[Book Lauching] 21 Million Good Jobs and Double Digit Growth

Byjmzachariascom

[Book Lauching] 21 Million Good Jobs and Double Digit Growth

Kamis kemarin (9 Oktober 2014)  saya menghadiri peluncuran buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru“. Tentu penerbitan buku dan acara book launching yang dikemas dalam pemaparan dan talk show yang menarik ini, merupakan momentum yang tepat di saat pemerintahan yang baru siap take-off menjalankan amanat rakyat secara resmi mulai 20 Oktober nanti. Saya pun juga sebelumnya menggunakan momentum pemerintahan baru ini untuk mengkaji masalah dan tantangan yang berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah khususnya terhadap iklim bisnis. Senang juga mengetahui melalui acara kemarin dan penerbitan buku ini dilakukan lembaga yang concern dengan kebijakan publik dengan langkah-langkah nyata sebagaimana yang dilakukan oleh Transformasi (Pusat Transformasi Kebijakan Publik) yang didukung Rajawali Foundation.

Gagasan untuk menerbitkan buku ini tidak lepas dari dimulai gagasan Peter Sondakh (Rajawali Foundation) pentingnya mengkaji tentang sasaran yang dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan  Indonesia. Gustav F Papanek, Raden Pardede dan Suahasil Nazara kemudian melakukan penelitian dan kajian rumusan strategi untuk meraih pertumbuhan  ekonomi di atas 10 % (double digit growth) dan penciptaan 21 juta lapangan kerja baru dalam lima tahun.

Gustav F Papanek (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) melalui paparan video mengatakan bahwa saat ini Tiongkok yang menguasai sekitar 34 % manufaktur dunia, sedang alami isu peningkatan labour cost (upah pekerja) pada industri manufaktur. Dan ini memberi peluang negara-negara tidak terkecuali Indonesia berikut dengan bonus demografinya sebagai tempat relokasi industri manukfatur Tiongkok salah satu akibat dari meningkatnya upah yang signifikan pada struktur biaya operasionalnya. Peluang ini mirip dengan peluang relokasi ditangkap Tiongkok dulu (sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya), pada awal tahun 1990 saat ada kejenuhan di negara-negara tetangga Tiongkok seperti Jepang, Taiwan dan Hong Kong. Papanek yang sejak tahun 1962 berkiprah melalui  kontribusinya pada ekonomi Indonesia, menambahkan daerah upah pekerja yang tinggi tidak menjadi daya tarik bagi investor padat karya dalam hal ini foreign direct investment (FDI), upah pekerja di Indonesia saja masih  tiga kali lipat dari upah pekerja Bangladesh dan sekitar dua kali lipat upah pekerja di Ho Chin MinCity (Vietnam) dan Mumbai (India). Profil kabupaten kota dalam membangun dan membuka investasi pada karya juga disajikan dalam paparan video melalui profil Kabupaten Semarang dengan UMR sekitar 1,2 juta rupiah (masih bisa bersaing dengan Bangladesh) dengan menggalakan programnya lima kawasan industrinya antara lain: Priangapus (250 Ha), Bawen (200 Ha), Tengaran Barat dan Tengaran Timur dan satu lagi lainnya yang dihubungkan tol untuk akses ke bandara atau pelabuhan terdekat. Salah satu investor  yang diwawancarai mengatakan dukungan berinvestasi dari pemda setempat berikut struktur pembiayaan operasional seperti  UMR yang kompetitif mendukung iklim berusaha. Berbicara tentang Foreign Direct Investment (FDI),  Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya mengatakan bahwa FDI yang masuk harus  mengalir ke sektor primer (alam, pertanian, perikanan, energi yang terbarukan). Saat ini FDI masih banyak ke mengalir ke sektor sekunder (teknologi dll) dan sektor tersier (sektor kreatif). Peningkatan FDI sendiri jangan dilihat sebagai dikotomi  nasionalis dan asing, Edimon Ginting memberi contoh Tiongkok dengan FDI yang besar, disisi lain Tiongkok tetap bangsa yang mandiri (berdikari).

Raden Pardede (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) membuka paparan singkatnya bahwa pada buku ini dapat dirangkum dalam dua keyword (Pilihan dan Peluang). Pilihan, Business as Usual lakukan bisnis seperti biasanya (pertumbuhan 5 %  &  1 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun) atau Peluang, Reformasi Tegas  (pertumbuhan 10 %  & 4 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun). Pertumbuhan dua digit (double digit growth) sudah  dapat dilihat pada sektor yang kompetitif salah satunya ICT (Informatin Communication and Telecommunication) sebagaimana yang diungkapkan Edimon Ginting pembahas pada sesi selanjutnya. Ninuk Pambudi dalam bahasannya pada sesi talkshow menyoroti industri yang tidak tumbuh karena importansi barang jadi yang meningkat dan FDI yang masuk melihat Indonesia sebagai market dimana Indonesia masuk  dalam 20 negara  dengan ekonomi terbesar, namun mengalami ketimpangan kemakmuran dan jebakan pertumbuhan ekonomi untuk itu terobosan kebijakan sebagaimana yang diwacanakan buku ini adalah mutlak. Menindaklanjuti terobosan kebijakan Raden Pardede menambahkan peluang tersebut didukung oleh bonus demografi, relokasi investasi dari Tiongkok, bonus demografi, bertambahnya produksi domestik barang jadi (substitusi impor), peningkatan ekspor padat karya,   dan lainnya yang dibahas mendalam pada buku yang diterjamahkan dalam dua bahasa ini (bahasa inggris dan indonesia). Peluang tersebut dapat dilakukan dengan transformasi tenaga kerja (SDM) yang mayoritas berada di sektor informal dan pertanian ke sektor manufaktur. Pada sesi pidato   Menteri Kordinator Ekonomi Chairul Tanjung menyinggung produktivitas pekerja kita yang hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD. Di sisi lain, infrastruktur masih belum dapat berkontribusi maksimal pada pertumbuhan  ekonomi. Saat ini alokasi untuk infrastruktur baru 6,5 % dari PDB. Masih belum kompetitif jika dibandingkan dengan alokasi untuk infrastruktur di Tiongkok sekitar 10% dari PDB,sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya. Pada kondisi saat ini perbaikan di sektor peneriman pajak lebih efektif  diprioritas pada sisi peningkatan tax ratio (menjangkau lebih banyak wajib pajak) dahulu dibandingkan peningkatan tax rate-nya. Tony Prasetiantono juga sepakat dengan pendekatan ini, di mana menurutnya saat ini tax ratio-nya masih sekitar 11% bisa ditingkatkan ke idealnya 17%.

Suahasil Nazara (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”), memaparkan dengan komposisi tingkat hidup masyarakat yang masih didominasi level “rentan” (40%) dan dibawah garis kemiskinan (11%), tugas untuk mengurangi proporsi dominan tersebut dilakukan dengan cara memberi perlindungan sosial dan pekerjaan (active employment program). Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi 6 % tahun 2010 dengan penciptaan 3,3 juta lapangan pekerjaan dan tahun 2012 dengan petumbuhan 6,7% yang hanya 1,1 juta penciptaan lapangan pekerjaan. Mengutip press release Pusat Transformasi Kebijakan Publik untuk acara ini, setiap tahun di Indonesia muncul 2 juta angkatan kerja baru, dengan rata-rata pertumbuhan Indonesia hanya berkisar 5-6 persen, hanya 800 ribu angkatan kerja  baru yang terserap dalam lapangan kerja yang tercipta setiap tahunnya. Sedangkan 1,2 juta angkatan baru sisanya harus menganggur atau bekerja di sektor informal dengan upah minim dan kualitas rendah.

Berkaitan dengan kemiskinan, Gustav F Papanek menambahkan dalam paparan videonya bahwa pemerintah harus dapat menstabilisasikan harga makanan karena untuk keluarga miskin (low income) lebih dari 50% dari pendapatannya digunakan untuk makanan. Suahasil Nazara memberi contoh, kalau harga beras tiba-tiba naik, itu sangat berpengaruh pada belanja konsumsi golongan ini. Ada yang menarik dari paparan Suahasil Nazara pada sesi kemarin hitungan-hitungan kasar alokasi upah pekerja untuk yang dibawah garis kemiskinan (saya tidak mencatat persis sampel angkanya awal, perhitungan garis besar ini hanya memberi gambaran bahwa alokasi anggaran sebesar itu masih bisa ditutupi dari alokasi anggran subsidi bbm) misal:  ambil contoh 1 orang per keluarga miskin atau 20% dari golongan dibawah garis kemiskinan, upah per hari 40 ribu rupiah (5 hari kerja) dibutuhkan anggaran 40 Triliun. Darimana anggaran didapat, potong dari anggaran alokasi subsidi BBM per tahun. Hasil pengumpulan data saya, alokasi subsidi BBM kita pertahun sampai 300 Triliun. Kaya sebelum tua, ungkapan Suahasil Nazara ini dimaksudkan memberi makna untuk memaksimalkan kesempatan di usia produktif dari bonus demografi ini sebelum masuk  aging population.

Pada sesi berikutnya rangkaian dari Book Launching “21 Million Good Jobs and Double Digit Growth” ini Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dalam sambutannya memberi pencerahan pada sisi perekonomian nasional, yang saya rangkum dalam poin-poin penting sebagai berikut:

-Kita harus cepat memanfaatkan bonus demografi ini sekitar 20-25 tahun ke depan, sebelum dominasi manusia usia produktif beralih masuk ke aging population.

-Saat ini pertumbuhan ekonomi ditopang lewat kontribusi besar domestic consumption (60%). Jika tidak siap penyediannya terhadap kebutuhan tersebut, terpaksa import  dan hal ini mengakibatkan deficit trade account dan current account.

-Produktivitas pekerja kita hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD.

-Indonesia terlalu besar, terlalu majemuk untuk dibangun satu kelompok saja. Perlu adanya kerjasama eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Menarik mengelaborasi pemikiran dari buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru” berikut dengan pemaparan dari tim penulis beserta diskusi dengan para pembahas dan undangan, seperti wacana bonus demografi yang muncul sekali dalam satu siklus hidup,beri dorongan segera kerja keras. Selamat bekerja untuk pemerintahan baru dan mari bekerja bersama-sama dalam kolaborasi  elemen-elamen  masyarakat Indonesia.

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply