Menjadi Kreatif ? Siapa Takut !

Byjmzachariascom

Menjadi Kreatif ? Siapa Takut !

Menjadi kreatif, siapa takut ! Tapi bagaimana melakukan prosesnya untuk menjadi kreatif ? Ada pertanyaan, keraguan berkaitan dengan menjadikan diri kita kreatif. Mengapa harus menjadi kreatif? Atau banyak alasan untuk menguatkan bahwa dirinya bukan tipe kreatif. Berikut ini ada 9 hal yang penting diperhatikan untuk menjadi kreatif :

1. Mengapa harus menjadi kreatif? Apa pentingnya?

Mulai dulu dari apa pentingnya menjadi kreatif, singkatnya mengapa harus menjadi kreatif. Dalam pengembangan produk sampai implementasi program marketing di lapangan, proses kreatif terkadang dikesampingkan dianggap sebagai kegiatan yang memakan waktu dan biaya, dibandingkan dengan proses bisnis lainnya yang tinggal mengikuti market trend setter yang ada (me too approach). Padahal kreatifitas dapat diposisikan sebagai faktor utama pengungkit terobosan suatu produk (baca inovasi) dengan pendekatan yang unik (out of the box).

2. Sisi kritikal dalam proses kreatif.

Albert Einstein pernah berkata “If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first fifty-five minutes determining the proper question to ask, for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes.” Dengan kumpulan pertanyaan (permasalahan) yang ada, coba jawab dengan solusi menyeluruh, menyentuh inti permasalahan termasuk dengan solusi pendekatan “nyeleneh” dengan [think out of the box] approach solution .

3. Sumber daya berkreatif.

Carmine Gallo dalam bukunya The Innovation Secrets of Steve Jobs mengatakan semakin beragam pengalaman dan pengetahuan, menghasilkan hubungan-hubungan (korelasi) di otak. Input-input segar dari korelasi tersebut menghasilkan asosiasi yang mengstimulasikan ide-ide kreatif. Tanamkan gagasan asosiasi dari pengalaman berbeda untuk mengaktifkan proses kreatif. Terbukalah terhadap pengalaman berbeda serta perlebar horison pandangan, informasi yang masuk serta pengetahuan. Banyak sarana untuk usaha ini melalui film, novel, musik dengan genre berbeda, melakukan petualangan perjalanan dan kegiatan lainnya yang menambah perbendaharaan asosiasi yang aktif dalam otak.

4. Metoda berkreatif.

Steve Jobs, sosok sentra di balik keunggulan produk Apple mengasosiakan ajaran Zen yang berkaitan dengan ketenangan (damai) terhadap problem suara berisik fan pada notebook, mengalirlah pada pertanyaan-pertayaan yang dapat diimaginasikan untuk mengungkit ide kreatif sbb:

-Mengapa? Mengapa fan pada notebook mengganggu ketenangan?
-Mengapa Tidak? Mengapa tidak jika fungsi fan dengan suara berisik digantikan alat lain (solusi lain) yang berhubungan fungsi fan sebagai penghantar panas (buangan dari energi listrik yang digunakan).
-Bagaimana Jika? Bagaimana jika mengganti fungsi fan dengan menciptakan sistem power Mac yang tidak menimbulkan panas tertentu sehingga menggantikan piranti fan.

Lalu munculah inovasi notebook Mac (Apple) tanpa fan ini, yang berarti tanpa suara berisik putaran fan, menjadi value produk Apple.

5. Meminjam dan meramu gagasan.

Steve Jobs berujar “Creativity is connecting things.” Connecting things, tindakan menghubungkan hal-hal dengan pendekatan asosiasi ini merupakan kata kunci proses kreatif yang tidak saja menciptakan ide baru namun juga mengelaborasi ide-ide kecil yang berserakan menjadi suatu ide besar (grand idea) yang dashyat. David Kord Murrays menyebutnya “meminjam kebrilianan” untuk saling meminjam ide, menghubungkan serta mengkombinasikan dan menyempurnakan ide-ide tersebut, sebagaimana yang dituangkan dalam buku Borrowing Brilliance. Contoh relevan dengan hal “meminjam kebrilianan” seperti MacSafe konektor listirk Mac yang diperkenalkan saat Mac World 2006. Idenya diadopsi dari konektor listrik penanak nasi yang digunakan di Jepang. Konektor penanak nasi tersebut menempal aman menggunakan magnet, sehingga jika kabelnya tersangkut kaki (tertarik) maka kabel konektor tersebut akan lepas hubungan magnetnya dan tidak menyebabkan penanak nasi ikut tertarik atau terbalik.

