada saat Hasnul masuk XL (September 2006) selisih market share XL dengan peringkat dua sekitar 10%. Target yang lebih realistis dibanding dengan pemimpin pasar saat itu dengan selisih market size lebih dari 50%. Meski XL mencapai performansi bagus pada tahun 2006, namun pada awal 2007 performansi pertumbuhan cenderung stagnan selama enam bulan. Berbagai program dan insentif seperti diskon, bonus bahkan dua kali menurunkan tarif tarif percakapan menjadi Rp 25 per detik (Rp 1.500 per menit, Februari 2007), kemudian pada kuartal ke 2 (April 2007) menjadi Rp 10 per detik (Rp 600 per menit) pun tidak cukup meningkatkan target penjualan (pertumbuhan). Di sisi lain berdasarkan pengamatannya kompetitor mampu bertumbuh rata-rata 25% y.o.y dengan kata lain market sedang bertumbuh (growing). Inilah yang mendorongnya untuk melakukan gebrakan dengan ide-ide yang out of the box.
Kemudian dipelajari akar permasalahannya, value preposition XL saat itu serba nanggung (tidak premium … tidak juga low cost), menganggab paling murah diantara tiga pemain besar, namun tidak cukup untuk menggeser preferensi konsumen pada pemain nomor satu saat itu. Di sisi lain ada market di luar itu yang diisi operator-operator CDMA, namun value preposition XL khususnya sisi pricing yang masih dianggap masih lebih tinggi. Pada saat itu CDMA dipandang teknologi baru dan mampu menekan biaya, sehingga terjadi semacam dikotomi antara pasar GSM dengan harga mahal dengan coverage yang lebih luas dengan pasar untuk CDMA yang bertarif lebih murah dengan coverage terbatas.
Berkaitan dengan target yang dibebankan oleh induk perusahaan pada Hasnul untuk menaikan pertumbuhan XL sehingga bisa menduduki peringkat ke dua, Hasnul realistis melihat kondisi tersebut, pivoting dilakukan dalam bentuk perubahan strategi akusisi konsumen ke konsumen yang menjadi target market operator CDMA, cara yang ditempuh dengan kembali menurunkan harga namun di sisi lain harus tetap beri kontribusi keuntungan bagi perusahaan. Di sini lah tantangannya, apalagi kondisi keuangan perusahaan sudah ditekan dengan dua kali penurunan tarif, belum lagi tarif rata-rata percakapan CDMA saat itu sekitar Rp 60-70 per menit. Sedangkan tarif percakapan per menit yang terakhir sekitar Rp 600 per menit (Rp 1 per detik). Setelah berkoordinasi dengan tim Corporate Strategi-nya, langkah yang perlu ditempuh dengan penurun tarif per menit harus disertai penurunan pengeluaran lain seperti investasi dan biaya per menitnya sambil volume trafik nya dinaikan (harus besar). Hasnul kemudian berdiskusi dengan Direktur Keuangan dan Direktur Network Service saat itu, dengan wacana menurunkan tarif selevel dengan operator CDMA dengan kapasitas trafik yang 4 kali lebih banyak. Dari aspek jaringan dan biaya (keuangan) tidak ada masalah, wacana pun segera diaktualisasikan dengan tim kecil (Blue Thunder) yang dibentuk oleh Hasnul (Juli 2007) dengan tugas selama dua bulan untuk membuat rekomendasi perhitungan tarif selevel tarif CDMA beserta bagaimana implentasinya dan analisa dampaknya termasuk terhadap jaringan dan biaya lainnya. Tim yang terdiri yang beranggotakan 7 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda seperti sales, marketing, keuangan dan teknik dengan beragam level manajerial dari junior manager, manager, general manager hingga vice president. Sebagai leader Hasnul terus memantau perkembangan kerja Blue Thunder dan sampai dua minggu menjelang tenggat, tim belum menghasilkan sesuatu yang signifikan. Dalam waktu tersisa untuk memacu kerja tim, Hasnul menantang mereka untuk berpacu dengan dirinya dalam menyelesaikan tugas tersebut. Agar lebih obyektif ditunjukkan direksi sebagai juri. Pada tenggat waktu yang ditentukan akhirnya Blue Thunder berhasil menyelesaikan tugasnya dan hasilnya lah yang dipilih untuk diimplementasikan. Hasnul pun segera membawa rencana tersebut untuk dilaporkan pada pemegang saham. Pemegang saham setuju dengan skema penurunan tarif XL yang baru saat itu dengan syarat minute of usage harus naik. Hal ini pun harus disertai empat langkah utama dalam eksekusinya:
1.Menurunkan tarif sebesar 90 %, dari Rp 600 per menit menjadi Rp 60 per menit (Rp 1 per detik).
2.Meningkatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Tantangannya opsinya hanya didukung dengan sumber daya yang sudah ada, bekerja lebih efisien dan produktif.
3.Menaikan trafik. Menaikan trafik 4 kali dengan penyesuaian perubahan trafik per pelanggan, jumlah pelanggan yang meningkat serta operasional dan penyediaan infrastrukturnya.
4.Menurunkan biaya, dengan cost cutting dan efiseinsi pada semua kegiatan perusahaan.
Langkah utama tersebut harus berkontribusi pada profit margin dan pertumbuhannya.
Menarik mencermati strategi insentif tarif (penuruan tarif 90%) pada langkah pertama, sekaligus berkontribusi meningkatkan pelanggan sebanyak-banyaknya (langkah ke dua) dan juga peningkatan trafik sebagaimana target peningkatan trafik 4 kali. Pada saat itu voice usage per user hanya 40 menit per bulan (1,3 menit per hari, sekitar 57 detik/panggilan telepon), jadi voice usage per user setiap kali telepon masih di bawah 1 menit. Agar berkontribusi pada peningkatan trafik dan profit margin, model perhitungan diskon 90% mulai setelah dua menit pertama. Dengan skema perhitungan ini, akan menarik konsumen untuk makin lama berkomunikasi dengan telepon seluler akan mendapat akumulasi pemberlakukan diskon 90% tarif percakapan. Hal inilah yang merubah kebiasaan dalam berkomunikasi, meningkatkan voice of usage per user per bulan (dari 40 menjadi 500 minute of usage per user per bulan) serta juga memberi opsi menarik untuk berkomunikasi dengan murah yang pada akhirnya menarik semakin banyak pelanggan (langkah ke dua).
Penurunan tarif (Rp 1/detik) mendapat perhatian konsumen, memaksa tidak hanya operator CDMA yang semula menjadi target kompetisi, namun pemain top three pun turun gunung untuk head-to-head dalam perang tarif. Hasnul beserta tim-nya harus putar otak untuk menemukan inovasi lainnya gratis telpon dan sms mulai 00.00-06.00. Hal ini berdasarkan hasil riset pada jam non-peak hour pada jam tidur jaringan pun menjadi tidak sibuk, dengan demikian promo telepon bebas mulai jam 00.00-06.00 menjadi gimmick untuk memikat konsumen yang pada keseharian tetap butuh berkomunikasi pada jam sibuk. Dalam menyiasati perkembangan iklim kompetisi, berbagai program dan paket yang dapat dipilih oleh konsumen secara fleksibel lewat *123#. Program-program baru selanjutnya tetap dapat memberi insentif konsumen yang sempat merasakan fasilitas dari program sebelumnya yang sudah habis, agar tetap bertahan (customer retention).
Akhirnya dalam tahun ke empat (2010, mundur setahun dari visi awal 123) XL berhasil menduduki peringkat ke dua, dengan membukukan pendapatan naik 3x lipat, durasi percakapan per user 400-500 menit per bulan (naik 4x lipat, sebelumnya cuma 40 menit per bulan)
Pada kompetisi yang ketat ini, mulai tahun 2007 tidak hanya pada perang harga serta juga perang iklan. Saya pun menjadi saksi kerasnya perang iklan serta sempat mendokumentasikan artikel yang dimuat pada Majalah Selular (November 2007). Melihat gejala perang harga yang begitu sengit, sampai Menteri Kominfo saat itu turun tangan menentukan tarif batas bawah. Pada akhir tahun 2010 Hasnul mencanangkan XL tidak menarget pertumbuhan yang terlalu agresif, perlunya seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) ikut menjaga industri telekomunikasi seluler, menghentikan perang harga yang telah berlangsung berlarut-larut (Koran Jawa Pos, Selasa 13 Maret 2012, halaman 3). Hasnul beralasan karena harga sudah hampir sama rendahnya (equalibrium sudah terbentuk) dan tidak ada ruang untuk elastisitas harga. Termasuk dengan jumlah operator sebanyak 10 operator pada 2010 [jumlah operator terbanyak pada tahun 2009, 11 operator: Telkomsel, Indosat,XL, Esia, Flexi, Mobile 8, Starone, Ceria, Three, Smart dan Axis] dengan kondisi market yang jenuh, berikut pangsa pasar didominasi pemain tiga besar, tantangan besar yang harus dihadapi pemain lain mendorong perlunya konsilidasi, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah wawancara dengan New Wave Marketing Marketeers April 2011. Tentang perlunya konsolidasi akhirnya ramai diwacanakan kembali pada tahun 2013/2014 (Referensi Selular Indonesia 2014). Saya melihat konsteks tantangan yang ada tidak hanya makin padat dan kecilnya market size yang bisa diperebutkan, namun juga konsolidasi teknologi dalam jangka panjang seperti pada teknologi CDMA untuk pindah ke lompatan teknologi lain LTE agar untuk bertahan, serta dalam konteks secara makro, konsolidasi lebih ke arah aksi korporasi dalam bentuk akusisi/merger. Dan terlihat beberapa konsolidasi yang terjadi, Mobile 8 dan Smart (SmartFren), XL Axiata mengakusisi Axis, migrasi Flexi dari fixed wireless access ke gsm (apakah akan dilebur menjadi Kartu AS Telkomsel, belum ada pemberitahuan lebih lanjut), berikut beberapa penjajakan merger beberapa pemain lain yang tidak berakhir dengan kesepakatan.
Pemimpin Ikon Perusahaan dan Berperan Mencerdaskan Publik
Saya mengikuti banyak informasi publik dari seorang Hasnul Suhaimi baik melalui wawancara dengan media, seminar, kuliah, blog, sosial media serta buku mengenai dirinya baik yang ditulis orang lain (‘The CEO Way’, penulis Rizagana, Tristar Publishing) maupun buku ditulisnya sendiri (‘Everyone can Lead’, Hasnul Suhaimi, penerbit B first) . Dalam buku karangannya Everyone can Lead, Hasnul menyadari perannya sebagai pemimpin suatu perusahaan yang mengedepankan good corporate governance, bersentuhan dengan publik sehingga perlu membina hubungan intens dengan stakeholder seperti pelanggan (masyarakat umum), regulator, institusi akademis, media massa. Sosok Hasnul ini cukup menonjol sebagai CEO yang rajin memberi informasi, membagi pemikirannya untuk perkembangan ekonomi serta kesiapan putra bangsa untuk berkiprah di industri tanah air serta mempunyai daya saing global.
Beberapa pokok pikiran Hasnul Suhaimi seperti:
-Sejak awal mengingatkan adanya peralihan tren konsumsi layanan voice dan sms ke layanan data (sejak tahun 2008) termasuk perlunya penyediaan layanan komunikasi data dan derivatifnya termasuk aplikasi dan konten layanan digital.
-Saat market sudah masuk fase ekuilibrium dimana elastistas harga sudah tidak berkontribusi signifikasn, perang tarif hendaknya dihentikan (akhir 2010).
-Sesuai dengan market yang sudah saturated mulai 2010 perlunya konsolidasi ke 10 operator yang dipandang tidak efisien dalam hal pembiayaan dibanding dengan prosentasi pendapatan (market size) yang tengah diperebutkan (dikuasai dengan beberapa operator besar).
-Perlunya menyelamatkan market dan industri telekomunikasi dengan Coopetition. Bekerjasama (cooperation) dalam membangun ekosistem telekomunikasi dengan kompetisi yang sehat. Seperti penggunaan Tower BTS bersama, kode RBT seragam serta layanan e-money bekerjasama antar operator dengan perbankan,otoritas keuangan dan entitas lainnya.
-Termasuk berbagai pengalaman keberhasilan seperti yang dibahas sebelumnya serta sharing pengalaman sebagai pelajaran mahal (menaikan tarif pada tahun 2008 dan preactivating starter-kit (akhir 2006).
-Perlunya komponen pendukung operasional yang didukung komponen dan industri nasional sehingga dapat menyeimbangan capex infrastruktur yang didominasi oleh barang impor yang memberi dampak pada penyerapan (penguatan mata uang dolar AS/pelemahan rupiah) yang digunakan dalam belanja infrastruktur.
-Memberdayakan masyarakat dengan program seperti ’XL Young Talent’, ’XL Future Leaders’dll.
Tidak heran dengan gebrakan dan kepemimpinannya berbagai penghargaan diterimanya seperti ’The Best CEO’ versi majalah SWA (2009, 2010), ’CEO Idaman’ versi majalah Warta Ekonomni (2009, 2013), ’Telecom CEO of the Year’ versi Telecom Asia Awards (2011), ’CEO of the Year’ versi Frost & Sulivan Asia Pasific ICT Awards (2011), ’Best CEO of the Year’ versi majalah Selular (2011, 2012, dan 2013).
Kesuksesan Peralihan Karyawan ke Manage Service
Sebagaimana tren yang berlangsung di negara lain, efisiensi menjadi keharusan bagi operator untuk bertahan. Tidak terkecuali dalam pemanfaatan sumber daya. Efisiesi dalam bidang SDM lebih condong pada fokus pada core business operator dengan mentransfer departemen infrastruktur ke unit bisnis manage service yang biasa dikelola oleh vendor jaringan. Vodafone Australia pun juga pernah melakukan transfer karyawannya ke manage service yang dikelola oleh Nokia Australia. XL pun melakukan hal yang tidak jauh berbeda,pada bulan Januari 2012 dengan mentransfer 1200 karyawan ke unit bisnis manage service yang dikelola Huawaei dengan konsensi kerjasama selama 7 tahun (Referensi Selular Indonesia 2013). Menurut pengamatan saya waktu itu proses transfer berlangsung smooth nyaris tidak terdengar gejolak penolakan yang terjadi.
Pada akhir masa kerjanya, performa aksi kegiatan XL Axiata mendatang tidak lepas dari tantangan demi tantangan baru lainnya mulai dari layanan OTT dari (Google, Facebook, Youtube dkk) yang menjadi perhatian (dikeluhkan) banyak operator telko dunia, interstitial ads. dan offdeck ads. yang menjadi keluhan ekosistem internet lain seperti internet publisher (media online) serta toko online yang sumber pendapatan dari iklan online, berikut perubahan landscape telekomunikasi untuk masuk ke layanan digital seperti M-Commerce (XL Elevenia), M-Money, M-Payment, M-Ads, layanan M2M (PoS, Meter Reading, Mobile Surveillance/Tracking and Vending Machine), Internet of Things (IoT), layanan Cloud (Xcloud untuk Usahawan 1.0) memberi energi pada penerus kepemimpinanan pasca Hasnul Suhaimi untuk berlari lebih kencang dan tangkas dalam menghadapi tantangan jaman.
*catatan tambahan:
Mungkin tidak banyak yang tahu, dalam karirnya selama 33 tahun di lapangan (bidang telekomunikasi) sejak teknologi GSM masuk ke Indonesia. Hasnul Suhaimi sempat berkiprah dan berkontribusi (1995) pada bisnis layanan komunikasi internasional (SLI 001), yang saat itu menghadapi kompetisi sengit melawan pendatang baru SLI 008 Satelindo yang berhasil merebut pasar pada tahun pertama kehadirannya.
Keberhasilan kampanye Tactical Ad-nya (SLI 001) yang mungkin masih top of mind sampai sekarang seperti iklan ikan hias dalam kolam, atau asap jet tempur dalam formasi angka 001 serta jinglenya yang juga berhasil mendapatkan penghargaan Citra Pariwara Award serta berhasil menahan laju 008 dengan kerja keras lebih dari 2 tahun.
Keterangan foto: foto saat acara Power Talk di IPMI Business School 11 Maret 2015
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.
Crowsourcing … crowdfunding seem familiar for us as our daily activity close to internet, news, social media and other channel. Quite common event can muster the crowd empowered by internet. Yes, it is the crowd, but still long shoot to be classified as crowdsourcing. Ehm, starting spark some headache? I hope not, just follow me get deeper through the sharing I’ve got in CSW Summit 2015 in Jakarta last week and mixed with some references from internet.
Crowdsourcing, Crowdfunding and Crowd Economy.
Epi Ludvik Nekaj, the founder of CrowdSourcing Week asserts crowd sourcing is about participation. Crowd sourcing is more than marketing approach, it changes business model and shift paradigm such from banking to crowdfunding platform and the growth of customization product (co-creation process) supported on crowdsourcing project beside common business model such mass production.
Dennis List, Co-Founder of Rocki also emphasizes crowdfunding more than finance. Crowdfunding campaign need crowd and also good product. He also adds that in crowdsourcing the value proposition is Win Win (‘WE Mentality’, ‘Think WE’).
Crowdsourcing empowering people to participate in particular mission, including participation to raise money (crowdfunding) that the whole process called crowd economy. This crowd economy started for reason to cope the impact of global recession since 2008. At that time, that crisis has spread in every sector affected no job offering, loan program etc. Then raised crowdsourcing platform such increasing freelance job offering (Elance), crowdfunding platform (Lending Club, Kickstarter) etc to fill in that gap.
Crowdsourcing vs Social Network.
Crowdsourcing and social network are about crowd. People sometimes think if having huge number of social media follower means getting the crowd. Does it can classify as crowd sourcing? In term of number, it’s crowd but not guarantee in productivity matter. I put productivity issue here, still relate with what Epi’s thought in his session (you can see from his slideshare also slide # 27) about new social currency crowdsourcing=social productivity. He also put good analogy between srowdsourcing and social media.
– Crowdsourcing spawns innovation
– Social network spawns connection
Epi states crowdsourcing also is about passion and talent, for people who have passion to be part of something innovative.
Crowsourcing and Crowd Role
In Crowdsourcing, its platform muster the crowd participation to support company/seeker as Dr. Michael Gebert called it in his presentation as Conceptual Risk Framework. The crowdsourcing platform can support the mission relate to Crowdfunding, Open Innovation, Social Productivity, Sharing Economy. Based on mission and goal, it could be different form one to another project such raising funding, co-creation, life improvement and others. Epi gives crowdsourcing platform example like crowdfunding (KickStarter,LendingClub), Open Innovation (LocalMotors), Social Productivity (Xprize, Open Garden) and Sharing Economy (Uber, Airbnb).
5P Crowd Economy
The 5 Pillars of Crowd Economy consist of people, purpose, participation, productivity and platform. Regarding implementation of 5P Crowd Economy Epi emphasizes some points to remind, below:
People.The start-up not only give their priority on platform first, but starting from people, what the start-up doing and goal, must answer people problem, human centric embedded to empowering people and help communities better live.
Purpose.In the long run to create meaningful experience, start-up must be face many valleys, not just expecting jumping on the peak of the mountain. I like Epi’s phrase “Fail & Fast”, don’t go first or only ready for success, shoot the failures, fast learn from that. He give an example when starting internet service, starting to maintain with reasonable target user (not expect huge number first), learn from that and gradually increasing target. It doesn’t just go directly to reach high traffic to impress the angle investor but missed the fundamental thing.
Participation.Beside supporting to get funding through the project, the crowd participation emphasizes on co-creation and shared value during the process and product value.
Productivity.The productivity along this process must be deliver better, faster, cheaper and more efficient process. And those outcomes fully supported especially in this digital world.
Platform.As mentioned before not just relying only platform in the first beginning. The platform itself will elaborate with the others as medium to interact and drive the results. Technolgy fully supporting the platform starting from mobile network, mobile application, big data, cloud computing, real-time processing, internet of things and many more.
Epi defines crowd economy from those five pillars as a dynamic ecosystem of productive people who participate through a platform with a purpose to achieve mutually beneficial goals.
Crowdsourcing and Crowdfunding Success Story: Rocki
One crowdfunding platform, Kickstater enable the start-up create the market before even launching. To know how it works, refer to crowdsourcing and crowdfunding success story: Rocki which I collected from some sources and got from Dennis itself. Nick NM Yap and Dennis List (the Rocki founder) started Rocki in conceptual of Project RHM (Revolutionize Home Music) in February 2013. As Dennis told during his interview with blogcritics.org, they focus on develop music and technology especially audio streaming instead of video streaming that was the others focus on at that time. Started in crowdsourcing approach, mustered people with extensive experience in media streaming hardware and software in project team, doing co-creation and developing ROCKI plug-in would enable all speaker to have Wifi audio streaming feature.
Rocki’s proof of concept video during the kickstarter campaign.
Rocki is one good example of running a successful kickstarter campaign got initial target $50K in first day (November 25th 2013) and raising over $220K in 20 days campaign (December 20th 2013). Dennis also share during that campaign, everything has to do with crowdsourcing such using social media, press coverage to reach people (supplier, potential buyer) to involve in and also well prepare for next step including production phase and shipping. Even after getting funding their initial target on 1st day, Dennis tell me, as soon as possible they reserved production line. Beside got more than initial target, they successfully managed product shipping on time within 3 months of the kickstarter funding and also keep participating crowdsourcing global event. They keep raising the bar through innovation.
Rocki’s product teaser on Youtube during the kickstarter campaign.
If you see the remark on that video teaser during their kickstarter campaign above, you will notice the crowdsource supported the video production. The video itself fundamental necessity to successfully pitch a crowdfunding project. The good one KickStarter provides how to create product video teaser complete with studio that will facilitate the crowd.
KickStarter’s video making guidance & studio facilities.
At the end of the session Dennis who also secured $1 M funding for another project (Omate Smartwatch) gives closing statement, reminding start-up not just focus on the funding part of crowdfunding, but need to build the crowd because no one can do all that on their own. So … CROWD it!
*imagre credit: taken while session been held
About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link
Sebagaimana lazimnya hari libur nasional pas dekat akhir pekan tentu menambah membludaknya pengguna transportasi. Namun berbeda dengan awal liburan panjang menyambut tahun baru Imlek pekan lalu, menimbulkan kekacauan (krisis) dalam pelayanan transportasi udara khususnya milik maskapai Lion Air yang mengakibatkan ketertambatan (delay), pembatalan penerbangan Lion selama 3 hari (18-20 Februari 2015) yang mempangaruhi ribuan penumpangnya di beberapa kota Indonesia termasuk operasional bandara berikut maskapai lain yang terkena dampaknya. Penerbangan domestik dengan area bentuk geografik kepulauan meliputi penerbangan antar pulau, menjadikan bandara Soekarno Hatta memegang peran vital sebagai pusat transit (master hub) dari beberapa koneksi penerbangan jarak jauh antar pulau termasuk juga tujuan penerbangan luar negeri.
Tentu, jika terjadi kekacauan operasional layanan udara di Bandara Soekarno Hatta efek domino-nya langsung berpengaruh pada layanan penerbangan terkait. Krisis tersebut dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari adanya kecelakaan di landasan, terganggunya fasilitas vital bandara, kerusakan/keterlambatan pesawat, tidak mendapat/mempunyai ijin penerbangan karena ijin kelaikan operasi dan pesawatnya, mismanajemen kapasitas angkut dan jumlah tiket yang terjual serta faktor-faktor terkait lainnya.
Jika terjadi krisis atau gejalanya, langkah awal penanganannya pun mulai dari mencari dan merelokasikan penyebab krisis sehingga tidak membesar sembari menghentikan, memperbaiki atau menimalkan kerusakan yang terjadi berikut skala dampaknya. Melaksanakannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Penanganan akan semakin kompleks bahkan bertambah fatal apabila tidak didukung oleh sumber daya dalam menghadapi krisis yang memadai, apalagi tanpa adanya standar operasi prosedur (S.O.P).
Menengok dari runtutan kejadian yang mengakibatkan keterlambatan penerbangan sampai 3 hari tersebut, berikut beberapa aspek yang dapat dikaji sebagai bagian dari krisis manajemen:
Pra Krisis
Sebagaimana penganggulangan krisis umumnya, semakin awal penanggulangannya/pendeteksian gejalanya diharapkan semakin memperkecil atau membatasi ruang gerak krisis yang berpotensi semakin besar dan melebar dampaknya yang menggangu pihak lain. Karena itulah tahap preventif meski terkesan sebagai bagian dari rutinitas namun kritikal perannya dan dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari tahap pra-krisis. Tahapan dimana proses cek berkala dilakukan dengan memperhatikan ada tidaknya gejala abnormal yang berpotensi menjadi gangguan/masalah dan menyebabkan operasional terganggu serta kecukupan alokasi kebutuhan yang dipenuhi dengan sumber daya. Keculupan alokasi ini bisa dalam bentuk cek teknis seperti jarak tempuh-bahan bakar, jumlah tiket terjual-kapasitas angkut dll.
Maskapai Emirates sendiri untuk urusan pengawasan kegiatan operasional dan ketepatan waktu penerbangan, memiliki pusat kendali di Dubai yang disenut Network Control Center, berotorisasi memonitor armadanya secara real-time, mengawasi ketepatan waktu dari operasional pesawat yang sedang dan persiapan akan terbang, serta mengambil keputusan bila ada masalah yang dihadapi pesawatnya termasuk yang berdampak dengan pesawat selanjutnya (connecting-flight). Operasional pusat kendali ini dipimpin oleh pejabat senior setingkat VP, menunjukkan betapa sentral dan strategis tugas ini berkaitan erat dengan keamanan, keselamatan dan operasional bisnis penerbangan armada Emirates yang sedang dan akan terbang di seluruh penjuru dunia.
Pusat kendali ini pun bertindak memastikan dan mengontrol setiap proses pesawat dapat berjalan sesuai jadwal mulai dari bagian bongkar muat kargo (ground dispatcher), cek pesawat, selama penerbangan dll. Jika dari lapangan yang membutuhkan waktu tambahan karena perbaikan/mengatasi masalah, bagian tersebut harus minta otorisasi tambahan waktu dari pusat kendali ini.
Apabila terjadi kondisi yang berdampak layanan penerbangan lainnya termasuk dengan maskapai penerbangan lainnya, pusat kendali segera berkoordinasi dengan entitas terkait termasuk dengan otoritas bandara, air traffic control termasuk juga jika adanya pembatalan penerbangan serta perubahan jadwal yang dilakukan secara real-time.
Penanganan Krisis
Saat krisis mulai berdampak signifikan, penanganan pun meliputi pihak yang terkena dampaknya dalam hal ini penumpang termasuk pihak lain mulai dari bandara terkait, penerbangan lain yang terkena dampaknya secara langsung. Dampak mulai dari perubahan jadwal terbang (delay), pembatalan penerbangan dimana ini seharusnya telah diatur dalam S.O.P mulai dari aliran informasi/komunikasi penjelasan pada penumpang, kompensasi berdasarkan lamanya keterlambatan sampai akomodasi dan penggantian uang (refund). Proses penanganan ini sebagaimana yang diatur dalam S.O.P tidak lah terlalu sulit untuk dilakukan, namun lain ceritanya bila penangannya dilakukan dalam skala masif seperti yang terjadi pada delay penerbangan selama 3 hari lalu (18-20 Februari 2015), hal ini seperti menimba air laut dengan ember, namun terjadi saat tsunami. Pada tahap ini adalah tahapan yang paling krusial, waktu berjalan cepat, tidak ada tindakan, lamban atau salah dalam merespons akan berakibat fatal. Begitu juga dengan aliran informasi (penjelasan) penting dilakukan agar penumpang mendapatkan berita/informasi langsung, penumpang mengais-ngais berita malah mendapatkan berita duluan diekspos oleh media secara luas. Leadership sangat dibutuhkan, tidak saja pimpinan lapangan namun juga jajaran puncak yang juga jadi ‘brand ambassador chief’ perusahaan yang selama ini dikenal masyarakat.
Ada peristiwa serupa yang dialami maskapai United Airlines (AS) terjadi pada musim panas 2000. Pada saat itu industri penerbangan di sana masuk pada iklim bisnis yang baru dimana biaya tenaga kerja dan bahan bakar serta struktur uang pensiun menekan semua maskapai penerbangan nasional di sana. Khusus pada United saat itu, para pilotnya memprotes kontrak, walau tidak mengadakan mogok kerja, mereka menyatakan menolak kerja lembur yang berdampak penundaan dan pembatalan penerbangan tertinggi yang pernah terjadi saat itu. Bandara pun menjadi area berkemah para calon penumpang yang terkatung-katung. Meja pelayanan pelanggan dibanjiri penumpang yang marah karena tidak terurus karena krisis tersebut. Ada salah satu langkah dari manajemen United yang fenomenal, iklan permohonan maaf yang menampilkan CEO Jim Goodwin dari kabin sebuah pesawat berisi permohonan maaf kepada pelanggan United. Berikut pesannya yang saya kutip dari buku Juicing the Orange Pat Fallon & Fred Senn:
“Halo. Saya Jim Goodwin, CEO United Airlines. Musim panas ini, ribuan orang terganggu perjalannya ketika menggunakan maskapai penerbangan United Airlines. Jika Anda salah satu dari mereka, saya ingin meminta maaf secara pribadi atas nama United. Untuk mengatasi masalah ini, kami mengurangi jadwal penerbangan kami, sehingga kami tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kami tepati. Sebagai pemimpin, United punya rencana besar masa depan, tetapi kami tidak akan ke mana-mana sebelum mengantarkan Anda ke tujuan Anda.”
Pesan ini diperlukan untuk menghentikan perdarahan lewat media dan mesin kasir. Dan ini berhasil dan efeknya positif ke konsumen meskipun cuma sementara dan juga keberadaan pimpinan puncak di tengah krisis memberi dorongan moral bagi karyawannya di lapangan yang sedang mengalami masa sulit di tengah krisis.
Peristiwa yang serupa penerbangan Jet Blue saat hari valentin 2008, yang mencoba terbang, namun tidak diijinkan oleh otoritas bandara karena cuaca buruk, menyebabkan efek domino pada pembatan penerbangan berikut penumpang lain terdampar di bandara. CEO Jet Blue Neelman saat itu langsung meminta maaf di depan publik serta menawarkan kompensasi. Hal yang sama saya lihat saat keberadaan CEO Garuda Indonesia Emirsyah Satar yang langsung terjun ke lapangan saat terjadi kecelakaan Garuda GA 200 di Yogyakarta dan juga CEO Air Asia Tony Fernandes saat peristiwa kecelakaan Air Asia QZ 8501. Ke dua CEO tersebut langsung hadir dan berbicara ke publik atas nama perusahaan, memberi jaminan penanganan bagi pihak keluarga yang mencari tahu perkembangan serta juga memberi dorongan moral bagi karyawan yang sedang bertugas di lapangan. Jika melihat perkembangan terakhir (Kompas Minggu 22 Februari 2015), publik masih menunggu jawaban penyebab kisruhnya keterlambatan dan pembatalan penerbangan yang terjadi selama 3 hari tersebut. Hal ini juga dimanifistasikan dalam bentuk tuntutan publik lewat Change.org
Pasca Krisis
Pasca krisis dilakukan untuk konsolidasi penangan akibat yang disebabkan selama krisis dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas selama krisis berlangsung. Akibat-akibat tersebut seperti perbaikan/penyempurnaan sistem dan sumber daya dalam penanganan krisis, penyelesaian keuangan terkait dengan penangan krisis yang membutuhkan langkah komprehensif dgn dukungan dana segar, penyelesaian dengan konsumen seperti pemberian diskon, poin tambahan untuk membership dalam hal ini untuk mempertahankan loyallitas konsumen dan juga menghadapi pemeriksaan dan sanksi dari badan yang berwenang sampai yang terburuk menghadapi tuntutan konsumen/class-action di pengadilan.
Ada contoh menarik inisiatif Jet Blue pasca krisis saat hari valentine tersebut, Chief Intormation Officer Charles Mees, melakukan penyempurnaan sistem dengan membuat database yang dapat mengetahui lokasi kru yg sedang tidak dinas (off-duty) saat dibutuhkan, dimana kru dapat memberikan informasi tersebut secara aktif dalam bentuk sebagai input ke database. Sang CEO Neelman melakukan program cross-training untuk karyawannya terkait dengan manajemen krisis. Dari pengalaman krisis tersebut Neelman mengakui pada saat itu pekerja perusahaanya ingin membantu namun mereka belum pernah dilatih untuk membantu penanganan dalam suasana krisis seperti itu. Itulah titik tolaknya sang CEO memberlakukan program cross-training dalam menghadapi krisis.
Krisis bisa dikarenakan satu faktor yg terjadi seketika atau rangkaian faktor (proses) yang terhubung saling terkait dalam waktu lama seperti faktor manajemen, proses bisnis, faktor ketrampilan termasuk yang berkaitan minimnya sumber daya yang berhubungan dengan kompensasinya (renumerasi dan fasilitas yang diterima karyawan).
Berkaitan dengan krisis, pelayanan konsumen terutama untuk petugas yang berada di garis depan bertemu konsumen. Penanganan konsumen saat terjadi kritis, tidak terlepas dari berbagai faktor, khusus untuk penanganan yang berdampak negatif pada konsumen dapat di analisa sebagai berikut:
Untuk faktor poin 1-2 (lack of obedience, skill ) & system dapat diatasi dengan sosialisasi SOP dan pelatihan ketrampilan yang relevan dengan manajemen krisis. Sedangkan poin 4 (lack of attitude) meliputi mekanisme teguran, perbaikan sampai mekanisme terminasi kerja.
Khusus untuk faktor lack of engagement dalam hal ini loyalitas kerjanya, ada penelitian menarik dari Foresee pada tahun 2014 tentang adanya korelasi faktor loyalitas pekerja (employee engagement) dari toko retail terhadap kepuasan pelanggan (customer satisfaction) yang pada akhirnya mempengaruhi hasil penjualan. Dimana tingkat kepuasan pelanggan juga dipengaruhi layanan petugas yang secara signifikan digerakkan oleh loyalitas pekerja (employee engagement).
Tidak dapat dipungkiri gaji dan fasilitas yang memadai jelas mutlak dibutuhkan pekerja, namun bukan itu saja. Suasana kondusif untuk berkembang (baik ketrampilan maupun promosi jabatan), lingkungan menumbuhkan saling percaya dan nyaman serta memberi ruang untuk berkreasi memberi arti bagi hidup yang juga kebutuhan dari pemenuhan akan makna hidup dari karyawan.
Melihat dari grafik loyalitas pekerja (employee engagement)-kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dari hasil penelitian Foresee pada tahun 2014, untuk perusahaan seperti Apple, Barner Noble dll menunjukkan prestasinya baik dalam hal kepuasan konsumen dan loyalitas karyawannya yang melewati batas minimum garis dengan nilai 80 dari nilai total 100. Dari gambar tersebut juga, ada yang menarik khususnya melihat Walmart yang tidak melewati batas minimum nilai 80 tersebut. Bila diihubungkan dengan berita pada awal Februari in, Walmart meningkatkan upah pekerjanya. Dan tidak itu saja, Walmart memberi kesempatan pelatihan untuk berkembang. Kebijakan yang diambil oleh Walmart ini adalah strategis, selain meningkatkan upah, diikuti pemberian pelatihan yang pada akhirnya diharapkan ada perbaikan kualitas dengan indikator (KPI) yang telah ditetapkan dalam hal ini produktivitas kerja, loyalitas karyawan (employee engagement), yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan pada akhirnya memberi dampak pada kesuksesan bisnis.
Blessing in disguise
Iya selalu ada hikmah yang dapat diambil dari krisis sekalipun. Jika bisnis Anda mengalami krisis, cepat ambil tindakan dan bangkit kembali. Inti bisnis itu adalah trust (kepercayaan), lakukan dengan penuh intigritas serta jangan lupa Kaizen … Continous Improvement untuk selalu menjadi lebih baik. Today must be better than Yesterday and Tomorrow will be the best one.
* Image: JM Zacharias
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.
Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? This question refer to the Content Marketing existence along the past years and now this year 2015, that used also as the topic discussion of the Jakarta Content Marketing meetup session this month. Content Marketing in several years growing tremendous approach and its contribution too (Content Marketing Innitiative for Online Shop, Indonesia market 2013). Does Content Marketing still reliable to cope the challenge in 2015? Let’s take a look the discussion through this compilation article below.
Content Marketing-Native Ad
Content Marketing itself means about to drive action as Patrick Searle (cofounder GetCRAFT) point out in early session. It’s about owning paradigm, investing on it and get the returns. The Native Ad also the hot issue to be addressed in term of its contribution to get read rate times and ROI target, comparing with digital marketing main stream like display ads has been decreased significantly. Native Ad plays promising role to give the good impact to its stakeholder and give adaptive approach and more friendly user experience (UX) to consumer, compare to not quite good experieces/pro-contra last year related with intrusive ad that pop-up without giving option to consumer get rid from bothering their user experiences and raised dispute among digital publisher.
Brand professional Jasmina Dewi Nashya (E-Commerce Marketing Head at MAP) added that content marketing should has brand perspective adjusted to brand and company strategy and also has relevance with target viewer desire and in line with what consumer care about. From brand people (client) perspective, she added it’s paramount to keep the brand presence in every Consumer Decision Journey (CDJ), that also must be applied on content marketing approach.
Sponsored Content and its position from publisher point of view.
The terminology of content marketing spreads from one industry to another industry. Publisher like online newspaper use Sponsored Content to refer it. Beside the news as their commodity, empowering content article that get sponsor called Sponsored Content. David Alexander ( Business Development at Kompas) from his point of view as publisher professional classify Sponsored Content as intersection area of Venn Diagram between Content Marketing and Native Ad. Sponsored Content applied by different approach, it could be beyond branding (not spoken about brand) but their initiative campaign, for example BP within move the next mile campaign. Or also something that provoking interest of subject, that giving awareness, guidance to empowering for example cashless society (sponsored by one larger bank).
Those approaches aren’t hard selling focus content but still attached with sponsored brand/company logo. Also important for Sponsored Content stakeholder to keep content transparency and relevance (avoid pretending) so make no room consumer getting trap on the content that consumer really doesn’t want to, eventually could ruin their credibility and business.
Content Marketing, hard selling and measurement.
In line with hard selling content, some important lesson-learned shared by Jasmina that too many focus hard selling approach on content gave bad impact from consumer. So need to create content that can steal consumer heart which with minimum hard selling content.
On the other hand, from top management point of view that sometime push a lot hard selling approach because every program should giving the return with common indicator such as number of conversions and revenue. It’s quite complicated and also challenging to set up good content marketing that attract consumer’s attention but less hard selling. According to her best practice, by using KPI as currency to convince top management to go through that approach. The KPI might covers unique visitors from where they access (geography), comply the trend (mobile readership trend) and engagement measurement (bounce rate/time spent, page view and sentiment & social engagement). KPI itself not be separated from measurement, Daniel Van Leeuwen (Research & Development Advisor at XM Gravity) also emphasized measuring activity as part of the main triangle to support implementation of content marketing. It’ s such cycle starting from Learning, Building and Measuring phase. Measurement also part of three main factor related with Content Marketing as Haswar Hafid (Client Partner at Facebook) mentioned beside medium and format.
Content Marketing Strategy.
Content marketing strategy should be user centric, Daniel explained that content format should be as interface between business goal and user goal/needs. Based his digital agency background, he gives example how NetFlix using the data to determine next program to offer. Another example of user centric case when Mortal Combat Director Kevin Tancharoen making a initial pitch film. Kevin put the Mortal Combat thriller online and got much good responses from consumer. Then led him to develop the feature film version and got distribution supporting from Warner Bros.
According to the inspiring story above, Daniel also broke down and emphasized some phases that could be the secret sauce of that success story, the phase starts from do pilot, validation, build/refine and expand.
From branding (client) perspective, the brand need fully support from the content to be part of conversation among consumer, and Jasmine added on other side the content stakeholder need to think the impact also beforehand.
Banner Blindness Fact and Ux matter.
Daniel also mentioned banner blindness and some facts related such low click through rate (CTR) that show less number who clicked the banner. Still related to Banner Blindness in US, Matthew Green (UX Consultant) highlighted from User Experience (UX) design perspective, with case the lack of Ux design such the editorial box looks like banner that consumer think it as banner that keep it quite far from the CTR target. To many and messy banner layout also cause banner blindness, consumer feels dizzy to go to the content he/she want. UX with good lay-out that ergonomic and provide good/easy navigation to follow is the paramount. Mattew also added in specific that important to keep in mind such visual consistency with design of the page, readable text, simple imagery, be relevant and engagement.
Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia?
Sunil Kumar (Digital Director at Starcom) talking from Media Agency perspective, shared key takeways from 2014 that something called Native Ads get spoken and 2015 will be the year of Native Ads that continually need another year to market and mature. LTE launching make possibility the content marketing booming in term of media format and capacity (size) applied successfully at consumer mobile/gadget platform.
Jasmina pretty optimistic that content marketing well growing in 2015 also underlined video marketing is the next hot babe and whole strategy approach (online and offline) integrated to omni channel as one strategy she would apply.
Haswar also believed 2015 is a content marketing year. Since media crossover in the term of time spent started from radio era, tv, digital and now mobile era. Mobile is the most personal and engaging medium ever. Mobile at scale and content marketing get more room for expansion and customization. He resumed it in one brief sentence “Marry the right format with the right device.”
So back to important question. Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? Some might say yes and believe it! Some might wait and see. Some say depending on you, content marketing stakeholder include consumer.
*This article is compilation of panelist thought and audience discussion at Jakarta Content Marketing Meetup January 14th 2015 hosted by GetCRAFT (link). In this article JM Zacharias just took a role as ‘kitchen helper’ who just arranged ‘dish’ served on plate 🙂
*imagre credit: taken while discussion been held
About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link
Happy New Year again !! Yeah … in 2015. It’s annually celebration through many common ways: sending and receiving greeting card, text message,exchange gifts, visiting colleague/beloved family and others activities [new year eve in hotel,townhall, TV program, traveling, and anything else]. In all those activities, we set the resolution, send best wishes to beloved family and friends for properous life in upcoming year.
You and me might be already listed some wishes & resolution and for sure always hope the upcoming year should be much better. One thing came up in my mind, do we apply the proven successful indicator that manages how the process on track or need to do pivoting before getting the resolution completed. Otherwise those resolutions at the end will be acted as “empty promising resolution ” … words without meaning.
I list that concern with big question mark. The resolution should be adjusted into action plan. The question is how measure the process. It helps us to know exactly how close the progress, outcome to the resolution. Whether need some pivoting or not before the end of 2015.
Once put resolution into action plan, the step needs to be taken such requirement mapping, resource management, schedulling, progress tracking and etc. In implementation of the planning, sometimes doesn’t goes as planned and on the other hand new momentum raise up that need the room of flexibility to do pivoting. And also breaking down into small target per milestone (time frame) and parameters that consist of under control and out control variable(third party involvement for cooperation) could help much to ease the implementation of action plan in order to meet the resolution goal. At the end those parameters would help and guide in process, measurement and evaluation of the resolution completion. Also target per milestone help to manage the effort more reasonable to achieve resolution goal and evaluated at the end of 20015.
Sounds quite complicated. Believe me it works, but need strong willpower, consistency and preseverance. Try it step by step eventhough small step and target per milestone gradually but sure. It will pay off.
Let’s start this year with such breakthrough way & very challenging things to achieve. Cause we live to have purpose that valued life by moving forward, growing up,accomplish challenge of the resolution successfully and SMART-ly [Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time Bound].
What do you think?
About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link
Seperti yang sudah-sudah, Rabu dinihari waktu bbwi (Selasa 9 September Pacific Time) saya menunggu update hajatan besar peluncuran produk Apple melalui twitter, media online dan sesekali melalui tv kabel jaringan internasional. Sambil update twit-twit yang masuk, terkejut membaca twit Dick Costolo CEO Twitter yang memberitahukan bahwa Apple menyediakan live tweet.

Pada laman Apple live mulai terlihat area sekitar Flint Center Cupertino beberapa awak media telah siap dari subuh sampai fajar menyingsing. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa twit mulai dari foto para undangan yang sudah hampir penuh memenuhi tempat acara. Ok, berarti jari akan siap menari-nari menekan tombol refresh melihat update terbaru dari produk Apple . Saat menunggu, ponsel pun disandarkan sisi kursi sambil melihat perkembangan melalui tv kabel.

Tampilan layar ponsel berubah secara otomatis menunjukkan live tweet terakhir dengan tanda bulatan biru di pojok kiri atas lengkap dengan angka yang menunjukkan jumlah twit yang belum di lihat. Langsung saja perhatian tertuju pada layar ponsel, serasa berada di Flint Center mengikuti paparan presentasi dengan foto Tim Cook beserta tim penyaji/demo Apple lainnya, diselingi dengan twit dari para undangan salah satunya dari jurnalis BBC Stephen Fry.


Ini terobosan baru, siapa pun, dimana pun yang terkoneksi internet dapat mengikuti acara tersebut. Sesuatu gebrakan baru ini sudah pasti menghasilkan efek wow selama acara berlangsung, berdampak memperkuat engagement pelanggannya dan membuka kanal konsumen bukan pengguna produk Apple untuk mengikuti informasi produk baru Apple, yang membuka peluang untuk melakukan konversi.
Setahun lalu pada even yang sama untuk iPhone 5S dan iPhone 5C, saya menuliskan artikel menyoroti iPhone 5C yang saat digadang-gadang akan memberi warna baru dengan masuk ke segmen anak muda tersebut lengkap dengan aneka warna casing-nya, dengan garis bawah pertanyaan apakah efektif kehadirannya untuk pasar low cost. Iya, hanya itu yang menarik dicermati dari even Apple yang tradisinya sejak dipegang Steve Jobs selalu memberi warna baru (baca efek wow) setiap acara Apple World. Tahun lalu terasa hampa (tidak ada efek wow) seolah pernak-pernik casing warna yang dapat diganti-ganti merupakan terobosan yang ditawarkan Apple pasca meninggalnya Steve Jobs.
Dengan gaya pembawaan yang bertolak belakang dengan Steve Jobs, Tim Cook mendapat tantangan dari para pesaingnya sebut saja Jeff Bezos dengan gaya memukau mengumumkan Amazon Fire Phone atau sang ‘Apple dari Timur’ ponsel Xiaomi yang CEO-nya Lei Jun memang pengagum Steve Jobs berikut gaya pemaparan saat demo pun mirip.
Tim Cook dan jajarannya kali ini membuktikan produk Apple keluar meski tidak dengan kejutan besar [mungkin karena maraknya pemberitaan terutama berkaitan dengan tren wearable] namun langkah revolusi pada fitur-fitur dan teknologinya memberi lompatan yang berbedaa dibandingkan dengan yang dilakukan para pesaingnya.

Hal ini ditunjang karena Apple mengoptimalkan fleksibilitas dalam membuat gebrakan dengan plafon harga iPhone yang premium dimana tidak banyak pesaingnya yang fokus pada kelas yang dipilih Apple untuk head-to-head.
Pada sisi tampilan layar antarmuka (User Interface) mirip, namun membenamkan piranti, fitur, sistem dengan kompleksitas tinggi dari aplikasinya dan material berkualitas prima tentu bermuara pada tinggi harga yang masuk dalam kategori ponsel premium.
Saat demo fitur dilakukan oleh orang produk, Tim Cook menyingkir ke belakang panggung namun masih tetap eksis melalui live tweetnya:

Dari jajaran portofolio yang telah ditampilkan iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Apple juga masuk sebagai penyedia solusi pembayaran transaksi internet dengan meluncurkan Apple Pay. Tentu saja merubah lanskap jaringan pembayaran transaksi online termasuk Pay Pal yang telah lama menjadi partner Apple Store (iTune dll).

Sebagaimana gaya komunikasi Steve Jobs yang membuat penasaran sekaligus kejutan, Tim Cook menutup akhir presentasi Apple Pay dengan sela sejenak sebelum mengakhiri pemaparan akhir setelah Apple Pay dan iPhone seri 6, sambil berucap One More Thing, satu lagi :


Manajemen Apple pun sempat menghadapi krisis bocornya dokumen foto salah satu konsumennya artis yang menyimpannya di iCloud. Dimana tim Apple berhasil mengkonfirmasikan bahwa bocornya tidak pada sistem keamana iCloud namun mekanisme menebak password yang kemudian diatasi dengan two-step authentification. Belum lagi beberapa hari sebelumnya dihebohkan dengan kabarnya bocornya penawaran kontrak berlangganan untuk iPhone produk baru oleh operator di Tiongkok. ‘Huru-hara’ ini berhasil dilokalisir dan ‘dipadamkan’ beberapa hari sebelum hari H. Dan publik mengikuti acara Apple kembali dengan beribu rasa penasaran.
Namun untuk yang satu tadi (membuat penasaran), itu talenta yang dimiliki Steve Jobs yang tidak saja membuat penasaran, Jobs berhasil melakukannya dengan secrecy (tingkat kerahasiaan tinggi). Simak saja bebera cerita pada masanya yang ditulis dalam buku yang ditulis oleh Adam Levinsky
Dari mulai rekrutmen untuk project X pun dilakukan Jobs tanpa sepengatahuan atasan insinyur yang dipinjam (lintas departemen), termasuk sinyal ada penggantian kunci ruangan tertentu yang menandakan menjadi terbatasnya akses ke ruangan tertentu.
Tim Cook dengan latar belakangnya di bidang distribusi berhasil lepas dari bayang-bayang Steve Jobs dan keraguan analis akan masa depan Apple pasca meninggalnya tokoh karismatik itu, dengan gebrakan revitalisasi di sisi retail dengan merekrut mantan CEO Burberry dan terakhir masuknya perancang jam ternama menandakan Apple total masuk di wearble technology yang sudah jelas-jelas akan berhadapan dan aktif masuk dalam ranah fasyen. Seperti entitas ‘New Entrants’ pada Porter Force dimana ada pemain baru menggebrak industri yang mature dan memaksa pemain-pemainnya untuk menyesuaikan diri salah satu pabrikan jam yang mau tidak mau harus masuk pada era koneksi internet.
Dengan munculnya gebrakan canggih produk baru Apple serta mulai hilangnya trade mark i pada perangkat dan layanan Apple seperti Apple Watch, Apple Pay dan munculnya beragam ukuran produk iPhone dan iPad [dimana Stete Jobs sangat sensitif pada dimensi produk ttt] beri ruang dan kesempatan bangkitnya era baru Apple sepeninggal Steve Jobs seperti tablet yang berukuran 7 inci, pasca Jobs dikeluarkan iPad mini 7 inci ].
Di sela-sela sesi menarik paparan produk, ada pertunjukan grup musik U2 sudah tentu memberi kejutan kecil bagi pemirsa yang dapat menyaksikan via live streaming.

The Flint Center sontak semakin menghentak dengan beat-beat lagu-lagu U2 sekaaligus menandai rilis album baru U2 “Song of Innocence”. Seperti yang tampak pada monitor Apple Live September album baru tersebut merupakan bagian dari promo Apple (iTunes store) dan pada waktu setempat dan diklaim telah diunduh melebih setengah milyar konsumennya.

Performa grup musik U2 diakhiri dengan masuknya Tim Cook untuk kemudian mempersilakan para hadiri mengikuti Post-Event ke arah ruang pameran untuk beri kesempatan hadirin merasakan produk Apple yang diluncurkan sambil melakukan dokumentasi untuk keperluan jurnalistik.

Acara dilanjutkan dengan menuju ruang pamer produk untuk melihat, merasakan dan memperoleh kesempatan pertama untuk mengambil gambar dari produk terbaru Apple tersebut. Ketty Perry sempat mentwit di sela-sela acara.


Laman Apple Live signing off menandai berakhirnya rangkaian even peluncuran produk Apple seri 6 ini beserta solusi Apple lainnya. Apple Live Stream terutama Twitter Live ini menjadi gebrakan pendekatan Apple dengan mendayagunakan kanal media sosialnya untuk tetap terhubung dan menjaga hubungan dengan konsumennya.
*image: Apple Live September 2014
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.
Membaca twit-twit tentang Hari Batik termasuk juga tampilan menarik yang relevan ala Google.com (lihat gambar doodle di atas), mengingatkan saya pada kunjungan terakhir di sentra Batik Madura di Bangkalan awal September lalu. Sempat terpikirkan untuk membuat artikelnya, namun ada artikel lain yang harus ditulis sehingga terlupakan. Sampai akhirnya tepat 2 Oktober dibuat artikel yang berjudul [Selamat Hari Batik] Batik Sumber Yang Terbaharukan ini.
Berawal dari ditetapkannya Batik sebagai warisan pusaka dunia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009, yang kemudian setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Melihat animo masyarakat dalam berbusana batik beberapa tahun terakhir menunjukkan busana ini dapat diterima sebagai busana kontenporer yang dapat bersaing dengan busana internasional lain. Sekaligus batik selain sebagai warisan budaya juga simbol jati diri industri kreatif rakyat yang sudah menjadi tuan rumah (diterima) di negeri sendiri serta juga mampu eksis dikancah fashion internasional yang didominasi merk global.
Batik telah menjadi bagian warisan para pendahulu kita, dalam perkembanganya sempat “terkungkung” dengan pola dan balutan busana dengan pakem tertentu. Ini mungkin dikarenakan dahulu dalam hal ini batik tulis dengan pola tertentu merupakan perlambangan status sosial, kebangsawanan, mungkin juga sarat makna penghormatan pada leluhur yang diatur dalam tata cara dan adat yang ketat. Belum lagi dengan pola yang stagnan berikut mode balutan busana sehingga terkesan kuno bagi anak muda saat itu. Kalaupun harus digunakan biasanya hanya saat acara resmi keluarga seperti kondangan, foto keluarga dan even resmi kolektif lainnnya.
Bung Karno lah sekitar tahun 1950-an yang punya keinginan mendayagunakan batik sebagai indentitas nasional. Dipanggil lah Ibu Sud (yang kita kenal sebagai pencipta lagu anak, pencinta anak-anak, pengasuh acara anak TVRI beserta Kak Seto era 80an) untuk memikirkan pembudidayaannya sebagai busana identitas nasional. Pada saat itu Ibu Sud sudah mempunyai sanggar batik yang saat ini diteruskan cucunya yang juga terkenal dengan desain motif batik pada Mercy milik Piyu gitaris PADI sekitar tahun 2011-2012.
Beberapa tahun terakhir mulailah terjadi ‘ledakan’ modernisasi batik dengan sentuhan kreativitas, teknologi, paduannya mode fashion kontenporer serta pengembangannya dipadukan dengan komponen unsur budaya lainnya dalam bingkai industri kreatif. Saya coba memilahnya dalam beberapa poin aspek terkait:
–Kreativitas
Kreativitas dalam memasukan pola modern berpadu dengan pola batik seperti menggunakan warna yang cerah (condong menyala), gradasi warna, corak yang berani serta juga mempunyai tema bervariasi baik disesuaikan asal geografis, memasukan unsur identias perusahaan/organisasi termasuk logo perusahaan, logo klub sepakbola, karakter kartun (Disney bekerja sama dengan satu brand nasional) sebagaimana yang sudah lazim kita jumpai. Belum lagi jika dipadukan sebagai motif desain produk lainnya.
–Budaya & Identitas
Batik sebagai bagian dari budaya Indonesia otomatis juga sebagai identitas bangsa dalam penyajiannya bisa berbaur dengan unsur budaya dan kesenian lain dalam baik pada seni lukis, sandra tari, termasuk menceritakan sejarah dalam corak dan polanya. Selain menceritakan makna cerita tertentu ada jugayang mempunyai nilai identitas sekaligus semangat pemersatu seperti Batik Lasem (kain 3 negeri,yang menyatukan budaya Thionghoa dan Jawa dalam perpaduan tiga daerah warna: warna merah perlambangan Lasem, warna biru dari perlambangan Pekalongan dan warna Coklat dari perlambangan Solo) dan Batik Dayak (TiDaYu, Thionghoa-Dayak-Melayu).
–Teknologi
Munculnya batik fraktal, dengan pola dihasilkan dari pemograman komputer mulai ramai disosialisasi saat era Menristek Kusmayanto Kardiman. Belum lagi perkembangan teknologi tekstil berikut bahan pewarnaannya dan juga teknik produksinya (printing) serta teknologi penyimpanannya sebagai barang koleksi bernilai. Di lain pihak pemenuhan bahan baku dalam pembuatan batik modern pun masih menyimpan tantangan, dimana besaran kandungan impornya sangat besar mulai dari kain kualitas tertentu (untuk produk premium dan permintaan ekspor spt sutra dll), kapas (bahan baku kain katun), pewarna kimia dan lilin.
–Korporasi
Dukungan instansi/korporasi dalam bentuk menggunakan seragam, tema busana, juga pemberdayaan dan usaha batik UKM-UKM pada program dan acara-acara tertentu. Dengan demikain penyerapan konsumsi (permintaan) busana batik memberi kontribusi positif terhadap bisnis dan memberi pesan visual , word of mouth berikut pengalamannya.
–Individu
Saat ini tidak sedikit orang Indonesia di manca negara dalam berbagai acara sangat nyaman untuk menggunakan batik sebagai busana indentitas bangsa sekaligus kampanye budaya dan industri kreatif nasional. Begitu juga orang asing yang mengapresiasi batik dan juga yang ingin memiliki hubungan pertalian dengan karya seni bahkan sudah dalam taraf menjadi kolektor. Turis asing pun yang ingin punya tanda mata dan keterikatan dengan Indonesia dalam format busana termasuk dapat diaplikasikan dalam format hubungan dagang (pebisnis asing dengan pebisnis Indonesia) juga dalam hubungan diplomasi (saat duta besar/kepala negara asing menghadiri acara di Indonesia). Mendiang Nelson Mandela menjadi contoh yang bagus pertalian hubungan individu (orang asing) dengan identias batik kita. Hal ini ditunjukan dengan konsistensinya menggunakan dan mengapresiasikan busana khas Indonesia ini salah satunya dibuktikan menjadi pelanggan tetap butik Iwan Tirta.
–Fashion Nasional
Dunia fashion nasional pun sudah mengakomodir busana batik dalam rencangan busana kontemporernya. Tidak hanya dalam corak, namun berbaur dinamis dalam balutan dengan busana kontemporer lainnya seperti balutan busana dengan blue jeans, sack dress batik, scarf batik dll. Belum lagi kolaborasi dengan brand internasional dalam rangka memasukan model batik pada portfolionya. Eksistensi batik dalam konsep fashion kontenporer diharapkan tidak kontra produktif dengan batik klasik yang sudah ada sejak dahulu, namun pada perkembangannya dapat berjalan dalam kolaborasi yang saling mengisi dan melengkapi sesuai denga perannya masing-masing.
–Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Koperasi dan UKM,Kementrian Perdagangan, Kementrian BUMN serta kementrian terkait lainnya menjadi penghubung, pasar luar negeri dan korporasi dengan UKM-UKM serta mengedukasi masyarakat dalam melestarikan batik. Pemerintah juga harus memberi andil dalam perkembangan indutri kreatif ini melalu menyediakan ifrastruktur yang pendukung seperti akses jalan, jembat, fasilitas tranportasi, pelatihan, pameran, sistem perdagangan yang kondusif dll.
Wacana saat ini seperti Batik Mark, semacam sertifikasi untuk pasar internasional semoga memberi kontribusi positif bagi semua pihak. Termasuk membendung batik cap impor yang meresahkan pengrajin lokal.
–UKM
UKM sebagai unjung tombak bisnis, beri kontribusi agar batik tetap hidup dan berkembang. Baru-baru ini saya ke Bangkalan Madura, mendatangi sentra Batik Madura. Tempatnya di beberapa kawasan pemukiman, harus masuk gang pemukiman. Menariknya ada satu UKM yang masih di sekitar kawasan gang pemukiman, Tresna Art yang menggabungkan bisnis batik dengan kegiatan crowd sourcing seperti pelatihan membatik gratis pada hari tertentu serta pengunjung bisa merasakan budaya Madura mulai dari sajian gratis minuman dan camilan khas Madura, rumah joglo khas Madura, halaman buah dengan kicauan burung yang menghiasi kawasan pemukiman yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. UKM-UKM di ujung gang pemukiman ini pun menarik wisata luar negeri yang mampir di Surabaya berkat infrastruktur Jembatan Suramadu yang memungkinkan wisatawan mancanegara menjangkau sentra bisnis ini kurang dari dua jam perjalanan dari Surabaya.
Selain Batik Madura (batik proses gentong, sarimbit, manok dara ‘manohara’ dll) masih banyak lagi tentang batik nusantara, seperti Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Lasem, Batik Papua, Batik Gunung Merapi, Batik Salatiga, Batik Sidoarjo, Batik Gresik, Batik Surabaya, Batik Dayak pasti masih banyak lagi yang belum disinggung satu per satu.
Waktu pertama kali ke sana hamparan ladang kering dan panas menyengat saat menyambut saat memasuki Pulau Madura kemudian mulai berganti dengan senyuman saat lewati teras rumah-rumah pinggir jalan dengan beberapa kain batik yang tengah dijemur serta dijajakan di warung-warung kecil pinggir jalan. Ini menyakinkan saya (juga kita!) bahwa rakyat bisa hidup dari industri kreatif ini dengan segala sumber dayanya. Sumber daya yang dapat diperbaharui. Tidak terasa kunjungan hampir empat jam pun terasa singkat untuk menghantarkan kami untulk kembali pulang menuju Surabaya.
Lambaian jemuran kain batik yang menari-nari di teras rumah-rumah pinggir jalan, memberi salam sampai-jumpa hantarkan kami meninggalkan Pulau Madura. Beri harapan industri kreatif ini bisa jadi lokomotif perekonomian rakyat, ekonomi rakyat yang juga menggerakan ekonomi nasional. Rakyat makmur, ekonomi bangsa kuat.
Selamat Hari Batik Nasional 2 Oktober
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.
I recieved small card of four main values on my first day working at Nokia couple years ago. One of those values that I’m strongly believe [until now] that always be applied anywhere, anytime and with anyone. It’s respect . It’s not so strange heard about it but will be mean a lot if it can be implemented correctly.
Before talking so far, I attached the meaning of respect from Oxford Dictionary define respect: ” respect: ~ (for sb/sth) polite behaviour towards or care for sb/sth that you think is important.”It’s quite cover about respect. I just wanna add another side of it, not only with treat politely but correctly also and refer to above definition (from Oxford Dictionary) the entity of doing respect is somebody or something as :
–somebody to somebody relationship (i.e : between people, people and his/her God)
–somebody to something relationship (ie: people with system/environtment).
Sometimes, for the last entity (somebody to something) in particular almost without enough concern. First case, if somebody doesn’t feel brave to break traffic regulation due to any traffic police around him, that means respect as somebody to somebody entity ( in this case: he and traffic police). Second case, if there is no traffic police around him and he still don’t have willingness to break the traffic regulation, means he already give respect as somebody to something (in this case: he and system/traffic regulation). It applied on daily business, organization for instance respect employee to company culture (somebody to something) in daily working.
Respect should be natural (not artificial). Of course people should be treat one another with respect no reserve!. But sometimes some people treat respect based on their own particular interest. Don’t treat respect as comodity! If it happened, the respect can’t be implemented balance in proper proportion.
Respect will be empowered and growing together with wisdom as a part of our mature life. The wisdom will help to treat respect correctly in right time and right place. I learned how to treat respect and wisdom in any difference of opinion from my high school colleagues couple years ago. They (Nugoroho and Setiawan) have sharp different point a view in every scout movement race meeting. Always there are no meeting points between them due to they represent of two organisation that always be rival one another. What I learned from them, they kept maintain their personal relationship with respect eventhough they always opposited each other when they represented their organisation in any forums.
Based on the lesson learned above, whatever you do respect comes first.
“Respect the respect value by doing respect correctly and be humble!”
If you have any relevant things to share, I’m looking forward to your thought.
* This article republished from my previous blog with some adjustment.
Image: the billboard around transit area Changi airport
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.
Produk yang mutahir, laris di pasar sudah tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi pihak yang berada di balik terciptanya suatu produk tersebut. Hal ini tidak terkecuali bagi Doug Dietz, desainer alat pemindai yang berukuran besar MRI keluaran General Electric.
Kebanggaan tersebut terus melengkapi kehidupan Doug sampai suatu saat kebangaan itu lenyap dan membuatnya tercengang saat melihat seorang anak ketakutan saat menuju alat MRI yang kokoh berwarna putih tersebut. Kejadian ini sungguh membuatnya terpukul sekaligus mendorongnya melakukan redesain alat MRI khusus bagi pasien anak-anak. Sungguh beruntung Doug dapat langsung melihat apa yang terjadi sesungguhnya reaksi anak terhadap produk yang didesainnya saat itu. Pengalaman menyakitkan ini merupakan pelajaran mahal, mampu dibayar dengan upaya dan desain baru yang spektakuler.
Apa yang terjadi di lapangan (baca: market/pasar) tidak serta merta muncul memberi pesan jelas seperti contoh di atas. Lalu lalang data-data mentah dalam bermacam-macam konteks: visual, verbal, kasatmata namun dapat dirasa, untuk proses selajutnya ditampung, dipilah , diolah dan dirangkai menjadi informasi sebagai pendukung keputusan.
Suatu bagian dari program The Apprentice (UK TV Series) ketika seorang calon peserta magang dalam sebuah meeting mengatakan produk yang akan dikembangkan berkualitas dengan keunggulan terbaik dan dengan yakin produk tersebut akan sukses di market. Sir Alan Sugar (mantan Chairman Amstrad) pun langsung memotong pembicaraan tersebut sambil berujar “Yang harus Anda lakukan adalah pergi ke lapangan, dengar, lihat dan serap apa yang mereka (konsumen) rasakan dan inginkan!” Singkatnya, meminjam istilah dari Sean Devine “Launch and Learn“.
Penjualan yang bagus pun bukan menjadi alasan untuk mengaibaikan consumer insights , karena proses bisnis tidak lepas usaha perbaikan turus menerus (continuous improvement, Kaizen). Produk yang sedang dijual juga yang dikembangkan tentu harus bersinergi dengan apa yang dirasakan, dipersepsikan, dibutuhkan, diharapkan oleh pengguna. Hal ini yang dilakukan Apple (Divisi Music & Entertainment) dengan mengundang artis dan pemimpin di bidang entertainment seperti Harison Ford, Bryan Adams, grup musik metal Mötley Crüe untuk terlibat dalam memberi masukan berharga dari sisi pengguna terhadap produk-produk Apple untuk industri musik & entertainment saat itu.
Ada contoh lain, entah bagaimana caranya saya pun sering diminta kru maskapai Singapore Airlines (on board) untuk mengisi berbagai kuisiner acak dalam berbagai kesempatan. Sebagai penumpang yang mendapatkan pelayanan prima selama ini, saya tidak ragu untuk menuliskan apresiasi, input, pandangan tentang pelayanan Singapura Airlines selama ini termasuk hal-hal lain yang masih kurang memuaskan, berhubungan dengan unsur need dan want saya sebagai penumpang. Saya pun tidak ragu untuk memberitahu mereka tentang layanan istimewa kompetitor yang tidak mereka lakukan.
Di lain pihak secara fair, jika maskapai lain yang pernah saya tumpangi (melayani penumpangnya dengan baik) meminta masukan juga, tidak ada keraguan untuk membagi pandangan terhadap layanannya beserta masukan pembanding berkaitan layanan istimewa dari kompetitor yang pernah saya tumpangi. Hal ini baik untuk membangun iklim kompetitif secara konstruktif.
Kadang ada keengganan pada situasi tertentu seperti apabila diminta untuk memberi masukan dan saran, khususnya untuk maskapai yang melekat kuat reputasinya dalam menelantarkan hak/kebutuhan penumpang karena adanya keraguan tentang itikad baik untuk melakukan perbaikan usaha tersebut. Ini hanya contoh kecil gambaran bagaimana tidak efektifnya proses consumer insights di lapangan khususnya saat konsumen telanjur terkondisikan bersifat apatis baik dalam bentuk komunikasi verbal, visual maupun alam bawah sadar (sub-consciousness).
Kemajuan teknologi informasi dengan internet sebagai motor penggerak menihilkan hambatan ruang dan waktu. Mendayagunakan program loyalti serta aplikasi online seperti kuisioner online, forum/komunitas, social media, web analytic meningkatkan efektifitas dan optimasi pengolahan data sebagai bagian dari proses consumer insights . Strategi online di atas menjadi jamak dilakukan oleh perusahaan. Tak jarang ada yang “terperangkap” dengan hanya menjadikannya sebagai crowd sourcing tanpa perencanaan matang pengolahan lebih lanjut data-data yang melimpah sebagai tindak lanjut oleh pemegang merek (produk).
Starbucks merupakan salah satu perusahaan yang sukses mengelaborasikan keunggulan pendekatan online melalui mystarbucksidea. Portal yang berbasis cloud computing ini berhasil menampung serta mengolah (dalam bentuk sesi diskusi) puluhan ribu saran dan ide dari pelanggan Starbucks seluruh dunia sebagaimana tercatat per 13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) dari portalnya http://mystarbucksidea.force.com
Product Ideas :
Experience Ideas :
Tampilan portal Mystarbucks Idea beserta ide yang masuk per 13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) .
Menjaring apa yang dirasakan oleh pelanggan (need & want-nya), dipadukan dengan bagaimana kontribusi produk yang ditawarkan terhadap pengalaman mereka (user experience, Ux) merupakan inti dari pendekatan consumer insights . Salah satu faktor kunci proses yang strategis adalah bagaimana pelanggan dengan senang hati dan bersikap partisipatif memberikan pandangan secara berimbang. Komplain dari pelanggan merupakan aset berharga untuk ditindaklanjuti secara obyektif. Mengapa berharga?
Sangat berharga dalam konteks untuk proses klarifikasi, perbaikan layanan dan kualitas suatu produk. Serta tidak kalah kritikalnya jika ada pelanggan tidak jadi komplain, memilih bersikap apatis dan mengambil keputusan untuk pindah ke kompetitor, sebuah switching cost yang murah bahkan mendekati gratis ditanggung oleh pesaing dan berkontribusi meningkatkan beban churn-rate.
Tidak Mudah serta Tidak Mustahil (TMTM) mengimplimentasikan proses consumer insights . Apakah melalui proses etnografi/netnografi, observasi , customer visit , serta in-depth interview. Serap dan resapi spirit dalam melaksanakan consumer insights . Pada akhirnya kualitas pengalaman konsumen dapat diukur (QoE, Quality of Experience) dan berkontribusi penting pada seberapa dalam keterikatan pengguna terhadap produk (RoE, Return of Engangement). Paling tidak, dimulai dari belajar pengalaman sehari-hari dari bentuk sederhana termasuk yang telah berlaku turun temurun seperti kalimat bijak yang terpampang pada dinding pintu keluar sebuah RM Padang, “Jika Anda puas beritahukan kepada kerabat Anda, bila tidak beritahukan Kami.”
Bagaimana menurut Anda?
* image credit: Damian Brandon-freedigitalphotos.net
Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com . Anda mengubungi melalui tautan kami.