Category Archive Insight

Byjmzachariascom

[Book Lauching] 21 Million Good Jobs and Double Digit Growth

Kamis kemarin (9 Oktober 2014)  saya menghadiri peluncuran buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru“. Tentu penerbitan buku dan acara book launching yang dikemas dalam pemaparan dan talk show yang menarik ini, merupakan momentum yang tepat di saat pemerintahan yang baru siap take-off menjalankan amanat rakyat secara resmi mulai 20 Oktober nanti. Saya pun juga sebelumnya menggunakan momentum pemerintahan baru ini untuk mengkaji masalah dan tantangan yang berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah khususnya terhadap iklim bisnis. Senang juga mengetahui melalui acara kemarin dan penerbitan buku ini dilakukan lembaga yang concern dengan kebijakan publik dengan langkah-langkah nyata sebagaimana yang dilakukan oleh Transformasi (Pusat Transformasi Kebijakan Publik) yang didukung Rajawali Foundation.

Gagasan untuk menerbitkan buku ini tidak lepas dari dimulai gagasan Peter Sondakh (Rajawali Foundation) pentingnya mengkaji tentang sasaran yang dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan  Indonesia. Gustav F Papanek, Raden Pardede dan Suahasil Nazara kemudian melakukan penelitian dan kajian rumusan strategi untuk meraih pertumbuhan  ekonomi di atas 10 % (double digit growth) dan penciptaan 21 juta lapangan kerja baru dalam lima tahun.

Gustav F Papanek (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) melalui paparan video mengatakan bahwa saat ini Tiongkok yang menguasai sekitar 34 % manufaktur dunia, sedang alami isu peningkatan labour cost (upah pekerja) pada industri manufaktur. Dan ini memberi peluang negara-negara tidak terkecuali Indonesia berikut dengan bonus demografinya sebagai tempat relokasi industri manukfatur Tiongkok salah satu akibat dari meningkatnya upah yang signifikan pada struktur biaya operasionalnya. Peluang ini mirip dengan peluang relokasi ditangkap Tiongkok dulu (sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya), pada awal tahun 1990 saat ada kejenuhan di negara-negara tetangga Tiongkok seperti Jepang, Taiwan dan Hong Kong. Papanek yang sejak tahun 1962 berkiprah melalui  kontribusinya pada ekonomi Indonesia, menambahkan daerah upah pekerja yang tinggi tidak menjadi daya tarik bagi investor padat karya dalam hal ini foreign direct investment (FDI), upah pekerja di Indonesia saja masih  tiga kali lipat dari upah pekerja Bangladesh dan sekitar dua kali lipat upah pekerja di Ho Chin MinCity (Vietnam) dan Mumbai (India). Profil kabupaten kota dalam membangun dan membuka investasi pada karya juga disajikan dalam paparan video melalui profil Kabupaten Semarang dengan UMR sekitar 1,2 juta rupiah (masih bisa bersaing dengan Bangladesh) dengan menggalakan programnya lima kawasan industrinya antara lain: Priangapus (250 Ha), Bawen (200 Ha), Tengaran Barat dan Tengaran Timur dan satu lagi lainnya yang dihubungkan tol untuk akses ke bandara atau pelabuhan terdekat. Salah satu investor  yang diwawancarai mengatakan dukungan berinvestasi dari pemda setempat berikut struktur pembiayaan operasional seperti  UMR yang kompetitif mendukung iklim berusaha. Berbicara tentang Foreign Direct Investment (FDI),  Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya mengatakan bahwa FDI yang masuk harus  mengalir ke sektor primer (alam, pertanian, perikanan, energi yang terbarukan). Saat ini FDI masih banyak ke mengalir ke sektor sekunder (teknologi dll) dan sektor tersier (sektor kreatif). Peningkatan FDI sendiri jangan dilihat sebagai dikotomi  nasionalis dan asing, Edimon Ginting memberi contoh Tiongkok dengan FDI yang besar, disisi lain Tiongkok tetap bangsa yang mandiri (berdikari).

Raden Pardede (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) membuka paparan singkatnya bahwa pada buku ini dapat dirangkum dalam dua keyword (Pilihan dan Peluang). Pilihan, Business as Usual lakukan bisnis seperti biasanya (pertumbuhan 5 %  &  1 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun) atau Peluang, Reformasi Tegas  (pertumbuhan 10 %  & 4 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun). Pertumbuhan dua digit (double digit growth) sudah  dapat dilihat pada sektor yang kompetitif salah satunya ICT (Informatin Communication and Telecommunication) sebagaimana yang diungkapkan Edimon Ginting pembahas pada sesi selanjutnya. Ninuk Pambudi dalam bahasannya pada sesi talkshow menyoroti industri yang tidak tumbuh karena importansi barang jadi yang meningkat dan FDI yang masuk melihat Indonesia sebagai market dimana Indonesia masuk  dalam 20 negara  dengan ekonomi terbesar, namun mengalami ketimpangan kemakmuran dan jebakan pertumbuhan ekonomi untuk itu terobosan kebijakan sebagaimana yang diwacanakan buku ini adalah mutlak. Menindaklanjuti terobosan kebijakan Raden Pardede menambahkan peluang tersebut didukung oleh bonus demografi, relokasi investasi dari Tiongkok, bonus demografi, bertambahnya produksi domestik barang jadi (substitusi impor), peningkatan ekspor padat karya,   dan lainnya yang dibahas mendalam pada buku yang diterjamahkan dalam dua bahasa ini (bahasa inggris dan indonesia). Peluang tersebut dapat dilakukan dengan transformasi tenaga kerja (SDM) yang mayoritas berada di sektor informal dan pertanian ke sektor manufaktur. Pada sesi pidato   Menteri Kordinator Ekonomi Chairul Tanjung menyinggung produktivitas pekerja kita yang hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD. Di sisi lain, infrastruktur masih belum dapat berkontribusi maksimal pada pertumbuhan  ekonomi. Saat ini alokasi untuk infrastruktur baru 6,5 % dari PDB. Masih belum kompetitif jika dibandingkan dengan alokasi untuk infrastruktur di Tiongkok sekitar 10% dari PDB,sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya. Pada kondisi saat ini perbaikan di sektor peneriman pajak lebih efektif  diprioritas pada sisi peningkatan tax ratio (menjangkau lebih banyak wajib pajak) dahulu dibandingkan peningkatan tax rate-nya. Tony Prasetiantono juga sepakat dengan pendekatan ini, di mana menurutnya saat ini tax ratio-nya masih sekitar 11% bisa ditingkatkan ke idealnya 17%.

Suahasil Nazara (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”), memaparkan dengan komposisi tingkat hidup masyarakat yang masih didominasi level “rentan” (40%) dan dibawah garis kemiskinan (11%), tugas untuk mengurangi proporsi dominan tersebut dilakukan dengan cara memberi perlindungan sosial dan pekerjaan (active employment program). Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi 6 % tahun 2010 dengan penciptaan 3,3 juta lapangan pekerjaan dan tahun 2012 dengan petumbuhan 6,7% yang hanya 1,1 juta penciptaan lapangan pekerjaan. Mengutip press release Pusat Transformasi Kebijakan Publik untuk acara ini, setiap tahun di Indonesia muncul 2 juta angkatan kerja baru, dengan rata-rata pertumbuhan Indonesia hanya berkisar 5-6 persen, hanya 800 ribu angkatan kerja  baru yang terserap dalam lapangan kerja yang tercipta setiap tahunnya. Sedangkan 1,2 juta angkatan baru sisanya harus menganggur atau bekerja di sektor informal dengan upah minim dan kualitas rendah.

Berkaitan dengan kemiskinan, Gustav F Papanek menambahkan dalam paparan videonya bahwa pemerintah harus dapat menstabilisasikan harga makanan karena untuk keluarga miskin (low income) lebih dari 50% dari pendapatannya digunakan untuk makanan. Suahasil Nazara memberi contoh, kalau harga beras tiba-tiba naik, itu sangat berpengaruh pada belanja konsumsi golongan ini. Ada yang menarik dari paparan Suahasil Nazara pada sesi kemarin hitungan-hitungan kasar alokasi upah pekerja untuk yang dibawah garis kemiskinan (saya tidak mencatat persis sampel angkanya awal, perhitungan garis besar ini hanya memberi gambaran bahwa alokasi anggaran sebesar itu masih bisa ditutupi dari alokasi anggran subsidi bbm) misal:  ambil contoh 1 orang per keluarga miskin atau 20% dari golongan dibawah garis kemiskinan, upah per hari 40 ribu rupiah (5 hari kerja) dibutuhkan anggaran 40 Triliun. Darimana anggaran didapat, potong dari anggaran alokasi subsidi BBM per tahun. Hasil pengumpulan data saya, alokasi subsidi BBM kita pertahun sampai 300 Triliun. Kaya sebelum tua, ungkapan Suahasil Nazara ini dimaksudkan memberi makna untuk memaksimalkan kesempatan di usia produktif dari bonus demografi ini sebelum masuk  aging population.

Pada sesi berikutnya rangkaian dari Book Launching “21 Million Good Jobs and Double Digit Growth” ini Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dalam sambutannya memberi pencerahan pada sisi perekonomian nasional, yang saya rangkum dalam poin-poin penting sebagai berikut:

-Kita harus cepat memanfaatkan bonus demografi ini sekitar 20-25 tahun ke depan, sebelum dominasi manusia usia produktif beralih masuk ke aging population.

-Saat ini pertumbuhan ekonomi ditopang lewat kontribusi besar domestic consumption (60%). Jika tidak siap penyediannya terhadap kebutuhan tersebut, terpaksa import  dan hal ini mengakibatkan deficit trade account dan current account.

-Produktivitas pekerja kita hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD.

-Indonesia terlalu besar, terlalu majemuk untuk dibangun satu kelompok saja. Perlu adanya kerjasama eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Menarik mengelaborasi pemikiran dari buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru” berikut dengan pemaparan dari tim penulis beserta diskusi dengan para pembahas dan undangan, seperti wacana bonus demografi yang muncul sekali dalam satu siklus hidup,beri dorongan segera kerja keras. Selamat bekerja untuk pemerintahan baru dan mari bekerja bersama-sama dalam kolaborasi  elemen-elamen  masyarakat Indonesia.

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

[ Selamat Hari Batik ] Batik Sumber Yang Terbaharukan

Membaca twit-twit tentang Hari Batik  termasuk juga tampilan menarik yang relevan ala Google.com (lihat gambar doodle di atas), mengingatkan saya pada kunjungan terakhir  di sentra Batik Madura di Bangkalan awal September lalu. Sempat terpikirkan untuk membuat artikelnya, namun ada artikel lain yang harus ditulis sehingga terlupakan. Sampai akhirnya tepat 2 Oktober dibuat  artikel yang berjudul [Selamat Hari Batik] Batik Sumber Yang Terbaharukan ini.

Berawal dari ditetapkannya Batik sebagai warisan pusaka dunia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009, yang kemudian setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Melihat animo masyarakat dalam berbusana batik beberapa tahun terakhir menunjukkan  busana ini dapat diterima sebagai busana kontenporer yang dapat bersaing dengan busana internasional lain. Sekaligus batik selain sebagai warisan budaya juga simbol jati diri industri kreatif rakyat yang sudah menjadi tuan rumah (diterima) di negeri sendiri serta juga mampu eksis dikancah fashion internasional yang didominasi merk global.

Batik telah menjadi bagian warisan para pendahulu kita, dalam perkembanganya sempat “terkungkung” dengan pola dan balutan busana dengan pakem tertentu. Ini mungkin dikarenakan dahulu  dalam hal ini batik tulis dengan pola tertentu merupakan perlambangan status sosial, kebangsawanan, mungkin juga sarat makna penghormatan pada leluhur yang diatur dalam tata cara  dan adat yang ketat. Belum lagi dengan pola yang stagnan berikut  mode balutan busana sehingga terkesan kuno bagi anak muda saat itu. Kalaupun harus digunakan biasanya hanya saat acara resmi keluarga seperti kondangan, foto keluarga dan even resmi kolektif lainnnya.

Bung Karno lah sekitar tahun 1950-an yang punya keinginan mendayagunakan batik sebagai indentitas nasional. Dipanggil lah Ibu Sud (yang kita kenal sebagai pencipta lagu anak, pencinta anak-anak, pengasuh acara anak TVRI beserta Kak Seto era 80an) untuk memikirkan pembudidayaannya sebagai busana identitas nasional. Pada saat itu Ibu Sud sudah mempunyai sanggar batik yang saat ini diteruskan cucunya yang juga terkenal dengan desain motif batik pada Mercy  milik Piyu gitaris PADI sekitar tahun 2011-2012.

Beberapa tahun terakhir mulailah terjadi ‘ledakan’ modernisasi batik dengan sentuhan kreativitas, teknologi, paduannya mode fashion kontenporer serta pengembangannya dipadukan dengan komponen unsur budaya lainnya dalam bingkai industri kreatif. Saya coba memilahnya dalam beberapa poin aspek terkait:

Kreativitas

Kreativitas dalam memasukan pola modern berpadu dengan pola batik seperti menggunakan warna yang cerah (condong menyala), gradasi warna, corak yang berani serta juga mempunyai tema bervariasi baik disesuaikan asal geografis, memasukan unsur identias perusahaan/organisasi termasuk logo perusahaan, logo klub sepakbola, karakter kartun (Disney bekerja sama dengan satu brand nasional)  sebagaimana yang sudah lazim kita jumpai. Belum  lagi jika dipadukan sebagai motif desain produk  lainnya.

Budaya & Identitas

Batik sebagai bagian dari budaya Indonesia otomatis juga sebagai identitas bangsa dalam penyajiannya bisa berbaur dengan unsur budaya dan kesenian lain dalam baik pada seni lukis, sandra tari, termasuk menceritakan sejarah dalam corak dan polanya. Selain menceritakan makna cerita tertentu ada jugayang mempunyai nilai identitas sekaligus semangat pemersatu seperti Batik Lasem (kain 3 negeri,yang menyatukan budaya Thionghoa dan Jawa dalam perpaduan tiga  daerah warna: warna merah perlambangan Lasem, warna biru dari perlambangan Pekalongan dan warna Coklat dari perlambangan Solo) dan Batik Dayak (TiDaYu, Thionghoa-Dayak-Melayu).

Teknologi
Munculnya batik fraktal, dengan pola dihasilkan dari pemograman komputer mulai ramai disosialisasi saat era Menristek Kusmayanto Kardiman. Belum lagi perkembangan teknologi tekstil berikut bahan pewarnaannya dan juga teknik produksinya (printing) serta teknologi penyimpanannya  sebagai barang koleksi bernilai. Di lain pihak pemenuhan bahan baku dalam pembuatan batik modern pun masih menyimpan tantangan, dimana besaran kandungan impornya sangat besar mulai dari kain kualitas tertentu (untuk produk premium dan permintaan ekspor spt sutra dll),  kapas (bahan baku kain katun), pewarna kimia dan lilin.

Korporasi
Dukungan instansi/korporasi dalam bentuk menggunakan seragam, tema busana, juga pemberdayaan  dan usaha batik UKM-UKM  pada program dan acara-acara tertentu. Dengan demikain penyerapan konsumsi (permintaan) busana  batik memberi kontribusi positif terhadap bisnis dan memberi pesan visual , word of mouth berikut pengalamannya.

Individu
Saat ini tidak sedikit orang Indonesia di manca negara dalam berbagai acara sangat nyaman untuk menggunakan batik sebagai busana indentitas bangsa sekaligus kampanye budaya dan industri kreatif nasional. Begitu juga orang asing yang mengapresiasi batik dan juga yang ingin memiliki hubungan pertalian dengan karya seni  bahkan sudah dalam taraf menjadi kolektor. Turis asing pun yang ingin punya tanda mata dan keterikatan dengan Indonesia dalam format busana termasuk dapat diaplikasikan dalam format hubungan dagang (pebisnis asing dengan pebisnis Indonesia) juga dalam hubungan diplomasi (saat duta besar/kepala negara asing menghadiri acara di Indonesia). Mendiang Nelson Mandela menjadi contoh yang bagus pertalian hubungan individu (orang asing) dengan identias batik kita. Hal ini ditunjukan dengan konsistensinya menggunakan dan mengapresiasikan busana khas Indonesia ini salah satunya dibuktikan menjadi  pelanggan tetap butik Iwan Tirta.

Fashion Nasional
Dunia fashion nasional pun sudah mengakomodir busana batik dalam rencangan busana kontemporernya. Tidak hanya dalam corak, namun berbaur dinamis dalam balutan dengan busana kontemporer lainnya seperti balutan busana dengan blue jeans, sack dress batik, scarf batik dll. Belum lagi kolaborasi dengan brand internasional dalam rangka memasukan model batik pada portfolionya. Eksistensi batik dalam konsep fashion kontenporer diharapkan tidak kontra produktif dengan batik klasik yang sudah ada sejak dahulu, namun pada perkembangannya dapat berjalan dalam kolaborasi yang saling mengisi dan melengkapi sesuai denga perannya masing-masing.

Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Koperasi dan UKM,Kementrian Perdagangan, Kementrian BUMN serta kementrian terkait lainnya menjadi penghubung, pasar luar negeri dan  korporasi dengan UKM-UKM serta mengedukasi masyarakat dalam melestarikan batik. Pemerintah juga harus memberi andil dalam perkembangan indutri kreatif  ini melalu menyediakan ifrastruktur yang pendukung seperti akses jalan, jembat, fasilitas tranportasi, pelatihan, pameran, sistem perdagangan yang kondusif dll.
Wacana saat ini seperti Batik Mark, semacam sertifikasi untuk pasar internasional semoga memberi kontribusi positif bagi semua pihak. Termasuk membendung batik cap impor  yang meresahkan pengrajin  lokal.

UKM
UKM sebagai unjung tombak bisnis, beri kontribusi agar batik tetap hidup dan berkembang. Baru-baru ini saya ke Bangkalan Madura, mendatangi sentra Batik Madura. Tempatnya di beberapa kawasan pemukiman, harus masuk gang pemukiman. Menariknya ada satu UKM yang masih di sekitar kawasan gang pemukiman, Tresna Art yang menggabungkan bisnis batik dengan kegiatan crowd sourcing seperti pelatihan membatik gratis pada hari tertentu serta pengunjung bisa merasakan budaya Madura mulai dari sajian gratis minuman dan camilan khas Madura, rumah joglo khas Madura, halaman buah dengan kicauan burung yang menghiasi kawasan pemukiman yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. UKM-UKM di ujung gang pemukiman ini pun menarik wisata luar negeri yang mampir di Surabaya berkat infrastruktur Jembatan Suramadu yang memungkinkan wisatawan mancanegara menjangkau sentra bisnis ini kurang dari dua jam perjalanan dari Surabaya.

Selain Batik Madura (batik proses gentong, sarimbit, manok dara ‘manohara’ dll) masih banyak lagi tentang batik nusantara, seperti Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Lasem, Batik Papua, Batik Gunung Merapi, Batik Salatiga, Batik Sidoarjo, Batik  Gresik, Batik Surabaya, Batik Dayak pasti masih banyak lagi yang belum disinggung satu per satu.

Waktu pertama kali ke sana hamparan ladang kering dan panas menyengat saat menyambut saat memasuki Pulau Madura kemudian mulai berganti dengan senyuman saat lewati teras rumah-rumah pinggir jalan dengan beberapa kain batik yang tengah dijemur serta dijajakan di  warung-warung kecil pinggir jalan. Ini menyakinkan saya (juga kita!) bahwa rakyat bisa hidup dari industri kreatif ini dengan segala sumber dayanya. Sumber daya yang dapat diperbaharui. Tidak terasa kunjungan hampir empat jam pun terasa singkat untuk menghantarkan kami untulk kembali pulang menuju Surabaya.

Lambaian jemuran kain batik yang menari-nari di teras rumah-rumah pinggir jalan, memberi salam sampai-jumpa hantarkan  kami meninggalkan Pulau Madura. Beri harapan industri kreatif ini bisa jadi lokomotif perekonomian rakyat, ekonomi rakyat yang juga menggerakan ekonomi nasional.  Rakyat makmur, ekonomi bangsa kuat.

Selamat Hari Batik Nasional  2 Oktober

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Whatever you do, respect comes first.

I recieved small card of four main values on my first day working at Nokia couple years ago. One of those values that I’m strongly believe [until now] that always be applied anywhere, anytime and with anyone.  It’s respect . It’s not so strange heard about it but will be mean a lot if it can be implemented correctly.

Before talking so far, I attached the meaning of  respect from Oxford Dictionary define respect: ” respect: ~ (for sb/sth) polite behaviour towards or care for sb/sth that you think is important.”It’s quite cover about respect.  I just wanna add another side of  it, not only with treat politely but correctly also and refer to above definition (from Oxford Dictionary) the entity of doing respect is somebody or something as :

somebody to somebody relationship (i.e : between people, people and his/her God)

somebody to something relationship (ie: people with system/environtment).

Sometimes, for the last entity (somebody to something) in particular almost without enough concern. First case, if somebody doesn’t feel brave to break traffic regulation due to any traffic police around him, that means respect as somebody to somebody entity ( in this case: he and traffic police). Second case, if there is no traffic police around him and he still don’t have willingness to break the traffic regulation, means he already give respect as somebody to something (in this case: he and system/traffic regulation). It applied on daily business, organization for instance respect employee to company culture  (somebody to something) in daily working.

Respect should be natural (not artificial). Of course people should be treat one another with respect no reserve!.  But sometimes some people treat respect based on their own particular interest. Don’t treat respect as comodity! If it happened, the respect can’t be implemented balance in proper proportion.

Respect will be empowered and growing together with wisdom as a part of our mature life. The wisdom will help to treat respect correctly in right time and right place. I learned how to treat respect and wisdom in any difference of opinion from my high school colleagues couple years ago. They (Nugoroho and Setiawan) have sharp different point a view in every scout movement race meeting. Always there are no meeting points between them due to they represent of two organisation that always be rival one another. What I learned from them, they kept maintain their personal relationship with respect eventhough they always opposited each other when they represented their organisation in any forums.

Based on the lesson learned above, whatever you do respect comes first.
“Respect the respect value by doing respect correctly and be humble!”
If you have any relevant things to share, I’m looking forward to your thought.

* This article  republished from my previous blog with some adjustment.

Image: the billboard around transit area Changi airport

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Consumer Insights : Pentingnya Pandangan Konsumen

Produk yang mutahir, laris di pasar sudah tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi pihak yang berada di balik terciptanya suatu produk tersebut. Hal ini tidak terkecuali bagi Doug Dietz, desainer alat pemindai yang berukuran besar MRI keluaran General Electric.
Kebanggaan tersebut  terus melengkapi kehidupan Doug sampai suatu saat kebangaan itu lenyap dan membuatnya  tercengang saat melihat seorang anak ketakutan saat menuju alat MRI yang kokoh berwarna putih tersebut. Kejadian ini sungguh membuatnya terpukul sekaligus mendorongnya melakukan redesain alat MRI khusus bagi pasien anak-anak. Sungguh beruntung Doug dapat langsung melihat apa yang terjadi sesungguhnya reaksi anak terhadap  produk yang didesainnya saat itu. Pengalaman menyakitkan ini merupakan pelajaran mahal, mampu dibayar dengan upaya dan desain baru yang spektakuler.

Apa yang terjadi di lapangan (baca: market/pasar) tidak serta merta  muncul memberi pesan jelas seperti contoh di atas. Lalu lalang data-data mentah dalam bermacam-macam konteks: visual, verbal, kasatmata namun dapat dirasa, untuk proses selajutnya ditampung, dipilah , diolah dan dirangkai menjadi informasi sebagai pendukung keputusan.

Suatu bagian dari program The Apprentice (UK TV Series) ketika seorang calon peserta magang dalam sebuah meeting mengatakan  produk yang akan dikembangkan berkualitas dengan keunggulan terbaik dan dengan yakin produk tersebut akan sukses di market. Sir Alan Sugar (mantan Chairman Amstrad) pun langsung memotong pembicaraan  tersebut sambil berujar “Yang harus Anda lakukan adalah pergi ke lapangan, dengar, lihat dan serap apa yang mereka (konsumen) rasakan dan inginkan!” Singkatnya, meminjam istilah dari Sean Devine  “Launch and Learn“.

Penjualan yang bagus pun bukan menjadi alasan untuk mengaibaikan consumer insights , karena proses bisnis tidak lepas usaha perbaikan  turus menerus (continuous improvementKaizen). Produk yang sedang dijual juga yang dikembangkan tentu harus bersinergi dengan  apa yang dirasakan, dipersepsikan, dibutuhkan, diharapkan oleh pengguna. Hal ini  yang dilakukan Apple (Divisi Music & Entertainment) dengan mengundang artis dan pemimpin di bidang entertainment seperti Harison Ford, Bryan Adams, grup musik metal Mötley Crüe untuk terlibat dalam memberi masukan berharga dari sisi pengguna terhadap produk-produk Apple  untuk industri musik & entertainment saat itu.

Ada contoh lain, entah bagaimana  caranya saya pun sering diminta  kru maskapai Singapore Airlines (on board) untuk mengisi berbagai kuisiner acak  dalam berbagai kesempatan. Sebagai penumpang yang  mendapatkan pelayanan prima selama ini, saya tidak ragu untuk menuliskan apresiasi, input, pandangan tentang pelayanan Singapura Airlines selama ini termasuk hal-hal lain yang masih kurang memuaskan, berhubungan dengan unsur need dan want saya sebagai penumpang. Saya pun tidak ragu untuk memberitahu mereka tentang layanan istimewa kompetitor  yang tidak mereka lakukan.

Di lain pihak secara fair, jika maskapai lain yang pernah saya tumpangi (melayani penumpangnya dengan baik) meminta masukan juga, tidak ada keraguan untuk membagi pandangan  terhadap layanannya beserta masukan  pembanding berkaitan layanan istimewa dari kompetitor  yang pernah saya tumpangi. Hal ini  baik untuk membangun iklim kompetitif secara konstruktif.

Kadang ada keengganan pada situasi tertentu seperti apabila diminta untuk memberi masukan dan saran, khususnya untuk  maskapai yang melekat kuat reputasinya dalam menelantarkan hak/kebutuhan penumpang karena adanya keraguan tentang itikad baik  untuk melakukan perbaikan usaha tersebut. Ini hanya contoh kecil gambaran bagaimana tidak efektifnya proses consumer insights di lapangan khususnya saat konsumen telanjur terkondisikan  bersifat apatis baik dalam bentuk komunikasi verbal, visual maupun alam bawah sadar (sub-consciousness).

Kemajuan teknologi informasi dengan internet sebagai motor penggerak menihilkan hambatan ruang dan waktu. Mendayagunakan program loyalti serta aplikasi online seperti kuisioner online, forum/komunitas, social media, web analytic meningkatkan efektifitas  dan optimasi pengolahan data sebagai bagian dari proses consumer insights . Strategi online di atas menjadi jamak dilakukan oleh perusahaan. Tak jarang ada yang “terperangkap” dengan hanya  menjadikannya sebagai crowd sourcing tanpa perencanaan  matang pengolahan lebih lanjut data-data yang melimpah  sebagai  tindak lanjut oleh pemegang merek (produk).

Starbucks merupakan salah satu perusahaan yang sukses mengelaborasikan keunggulan pendekatan online melalui mystarbucksidea. Portal yang berbasis cloud computing ini  berhasil menampung serta mengolah (dalam bentuk sesi diskusi) puluhan ribu saran dan ide dari pelanggan Starbucks seluruh dunia sebagaimana  tercatat  per 13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) dari portalnya http://mystarbucksidea.force.com

Product Ideas :

  • 32,563 Coffee & Esporesso Drinks ideas,
  • 3,319 Frappuccino® Beverages ideas,
  • 9,535 Teas & Other Drinks ideas,
  • 14,928 Food ideas,
  • 7,830 Merchandise & Music ideas,
  • 15,967 Starbucks Card ideas,
  • 2,717 New Technology ideas,
  • 10,508 Other Product  ideas

Experience Ideas :

  • 7,824 Ordering, Payment, & Pick-Up ideas
  • 14,065 Atmosphere & Locations ideas
  • 10,810 Other Experience ideas

mystarbucksidea

Tampilan portal Mystarbucks Idea beserta ide yang masuk per   13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) .

Menjaring apa  yang dirasakan oleh pelanggan  (need & want-nya), dipadukan dengan  bagaimana kontribusi produk yang ditawarkan terhadap pengalaman mereka (user experience, Ux) merupakan inti dari pendekatan consumer insights . Salah satu faktor kunci proses yang strategis adalah bagaimana  pelanggan dengan senang hati dan bersikap partisipatif memberikan pandangan secara berimbang. Komplain dari pelanggan  merupakan aset berharga  untuk ditindaklanjuti secara obyektif. Mengapa berharga?

Sangat berharga dalam konteks untuk  proses klarifikasi, perbaikan layanan dan kualitas suatu produk. Serta tidak kalah kritikalnya jika ada pelanggan  tidak jadi komplain, memilih bersikap apatis dan mengambil keputusan untuk pindah ke kompetitor, sebuah switching cost yang murah bahkan mendekati gratis ditanggung oleh pesaing dan berkontribusi meningkatkan beban churn-rate.

Tidak Mudah serta Tidak Mustahil (TMTM)  mengimplimentasikan  proses consumer insights . Apakah melalui proses etnografi/netnografi, observasi , customer visit , serta in-depth interview. Serap dan  resapi spirit dalam melaksanakan  consumer insights . Pada akhirnya kualitas pengalaman konsumen dapat diukur (QoEQuality of Experience) dan berkontribusi penting pada seberapa dalam keterikatan pengguna terhadap produk (RoEReturn of Engangement). Paling tidak, dimulai dari belajar pengalaman sehari-hari  dari bentuk sederhana termasuk yang telah berlaku turun temurun seperti kalimat bijak yang terpampang pada dinding pintu keluar sebuah RM Padang, “Jika Anda puas beritahukan kepada kerabat Anda, bila tidak beritahukan  Kami.”

Bagaimana menurut Anda?

* image credit: Damian Brandon-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com . Anda mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Visi Kemandirian DNA Industri Telekomunikasi Kita

Semaraknya pelaksanaan rangkaian kegiatan pilpres 2014 mulai pendaftaran capres-cawapres sosialisasi, kampanye, pemaparan visi dan program pemerintahan periode 2014-2019 sampai interaksi langsung capres-cawapres dengan rakyat, momentum ini pas untuk mengemukakan keinginan akan kemandirian (kedaulatan) bangsa ini terutama pada sektor-sektor yang berhubungan hajat hidup orang banyak (rakyat). Kali ini khusus pada bidang industri/bisnis telekomunikasi saja yang juga menyentuh hajat hidup orang banyak dan berkontribusi penting untuk perkekonomian dalam abad digital ini. Keinginan untuk memperkuat kemandirian DNA (Device, Network dan Application)  industri telekomunikasi kita tidak lepas untuk memperbaiki situasi dan kondisi sampai dengan  saat ini serta melanjutkan sekaligus meningkatkan hal-hal positif yang telah dilakukan.

DEVICE (Perangkat)

Perkembangan industri perangkat di tanah air perlu didukung dengan berbagai usaha contoh insentif & proteksinya terhadap usaha meningkatkan sektor ekonomi dan membuka lapangan kerja seperti investasi dalam membangun sentra manufaktur dalam memproduksi alat telekomunikasi. Kepastian akan kebijakan pemerintah yang jelas dan konsisten, harus dijalankan bersinergi antar  departemen dan pemerintah daerah terkait (pemda propinsi dan kabupaten kota) seperti insentif pajak dan ekspor impor, perijinan, ketersedian pasokan energi seperti suplai listrik, kebijakan tenaga kerja  dan kebijakan pemuatan konten/komponen lokal. Kejelasan dan keselarasan kebijakan sebelumnya dan akan datang (wacana) hendaknya tidak saling tumpang tindih apalagi kotra produktif. Masih segar dalam ingatan batalnya rencana investasi produsen ponsel termasuk yang terakhir kabar produsen asal Korea Selatan mengalihkan investasi pembangunan pabrik ponsel ke Vietnam bisa menjadi pelajaran berharga, dimana  insentif tax-holiday dan skema pajak yang tidak kompetitif seperti yang ditawarkan negara lain, serta besaran pajak impor komponen  dan  wacana ponsel akan dikenakan pajak barang mewah masih menjadi perhatian utama bagi investor.

Dengan efisiensi biaya yang dapat ditingkatkan, produktifitas dan pertumbuhan produk alat telekomunikasi akan berada pada grafik yang menunjukan tren positif dan harga ponsel pun dapat ditekan seekonomis mungkin dan rakyat pun punya akses pada opsi-opsi produk telekomunikasi yang ada. Beberapa tahun lalu (2005) badan yang menaungi asosiasi GSM se dunia pernah menggalakkan program ponsel murah untuk menjangkau daerah yang masih belum terkoneksi dalam programnya Connect the Unconnected.

Selain aspek ekonomi, kepastian hukum dalam kegiatan bisnis juga merupakan hal strategis yang perlu diprioritaskan. Kebijakan hukum dan implementasinya melindungi konsumen, distributor, pengecer yang berkerjasama dengan pemegang merek resmi (berijin);  dari pungutan liar pada jalur distribusi, barang-barang/komponen black market, ponsel rekondisi, pemalsuan sampai pelanggaran hak cipta.

NETWORK (Insfrastruktur Jaringan)

Efektifitas dari implementasi program kerja yang berkaitan dengan infrastruktur jaringan dimulai dari menata sumber daya yang ada seperti lebar pita frekuensi, area cakupan layanan, jumlah optimal dari  pemain di sektor industri dengan sumber daya frekusensi radio yang terbatas. Evaluasi manajemen frekuensi mulai dari keteraturan alokasi rentang frekuensi radio berikut dengan jenis usaha/bidang kerja pemegang ijin frekuensi, termasuk penertibatan frekuensi atau daya pancar yang tidak memiliki atau sesuai ijin peruntukannya.

Beberapa tahun terakhir efisiensi pada sektor operator telekomunikasi bergerak (nirkabel) berdampak pelepasan aset dan manajemen menara BTS, alih daya tenaga kerja ke perusahaan penyedia servis. Tumbuhnya bisnis model baru ini juga diikuti dengan pendirian perusahaan baru yang menggarap bidang baru ini, apalagi dengan jumlah operator pemegang frekuensi yang cukup besar jika dibandingkan dengan negara lain. Namun pada tahun terakhir  operator-operator mulai mengkonsolidasi dengan strategi akusisi, jumlah pemain berkurang, efisiensi setelah proses integrasi memberi dampak pada pengurangan jumlah infrastruktur yang (redudan/dobel) dan tentu saja memukul perusahaan penyedia alih daya serta juga penyedia infrastruktur seperti manajeman menara BTS dan penyedia infrastruktur lainnya.

Infrastruktur dalam kapasitasnya pendukung layanan informasi dan komunikasi pada wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan, keberadaan satelit sangat strategis sebagai transmisi penghubung dari beragam alat komunikasi ini. Menurut ahli satelit, orbit satelit yang ideal adalah di sepanjang garis khatulistiwa dan penempatannya tidak berdasar letak status hukum geografis seperti di daratan, namun terbuka untuk setiap satelit baru bisa dipasangkan pada orbit tertentu yang masih kosong (siapa cepat dia dapat memilih opsi dari orbit lebih dahulu). Mengingat Indonesia yang mempunyai garis khatulistiwa yang panjang (bahkan mungkin terpanjang untuk suatu negara) dan pertumbuhan  jumlah penduduk (konsumen) yang tinggi, kebutuhan akan kapasitas transmisi satelit akan bertambah besar dengan potensi ekonominya serta jumlah satelit dan penempatannya pada orbit sepanjang khatulistiwa adalah suatu kebutuhan yang harus direncanakan dengan tepat.

Selain itu, upaya untuk meningkatkan ekonomi dan pendidikan dapat dilakukan  dengan program memperluas penetrasi broadband  ke luar jawa untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif via e-commerce serta mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi lewat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial budaya dari penjuru bumi (global) yang dapat diakses secara online.  Kalaupun saat ini pemasangan infrastruktur telekomunikasi (BTS) pada pedalaman masih terkendala dengan biaya dan studi kelayakan ekonomis seperti return of investment dll, ada solusi baru yang dapat diterapkan oleh pemerintah dengan program khusus OpenBTS BTS berplatform open source dengan tingkat biaya dan peruntukkannya dapat ditekan untuk daerah yang tidak terjamah layanan komersial nirkabel. Dengan penyedian ponsel yang didukung infrastruktur di daerah pedalaman, akan memacu kegiatan ekonomi dimana peran bank juga sangat dibutuhkan. Bila infrastruktur perbankan secara fisik belum ada, infrastruktur perbankan secara online menjalankan peran bank secara fisik. Kisah sukses masyarakat di pedalaman Kenya yang kegiatan ekonominya di dukung dengan mobile banking yang dikenal dengan M-PESA bisa menjadi contoh disamping kisah sukses lainnya seperti petani dan nelayan India yang dapat memantau harga komiditasnya dari beberapa opsi pasar dan tempat lelang yang ada.

Efektifitas penggunaan bandwidth untuk layanan seperti  OTT (Over The Top layanan internet berbandwitdh besar yang menumpang infrastruktur telekomunikasi) terutama ke luar negeri perlu diatur dengan baik  profit sharing secara fair, serta juga  adanya lokalisasi server seperti untuk keperluan online messaging dalam negeri sehingga tidak perlu harus dikirim ke server pusat luar negeri setiap kali mengirim atau menerima pesan. Penggunaan bandwidth yang tidak efektif akan mempengaruhi cost-effective yang pada akhirnya juga membebani biaya yang harus dibayar konsumen (rakyat).

APPLICATION (Aplikasi)

Industri aplikasi saat ini sedang booming khususnya di emerging market Asia Pasifik khususnya ASEAN  dan perkembangannya bagus didukung dengan karakteristik bisnis yang bisa dimulai dari usaha sampingan dengan modal infrastruktur  terbatas sekalipun ditunjang dengan modal intektual (brainware) dari angkatan muda yang kreatif. Atmosfir keterbukaan informasi dan kebebasan berkreasi menjadi modal dasar dalam proses kreatif dan negara harus menjaminnya. Pada perkembangannya perlu intensitas dalam membantu tunas-tunas muda untuk bertumbuh dan bermetaforsa menjadi entrepreneur  yang didukung pemberian insentif khususnya perusahaan/UKM yang bergerak di sektor ekonomi kreatif, bantuan mentorship dari pelaku bisnis dan kesempatan kerjasama dengan lembaga dunia, venture capital yang turut menumbuhkembangan usaha bisnis putra bangsa. Indonesia pun kaya dengan SDM dengan kemampuan teknologi kreatif yang kompetitif dan diperhitungkan di market global. Berpuas diri dengan menjadi jadi tenaga kerja kreatif pada bisnis asing (content provider) yang dimilik oleh anak muda negara lain, bukan merupakan sikap yang heroik dalam membangun bangsa dengan segala pendayagunaan potensi yang dimiliki. Pada akhirnya kerjasama antar berbagai pihak seperti kerjasama tripatrit yang melibatkan pemerintah, swasta & lembaga penelitian/pendidikan dalam pengembangan proyek bersama, memberi kontribusi yang cukup signifikan meski dimulai dari hal-hal kecil  akan terus berkembang dan bersinergi serta saling memperkuat kemandirian dan kedualatan  bangsa beserta aset-asetnya.

Sekilas pemikiran untuk membanguna, memperkuat kedaulatan bangsa lewat kemandirian DNA telekomunikasi kita.

* image credit: dokumentasi pribadi saat bertugas di Sydney Australia

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi.  Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com

Byjmzachariascom

Menjadi Kreatif ? Siapa Takut !

Menjadi kreatif, siapa takut ! Tapi bagaimana melakukan prosesnya untuk menjadi kreatif ? Ada pertanyaan, keraguan berkaitan dengan menjadikan diri kita kreatif. Mengapa harus menjadi kreatif? Atau banyak alasan untuk menguatkan bahwa dirinya bukan tipe kreatif. Berikut ini ada 9 hal yang penting diperhatikan untuk menjadi kreatif :

1. Mengapa harus menjadi kreatif? Apa pentingnya?

Mulai dulu dari apa pentingnya menjadi kreatif, singkatnya mengapa harus menjadi kreatif. Dalam pengembangan produk sampai implementasi program marketing di lapangan, proses kreatif terkadang dikesampingkan dianggap sebagai kegiatan yang memakan waktu dan biaya, dibandingkan dengan proses bisnis lainnya yang tinggal mengikuti market trend setter yang ada (me too approach). Padahal kreatifitas dapat diposisikan sebagai faktor utama pengungkit terobosan suatu produk (baca inovasi) dengan pendekatan yang unik (out of the box).

2. Sisi kritikal dalam proses kreatif.

Albert Einstein pernah berkata “If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first fifty-five minutes determining the proper question to ask, for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes.” Dengan kumpulan pertanyaan (permasalahan) yang ada, coba jawab dengan solusi menyeluruh, menyentuh inti permasalahan termasuk dengan solusi pendekatan “nyeleneh” dengan [think out of the box] approach solution .

3. Sumber daya berkreatif.

Carmine Gallo dalam bukunya The Innovation Secrets of Steve Jobs mengatakan semakin beragam pengalaman dan pengetahuan, menghasilkan hubungan-hubungan (korelasi) di otak. Input-input segar dari korelasi tersebut menghasilkan asosiasi yang mengstimulasikan ide-ide kreatif. Tanamkan gagasan asosiasi dari pengalaman berbeda untuk mengaktifkan proses kreatif. Terbukalah terhadap pengalaman berbeda serta perlebar horison pandangan, informasi yang masuk serta pengetahuan. Banyak sarana untuk usaha ini melalui film, novel, musik dengan genre berbeda, melakukan petualangan perjalanan dan kegiatan lainnya yang menambah perbendaharaan asosiasi yang aktif dalam otak.

4. Metoda berkreatif.

Steve Jobs, sosok sentra di balik keunggulan produk Apple mengasosiakan ajaran Zen yang berkaitan dengan ketenangan (damai) terhadap problem suara berisik fan pada notebook, mengalirlah pada pertanyaan-pertayaan yang dapat diimaginasikan untuk mengungkit ide kreatif sbb:

-Mengapa? Mengapa fan pada notebook mengganggu ketenangan?
-Mengapa Tidak? Mengapa tidak jika fungsi fan dengan suara berisik digantikan alat lain (solusi lain) yang berhubungan fungsi fan sebagai penghantar panas (buangan dari energi listrik yang digunakan).
-Bagaimana Jika? Bagaimana jika mengganti fungsi fan dengan menciptakan sistem power Mac yang tidak menimbulkan panas tertentu sehingga menggantikan piranti fan.

Lalu munculah inovasi notebook Mac (Apple) tanpa fan ini, yang berarti tanpa suara berisik putaran fan, menjadi value produk Apple.

5. Meminjam dan meramu gagasan.

Steve Jobs berujar “Creativity is connecting things.” Connecting things, tindakan menghubungkan hal-hal dengan pendekatan asosiasi ini merupakan kata kunci proses kreatif yang tidak saja menciptakan ide baru namun juga mengelaborasi ide-ide kecil yang berserakan menjadi suatu ide besar (grand idea) yang dashyat. David Kord Murrays menyebutnya “meminjam kebrilianan” untuk saling meminjam ide, menghubungkan serta mengkombinasikan dan menyempurnakan ide-ide tersebut, sebagaimana yang dituangkan dalam buku Borrowing Brilliance. Contoh relevan dengan hal “meminjam kebrilianan” seperti MacSafe konektor listirk Mac yang diperkenalkan saat Mac World 2006. Idenya diadopsi dari konektor listrik penanak nasi yang digunakan di Jepang. Konektor penanak nasi tersebut menempal aman menggunakan magnet, sehingga jika kabelnya tersangkut kaki (tertarik) maka kabel konektor tersebut akan lepas hubungan magnetnya dan tidak menyebabkan penanak nasi ikut tertarik atau terbalik.

6. Jaringan pergaulan dan wawasan.

Salah satu cara untuk semakin kreatif dengan jalan memperluas lingkaran pergaulan sosial, bergaul dengan orang dengan latar belakang yang berbeda, sebagaimana pendapat Jonah Lehrer pengarang buku How Creativity Works. Lehrer menambahkan suatu studi dari 766 lulusan Stanford Business School yang membangun perusahaannya sendiri. Lulusan yang mempunyai lingkaran pergaulan dengan teman-teman yang beragam latar belakangnya, tiga kali lebih inovatif dibandingkan yang tidak memiliki teman yang beragam latar belakangnya. Kemampuan inovasi tersebut ditunjukan dengan sejumlah hak cipta dan merek yang mereka miliki.

7. Kerja otak dalam berkreatif.

Proses kreatif berhubungan erat dengan kerja otak tepatnya otak kanan. Neuro science merupakan disiplin ilmu mempelajari kerja dan fungsi otak yang berhubungan dengan aktifitas manusia. Untuk memahami bagaimana otak akan mendukung proses kreatif optimal, dimulai dari:

Bahan bakar otak (oksigen) agar tersedia cukup untuk kinerja otak. Mekanisme mengikat oksigen oleh hemoglobin dalam darah, didistribusikan melalui jantung ke otak, hendaknya didukung dengan olahraga (memperbaiki kemampuan VO2Max; kemampuan untuk menghirup O2 maksimal), makanan (termasuk yang mengandung asam lemak omega-3 seperti: ikan salmon) dan ruang yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kesegaran otak yang berhubungan dengan waktu kerja dan waktu istirahat otak. Waktu istirahat otak sekitar 7-8 jam per hari dalam kondisi tidur deep dreamless sleep pada gelombang otak delta (delta state).
Pengalaman baru yang menyegarkan (refresh) kerja otak, terutama saat otak dalam kondisi puncak dalam waktu lama atau saat kondisi pikiran jenuh. Luangkan waktu untuk berjalan kecil meninggalkan meja kerja setiap 1,5 -2 jam sekali baik berjalan menuju kamar kecil, pantry untuk membuat kopi sambil bercengkrama dengan kolega , atau sejenak keluar gedung untuk menghirup udara segar merupakan kegiatan positif untuk membangkitkan kesegaran yang dibutuhkan dalam suatu proses kreatif. Ron Friedman dalam artikelnya menyebut secara neurological, momen untuk “bebas” sementara dari meja kerja adalah kesempatan hemisphere dari otak kita untuk hidup.

8. Pola pikir.

Ada faktor yang tidak kalah penting, yakni pola pikir (mind set). Kesimpulan penelitian yang dilakukan peniliti Univ. Harvard : pola pikir seseorang berkontribusi besar untuk menyakinkan seseorang apakah merasa dirinya kreatif atau tidak. Berpikir & bersikap positif (dalam hal ini: kreatif) dapat diaktulisasikan dalam berbagai cara termasuk melalui kegiatan afimasi (pengulangan keyakinan/tekad secara terus menerus), visualisasi (mengimaginasikan keyakinan/tekad) serta didukung perasaan/emosi (antusiasme), diharapkan pada pikiran bawah sadar tertanam keyakinan/tekad bahwa Anda kreatif serta mendorong melakukan kegiatan kreatif setiap saat. Untuk menjadi semakin kreatif dibutuhkan semakin banyak intensitas dan peningkatan kualitas kegiatan kreatif yang saling berkontribusi dengan pola pikir (mind set ) positif sebagai daya dorongnya.

9. Hambatan diri untuk berkreatif.

David Kelly (professor design Universitras Stanford) saat menjadi pembicara tamu TEDTalks memaparkan pentingnya proses untuk merubah suatu paradigma, contoh kasus eksekutif merasa bukan bertipe kreatif, David berujar “if they stick the process, they stick with it, the end of doing amizing thing and they surprissed them self just how innovative they and their team really are”. Semakin intens melewati proces untuk mengalahkan ketakutan (fear & self judgment: seperti phobia atau perasaan lain seperti tidak kreatif dll), semakin tinggi kepercayaan diri, semakin meningkat Self Efficacy. Metoda berkaitan rangkaian proses untuk mengalahkan phobia, meningkatkan Self Efficacy ini terbukti efektif dan telah teruji sejak dicetuskan oleh Albert Bandura (profesor psikologi Universitas Stanford).

Nah, bila hal penting berkreatif diperhatikan untuk menduking proses berkreatif termasuk segala sesuatunya lengkap (termasuk sumber daya) mendukung terciptanya proses kreatif, kreatifitas merupakan hasil yang pantas didapat. Kreatifitas bukan hanya domain perancang, pengembang produk atau marketer, namun kita semua lapisan masyarakat. Kreatifitas juga lah merupakan elemen penting manusia untuk hidup dan memberi kontribusi positif pada hidup.

Bukan kah untuk mengatasi permasalahan hidup kita harus kreatif juga?

Mau jadi kreatif  ? Siapa Takut !

* image credit: sixninepixels-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi.  Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com

Byjmzachariascom

Momentum produk berikut dampaknya

Berbicara mengenai kecepatan dan momentum , jadi teringat pengalaman dulu saat masih terlibat dalam pengembangan produk ponsel Siemens Mobile. Sekitar bulan Juli 2003, kami sudah melakukan beberapa testing beberapa unit test sample ponsel SX1 (ponsel digadang-gadang menjadi unggulan di kelas smartphone yang akan dilaunch saat itu, setelah kesuksesan kakaknya ponsel dengan pena sentuh SL45 ).

Target rilis SX1 sekitar awal tahun 2004, namun terjadi penjadwalan ulang dalam waktu tidak ditentukan. Pada saat yang bersamaan, Febuari 2004 kompetitor Nokia merilis versi smartphone mereka Nokia 6600 yang bermain di kelas yang sama dengan ponsel Siemens SX1 . Kehadirannya sebagai smartphone pertama mendapat sambuatan luar biasa.

Sudah bisa ditebak, apa efek yang ditimbulkannya dengan momentum ini khususnya di pasar ponsel saat itu, tentu saja ponsel Nokia 6600 meraup porsi besar kue pasar ponsel smartphone saat itu, disaat vendor-vendor lain belum secara resmi meluncurkan ponsel-ponsel sekelasnya.

Lalu apa efek domino selanjutnya? Begini, saat ponsel SX1 diluncurkan beberapa bulan kemudian, dengan bandrol 4,3 juta rupiah per unit. Mau tidak mau berhadapan ponsel Nokia 6600 yang sudah kuat pijakannya di pasar dan sisi pelanggan (top of mind) dengan harga yang sudah beberapa kali turun menjadi 3,6 juta rupiah per unitnya. Disparitas harga yang cukup besar menjadi faktor dominan di pasar domestik terhadap perang produk di pasar disamping kualitas serta faktor-faktor lainnya.

Belajar dari pengalaman tersebut di atas, faktor kecepatan memang merupakan faktor berkontribusi signifikan, namun pada artikel ini menitikberatkan faktor momentum yang juga  penting dalam bisnis. Mempersiapkan produk yang baik dengan melakukan segala sesuatu dengan cepat itu baik, namun itu belum cukup ! Pertanyaan yang muncul : Apakah produk tersebut diluncurkan pada  saat yang tepat ? Di sinilah momentum memainkan perananan penting.

Faktor kecepatan ini harus bersinergi dengan Momentum! Lebih tepatnya bagiamana bisa mengatur kecepatan dengan peka melihat momentum yang tepat. Bahasa sederhananya dengan melihat timing yang tepat. Memang tidak mudah juga tidak sulit  untuk menentukan momentum yang tepat lewat proses pengalaman, kepekaan terhadap momentum itu menjadi terasah.

Momentum itu sendiri merupakan variabel penting yang ikut menentukan :

– Apakah suatu proses harus dipercepat ?
– atau diperlambat ?
– atau sudah tepat waktu ?

Kecepatan itu penting, demikian juga ketepatan waktu (momentum) merupakan faktor strategis yang harus dimiliki dan diasah kemamampuannya oleh pebisnis dari waktu ke waktu.

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Program Marketing ala Kopi Hangat LinkedIn

Menikmati kopi hangat di pagi hari sambil membaca berita hangat yang semuanya tersedia gratis, tentu merupakan kejutan kecil yang menyenangkan. Pejalan kaki di kawasan Manhattan New York dan kota San Francisco beruntung menikmati kejutan kecil menyenangkan ini, saat LinkedIn menjalankan program aktifasi (activation program) memperkenalkan fitur baru LinkedIn Today lengkap dengan ikon mobil caravan yang disulap dengan warna brand image Linkedin biru putih berikut cat bercorak berita hangat ala Linkedin Today. Mobil caravan menjadi wahana melayani para pengunjung mengantri kopi gratis sambil melihat layar LCD, iPad & flyer berisi fitur LinkedIn Today lengkap dengan berita hangat berbagai media online yang dapat diatur pada halaman profil pengguna social media Linkedin.


LinkedIn Mobile News Cafes from Manifold on Vimeo.

Pendekatan program marketing Linkedin ini menyentuh sisi emosi dengan efek wow dalam bentuk kejutan kecil yang menyenangkan, menikmati kopi premium gratis sambil melihat fitur baru LinkedIn Today. Pendekatan serta eksekusi ide jitu ini selaras dengan gagasan yang menyentuh sisi emosi sebagaimana dikemukakan Gerlard Zaltman profesor di Harvard Business School. Dalam bukunya How Customer Think, Zaltman menekankan bahwa emosi memainkan peran sangat penting dalam mengkode, menyimpan dan memanggil memori, selanjutnya membentuk landasan pembuatan keputusan.

Kejutan kecil kopi premium gratis dengan suasana santai sambil melihat fitur berita hangat LinkedIn Today merupakan kombinasi pengalaman yang menyentuh sisi emosi, tersimpan dan menjadi landasan baik dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan fitur LinkedIn Today termasuk juga keputusan untuk menggunakan layanan LinkedIn bagi yang belum terdaftar sebelumnya (customer acquisition).

Efektifitas program aktifasi ini didukung kesesuaian aspek strategis seperti target, aktifitas, waktu serta lokasi, media, penawaran, serta tahap eksekusinya melalui berbagai tahapan pendekatan promosi AIDA (Awareness, Interest, Desire serta Action) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pada program aktivasi LinkedIn Today ini dapat dipetakan sebagai berikut:

target :  pekerja kantor.

aktifitas : kebiasaan pekerja di Amerika Serikat untuk minum kopi sambil membaca berita hangat sebelum atau sesaat memulai kerja di pagi hari.

waktu : pagi hari saat ramainya lalu lalang pejalan kaki (rush hour) .

lokasi : kawasan sibuk Manhattan New York & San Fransisco.

media : online dan offline. Pendekatan offline, mobil caravan penyedia kopi yang dilengkapi fasilitas digital brand offline layar LCD, iPad & flyer. Untuk pendekatan online, pelanggan linkedin dapat berkomunikasi dan memonitor lokasi mobil caravan secara real time melalui fasilitas live stream LinkedIn Today.

penawaran : pengunjung mendapat kopi premium gratis sambil mencoba demo fitur berita hangat yang ditawarkan LinkedIn Today, mendaftar Linkedin serta mengaktifkan fitur baru LinkedIn Today.

eksekusi : Keberadaan mobil caravan dengan corak khas fitur berita hangat tentu menarik perhatian (Aware) orang lalu-lalang. Adanya orang yang mau mengantri menunggu kopi premium gratis sambil melihat tanyangan di layar LCD dan membaca flier memancing rasa ketertarikan (Interest). Di sela-sela menikmati kopi hangat , timbul dorongan (Desire) untuk mencoba demo pada panel iPad yang dipasang bahkan melalui piranti pribadi para pengunjung seperti iPad, ponsel serta laptop. Pengunjung yang bukan pengguna LinkedIn sebelumnya, dapat melakukan pendaftaran account LinkedIn (Action), bahkan ada yang mengabadikan dengan kamera/ponsel serta menuliskan momen mengesankan ini pada profil LinkedIn mereka. Tahapan pendekatan promosi AIDA (Awareness, Interest, Desire serta Action) pun terlaksana dengan baik.

Sisi menarik program aktifasi ( marketing ) ini, LinkedIn dengan jitu mengkombinasikan pendekatan offline dengan pengguna LinkedIn lainnya terkoneksi online melalui live streaming LinkedIn Today. Pengguna LinkedIn di kota tersebut dapat memonitor lokasi mobil caravan secara real time. Melalui komunikasi online petugas merespon permintaan rute ke area mana mobil caravan ini beroperasi selanjutnya.

Say it with a cup of coffee! Begitu pendekatan hangat LinkedIn, pendekatan yang tidak hanya sukses secara offline, namun juga online.

* image credit: kraifreedom-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Kuasai Nilai Produk saat Bertransaksi

Pernakah Anda merasa menyesal setelah membeli atau menjual produk karena menjual produk terlalu murah atau membeli dengan harga yang kelewat mahal? Proses menawar, keputusan menolak dalam kegiatan jual beli produk merupakan lingkaran dari proses transaksi yang dinamis. Dinamis karena banyak faktor yang memperngaruhi beserta bobot relativitasnya pun tidak sama. Bisa saja pada jenis produk yang sama, dilakukan pihak lain dalam bertransaksi, pada tempat dan waktu berbeda memberikan pengaruh yang tidak sama.

Harga produk tetap menjadi perhatian penting bagi pembeli dan penjual. Umumnya harga digunakan sebagai salah satu indikator keputusan penting dalam bertransaksi. Proses transaksional idealnya mengarah pada terciptanya proposionalitas harga baik bagi pembeli dan penjual. Kondisi proposional yang dimaksud bahwa harga yang dicapai pada skala harga yang tidak terlalu tinggi atau rendah serta mencakup kesesuaian nilai dari suatu produk.

Nilai dari suatu produk merupakan bagian strategis dalam transaksi. Implikasinya langsung terhadap harga, keunikan, keotentikan, manfaat yang ditawarkan penjual dan juga diinginkan pembeli. Memetakan harga suatu produk dengan faktor nilai manfaat merupakan pendekatan lazim dari proses transaksi jual beli yang dikenal dengan pendekataan value proposition. Pendekatan yang memetakan sisi harga pada domain harga, serta relasinya pada seberapa besar manfaat yang diberikan. Aspek nilai produk pun berkontribusi signifikan pada strukur harga dengan formula di bawah ini :

Harga = Biaya + Nilai + Profit

Strategi mengatur besaran elasitas harga bergantung seberapa dinamis vaiabel biaya, nilai dan profit dapat diatur seperti skenario di bawah ini:

– Profit dapat diatur besarannya mengacu pada seberapa besar batas minimal proofit yang harus diperoleh.
– Biaya dapat disesuaikan (ditekan dengan cara pemesanan dalam jumlah besar yang memenuhi kuota minimum.
– Besaran nilai produk diatur berdasarkan pengetahuan yang dikombinasikan dengan kemampuan dan kepekaan pada value proposotion produk.

Kemampuan mengkalkulasi nilai produk tidak lepas pada pengetahuan akan karakteritik produk beserta nilainya. Nilai suatu produk dapat terukur sampai yang bernilai relatif. Contoh nilai produk yang terukur secara universal seperti emas, bahan bakar minyak, hasil tambang dan aneka komoditas lainnya. Nilai produk yang bersifat relatif berdasarkan segmentasinya seperti barang unik, antik, karya seni serta barang bernilai historis lainnya. Variabel besaran nilai produk merupakan representasi dari aspek manfaat, keunikan, keotentikan, momentum serta juga berkaitan dengan aspek ketersediaan dan kebutuhan(supply dan demand).

Kepekaan menaksir nilai suatu produk membantu dalam menentukan kepantasan suatu produk pada kisaran harga tertentu. Gambaran sederhana studi kasus di bawah ini dengan contoh variabel value yang disertakan dan juga diabaikan dalam penuntuan harga.

Seorang nelayan menemukan piring saat menjaring ikan di laut. Piring tersebut ditawarkan di pasar barang bekas dengan harga sebagaimana harga piring bekas lazimnya. Pada saat bersamaan seorang melakukan hobi menyelam, tidak sengaja menemukan piring sejenis di dasar laut. Sesampainya di rumah, diperiksanya piring tersebut sambil berkonsultasi dengan ahli barang antik. Ternyata diketahui piring tersebut merupakan piring antik salah satu peninggalan harta karum armada kapal Tiongkok yang tenggelam pada jaman dinasti Ming. Berbekal informasi sejarah piring tersebut, harga jual yang ditawarkan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual nelayan sebelumnya. Variabel pengetahuan akan nilai inilah berkontribusi pada perbedaan harga yang ditawarkan untuk piring tersebut.
Produk premium sekalipun tetap menarik untuk dibeli bila menawarkan nilai produk yang istimewa. Menjualnya kembali dengan harga kompetitif tidaklah sulit, sepanjang keistimewaan nilai terjaga, apalagi jika Anda berhasil memberi nilai tambah (value added) istimewa lain pada produk dengan menyasar target market yang tepat.

Kemampuan mengkalkulasi nilai suatu produk berikut struktur biayanya, tentu saja didukung proses pembelajaran (learning by doing) dari waktu ke waktu. Berbekal pengalaman dan kemampuan membedah struktur biaya, nilai produk serta perbandingan harga yang ditawarkan oleh kompetitor, membantu dalam penentuan harga yang pantas dan kompetitif suatu produk. Kemampuan perhitungan yang tepat & realistis untuk kombinasi variabel di atas, berdampak pada kemampuan elastisitas harga suatu produk berkompetisi pada pasar yang makin dinamis. Tentu saja melengkapi aspek kompetitif Anda sebagai pelaku bisnis.

* image credit: renjith krishnan-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Pengalaman Konsumen : Produk dan Layanan tahun 2013

Pada perkembangannya sampai saat ini, tuntutan pada produk beserta layanannya tidak hanya menitikberatkan pada kegunaan fitur beserta keunggulan yang biasa diukur dari kualitas layanan ( Quality of Service , QoS ), namun juga seberapa jauh produk dan layanannya mampu berdampak positif pada pengalaman pengguna / konsumen ( User Experience, Ux ) dengan parameter pengukur Quality of Experience ( QoE ).

Sepanjang tahun 2013 banyak gebrakan produk beserta layanan dilakukan oleh perusahaan dunia dan nasional. Pada artikel penutup tahun 2013 ini, disajikan beberapa gebrakan perusahaan berkenaan upayanya untuk menambah daya ungkit lebih baik terhadap pengalaman konsumen pada produk dan layanannya, seperti dipaparkan berikut ini:

1. Yahoo . CEO Yahoo Marissa Mayer melakukan gebrakan dengan membenahi layanan Yahoo yang langsung berhubungan dengan penggunanya sehari-hari yakni portal mesin pencari Yahoo, Yahoo Mail, Yahoogroups beserta Flickr. Hal ini berdampak positif pada tampilan antarmuka ( User Interface , UI) dan kecepatan akses yang signifikan sekaligus mengatasi permasalahan layanan Yahoo selama ini. Bahkan gebrakan layanan Flickr untuk mendokumentasikan dan mencetak foto-foto yang pernah diunggah di Flickr.com ke dalam PhotoBooks dalam bentuk cetakan hardcover .

2. Telkomsel . Layanan online MyTelkomsel (sebelumnya namanya T-Care) dan aplikasi mobile MyTelkomsel pada perangkat telepon pintar, beri kemudahan pengguna untuk manajemen produk dan layanan yang dipilih serta didukung akses customer service . Awal Desember lalu saat datang ke Grapari Gatot Subroto Jakarta untuk terminasi salah satu simcard, prosesnya singkat dan tuntas. Menariknya, prosesnya mendukung aktifitas paperless dimana tandatangan dan lampiran ktp pun langsung diinput ke perangkat nirkabel iPad petugas.

3. PT KAI Commuter Jabotabek . Permasalahan demi permasalahan kereta khususunya kereta komuter Jabotabek beberapa tahun silam, secara bertahap dibenahi. Pemandangan penumpang yang bergelantungan serta naik di atap gerbong, tidak dapat dijumpai lagi. Kebersihan , penataannya beri kenyamanan dan keamanan pada tiap gerbong termasuk gerbong khusus wanita. Peleburan kereta ekonomi-AC berdampak pada peningkatan frekuensi dan makin singkatnya waktu tunggu keberangkatan antara kereta sebelum serta kereta berikutnya. Penggunaan kartu elektronik sebagai tiket & alat bayar berdampak signifikan pada sistem pembayaran terintegrasi, yang memungkinkannya tarif progresif serta kontrol ketat pengaturan akses masuk dan keluar stasiun. Informasi visual rute loop yang jelas serta akses informasi akan status terkini dari perjalanan kereta komuter pun juga dapat diakses online dan aplikasi mobile pada telepon pintar.

4. Pizza Domino . Layar monitor (pizza tracker) yang berada dekat konter pemesanan cabang Pizza Domino Indonesia (lihat foto atas) berisi kode pesanan, nama pemesanan, estimasi waktu tunggu dan status pemesanan, berkontribusi positif beri kepastian saat mengantri pemesanan pizza. Berbekal struk pemesanan take-away dan estimasi waktu, pemesan dapat melakukan aktifitas lainnya, kemudian kembali ke konter pada waktu yang telah diestimasikan untuk memastikannya dengan melihat status terakhir pemesanan pada layar monitor. Melihat pergerakan pemesanan berikut perubahan status mulai dari persiapan, proses oven, selesai sampai pesanan siap, memberi ketenangan dan ruang untuk mengisi waktu dengan kegiatan lain dengan waktu yang terukur. Layanan order tracking ini juga dapat diakses secara online khusus untuk delivery service tentunya.

5. Toko Buku Gramedia . Suasana yang mendukung bagi konsumen tercipta berkat kenyamanan pencahayaan, penataan yang rapi dan tidak rapat serta juga space ke plafon mendukung sirkulasi udara berikut horison pandangan yang lapang. Berdasar pengalaman di beberapa cabang, cara petugas merespon kebutuhan konsumen seragam, mungkin merupakan bagian dari standar operasi prosedur (S.O.P.) contoh seperti saat menanyakan buku atau tema tertentu konsumen akan diantar ke rak buku dengan tema terkait atau menuju layar monitor untuk melakukan pencarian buku yang dimaksud pada database cabang tokobuku tersebut. Bila buku yang dicari habis stok-nya, konsumen akan dipandu menuju konter customer service (biasanya berada dekat kasir utama) untuk melihat ketersediaan buku tersebut pada toko buku gramedia cabang yang lain yang terkoneksi online dalam sistem database. Bila, buku yang dimaksud ada di cabang lainnya, petugas akan membantu mengkonfirmasikan ke cabang yang dipilih pelanggan via telepon. Begitu ada kepastian ketersediaan barang secara fisik, barulah konfirmasi final diberikan pada konsumen. Bila konsumen tidak ingin repot ke cabang lain atau buku yang dicari tidak ada di cabang yang dimaksud dan stoknya ada di gramedia online, maka konsumen diarahkan untuk memesan melalui gramedia online.

6. Shell . Pada kuartal akhir tahun ini, Shell Indonesia lewat penjualan bahan bakar V Power dengan promo LEGO seri Ferari (6 varian berbeda) selama enam minggu berturut-turut dikombanisasikan dengan program aktifasi lainnya seperti pameran LEGO seri Formula 1 Ferari seukuran aslinya (perbandingan 1:1). Tidak saja merchandize LEGO seri Ferari yang langsung merengkuh bebarapa lapisan demografi dengan varian umur misalnya mulai dari anak kecil/remaja laki-laki, pemuda hingga kaum Bapak yang masuk dalam pusaran hobi dipadu dengan kenangan masa kecil. Animo pun meningkat bersamaan juga dengan munculnya pertanyaan bagaimana program itu dapat disesuikan dengan kondisi konsumen pengguna kendaraan roda dua, mengingat ketentuan pembelian minimal sekali pengisian bahan bakar sebesar 30 liter lebih memungkinkan untuk dinikmati oleh konsumen untuk pengisian bahan bakar kendaraan roda empat. Respon cepat mengakomodasikan aspirasi konsumen motor roda dua, dilakukan penyesuaian ketentuan berlaku khusus untuk pengisian bahan bakar pada kendaraan roda dua, kebijakan yang patut diapresiasi. Konsumen senang dan tertarik untuk mengumpulkan koleksi lengkap enam varian LEGO edisi Ferari selama enam minggu berturut-turut. Pendekatan crowd-sourcing melalui media sosial (twitter & facebook) secara intensif dengan kontinuitas suplai informasi terkini, respon cepat terhadap pertanyaan serta dikombinasikan dengan program aktifasi seperti kompetisi foto mobil LEGO kreasi konsumen #ShellPhotoComp setiap minggu , kompetisi hitung jumlah bricks lego ferari #ShellHitungLego seukuran mobil balap Ferari aslinya (1:1). Sayang seribu sayang, program aktifasinya tidak termasuk tiket nonton film RUSH (kisah legenda juara F1 Niki Lauda era tahun 70-80an), mungkin lantaran sponsor film RUSH adalah kompetitornya SHELL. Partisipasi konsumen pada kompetisi foto hasil kreasi lego ferari menakjubkan, alangkah menariknya, hasil foto2x peserta tersebut ditampilkan suvenir kalendar 2014 brand ini kepada para konsumen yang ikut mensukseskan program ini sebagai wujud apreasiasi atas partisipasi, memelihara ikatan (engagement) serta juga memberi nilai tambah bagi nilai pengalaman konsumen (user experience).

7. Farmers Market . Penyedia layanan berbelanja kebutuhan sehari-hari ini, menyediakan nuansa berbelanja yang dipadukan dengan pengalaman demo produk on site lengkap dengan paket hadiah & promo. Juga sajian info produk dan kutipan pengetahuan praktis keseharian seperti info memasak, menyiapkan makanan sehat dan tip-tip memilih buah sehat yang dikemas dalam lay-out, desain warna dan material bahan kertas yang menarik ini membuatnya pantas untuk disimpan sebagai dokumentasi kliping ini merupakan keunggulan Farmers, dimana tidak sekedar seperti info produk lainnya yang tercetak seadanya, layout yang rapat agar lebih banyak info tercantum, yang hanya kemudia dilihat dan dibaca sebentar sesaui keperluan untuk kemudian menjadi remasan kertas tak berguna yang siap dibuang ke tempat sampah. Satu hal yang menarik lagi, program aktifasi yang melibatkan dukungan dan relasi suppliernya seperti kejutan menarik makan sushi gratis saat berbelanja di Farmers Market Summarecon Mal Serpong acara Sushi Mosaic (2 November 2013, pkl 14:00) dalam rangka sixnificant 6 years Farmers Market.

8. Berikut-nya (baca: titik-titik) masih banyak gebrakan produk dan layanan lainnya di tahun 2013 yang belum tercover pada artikel ini serta akan banyak lagi di tahun 2014.

Gebrakan produk beserta layanannya yang berdampak positif pada pengalaman konsumen ( User Experience ) di atas, memberi inspirasi bagi kita para pelaku bisnisuntuk menyadari bahwa dalam bisnis tidak hanya mementingkan ‘Apa yang dijual‘ namun juga menekankan ‘Bagaimana proses menjualnya beserta unsur pendukungnya‘ yang pada akhirnya menyentuh hati serta beri pengalaman yang bernilai bagi konsumennya, karena inti bisnis adalah interaksi antar manusianya.

Tak terasa selesai juga artikel pengalaman saya sebagai konsumen ini, yang ditulis disela-sela detik-detik tutup tahun 2013 bersama dengan suara dan suasana pesta kembang api serta terompet yang membahana menyongsong membuka langkah lembaran baru di tahun 2014.

Selamat tahun Baru 2014

*gambar/foto: @jmzacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.