6. Jaringan pergaulan dan wawasan.

Salah satu cara untuk semakin kreatif dengan jalan memperluas lingkaran pergaulan sosial, bergaul dengan orang dengan latar belakang yang berbeda, sebagaimana pendapat Jonah Lehrer pengarang buku How Creativity Works. Lehrer menambahkan suatu studi dari 766 lulusan Stanford Business School yang membangun perusahaannya sendiri. Lulusan yang mempunyai lingkaran pergaulan dengan teman-teman yang beragam latar belakangnya, tiga kali lebih inovatif dibandingkan yang tidak memiliki teman yang beragam latar belakangnya. Kemampuan inovasi tersebut ditunjukan dengan sejumlah hak cipta dan merek yang mereka miliki.

7. Kerja otak dalam berkreatif.

Proses kreatif berhubungan erat dengan kerja otak tepatnya otak kanan. Neuro science merupakan disiplin ilmu mempelajari kerja dan fungsi otak yang berhubungan dengan aktifitas manusia. Untuk memahami bagaimana otak akan mendukung proses kreatif optimal, dimulai dari:

Bahan bakar otak (oksigen) agar tersedia cukup untuk kinerja otak. Mekanisme mengikat oksigen oleh hemoglobin dalam darah, didistribusikan melalui jantung ke otak, hendaknya didukung dengan olahraga (memperbaiki kemampuan VO2Max; kemampuan untuk menghirup O2 maksimal), makanan (termasuk yang mengandung asam lemak omega-3 seperti: ikan salmon) dan ruang yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kesegaran otak yang berhubungan dengan waktu kerja dan waktu istirahat otak. Waktu istirahat otak sekitar 7-8 jam per hari dalam kondisi tidur deep dreamless sleep pada gelombang otak delta (delta state).
Pengalaman baru yang menyegarkan (refresh) kerja otak, terutama saat otak dalam kondisi puncak dalam waktu lama atau saat kondisi pikiran jenuh. Luangkan waktu untuk berjalan kecil meninggalkan meja kerja setiap 1,5 -2 jam sekali baik berjalan menuju kamar kecil, pantry untuk membuat kopi sambil bercengkrama dengan kolega , atau sejenak keluar gedung untuk menghirup udara segar merupakan kegiatan positif untuk membangkitkan kesegaran yang dibutuhkan dalam suatu proses kreatif. Ron Friedman dalam artikelnya menyebut secara neurological, momen untuk “bebas” sementara dari meja kerja adalah kesempatan hemisphere dari otak kita untuk hidup.

8. Pola pikir.

Ada faktor yang tidak kalah penting, yakni pola pikir (mind set). Kesimpulan penelitian yang dilakukan peniliti Univ. Harvard : pola pikir seseorang berkontribusi besar untuk menyakinkan seseorang apakah merasa dirinya kreatif atau tidak. Berpikir & bersikap positif (dalam hal ini: kreatif) dapat diaktulisasikan dalam berbagai cara termasuk melalui kegiatan afimasi (pengulangan keyakinan/tekad secara terus menerus), visualisasi (mengimaginasikan keyakinan/tekad) serta didukung perasaan/emosi (antusiasme), diharapkan pada pikiran bawah sadar tertanam keyakinan/tekad bahwa Anda kreatif serta mendorong melakukan kegiatan kreatif setiap saat. Untuk menjadi semakin kreatif dibutuhkan semakin banyak intensitas dan peningkatan kualitas kegiatan kreatif yang saling berkontribusi dengan pola pikir (mind set ) positif sebagai daya dorongnya.

9. Hambatan diri untuk berkreatif.

David Kelly (professor design Universitras Stanford) saat menjadi pembicara tamu TEDTalks memaparkan pentingnya proses untuk merubah suatu paradigma, contoh kasus eksekutif merasa bukan bertipe kreatif, David berujar “if they stick the process, they stick with it, the end of doing amizing thing and they surprissed them self just how innovative they and their team really are”. Semakin intens melewati proces untuk mengalahkan ketakutan (fear & self judgment: seperti phobia atau perasaan lain seperti tidak kreatif dll), semakin tinggi kepercayaan diri, semakin meningkat Self Efficacy. Metoda berkaitan rangkaian proses untuk mengalahkan phobia, meningkatkan Self Efficacy ini terbukti efektif dan telah teruji sejak dicetuskan oleh Albert Bandura (profesor psikologi Universitas Stanford).

Nah, bila hal penting berkreatif diperhatikan untuk menduking proses berkreatif termasuk segala sesuatunya lengkap (termasuk sumber daya) mendukung terciptanya proses kreatif, kreatifitas merupakan hasil yang pantas didapat. Kreatifitas bukan hanya domain perancang, pengembang produk atau marketer, namun kita semua lapisan masyarakat. Kreatifitas juga lah merupakan elemen penting manusia untuk hidup dan memberi kontribusi positif pada hidup.

Bukan kah untuk mengatasi permasalahan hidup kita harus kreatif juga?

Mau jadi kreatif  ? Siapa Takut !

* image credit: sixninepixels-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi.  Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply