Category Archive Insight

Byjmzachariascom

Perubahan, Adaptasi dan Action di era Sharing Economy

Kejadian demo dan bentrok 22 Maret lalu antara pengemudi angkutan umum dengan pengemudi/mitra layanan transportasi berbasis aplikasi yang semakin menguak puncak gunung es permasalahan yang belum mencapai titik temu. Di satu sisi angkutan transportasi umum resmi yang beroperasi dibawah ijin serta proses administrasi dari lembaga pemerintah yang berwenang, merasa layanan transportasi berbasis aplikasi dengan leluasa beroperasi tanpa prosedur ijin sebagaimana yang harus dijalani angkutan umum jalan raya sebagaimana yang diamanatkan Undang Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ( UU Nomor 22 Tahun 2009 ). Disamping itu dengan model bisnis layanan transportasi berbasis aplikasi ini, memotong komponen biaya-biaya yang ada pada angkutan umum, sehingga berkontribusi pada harga yang ditawarkan lebih kompetif. Keberadaan layanan transportasi berbasis aplikasi sudah hadir sejak tahun lalu. Namun keberadaannya belum dianggap menjadi ancaman atau dipermasalahkan bak anak singa yang perlu waktu untuk menjadi singa untuk kemudian mulai diperhitungkan. Begitu minat partner pengemudi/mitra layanan transportasi berbasis aplikasi sambutan pelanggannya membuat perkembanganlayanan transportasi berbasis aplikasi ini, barulah muncul penolakan terhadap keberadaan layanan transportasi berbasis aplikasi yang dianggap ‘mengancam’ keberadaan angkutan umum yang sebelumnya menjadi satu-satunya opsi angkutan umum resmi. Di sisi lain pemerintah selaku regulator dihadapkan persoalan menjadi semakin pelik karena belum ada titik temu peraturan yang mengatur layanan transportasi berbasis aplikasi ini.

Bila selama ini, pengguna angkutan umum dalam hal ini taksi dan ojek pangkalan akan mudah tersegmentasi karena adanya perbedaan (disparitas) harga berikut servis. Namun sejak adanya ojek dengan layanan transportasi berbasis aplikasi, yang menawarkan standar kemudahan akses (pemesanan yang cepat dan jaminan kepastian), kenyamanan berikut standar operasi prosedur yang harus dipatuhi partner dalam hal ini pengemudinya, menyebabkan gap servis yang semakin mendekati dengan servis yang diberikan taksi namun dengan harga yang lebih kompetitif. Memang tidak bisa membandingkanya secara apple-to-apple, namun khusus di Jakarta aspek kemacetan yang menjadi momok dalam akses transportasi di jalan dan kendaran roda dua (ojek) mempunyai keunggulan komparatif untuk menggunakan banyak alternatif rute baik manuver sela-sela kemacetan serta melalui jalan-jalan tikus. Hal ini yang membuat persaingan lintas moda transportasi menjadi terbuka terutama jika servis yang ditawarkan gap-nya tidak lebar sehingga harga menjadi komponen kunci untuk konsumen men-switch preferensi layanan apa yang ingin digunakan.

Pasca kejadian demo dan bentrokan 22 Maret lalu, pemerintah membuat gebrakan cepat [mestinya tidak harus menunggu sampai terjadi bentrokan secara horisontal tersebut di lapangan) untuk menarik suatu kejelasan bahwa layanan transportasi berbasis aplikasi ini berhak diberi kesempatan untuk hidup (beroperasi) sesuai dengan perkembangan jaman, di sisi lain pemerintah memberlakukan kewajiban yang sama yang harus dijalani juga layanan transportasi berbasis aplikasi ini untuk mengurus perijinan dan prosedur dalam peraturan yang mengakomodir keberadaannya. Dalam hal ini di satu sisi pemerintah melihat perkembangan di masyarakat dan juga keberadaan entitas pemain baru dengan tetap memberi jaminan fairness bagi pemain lama, bahwa pemain baru pun diatur (harus) mengikuti peraturan yang sama seperti ijin operasional kendaraan angkutan termasuk KIR yang dengan penyesuaian dalam aturan baru tersebut.

Pembelajaran Bersama
Dari bagian awal tulisan di atas, saya tidak mendikotomikan ke dalam dua entitas taksi dan taksi online, sebab dikotomi tersebut tidak sepenuhnya benar. Ambil contoh taksi BlueBird Group (angkutan umum taksi) juga dilengkapi layanan aplikasi online juga. Itu sebabnya case ini saya menggunakan angkutan umum dengan layanan transportasi berbasis aplikasi. Bisa saja (seperti contoh taksi Blue Bird Group) sama-sama menggunakan aplikasi pemesanan online, namun yang jelas berbeda adalah model bisnisnya dengan layanan transportasi berbasis aplikasi seperti Uber, Grab Car, GoJek, Grab Bike dll yang berbasis Sharing Economy. Pasca demo penolakan layanan transportasi berbasis aplikasi sebelumnya ( 14 Maret 2016 ) yang terjadi 8 hari sebelum demo yang lebih besar disertai bentrokan 22 Maret 2016, saya melihat polemik semakin memanas pro dan kontra terhadap masalah ini, termasuk ranah pembahasannya pun ada yang fokus, konstruktif meski ada juga melebar. Setidaknya kita lihat partisipatif masyarakat dalam berekspresi seperti beropini menjadi bagian pembelajaran bagi kita semua.

Mengamati perkembangan, pembicaraan yang hangat sampai mengkristal menjadi polemik di media massa serta media sosial. Saya gunakan kesempatan ini juga untuk kita bersama-sama belajar tentang salah satu gelombang ekonomi baru ini yang disebut Sharing Economy. Mengacu pada artikel saya (2015) Sharing Economy yang secara harafiah dapat diterjemahkan kedalam terminologi Ekonomi Berbagi meskipun belum ada konsensus resmi mengenai terminloginya dalam bahasa Indonesia. Sehingga ijinkan saya untuk kembali menggunakan istilah aslinya Sharing Economy dalam pembahasan lebih lanjut.
Sharing Economy dimulai dikelanl munculnya CrowdEconomy (istilah pada awalnya) yang perannya merupakan bagian dari kegiatan yang lebih besar yang kita kenal dengan CrowdSourcing. Crowd Sourcing merupakan gerakan kolaboratif dari berbagai [banyak] resourcesses (sumber daya) tak terbatas pada waktu (24/7, 24 jam dlm 7 hari kerja), tempat/geografi (negara), lintas budaya dsb. Itu semua dimungkinkan oleh platform internet yang kita gunakan untuk berkomunikasi, hiburan, berbisnis sampai pada gerakan kolaborasi seperti CrowdSourcing ini.

Gerakan CrowdSourcing ini mulai eksis saat krisis/resesi melanda Amerika dan Eropa sejak 2008. Pada waktu itu krisis menyentuh semua sektor yang tidak hanya mengakibatkan lowongan pekerjaan tidak ada, namun terjadi pengurangan tenaga kerja (PHK) tidak terkecuali seretnya likuiditas (pencarian dana) perbankan dalam memberi program pinjaman usaha (loan program). Saat itulah munculah layanan servis CrowdSourcing tawaran pekerjaan paruh waktu yang dikenal dengan istilah freelance yang digagas oleh platform Elance, dimana pengusaha bisa fleksibel berbagi kesempatan dan mendapatkan berbagai resource (sumber daya) dengan lebih fleksible (tidak terikat), biaya yang kompetitif (lebih eknomis) dan tenaga kerja mendapatkan kesempatan bekerja di saat peluang kerja sangat terbatas saat krisis tersebut.

Di saat personalan finansial membatasi ruang gerak perbankan dalam memberi fasilitas kredit. Padahal di saat yang sama, perusahaan harus bertahan dengan menghemant sumber daya, merumahkan karyawan bahkan sampai harus merasionalisaikan (PHK). Otomatis, saat krisis tersebut jumlah pengangguran membengkak dan penyerapan tenaga kerja terhambat. Di saat krisis selalu ada peluang, begitu orang optimis bersikap positif. Lantas muncul berkembangnya bisnis baru start-up, menjadi solusi untuk bertahan hidup yang pada jangka panjang terbukti menjadi bagia dalam penciptaan lapangan kerja baru yang tidak bisa diserap perusahaan besar akibat krisis waktu itu. Bisnis start-up model CrowdSourcing ini, bentuknya sangat ramping memungkin untuk hanya fokus pada hal yang bisnis pokok (core business) berikut sumber dayanya (resource-nya) dalam hal ini tenaga kerjanya pun bisa dengan sistem CrowdSource melibatkan freelance dengan sistem kontrak dalam waktu tertentu (3 bulan, 6 bulan dst). Namun persoalan modal keuangan menjadi persoalan besar bagaimana bisnis start-up untuk berkembangan ke tahap berikutnya. Pada tahap ini lah hadir CrowdFunding melalui berbagai platform seperti Lending Club, Kickstarter yang mengisisi kekosongan fungsi funding tersebut. Dengan platform CrowdFunding ini mampu mengumpulkan dana dari usaha kolaboratif dan menyalurkannya sesusai bisnis proses masing-masing platfrom.
*Kalau di Indonesia salah satu platform CrowdFunding KitaBisa.Com. Begitu mereview kembali beberapa saat lalu ada program patungan donasi Bangun Kembali #MasjidTolikara Papua, kemudian yang terakhir dan masih hangat #RioHaryantoF1-Indonesia Menuju Formula 1, Anda akan teringat beberapa program dari KitaBisa.Com ini

Agar lebih memudahkan lagi untuk mencerna prinsip dasar sharing economy ini, berikut saya sertakan case sharing economy dalam bisnis penyewaan kamar oleh pemilik rumah yang kamarnya tidak berpenghuni tetap (vacant/unoccupied room). Model bisnis ini yang digarap oleh AirBnB. Dari contoh case pada video berikut dikisahkan ada pemilik dua rumah pada kota yang berbeda, dimana beberapa kamar tidak digunakan. Pemilik rumah tidak punya pengalaman untuk menyewakan rumah/kamarnya harian sebagai layaknya bisnis hotel atau cottage/villa. Platform AirBnB kemudian hadir menjembatani sang pemilik rumah untuk mempromosikan berikut fasilitas transaksi dari pengguna (consumer) AirBnB dari berbagai negara. Singkatnya sang pemilik rumah sharing kamar yang dimilikinya untuk ditawarkan bagi pelancong di kota tersebut dengan harga yang kompetitif. Lebih lanjut dapat dilihat pada video yotube dibawah ini.

Semoga penjelasan 3 paragraf dan ilustrasi video di atas dapat memberi gambaran singkat tentang Sharing Economy. Namun bila Anda ingin menggali lebih dalam tentang CrowdSourcing, CrowdFunding beserta contoh kasus (case) yang riil, silakan baca artikel saya satu tahun silam (2015)

Berkaca pasca kejadian demo dan bentrokan 22 Maret 2016, ada hal yang harus direnungkan tentang perkembangan jaman. Tentu perkembangan jaman harus dimaknai sebagai perubahan juga. Sesuatu yang tidak pernah abadi di dunia ini adalah perubahan. Hal ini tidak terkecuali pada bisnis berikut aspek lainnya, apalagi saat ini gelombang perkembangan jaman,dengan perkembangan teknologi dalam hal ini disruptive technology yang merombak struktur kemampanan termasuk lansekap bisnis, belum lagi munculnya tenaga terampil golongan millenials (profesional muda yang lahir antar 1981-1994) dengan gaya berbisnis yang cepat, dinamis dan berani hadapi resiko dan konfrontasi. Kita bisa lihat contoh sekumpulan anak muda di balik gebrakan CrowdSourcing Go-Jek, Teman Ahok, KitaBisa.Com, Change.Org, KawalPemilu.Org yang sekarang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaan dan kesuksesan mereka dalam waktu singkat menjungkirbalikan paradigma lama dan memsubsitusikan dengan paradigman baru yang menjadi ‘currency‘ dari suatu perubahan saat ini!

Saya mencoba beri masukan solusi bagi pemain lama untuk ranah bisnis, terutama sesuai dengan tema yang tadi saya bahas di atas, dalam hal ini bisnis taksi. Penerapan Teknologi Informasi (IT) dengan keunggulan layanan online sudah menjadi atribut yang signifikan meningkatkan daya saing sekaligus keunggulan kompetitif bisnis. Mengadopsi teknologi informasi perlu investasi yang tidak sedikit, namun itu kritikal untuk proyeksi bisnis ke depan. Bahkan sejak tahun lalu dimungkinkan perusahaan taksi untuk mengadakan kerjasama dengan layanan transportasi berbasis aplikasi GrabTaxi.
Gambaran sederhannya seperti yang pernah dilakukan Toko Buku Barnes & Noble beberapa tahun silam, perang ‘berdarah-darah‘ menentang kehadiran Toko Buku Online Amazon yang kemudian bertransformasi menjadi Toko Online untuk semua produk. Akhirnya Barnes & Noble pun melebarkan pasarnya dari jaringan toko buku fisik (yang dikenal dengan istilah Brick & Mortar) untuk kemudian merambah ranah Online BarnesAndNoble.Com. Sama seperti hal nya saat pemain besar perusahan penerbangan (airlines) menghadapi munculnya Low Cost Carrier (LLC) airline beberapa tahun silam, dimana Garuda Indonesia dengan inovasinya melahirkan Citi Link untuk segmen LCC-nya, Singapore Airlines dengan Tiger Air, Qantas dengan Jet Star. Mereka adaptif dengan perubahan mampu bertahan sekaligus menciptakan segmen baru.
Saya punya formula plan, strategi untuk adaptasi, bertahan sekaligus melakuan inovasi model bisnis angkutan umum taksi ini, cuma terlalu panjang kalau harus diuraikan lagi di sini ;).
Dari uraian pemikirian di atas, pada akhirnya kuncinya pada sikap dan pola pikir yang progresif (growth mindset) berani menerima perubahan, adaptif dan bertindak. Take action!

*image credit: Renjith Krishnan-FreeDigitalPhotos.Net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Spirit Entrepreneur-StartUp dan Inovasi di Jaman Digital.

Perkembangan digital yang berdampak bagi hampir semua aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali finansial (ekonomi digital) yang semakin berprospek, menarik banyak pihak untuk ikut masuk dalam market digital ini. Keunggulan aspek digital yang tawarkan efesiensi yang tinggi, memotong value chain proses tradisional seperti pada aplikasi pemprosesan dalam bisnis, dagang, pengadaan sampai pada proses distribusinya dll. Hal ini menarik minat pelaku bisnis untuk masuk ke bisnis digital ini.

Melihat perkembangan teknologi digital terutama yang berbasis internet (online) ini, tidak terlepas dari sejarah Kebangkitan ke 2 ‘2nd Wave‘ (penerus generasi 1st wave duo Steve Jobs & Steve Wozniak (perangkat komputer Apple) , Bill Gates & Paul Allen (aplikasi perangkat lunak Microsoft), juga Andy Grove, Robert Noyce dan Gordon Moore (komponen prosesor Intel) generasi revolusioner personal computer). Generasi 2nd Wave ini pada tahun 1990-an yang didominasi kalangan Silicon Valey dirintis sejak tahun 50an, saat itu (tahun 1990an) Jerry Yang & David Filo (Yahoo, Search Egine), Evan Williams (pencipta Blog, Blogger.com sebelum diakusisi Google menjadi Blogspot dan juga cofounder microblog Twitter), Sergey Brin & Larry Page (Google, Search Engine), Jeff Bezos (Amazon, ecommerce) dll. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai penyempurnaan dalam layanan yang sejenis maupun inovasi layanan serta model bisnis baru seperti munculnya jasa pembayaran online Pay Pal yang didirikan oleh 9 pendekar yg dikenal dgn ‘Paypal Mafia‘ yang setelah dibeli eBay alumninya menyebar dengan inovasi baru mereka lainnya seperti Ellon Musk (Tesla, SpaceX & Solar Cell?, Reid Hofman (LinkedIN, Venture Capital/VC), Jawed Karim (Youtube sebelum diakusisi Google) Pieter Thiel (VC/investor yg jg sbg pemodal FaceBook); inovasi layanan lain seperti Facebook (media sosial, Mark Zuckerberg), Jan Koum (WhatsApp, ), serta inovasi lainnya (crowdsourching berupa layanan sharing penginapan (AirBnB) & transportasi (Uber) yang sedang marak di sharing economy ini), SalesForce (layanan cloud) dan masih banyak lagi.

Ide brilian yang dituangkan dalam eksekusi konsisten dari bisnis start-up di atas pun mulai memberikan kontribusi dan prospek di Amerika Serikat yang menjadi tempat inkubasi layanan online sekaligus barometer industri digital dunia. Industri digital sudah tidak bisa lepas keterkaitannya dengan platform internet, baik untuk fungsi komunikasi, pengukuran, pemprosesan, transportasi konten tanpa ada penghalang baik dari sisi waktu, jarak dan aspek lain yang jadi penghambat dari implementasi dari cara konvesional. Gaungnya pun berdampak memberi ‘ripple effect’ geliat munculnya industri digital mulai pertengahan 90 an cikal bakal ecommerce AliBaba yang dibidani Jack Ma di Tiongkok, juga media online tanah air Detik.com yang masih bertahan sampai saat ini, disamping banyak entitas yang hadir setelah itu seperti Start-Up Trabas dengan produknya Linux Merdeka dan masih banyak lainnya termasuk yang kemudian berguguran seperti portal Astaga.Com, layanan belanja LippoShop dll. Namun ditengah euforia perkembangan industri awal 90-an, kita perlu melihat sejarah perkembangan indsutri digital bahwa pada tahun 1987/1988 sudah hadir perusahaan software nasional yang sampai saat ini masih eksis seperti Andal Software yang dirintis oleh Indra Sosrodjojo dan Sigma Caraka (yang kini lebih dikenal sebagai Telkom Sigma, setelah diakusisi PT Telkom).

Kalau pada akhir 90-an masa tumbuh kembangnya digital dan layanan online pertama kali di tanah air, sebelum masuk dalam pusaran tantangan bisnis untuk tetap bertahan. Di sisi lain awal 2000-an merupakan tonggkan lahirnya gelombang kebangkitan digital (kebangkitan ke 2 setelah era akhir 90-an) di tanah air yang digerakkan munculnya star-up yang didukung SDM dan infrastruktur yang lebih siap dibandingkan era mulai tren internet pada tahun 90-an. Dalam kurun 5 tahun sejak berdiri start-up yang bertransformasi menjadi besar serta mulai dilirik pemodal/VC dari manca negara seperti Koprol, TokoPedia, BukaLapak. Indonesia menjadi spot radar dari investor asing dan pemlain manca negara apalagi saat krisis dunia pasca 2008 yang memberi dampak langsung di negara-negara Amerika dan Eropa. Dengan kondisi ekonomi yang masih stabil (lebih baik dari negara-negara lain) dalam menghadapi dampak pasca krisis ekonomi 2008/2009 dan juga performa industri digital di tanah air dengan market penetrasi yang menjanjikan menjadi pendorong masuknya pemain dan juga pemodal industri digital.

Masuk pemain asing dan pemodal manca negara, di satu sisi memberi sinyal bahwa iklim berusaha di Indonesia prospektif, namun di sisi lain sekaligus sebagai tanda peringatan bagi entitas pelaku industri digital beserta seluruh pemangku kepentingan (stake holder) terhadap dampak yang bisa ditimbulkan.
Tumbuh kembangnya start-up selain menggembirakan dari sisi ekonomi sebagai opsi penggerak ekonomi baru lewat sektor kewirausahaan (enterpreneurship) namun juga harus dilihat dari aspek perkembangan inovasi. Iya, bisnis dan industri digital tidak lepas dari inovasi. Inovasi bisa dalam bentuk layanan baru yang ditawarkan, business model baru, adopsi teknologi baru untuk layanan konvensional dsb. Setidaknya menurut saya, inovasi dalam dunia bisnis, inovasi harus dapat menjawab need dan want dari konsumen. Yakni mengatasi persoalan/kebutuhan yang dihadapi konsumen (consumer need) dan menawarkan suatu hal pencapaian baru dari suatu keinginan konsumen (consumer want) Bahkan salah satu pendiri Pay Pal yg juga seorang investor Pieter Theil dalam sebuah wawancara tv pernah mengatakan bahwa inovator yang tumbuh saat ini harus membuat hal yang sama sekali baru (yang belum ada). Pieter Theil mencontohkan inovasi itu berarti jangan buat yang sudah ada jangan meniru apa yang dilakukan Mark Zuckerberg (social media), Larry & Sergey (search engine), Steve Jobs (komputer & notebook) dll. Pieter Thiel sendiri sedang mendanai suatu inovasi yang tidak kalah ‘gila’ inovasi supaya manusia bisa hidup lebih lama (modifikasi DNA) agar bisa lebih dari seratus tahun. Sepertinya tidak masuk akal alias mungkin dibilang gila. Namun seperti kata Henry Ford saat itu kalau konsumen ditanya apa yang diinginkan, mereke akan menjawab kuda yang semakin cepat, bukan kendaraan mobil seperti yang ada pada benak Ford.


Video Pemaparan Innovasi dengan Start-Up Spirit oleh Stefan Gross-Selbeck (MD of BCG Digital Ventures) pada even TED@BCG di Berling Berlin

Jadi saat ini dimana pandangan tentang start-up mulai positif, termasuk proporsi mahasiswa dan lulusan baru yang semakin besar untuk membangaun mimpi dengan start-up; dab juga golongan profesional middle-age (umur 30-40 tahunan) yang mulai punya alternatif untuk mengejar the next dream-nya melalui tahapan baru salah satunya keluar dari zona nyaman dan menjadi entrepreneur dan membangun start-up.
Kembali pada industri digital dan start-up, inovasi adalah mutlak untuk bertahan dan memenangkan kompetisi (memenangkan hati konsumen). Bahkan Steve Jobs, sebagaimana yang diceritakan kembali oleh penulis Adam Lashinsky dalam Buku Inside Apple: How America’s Most Admired–and Secretive–Company Really Works selama memimpin Apple selalu menekankan bahwa perusahaan tersebut tetaplah seperti start-up, begitu juga sikap sama yang diambil oleh Jack Ma. Dalam hal ini, yang kita perlu lihat bukan skalabilitas perkembangan perusahaan yang besar, namun spirit perusahaan start-up (entrepreneurship spirit) yang mendasari proses-proses yang dikerjakan.

Menurut saya apa yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur meskipun masing-masing pada bisnis yang sama. Seorang entrepreneur memulai segala sesuatu dengan mimpi besar (punya visi), dan visi jadi bahan bakar sekaligus fokus sekaligus untuk setia (komitmen+persistent) untuk wujudkan mimpi dengan langkah nyata meski hasilnya belum terlihat, termasuk hadapi pahitnya bisnis (jatuh bangun berkali-kali), long-term result yang jadi horison pandangannya. Sedangkan yang bukan entreprenuer (tidak punya entrepreneur spirit) lebih melihat prospek jangka pendek s/d menengah dulu baru melangkah, no matter bidang/jenis bisnisnya seperti apa, sejauh untung bisa didapat. Pendekatannya pun pragmatis. Tidak heran pemain seperti ini, tidak punya produk kompetitif dan juga DNA/karakter yang kuat, belum lagi jika bicara pada idealisme. Jadi meski kapital sang entreprenuer tidak sebesar pemain besar, namun jika digarap dengan inovasi plus sentuhan autentik yang membuat nya tidak saja bertahan dan kompetitif namun juga sulit ditiru.

Hal ini menjadi sensor bagi kita sebagai manusia Indonesia mengingat negara kita sudah menjadi pasar besar dan dimasuki banyak pemain industri digital. Jangan hanya melihat yang hingar bingar saja, sesuatu yang bisa digenjot dengan modal kapital yang besar. Kita harus konsern juga dari perkembangan industri digital di tanah air, dari sisi peletakan fondasi pengembangan inovasi dalam yang kontinu (sustainable) ke arah jangka panjang, termasuk menyediakan sumber daya inovasi yang berasal dari tunas-tunas muda Indonesia dan kontribusinya tidak melulu pada uang, namun juga memikirkan kontribusi untuk meningkatkan daya ungkit (leverage) insan manusia Indonesia lain yang berlu didukung seperti sektor informal (ekonomi kecil), rekan-rekan difabel, kaum purna tugas/pensiunan (lansia), atau yang mengalami hambatan/keterbatasan akses karena penyakit tertentu serta wilayah-wilayah Indonesia (pelosok) yang masih belum terjangkau dan menikmati pembangunan secara merata.

Kedepan, saat industri digital tumbuh pesat, saya optimis akan lahir banyak entreprenuer baru. Dan tidak itu saja, selain sukses dalam berbisnis, mereka juga punya hati dan cinta untuk negeri ini lewat misi sosial, pemberdayaan lewat bisnis yang mereka lakukan. Mereke tidak saja layak disebut entreprenuer yang cemerlang, secemerlang otak yang melahirkan inovasi namun juga entrepreneur yang keseimbangan jiwa, mereka yang punya hati yang mulia.

*image credit: NutdanaiApikhomboonwaroot-FreeDigitalPhotos.Net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Menjadi Profesional Yang Tangguh [ Be Resilient Professional ]

Dalam menjalankan bisnis tidak lepas dari strategi bisnis untuk mencapai tujuan perusahaan atau bisnis tersebut. Di sisi lain strategi bisnis tidak hanya domain pembicaraan mengenai kompetior, keunggulan kompetitif, konsumen berikut market serta hal lainnya namun sisi manusianya. Iya, manusia (people) yang menggerakkan [driving] proses bisnis, yakni pekerja (karyawan, baca profesional). Keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan jargon yang sering kita dengar, namun itu bukan hal itu poinnya. Poin utama yang perlu jadi perhatian adalah kondisi persaingan yang kian sengit apalagi saat ini kita memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di sisi perburuan kesempatan kerja (profesional) dan di sisi lain meski banyak kesempatan kerja namun perusahaan pemburu tenaga kerja (perusahaan) kesulitan untuk mendapat bibit unggul (talent). Hal ini juga yang menjadi benang merah sesi Akademi Berbagi Jakarta Januari 2016 pagi tadi, yang membahas lebih dalam pada sisi profesionalitas dalam hal ini to be resilient professional (profesional yang tangguh). Saya mencoba merangkai ulang sesi Akber Jakata edisi pertama untuk tahun 2016 ini dalam tulisan yang santai dan mengalir ala saya bercerita, namun tetap pada benang merah apa yang telah dipaparkan panelis tadi pagi.

Saat Yanti Nisro (Deputy Managing Director Deka Marketing Research) menceritakan keresahan manajemen terhadap sulitnya mencari kandidat talent untuk posisi tertentu di jajaran manajemen dari Indonesia (profesional dari Indonesia). Kondisi ini sontak mengingatkan saya 20 tahun silam, dimana waktu itu eksekutif dari perusahaan otomotif nasional juga mengeluhkan hal yang sama, singkat cerita talent yang memenuhi kualifikasi malah di dapat dari luar Indonesia. Yanti Nisro menambahkan [saat memperlihatkan slide presentasi dengan latar belakang foto beberapa bayi], menggarisbawahi bahwa kita manusia semua berasal dan dilahirkan dengan kondisi mula-mula, yang praktis sama. Yang membedakan ya proses, cara masing-masing individu berproses, bertumbuh dan berkembang. Dalam konteks ini problem/kondisi [sulitnya mendapatkan talent dari Indonesia untuk posisi tertentu], Yanti Nisro menekankan 5 hal penting bagi profesional muda untuk ‘tahan banting’ atau tangguh [lihat foto di bawah] di tengah pergulatan yang sangat kompetitif ini.

YN_AkberJan2016
Yanti Nisro memaparkan 5 hal penting bagi profesional tangguh [resilient professional]

Yanti Nisro menambahkan bahwa kalau berbicara tentang kandidat yang pintar (smart) di Indonesia tidak kalah dengan yang di luar sana, sudah banyak yang smart dalam arti level kepandaiannya tidak terlalu berbeda jauh. Namun dari sisi kepercayaan diri (confident), ini merupaka poin kunci yang harus ditingkatkan jika mau berdaya saing sama dengan talent lain dari luar seperti India misalnya. Saya setuju sekali dan coba menambahkan hal yang senada [entah tadi sempat disinggung Mbak Yanti atau tidak, saya lupa … soalnya tadi juga sibuk foto-foto untuk atribut pada artikel ini 🙂 ]. Ini yang menurut saya tentang mind-set (pola pikir) yang dibentuk dari kultur/lingkungan tertentu. Oh, ya lanjut lagi dengan pembahasan Yanti Nisro tentang obvervasi dari pengalamannya di lapangan bahwa profesional muda kita cenderung cepat/mudah menyerah, Be Persistent! Dengan tantangan yang harus dihadapi, di sisi lain perlu diisi juga dengan Have Fun, ini bicara tentang keseimbangan. Yanti menceritakan pengalaman traveling ke Selandia Baru, yang tidak terlepas dari tantangan di awal perjalan yang menuntutnya untuk Be Persistent tadi, untuk kemudian jalani liburan dan kembali ke Jakarta dengan setumpuk tugas yang menanti sebagai konsekuensi setelah have fun 🙂 .
Perluas pergaulan, nilai ini yang saya tangkap dari poin berikutnya Get Connected. Selain bekerja sebagai profesional Yanit Nisro juga aktif sebagai volunteer, hal ini menurutnya membantu membuka lagi horison pergaulannya selain yang didapat dari lingkungan kerjanya. Pada poin terkahir tentang Be Creative seperti yang tampak di atas, saya coba mengaitkan dengan poin sebelumnya Get Connected, bahwa memperluas pergaulan berkontribusi signifikan untuk kreatif, memberi ruang untuk melihat dari beberapa aspek pengalaman dan latar belakang dsb. Oh, saya barusan teringat lagi kalau Mbak Yanti sempat mengatakan [saya mencoba merangkumnya] bahwa lingkunganmu itu sesuatu yang mempengaruhimu, contoh sederhanannya kalau kita disekeliling orang/lingkungan yang tahan banting, kita menjadi terpacu untuk tahan tangguh, begitu juga dengan lingkungan yang kompetitif dan lainnya.Jadi belajarlah dan ambilah pengaruh yang baik dari lingkunganmu.
Be a resilient and world-class professional. Indonesia is waiting for you.” menjadi penutup sesi presentasi Yanti Nisro sekaligus harapannya untik professional muda.

AC_AkberJktJan16
Ainun Chomsun menjelaskan pentingnya sinergi 3 proses Belajar-Bekerja-Volunteer

Senada dengan bahasan di atas, panelis berikutnya Ainun Chomsun (Profesional, Aktivis/Volunteer & Founder Akademi Berbagi] memulai sesinya dengan menekankan tentang Komitmen dan Konsistensi. Dengan bahasa yang lugas dan buat suasana semakin cair, bahwa komitmen ini memang wajib dibutuhkan, bukan seperti ‘hubungan tanpa status [tanpa komitmen]’ he2x. Menurutnya di Indonesia frasa Punish-Reward ala ‘Carrot & Stick’ [arti kiasan kelinci dengan wortel untuk hadiah & tongkat untuk hukuman] masih relevan untuk menertibkan selama kita belum bisa diandalkan komitmennya.
Lantas bagaimana melatih dan hidup berkomitmen? Ainun Chomsun membagikan pengalamannya, ia belajar untuk berkomitmen lewat kegiatan volunteer, bagaimana menjaga komitmen dengan tanpa imbalan seperti lewat kerja.Sehingga Ainun Chomsun menekankan profesional muda, untuk aktif menjadi relawan di mana saja [lihat 3 kotak merah pada foto di atas.] Jika kita melihat 3 kotak merah di atas, itu terdiri dari 3 proses: Belajar, Bekerja dan Volunteer, dimana pada masing-masing kotak, ia menjabarkannya dengan singkat padat. Kalau tidak terlalu jelas seperti yang nampak pada foto di atas, berikut penjabarannya:
-BELAJAR (Proses, Waktu, Rendah Hati)
-BEKERJA (Goals, Sistem, Team Work, Reward-Punishment)
-Voluteer (Berbagi, Leadership, Motives, Organisasi, Networking)

Ainun Chomsun menekankan untuk belajar dari hal kecil [yang sering diremehkan] seperti disiplin waktu, ia memberi contoh pengalamannya bersentuhan dengan protokol kenegaraan dengan agenda protokol yang disusun dengan cermat sampai kegiatan per menit. Hal itu memberi dampak untuk disiplin berikut konsekuensinya kalau tidak disiplin waktu seperti berapa kerugian/membengkaknya biaya dampak dari keterlambatan. Bagi mahasiswa yang sebentar lagi lulus/lulusan baru, Ainun Chomsun berpesan untuk mencoba mendapat pengalaman lewat bekerja dulu di perusahaan/orgasasi yang punya sistem, belajar tentang team-work, leadership dan pangalaman lainnya. Ainun menutup sesinya untuk profesional muda untuk Take Action, bangun jejak karir baik di dunia kerja maupun sebagai volunteer.

ds_akberjan2016
Dian Siswarini membagi pengalaman dan tips menjadi profesional tangguh

Proses, iya tentang proses, saya coba mengaitkan relevansi proses dengan poin-poin sebelumnya, dengan struktur bangunan bahasan yang dibawakan oleh Ibu Dian Siswarini (CEO XL Axiata) yang memulai sesinya dengan pengalamannya yang penuh warna. Kalau dilihat dari latar belakang posisinya sebagai CEO wanita, mungkin termasuk langka ditinjau dari pemimpin korporat wanita saat ini. Meski sebelumnya pernah ada beberapa mantan CEO wanita seperti (Hermien R. Sarengat mantan CEO of GE Technology Indonesia, Betti Alisjahbana CEO of IBM Indonesia) dengan prestasi ini diharapkan mendorong semangat profesinal muda bahwa perempuan/wanita mampu menjapai cita-citanya setinggi langit dan punya kesempatan yang sama.

Dian Siswarini memulai sesi dengan sharing nilai-nilai yang menekankan bahwa apa yang dicapai selama 20 tahun karirnya bergabung dengan XL (1996), itu melawati beberapa proses. Apalagi bidang yang menjadi awal karirnya (engineering) termasuk bidang yang didominasi kaum pria seperti kegiatan naik-turun memanjat tower BTS (30, 60 bahkan 90 meter tingginya), test di lapangan (drive test mulai pukul 23.00-02.00 3 hari dalam seminggu), menjangkau daerah baru/pelosok (remote area) beserta tantangan untuk mengaksesnya. Itu membuatnya untuk cepat belajar beradaptasi dengan lingkunan sekaligus tantanganya (learning agility). Dan tidak itu saja, dari proses-proses yang harus dijalaninya itu juga timbul Coping Mechanism, frasa kata tersebut yang sering diucapkan Dian Siswarini [saya coba menterjemahkannya sebagai mekanisme untuk menyelesaikan masalah/tantangan]. Jadi setelah cepat belajar beradaptasi dengan lingkunan sekaligus tantanganya (learning agility) dibarengi dengan proses Coping Mechanism [setidaknya dua hal ini coba saya simpulkan/hubungkan dari paparan Ibu Dian sebelumnya].

Untuk jalani proses, termasuk proses jangka panjang pun kita harus punya goal, itu yang saya tangkap dari paparan pengalaman Ibu Dian bahkan saat interview pertama rekruitmennya di XL, mengatakan long-term goal-nya menjadi CEO dan sempat membuat pihak yang menginterviewnya tersenyum. Ibu Dian mengatakan itu jawaban yang spontan saat yang ditanya tentang cita-citanya [idem dengan saya juga pernah ditanya seorang CMO salah satu operator telko dan jawaban saya jg sama, bule itu tertawa ha2x]. Sepertinya tidak penting [tidak terlalu serius untuk dipikirkan], namun saya ingin menunjukan salah satu cuplik proses yang Ibu Dian sharingkan tadi, sometimes it works to guide us subconsciously (kadang-kadang efektif menuntun kita walau kadang kita tidak menyadari setidaknya bisa kita lihat dari contoh lain lagi yang senada, rekam jejak seorang lulusan terbaik pendidikan militer yang sejak awal lulus menetapkan target karir dengan goal akhir menjadi jenderal bintang empat yang akhirnya berhasil mencapai posisi tertinggi di kemiliteran.

Kepemimpinan wanita dalam perusahaan, menginggatkan saya akan tugas yang tidak mudah karena dengan tangung jawab dan beban kerja di kantor tidak serta merta menghilangkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu di rumah. Hal ini berbeda dengan kepemipinan pria, dengan kondisi yang ‘lebih menguntungkan’ karena beban kerja rumah tangga sudah ditangani oleh istri. Dian Siswarini membagi pengalamannya melewati proses dan tantangan itu, dan tidak singkat. Dukungan (support) suami beserta keluarga membantunya untuk melewati proses/tantangan tersebut. Ada satu poin penting yang saya dapat dan ini penting serta menjadi perhatian profesional muda wanita dalam meniti karir, dukungan terhadap karir Anda dari pasangan suami dan keluarga itu sangat penting, semakin awal dikomunikasikan semakin baik apalagi yang sudah atau akan menjalani kehidupan rumah tangga.

Dian Siswarini pun juga sharing tentang komitmen dan disiplin waktu sebagai hal yang menjadi modal penting untuk berhasil dengan apa yang kita lakukan. Ada kalimat bijak yang didapatnya selama berinteraksi dengan berbagai latar budaya seperti yang dibagikan pada kami sesi tadi “If we under commitment, who will?” Konteks arti yang saya tangkap, kalau kita kurang komitmen terhadap apa yang harus kita kerjakan, lalu siapa lagi yang harus melakukan komitmen kita. Benar! Memang kita lah yang harus bertanggung jawab terhadap komitmen kita, baik itu ada bos kita yang mengawasi atau tidak. Selama kita punya komitmen dan itu diandalkan, trust tumbuh dan no matter your boss around you or not, dalam hal ini jargon ‘pengawasan melekat terus menerus’ menjadi tidak relevan bagi orang yang punya komitmen, it’s not big deal!

QnAAkberJktJan16
Sesi akhir tanya jawab dengan seluruh panelis.

Sesi terakhir tanya jawab ini semakin menarik baik dengan interaksi peserta berikut pandangan komprehensif dari panelis, mulai dari pertanyaan berkaitan role model untuk profesional muda (millennials) seperti Mark Zuckerberg yang sukses namun kuliahnya tidak selesai, bagiamana tips bagi professional muda yang berlatar belakang pendidikan keteknikan atau engineering (fakultas teknik) saat akan memulai bisnis start-up untuk masuk ke pekerjaan dan urusan bidang manajemen, marketing dll serta pertanyaan yang berkaitan dengan wanita menjadi profesional tangguh. Pada sesi jawab, Ainun Chomsun menekankan bahwa secara statistik potensi/talenta spesial seperti Mark Zuckerber bak 1 dari berapa juta atau bahkan lebih, dengan kata lain contoh pengalaman seperti Mark Zuckerberg itu tidak bisa digeneralisasi bahwa untuk menjadi sukses tidak perlu lulus kuliah. Dian Siswarini yang berlatarbelakang pendidikan dan pekerja awalnya di bidang engineeing menambahkan, nasihat atasannya dahulu, jika ingin masuk ke bidang lain “unlearn what you learn in engineering” ini konteksnya ke beradaptasi dengan cara pandang dan bertindak dengan lingkungan yang berbeda/baru. Do Extra Mile, frasa untuk melakukan sesuatu yang melebihi (ekstra) dari yang diekspektasikan (tidak seperti rata2x kebanyakan atau dalam istilah asing disebut mediocre alias sedang-sedang saja), ini dipercaya Yanti Nisro sebagai tips untuk jadi profesional yang tangguh di tengah persaingan yang sengit. Komunikasi pun menjadi hal pokok, diamini oleh Yanti Nisron, dan Dian Siswarini menambahkan bagaimana menyampaikan pendapat efektif, mendengar dan menjual ide itu sangat fundamental. Berkaitan karir profesional dan peran sebagai wanita, Yanti Nisro menekankan iklim sosial masyarakat kita sangat kondusif, tidak seperti di dunia barat dimana segala sesuatu polanya lebih individual minded. Dian Sisworini menambahkan justru wanita bisa memanfaatkan contra intuitive terhadap pandangan bahwa wanita tidak bisa mengerjakan ini atau itu sebagai dorongan bahwa wanita bisa menjadi lebih baik. Ainun Chomsun pun punya pendapat lain stigma keraguan kepemimpinan wanita, baginya hal itu dibuktikannya mulai dari ruang lingkup lingkungan, dibesarkan dari ibu yang punya latar belakang kepemimpinan di bidang organisasi dan perusahaan, Ainun percaya bahwa wanita pun bisa jadi pemimpin.

*image credit: JM Zacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Challenger: 73 detik antara Lompatan Peradaban, Tragedi dan Kebangkitan

Challenger ya, salah satu versi pesawat ulang alik ruang angkasa setelah sang pioner pesawat ulang alik Columbia. Masih teringat jelas diingat saya [saat itu masih anak-anak], sebuah lompatan besar berakhirnya era wahana ruang angkasa seperti Apolo di tahun 60-70-an namun pesawat yang diluncurkan ke angkasa, saat kembali ke bumi dalam keadaan utuh sebagaimana pesawat biasa. Berbeda dengan pendahulunya, dimana astronot Apolo, saat kembali ke bumi hanya dalam bentuk kabin kapsul dengan parasut yang mendarat di tengah laut.
Dari beberapa ekpedisi pesawat ulang-alik tersebut, salah satunya pesawat ulang alik Challenger yang mendapat perhatian, selain karena peristiwa meledaknya Challenger 76 detik setalah peluncuran pada tanggal 28 Januari 1986 ini, ada mimpi serta harapan besar Presiden Ronald Reagan bersama rakyat Amerika kala itu.

Meski waktu itu, saya yang masih kecil turut sedih mendengar dan melihat tragedi meledaknya Challenger dari siaran TVRI Dunia Dalam Berita [satu2xnya akses TV ke berita internasional saat itu di tahun 1986]. Saya, tidak tahu waktu itu perhatian saya tertuju pada seorang wanita dengan rambut hampir menyentuh bahu agak ikal berwarna coklat bergelombang. Meski waktu itu ada 7 kru Challenger (grup misi STS-51-L) yang menjadi korban, namun entah mengapa wajah dan ingatan saya seorang anak-anak yang tidak terlalu dapat mengakses banyak berita seperti era internet saat ini, tertuju pada wanita itu, bahkan sampai saat ini. Setelah saya dewasa dan mempunyai akses barulah saya tahu wanita tersebut, yang bernama lengkap Sharon Christa McAuliffe [Christa McAuliffe]. Entah kebetulan atau tidak ternyata saat itu sosok Christa McAuliffe menjadi tumpuan harapan rakyat Amerika setelah terpilih dari 11.000 an pelamar guru dalam inisiatif Presiden Reagan untuk mengikutsertakan seorang guru sebagai awak Challenger bersama astronot NASA lainnya. Misi Reagan saat itu, dengan diikutkan seorang guru dalam ekspedisi ruang angkasa dan selama berada di orbit, guru tersebut mengajar dua matapelajaan secara live yang akan disiarakan secara nasional, salah satunya tentang magnetism dengan demo bagaiamana pengaruh magnet dalam kondisi dengan gravitasi (seperti di bumi) dan tanpa gravitasi (di ruang angkasa).


*Presiden AS ke 40 Ronald Reagan mengumumkan inisiatif untuk mengikutsertakan guru pada misi ruang angkasa berikut program pengajaran ke murid secara langsunf dari ruang angkasa.

Tak pelak perhatian pun tertuju pada guru SMA di Kota Concord New Hampshire, Christa McAuliffe, harapan baru bahwa guru pun bisa menjelajah ruang angkasa dan memberi inspirasi langsung bagi murid-muridnya juga anak kecil lainnya. Setelah mengalami penundaan peluncuran dimana kru kembali keluar dari Challenger pada minggu sebelumnya. Tanggal 28 Desember 30 tahun silam, merupakan hari H (D-Day) yang ditunggu-tunggu baik pemirsa televisi, tidak terkecuali teman-teman sekolah anak Christa (kelas 3 Kimball Elementary School) berikut murid di sekolah dimana Christa mengajar SMA Concord New Hampshire.
Senyum melebar dari para kru Challenger sesaat sebelum masuk ke mobil Asto Van yang membawa mereka ke tempat peluncuruan. Untuk kemudian masuk dan bersiap untuk count-down, meluncur, diiringi keriuhan penonton yang tidak jauh dari lokasi peluncuran (sekitar 3,5 mil) tidak terkecuali Barbara Morgan yang merupakan guru back-up (cadangan dari Christa jika berhalangan), yang penuh antusias sesaat peluncuran. Kemeriahan, kegembiraan menemani Challenger meninggalkan landasan di sekitar pesisir Florida (Cape Caneveral) sambil komunikasi dengan awak pesawat terus berlangsung. Namun pada detik ke 73, kejadian dramatis bak roller coaster keadaan berubah dengan cepat,sampai akhirnya peristiwa itu terjadi (lihat video di bawah).


*Video rekamanan persiapan dan peluncuran pesawat ulang-alik Challenger beserta pidato (state union) Presiden Reagan pasca tragedi meledaknya pesawat ulang-alik Challenger.

Begitu peristiwa ledakan tersebut terjadi, di ruang kontrol peluncuruan sejenak senyap, kemudian petugas sepertinya team leader memastikan petugas lainnya untuk memperhatikan data-data Challenger terutama sejak detik ke sekitar 73, berikut sampai ada kepastian komunikasi terputus di detik ke 73. Meski tegang dan shock, semua anggota tim di ruang kontrol tetap tenang memantau segala perkembangan dari detik ke detik. Itu yang saya tangkap setelah melihat tayangan dokumenter di program tv National Geography Channel.
Kejadian ini tidak saja, membuat keprihatinan yang mendalam namun membuat down moral anggota tim yang terlihat peluncuran khususnya dan juga pemerintah. Presiden Reagan mengadakan pidato (state union) yang dapat dilihat pada video di atas untuk menyampaikan keprihatinan bagi keluarga korban sekaligus meningkatkan moral warganya termasuk anak-anak sekolah yang semula penuh antusias harus menghadapi peristiwa tersebut seperti sebagai berikut “And I want to say something to the schoolchildren of America who were watching the live coverage of the shuttle’s takeoff. I know it is hard to understand, but sometimes painful things like this happen. It’s all part of the process of exploration and discovery. It’s all part of taking a chance and expanding man’s horizons. The future doesn’t belong to the fainthearted; it belongs to the brave. The Challenger crew was pulling us into the future, and we’ll continue to follow them.
Presiden Reagan pun menambahkan pada pidato dari Oval Office Gedung Putih pukul 5 petang waktu setempat tersebut bahwa “The crew of the space shuttle Challenger honored us by the manner in which they lived their lives. We will never forget them, nor the last time we saw them, this morning, as they prepared for their journey and waved goodbye and “slipped the surly bonds of earth” to “touch the face of God.
Presiden Reagan mengutus Wakil Presiden George Bush beserta Senator John Glenn (mantan astronot) untuk datang ke kantor NASA menyampaikan keprihatinan sekaligus menguatkan moral karyawan di sana.

Program pesawat ulang alik angkasa pun sempat terhenti. Namun pada 3 tahun berikutnya program pesawat ruang angkasa kembali diluncurkan, Presiden Reagan menepati janjinya untuk bangkit meneruskan kepeloporan ekspedisi ke luar angkasa, seperti yang dibacakan pada state union saat itu a.l.:”I’ve always had great faith in and respect for our space program, and what happened today does nothing to diminish it. We don’t hide our space program. We don’t keep secrets and cover things up. We do it all up front and in public. That’s the way freedom is, and we wouldn’t change it for a minute.
We’ll continue our quest in space. There will be more shuttle flights and more shuttle crews and, yes, more volunteers, more civilians, more teachers in space. Nothing ends here; our hopes and our journeys continue.

Dari pengalaman kejadian di atas, kita bisa belajar bagaimana suatu organisasi entah dalam bentuk negara atau perusahaan saat menghadapi krisis. Pemimpin lah yang memegang peranan kunci dari perjalanan organisasi, mulai dari penyusunan visi seperti bagaimana Ronald Reagan punya visi mengikutsertakan guru berikut program mengajar secara langsung dari luar angkasa yang rencananya disiarkan langsung dan diikuti anak sekolah saat itu. Pada saat terjadi krisis pun, leader harus di depan menguatkan moral anak buahnya sekaligus mengambil keputusan strategis untuk bangkit dan menyelesaikan krisis tersebut. Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Uncle Ben (paman Peter Parker/Spider Man) “With great power comes great responsibility.” Pemimimpin bukan saja punya power yang besar, namun juga tanggung jawab besar. Pemimpin yang cakap pun akan meninggalkan legasi untuk organisasinya. Selamat Memimpin … mulai dari memimpin diri sendiri dulu dan menjadi teladan tentunya 🙂

*image credit: NASA

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Brewing the future: 2016 provides a room to empowering your business acumen toward technology trend.

We’re entering the new year 2016. A few years before I released the year-end edition of the article with the review of several companies in Indonesia with products and services that stand out. This time, I tried to accompany shortly before entering the new year with the article by writing a different angle that online business trends, technology trends that will boom in the coming years along with some concern that relevant to the readiness of resources (skills) following implementation strategy, if indirectly boom in 2016, but as business as usual we better to prepare business strategies and measures below long-term products was a strategic part that could be done in 2016.

Online Business Pillars

In the macro view, online business frame still have not shifted from online business pillars such:

– Sell Services Buy Products (eCommerce),

– Payments & Remittance Solution (remittance),

– Distribution Services, Online Data Management

– Content Management.

Technology Role

The role of technology provide opportunities of business dynamics such as product and market diversification and value creation opportunities followed by a new business model. Technological developments which are warmly welcomed and prospects such as:

– Cloud Computing
– Big Data
– 3D Printing
– Internet of Thing (IOT)
– Biometric
– Energy conversion

Cloud Computing

The role of information technology developments that rapidly supports the diversification of online business, such as the continuation of cloud computing technology that is starting to be used by SMEs and the next start 2016 adaptation utilizing cloud computing technology, will increasingly become a solution at the level of end-user (individual consumers) , With the shift in mind-set of the utilization of cloud technology broadly to the implementation of individual consumers, can give effect to the direction of product development to be efficient. In my mind, if the cloud computing technology has become a part of life of consumers, the development of small devices such as gadgets shape can be more compact (compact), may only lbh rely on the function of input output (I / O), memory RAM / ROM is not too big , internet connection by relying processing (ability) faster and large storage is provided centrally by cloud computing technology. Not only have positive implications for the use of more efficient components, but also gives a new option in the business model utilizing application / software in the form of leasing (membership) without having to put it in the structure of capital expenses (capex).

Big Data

Although the big data implementations have started in previous years, but with the increasing complexity and scalability of consumers, the technological capability of big data showed encouraging progress in collecting, sorting and selecting (grouping and filtering) to reliability in processing and presenting it in a comprehensive system in support operations and rapid decision-making. Intersection between capacity and demand, making the implementation of this technology can be widely adopted. With the large demand, the expected product pricing structures of these technologies become more economical.

Portable 3D-Printer

About 3-dimensional printing, the adoption of 3-D printing device technology will be absorbed more by 2016. If the steam engine became a motor of the industrial revolution to generate a mass product, I illustrate the role of 3D Printing as  driving of the industrial revolution of customisation that can be executed anyone with with tight tied budget not  capital plant such the procurement of machines. In the implementation can be in various purposes, ranging from products in 3D printed, such design cake (cake) in the form of even complex produced without limitation the minimum amount by portable 3D-printer. This is what opens the door customization business development of 3-dimensional printing for limited units till single product . A big jump, after one century heyday of the industrial revolution with limited customisation as well as the amount of product must be produced in bulk in order to achieve efficiency economically.

Technology Convergence

Other technologies are constantly being developed to be implemented on a mass product, it can stand on its own and convergence application in a sophisticated product technologies such as automatic vehicle (e.g. self-driving car as vehicle in factories, warehouses or in areas of extreme / area war fields mine), Internet-of-Things (example sensor systems, measurement and Internet communications in smart cars), big data (collect and process data comprehension and concentrated in smart cars), biometric (e.g. feature biometric retinal / finger print / face recognition as authentication for security functions on the car) as well as energy conversion (such as electric cars).

Information Technology Development

The development of IP technology which is an open platform with  broadband network,supports the implementation of other existing technology trends. I take a simple example, prior to the implementation of broadband technology in the consumer, business development Youtube yet show business prospects. At that time, the business strategy implemented goal was to maintain and increase its customer base. As soon as the infrastructure was ready by implementation of 3G, HSDPA and  4G wireless technology, followed by video streaming  booming, including  business model opportunities due to consumer demand for its services is high.

Direction of Technology Development (Skills Development & Business Strategy)

By understanding where the trend utilization technologies can be used to improve business competitiveness and assist in formulating long-term strategies, including the preparation of its resource capabilities.

Some skills have a bright prospect along with the development of technology and online business in 2016 as below:

– Design (product design, graphic and multimedia)
– Science Marketing (SEO)
– Application Programming
– Online Security

Looking business prospects with technology used, its development will require resources that are not in small numbers. We must carefully mapping the Human Resources requirement and its sustainability. This concern is not only important for the management / business owners, but also for professionals to improve their competence (competitive advantage), especially in the competition that tends to become more open, such starting tomorrow 1 January 2016, the opening of the ASEAN Economic Community (AEC).

Wishing you more blessing and more awesome contribution in this coming year.
Keep The Spirit
Happy New Year 2016

*This article also appeared in bahasa indonesia JMZacharias.Com Business Strategy Portal

Image: zirconicusso-freedigitalphotos.net

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Ayo Kerja, Kerja dan Kerja di era Masyarakat Ekonomi ASEAN #MEA

Tidak terasa 3 hari berlalu di tahun 2016, untuk hari Senin ini memulai ritme kesibukan awal minggua pertama tahun baru 2016, setelah berlibur sejenak menyambut tahun baru. Namun kali ini tidak seperti awal tahun baru biasanya, tidak saja dengan tantangan baru, menunggu kejutan-kejutan apa di sepanjang tahun ke depan, awal tahun baru 2016 juga menjadi tonggak pemberlakuan secara resmi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Perbincangan tentang MEA pun telah mengemuka selama 2 tahun terakhir dan intensif di tahun 2015. Berbagai kesiapan dari pemerintah (pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama dengan berbagai elemen terkait baik swasta, institusi pendidikan, asosiasi terkait dll. Baik dalam mempersiapkan infrastruktur, kebijkan dalam skema-skema berikut sektor mana yang siap saat MEA diberlakukan saat ini (5 sektor jasa dan 7 sektor profesi di bidang produksi) dengan disusul rencana berikutnya di masa mendatang. Dalam berbagai kesempatan saat ditanya tentang kesiapan kita (Indonesia) terhadap MEA, saya selalu menjawab harus siap. Hal ini berkaitan dengan komitmen MEA yang telah disusun, dipersiapkan dan diputuskan menjadi komitmen bersama, yang telah melewati proses-proses dalam kurun waktu beberapa tahun sebelumnya, termasuk telah mendapat ‘insentif’ waktu penundaan pemberlakuan yang sejatinya direncanakan 1 Januari 2015, kemudian dimundurkan satu tahun berikutnya. Jadi memang semestinya kita harus siap, mau tidak mau, harus siap. Harus siap berarti ‘kerja, kerja, kerja!’ senada dengan yang diserukan Presiden Joko Widodo.

Pada artikel ini saya akan membahas benang merah yang sampai saat implementasi MEA di tahun pertama ini masih dan sangat relevan seperti Pesimisme-Skeptism yang berhubungan dengan kekuatan dan kesiapan yang berhubungan dengan pemberlakuan MEA. Dalam hal ini saya hanya membahas tentang hubungannya dengan manusia Indonesia.

Pesimisme-Skeptisme

Dalam berbagai kesempatan tidak resmi sebelumnya, saya pernah menanyakan pada petugas level pelaksana di lapangan, tenaga kerja terampil seperti pekerja informal mandor, tukang bangunan, dll. Mereka tidak mengetahui program ASEAN seperti MEA termasuk terkait dengan sertifikasi yang menjadi sesuatu strategis dalam konteks pasar terbuka yang kompetitif ini. Apakah ini berkaitan dengan kesenjangan informasi dimana MEA menjadi konsumsi pembicaraan masih didominasi bagi pribadi dengan latar belakang pendidikan, pekerjaan dan pemangku bidang usaha yang akan berhubungan langsung atau pada tingkatan piramida menengah ke atas saja?

Meski kampanye pemerintah sudah digalakkan dengan program yang didukung oleh swasta, institusi terkait, asosiasi dll, agar program tersebut sampai ke masyarakat, seperti pelatihan dan penyetaraan mutu (sertifikasi) namun mengingat populasi negara kita yang cukup besar. Hal yang menjadi perhatian seperti berapa besar prosentasi target yang telah terjangkau dengan program terkait.

Ketidaktahuan (kurangnya informasi) tentang MEA serta sebarapa jauh peran terkait dari pemangku kepentingan di dalam negeri (pemerintah), menimbulkan ketakutan (pesimistis) dan atau sikap skeptis terhadap segala sesuatu terhadap MEA ini. Hal ini merupakan faktor strategis yang berkaitan dengan kesiapan yakni faktor manusianya, selain program, kebijakan, infrastruktur pendukung lainnya.

Mengenai kurangnya informasi yang menimbulkan pesimistis terhadap beberapa skenario yang berdampak merugikan atau skeptisme terhadap MEA apakah akan memberi dampak positif. Mari kita melihat dari konsekuensi dari pelaksanaan komitme bersama ini dalam bagian skenario di bawah ini.

Skenario

Berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini memberi konsekuensi sekaligus kesempatan, seperti
– Arus Masuk (Inbound flow), masuknya pemain dari negara lain ke dalam negeri
– Arus Keluar (Outbound flow), kesempatan ekspansi ke negara-negara ASEAN lainnya

Ketakutan (pesimisme) yang muncul, terkait dengan pasar terbuka masuknya barang dan jasa tenaga terampil dari luar negeri. Di sisi lain, sikap skeptis yang muncul karena dimensi pemikiran sempit pada persaingan bebas beserta keuntungannya yang lazim bagi kegiatan bisnis, pasca membuka diri market dalam negeri. Dalam hal ini dimaknai Indonesia sebagai negara dengan market yang besar dibanding negara lain berikut dengan untung ruginya dari komparasi marketnya. Pemikiran yang cukup kritis ini harus diperlebar horison pandangannya agar berimbang dan produktif jika tidak, akan menjadi ‘jebakan yang mematikan.’

Untuk melihat sisi yang lebih luas, itu dimulai dari tujuan dan semangat negara-negara anggota ASEAN merumuskan program MEA ini, yakni untuk meningkatkan peran regional ASEAN dalam bidang ekonomi, dalam ini akan berkontribusi bagi market regional ASEAN yang lebih punya prospek dibandingkan dengan negara dan kawasan regional lainnya. Regulasi yang selaras MEA, infrastruktur yang saling mendukung, kesiapan market beserta SDM-nya yang pada akhirnya membantu dalam penyebaran produk dan tenaga pendukung yang dipasok MEA.

Berkaitan dengan ukuran market kita yang besar, dengan menggunakan sudut pandang pemikiran positif (optimis) skenario yang bisa diaplikasikan dan memberi kontribusi positif seperti deskripsi skenario berikut. Dengan market yang besar market domestik kita, memberi sisi positif pendukung seperti sisi efektitas adaptasi dan konsolidasi untuk market sebesar Indonesia. Kita sudah siap dalam kurun waktu yang cukup lama dengan aspek dari market kita mulai dari geografi, demografi dll, kita sudah punya pijakan yang kuat di market dalam negeri berikut dengan ikatan dengan target konsumen kita. Kita sudah menguasai market domestik dan distribusi dari market negara kepuluan ini. Meski demikian, kita tetap harus meningkatkan keunggulan kompetitif senantiasa berkaiatan dengan kompleksitas kompetisi nantinya, meski di pada market domestik sekalipun saat mulai ramai dibanjiri dari luar. Di sisi lain, tentunya kesempatan kita untuk masuk ke market domestik setiap negara anggota ASEAN lain dengan yang ukuran market yang tidak sebesar market domestik kita, memberi keuntungan efisiensi usaha persiapan berikut implementasinya dibanding negara lain yang masuk ke market yang besar sekali seperti market dalam negeri kita, meski kompleksitas di masing2x market terdiri dari banyak variabel dan mempunyai karakteristiknya masing-masing. Jika ada pandangan skeptis muncul, seperti apa untungnya kalau market masing-masing negera lain MEA kalah besar dari market dalam negeri kita. Kembali kita harus melihat peran strategis dari inisiatif MEA ini, kolaborasi dari negara anggota ASEAN. Kolaborasi dari komulatif market semua negara ASEAN dari sisi ini sangat terlihat nilai strategisnya. Kalau ingin melihat analoginya seperti negara-negara Eropa yang menjadi kekuatan baru dalam ‘Uni Eropa’ dimana inisiasinya dimulai dari Masyarakat Ekonomi Eropa selama beberapa tahun sebelumnya.

Di sisi lain saat kita masuk ke outbound flow, dalam hal ini  masuk ke market negara ASEAN lain. Perlu melihat beberapa faktor berikut prioritasnya. Beberapa strategi bisa diterapkan untuk outbound flow seperti masuk prioritas terlebih dahulu ke negara yang penggunaan bahasa inggris sudah lazim dalam komunikasi sehari-hari seperti Singapura, Filipina dan Malaysia, Brunei. Atau setidaknya pada market dimana dimana bahasa melayu lazim digunakan seperti Malaysia, Singapura, Brunei, dapat dimulai dari industri hiburan seperti contoh Kesuksesan acara Academy Dangdut Asia di salah satu stasiun tv nasional dengan peserta dan juri, komentator dari negara serumpun melayu pada bulan November s/d Desember 2015. Selain itu dilakukan dengan memanfaatkan beberapa infrastruktur mulai jembatan, jalan yang membuka akses antar negara via jalur darat beserta serta alat transportasi di daratan alat transportasi di daratan yang menghubungkan beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam beserta kebijakan dan infrastruktur di sisi transportasi udara dan laut lintas negara ASEAN.

Untuk masuk ke market dari negara indocina seperti Thailand, Mynamar, Laos, Vietnam dan Kamboja, selain kendala bahasa lokal namun juga ragam tulisan. Justru dari sisi negara tersebut hal ini menjadi faktor yang menguntungkan, karena mudah menyesuaikan ke bahasa dengan ragam aksara/tulisan latin, dibandingkan negara lain yang tidak mengadopsi ragam aksara selain aksara latin tersebut. Bahkan ada institusi pendidikan di Thailand yang membuka kelas bahasa Indonesia, mengingat potensi dari market domestik kita. Di luar itu, dalam bisnis setiap masalah ada jalan keluar, termasuk kendala bahasa dan aksara lokal yakni dengan kolaborasi/kerjasama dengan mitra lokal. Hendaknya MEA tidak selalu dikmanai pada sisi competitiveness saja, namun semangat kolaborasi baru bersamaan karena dibuka pasar/market baru bersama yakni MEA.

Asertif

Strategi inbound dan outbound, tidak lepas dari Sumber Daya Manusia (SDM) kita. Meski SDM Indonesia sampai saat ini sudah cukup handal , namun kemampuan berkomunikasi internasional dalam bahasa inggris perlu terus ditingkatkan. Dalam hal ini, kita terkadang sudah berpuas diri bila sudah dapat berkomunikasi dalam bahasa inggris sepanjang rekan komunikasi (orang asing) dapat menangkap maksud pembicaraan kita. Perlu usaha untuk terus memperbaiki diri dari struktur kalimat (grammar), meningkatkan perbendaraan kata (vocabulary) agar penggunaan kata dalam kalimat sesuai dengan konteksnya serta ditambah jargon dan idiom umum yang kerap digunakan dalam digunakan dalam komunikasi sehari-hari maupun secara formal.

Selain itu, tingkat kepercayaan termasuk saat berkomunikasi perlu ditingkatkan. Dalam hal ini kemampuan untuk berani bersikap/mengemukakan pendapat (asertif). Dalam beberapa kelas yang saya ajar baik di lingkup domestik maupun di negera lain, masih ada saja orang kita (tidak semua memang, namun dominan) yang jika sesi di kelas lingkup domestik cukup kritis, namun saat mengikuti kelas sesi pelatihan di lingkup internasional lebih bersikap “low profile” lebih banyak diam dibanding rekan negara lain yang aktif bertanya atau mengemukakan pendapat/gagasan. Hal asertif ini penting, karena dalam kompetisi kita dituntut untuk berani tampil komunikasikan dan tunjukkan produk dan keunggulan kompetitif kita.

Di akhir dari artikel ini, tulisan yang berisi pemikiran, gagasan dan ‘ketakutan’ tersebut di atas, saya maksudkan agar memacu kita … manusia Indonesia untuk buktikan bahwa kita mampu. Ayo kita buktikan. Just Do It! Kerja, Kerja dan Kerja!

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

 

Byjmzachariascom

Tren Teknologi Tahun 2016 & Peluang Bisnis

Dalam hitungan beberapa jam lagi, kita akan memasuki tahun baru 2016. Jika beberapa tahun sebelumnya saya merilis artikel edisi akhir tahun dengan review beberapa perusahaan di Indonesia dengan produk dan pelayanan yang menonjol. Kali ini, saya mencoba menemani sesaat sebelum memasuki tahun baru dengan artikel dengan angle penulisan yang berbeda yakni tren bisnis online, tren teknologi yang akan booming di tahun mendatang beserta beberapa perhatian yg relevan terkait dengan kesiapan sumber daya (ketrampilan) berikut strategi implementasinya. Kalau pun tidak langsung booming di tahun 2016, sebagai pelaku bisnis mempersiapkan strategi dan langkah bisnis berikut produk jangka panjang pun merupakan bagian yang strategis yang bisa dilakukan pada tahun 2016.

Bidang Penyangga Bisnis Online

Dalam gambaran makro, frame bisnis online masih belum bergeser dari  penyangga bisnis online yang meliputi layananan:

– Jasa Jual Beli Produk (eCommerce),

– Solusi Pembayaran &

– Pengiriman Uang   (remittance), 

– Sistem Distribusi & Warehousing, 

– Pengelolaan Data Online

– Content Management.

Peran Teknologi

Peran teknologi memberi peluang dinamisasi bisnis seperti diversifikasi produk dan market serta peluang value creation diikuti model bisnis baru. Perkembangan teknologi yang cukup hangat dan berprospek mulai dari:

  • – Cloud Computing
  • – Big Data
  • – Portable 3D Printer
  • – Internet of Thing (IoT)
  • – Biometric
  • – Konversi Energi

 

Cloud Computing

Peran perkembangan teknologi informasi yang pesat mendukung diverfikasi dari bisnis online, seperti kelanjutan teknologi cloud computing  yang saat ini sudah mulai dimanfaatkan oleh UKM. Ke depan mulai 2016 adaptasi pemanfaat teknologi komputasi awan ini, akan semakin menjadi solusi pada tingkat end-user (konsumen perorangan). Dengan pergeseran mind-set pemanfaatan teknologi awan implementasi secara luas sampai pada konsumen perorangan, dapat memberi dampak bagi arah pengembangan produk yang menjadi efisien. Dalam benak saya, jika teknologi komputasi awan ini telah menjadi bagian hidup dari konsumen, pengembangan piranti kecil berupa gadget bentuknya bisa menjadi lebih compact (ringkas), mungkin hanya lebih mengandalkan fungsi input output (I/O), memori RAM/ROM tidak terlalu besar, koneksi internet dengan mengandalkan pemprosesan (kemampuan) yang cepat  dan penyimpanan yang besar yang disediakan terpusat oleh teknologi komputasi awan. Tidak saja berimplikasi positif bagi penggunaan komponen yang lebih efisien, namun juga memberi opsi baru model bisnis dalam memanfaatkan applikasi/perangkat lunak dalam bentuk penyewaan (membership) tanpa harus memasukannya dalam struktur biaya modal (capex).

Big Data

Meski Big Data implementasinya telah dimulai pada tahun-tahun sebelumnya, namun dengan meningkatnya kompleksitas dan skalabilitas konsumen, kemampuan teknologi Big Data menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dalam mengumpulkan , memilah dan memilih (grouping dan filtering) sampai kehandalannya dalam memproses dan menyajikannya dalam sistem yang komprehensif dalam mendukung kegiatan operasional dan pengambilan keputusan secara cepat. Persinggungan (interseksi) antara kemampuan dan permintaan (demand), membuat implementasi dari teknologi ini dapat diadopsi secara luas. Dengan permintaan yang besar, diharapkan struktur harga produk dari teknologi ini menjadi lebih ekonomis.

3D Printing

Khusus untuk cetak 3 dimensi ini, adopsi teknologi perangkat cetak 3 dimensi (portable 3D-printer) akan terserap lebih banyak tahun 2016. Jika mesin uap yang menjadi motor revolusi industri untuk menghasikan produk massal, saya mengilustrasikan peran Portable 3D Printer ini menjadi motor revolusi industri kustomisasi yang dapat dilaksanakan siapa saja dengan pemodalan tidak sebesar modal pabrik seperti pengadaan mesin. Dalam implementasinya bisa dalam bermacam tujauan, mulai dari menghasilkan produk dalam bentuk cetakan 3 D, desain kue (cake) dalam bentuk yang rumit sekalipun yang dihasikan tanpa batasan jumlah minimum dengan portable 3D printer. Hal ini lah yang membuka pintu berkembangnya bisnis kustomisasi cetak 3 dimensi ini dalam jumlah satu-an sekalipun. Sebuah lompatan besar, setelah satu abad kejayaan revolusi industri dengan keterbatasan kustomisasi serta  jumlah produk pun harus diproduksi secara massal untuk mencapai efisiensi keekonomiaannya.

Konvergensi Teknologi

Teknologi lainnya yang terus dikembangkan untuk diterapkan pada produk massal, bisa berdiri sendiri dan konvergensi penerapannya dalam suatu produk unggulan seperti teknologi kendaraan otomatis (contoh self-driving car/kendaraan tanpa awak sebagai alat transport di pabrik/gudang atau di daerah ekstrim/area perang ladang ranjau), Internet-of-Thing (contoh sistem sensor, pengukuran dan komunikasi internet pada  mobil pintar), big data (mengumpulkan dan memproses data secara komprehensi dan terpusat pada mobil pintar),biometric (contoh fitur biometric retina/sidik jari/face recognition sebagai autentifikasi untuk fungsi security pada mobil) serta konversi energi (seperti mobil listrik).

Perkembangan Infrastruktur Teknologi Infromasi

Perkembangan teknologi  IP yang merupakan platform terbuka dengan kecepatan pita lebar (broadband) membuka implementasi tren teknologi yang ada. Saya ambil contoh sederhana, sebelum implementasi teknologi pita lebar sampai di konsumen, perkembangan bisnis Youtube belum menunjukkan prospek bisnis. Saat ini, tujuan strategi bisnis yang diterpakan adalah menjaga dan meningkatkan customer base-nya. Begitu secara infrastruktur siap dimulai dari perkembangan teknologi nirkabel 3G, HSDPA sampai teknologi 4G, booming video streaming berikut peluang model bisnis yang bisa dikembangkan mengingat demand konsumen terhadap layanan yang tinggi.

Arah Perkembangan Teknologi (Pengembangan Ketrampilan & Strategi Bisnis)

Dengan memahami kemana arah tren teknologi yang pemanfaatannya dapat digunakan untuk meningkatkan daya saing bisnis serta membantu dalam perumusan strategi jangka panjang, termasuk penyiapan kemampuan sumber dayanya.

Beberapa ketrampilan yang mempunyai prospek cerah di tahun 2016 seiring dengan perkembangan teknologi dan bisnis online:

  • – Desain (desain produk, grafis dan multimedia)
  • – Science Marketing (SEO)
  • – Pemograman Aplikasi
  • – Online Security

Melihat prospek bisnis berikut teknologi yang digunakan, perkembangannya akan membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Jika secara cermat dapat memetakan kebutuhan dan ketersediaan SDM berikut keberlanjutannya, tidak saja penting bagi pimpinan/pemilik bisnis, namun juga bagi profesional untuk meningkatkan kompetensinya dalam meningkatkan keunggulan kompetitif. Terlebih di dalam persaingan yang menjadi lebih terbuka, mulai esok hari 1 Januarti 2016 terbukanya pasar ASEAN Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Selamat Tahun Baru  Januari 2016

*image credit: jackthumm,freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

 

 

 

Byjmzachariascom

Can you believe 2015 is almost over? Be ready for the new year resolutions 2016 !

Can you believe 2015 is almost over ? Yes, it’s almost over in 37 days [counted from Nov 24th]. Be ready for  new year …. happy new year with its stuffs again!! Yeah … in 2016. It’s annually celebration through many common ways: sending and receiving greeting card, social media/messaging apps, exchange gifts, visiting colleague/beloved family and others public and community activities [new year eve in hotel, town hall, TV program, traveling, and anything else]. In all those activities, we set the new year resolutions, send best wishes to beloved family and friends for prosperous life in upcoming year.

You and I might be already planned to list some wishes & resolutions, for sure always with hope the upcoming year should be much better. One thing came up in my mind, do we apply the proven successful indicator and control management  that manages how the process on track or need to do pivoting before getting the resolution completed. Otherwise  those resolutions at the end will be acted as “empty promising resolution ” … words without meaning.

I list that concern with big question mark. The resolution should be adjusted into action plans. The question is how measure the process. It helps us to know exactly how close the progress, outcome to the resolution. Whether need some pivoting or not before the end of 2016.

Once put resolution into action plans, the step needs to be taken such mapping the requirement, resource management, scheduling, progress tracking and etc. In implementation of the planning, sometimes doesn’t goes as planned and on the other hand new momentum raise up that need the room of flexibility to do pivoting. And also breaking down into small target in several project goal per milestone (time frame) and parameters that consist of under control and out control variable (third party involvement for cooperation) could help much to ease the implementation of action plan in order to meet the resolution goal. At the end those parameters would help and guide in process, measurement and evaluation of the resolution completion. Also target per milestone help to manage the effort more reasonable to achieve resolution goal and evaluated at the end of 2016.

Sounds quite complicated. Believe me, it works! But need strong willing, consistency and perseverance. Try it step-by-step even though in small step and target per milestone gradually but sure. It will pay off.

Let’s  start the year 2016  with such breakthrough way, new and empowered mindset and attitude also with  very challenging things to achieve. Cause we live to have purpose that valued life by moving forward, growing up, accomplish challenge of the resolution successfully and SMART-ly [Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time Bound].
What do you think?

* This article  initially appeared on JMZacharias.Com Business Strategy Hub with some adjustments.
Image: Clock On Brick Wall

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Product momentum with its impacts

Talking about speed and momentum, I remember my first experience while still engaged in the development of mobile products of one prominent of cellphone maker Siemens Mobile. Around July 2003, in Indonesia we’ve been doing some testing of SX1 smartphone (pilot samples). SX 1 was the successor of Siemens Mobile first touchscreen by stylus pen SL45 45 (one of Siemens 45 series among the whole Siemens Mobile products at that time ).

The target release of SX1 in Indonesia was around the beginning of 2004, but there was rescheduled. At the same time, February 2004 competitor Nokia has just released the Nokia 6600 smartphone in Indonesia market that playing in the same class with SX1 and marked its presence as the first smartphone gets outstanding response.

Quite could be predictable, its ripple effect to smartphone market momentum at the time. Of course, N6600 smartphone reap large portion of the smartphone market cake that time, while other vendors have not been formally launched mobile phones in its class.

Then couples month later SX1 smartphone was launched a few months later, with retail price of IDR 4.3 million per unit (around USD 480). Inevitably face the N6600 smartphone had a strong foothold in the market and the customer side (top of mind) at retail price that several times down to 3.6 million per unit (around USD 400). Disparities retail price considerably became a dominant factor in the domestic market that time besides another value proposition such  quality of products and other factors.

Learning from that experience mentioned above, the speed factor is indeed a significant factor, but this article just focuses on the momentum factor as an important factor in business. Preparing, processing good products in production line with less time consuming would contributing cost significantly, but it was not enough! The main question : Does the product was launched at the right time? This is where momentum plays an important role.

The speed factor should synergize with momentum. More precisely how to set the pace at the right moment. It’s about how to get right timing. It is not easy nor difficult to determine the right moment through the experience. The sensitivity to the momentum it can be honed.

Momentum is itself plays role as important variable that determine:

– Does the process need to be speeded up?

– Or slowed?

– Or already on track (on time)?

Speed is important, as well as timeliness (momentum) as a strategic factor that must be owned and honed capability from time to time.

*This article originally appeared on jmzacharias.com/momentum-produk in bahasa Indonesia.
*image credit: Zuzzuillo-freedigitalphotos.net

——

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Strategi marketing : Gimmick

Pernah kah Anda karena tertarik dengan hadiah langsungnya, kemudian memutuskan membeli produk terkait saat itu juga? Jika ya, Anda tidak sendiri. Inilah buah kerja kelas tim produk marketing dalam melakukan bundling secara menarik. Tidak saja menarik, namun tepat membidik target marketnya, seperti apa, keinginannya apa, bagaimana aktifitasnya, kesehariannya, kebutuhannya dan sebagainya. Tidak saja itu, selain membidik target marketnya, bisa saja yang bukan konsumen setianya, tertarik membeli karena ada kebutuhan yang bisa dipenuhi dari hadiah langsung tersebut. Setidaknya itu yang saya rasakan sewaktu memasuki minimarket di sebuah stasiun besar di Shinagawa kawasan central kota Tokyo.
Dengan perlengkapan selama business trip untuk seminggu, tentu saja saya tidak perlu membeli sabun pembersih muka lagi di sebuah mini market ibukota Jepang tersebut. Namun nyatanya, saya membeli sabun cuci muka Biore [produksi KAO Jepang] sama persis brand-nya dengan sabun cuci muka yang saya bawa dari Indonesia [produksi KAO Indonesia]. Produknya sama, namun di Tokyo ini dikemas dengan gimmick menarik, sebuah kotak kecil menarik berisi sabun pembersih muka, lengkap dengan handuk kecil. Benar, kemasan kotak plastik yang handy itulah yang menarik hati saya, salah satunya untuk nantinya digunakan sebagai kotak kecil tempat menyimpan mulai dari flashdisk, memory card, charger dll secara ringkas dan aman,sebagaimana yang terlihat di gambar di bawah ini. Pertama kali hanya beli 1 kotak (coba-coba), ternyata sampai di Indonesia kotak tersebut bermanfaat, sampai akhirnya trip ke 3 kalinya Jakarta-Tokyo pp akhirnya 3 kotak tersebut menjadi teman setia sampai saat ini.

KotakSebaguna

Pengalaman beberapa tahun silam itu kembali terulang, bulan Juli lalu saat mata menyapu di sekitar rak minuman dalam kemasan botol Pocari Sweat dengan gimmcik hadiah langsung tas handy yang menyimpan minuman botol dalam jumlah banyak (8 botol), didapat dengan membeli 8 botol ukuran 350 ml. Dengan tampilan tas yang menarik tersebut, bayangan terlintas tas handy tersebut nantinya dapat digunakan untuk aktifitas olaharaga outdoor seperti untuk menyimpan baju ganti, handuk dan minuman ringan serta sebagai tas untuk menaruh peralatan setelah mandi seperti tempat untuk menyimpan body spray, minyak rambut, pasta gigi saat traveling.

RakTasPocari

Berhubung saya sudah memiliki tas handy untuk fungsi aktifitas sejenis, sempat berpikir untuk mengurungkan niat tersebut. Namun, harga 8×350 ml termasuk hadiah langsung cukup menggoda lantaran untuk konsumen loyal minuman brand tersebut, dengan hadiah langsung tas handy, harga yang dipatok tidak berbeda jauh dengan harga satuan, setidaknya value proporsition-nya menarik. Pikiran langsung kreatif mencari kebutuhan untuk penggunaan apa lagi yang kira-kira saya butuhkan. A-ha, dalam 2 menit saya berpikir, saya sudah menemukan alasan mengapa saya harus membeli paket minuman ini. Tas handy tersebut akan saya gunakan untuk menyimpan beberapa buku yang akan saya bawa sekaligus saat saya perlukan di suatu tempat. Lihat penampakkanya di gambar berikut:

Kolase_TasHandy

Dari beberapa pengalaman di atas berkaitan dengan gimmick yang sukses menarik konsumen untuk membeli, berikut 3 poin yang bisa dipetik sebagai pelajaran.:

1. Reposisi. Dalam hal ini memposisikan kembali perhatian gimmick kembali pada peran dan fungsinya, bahwa gimmick, bukan pelengkap dalam penjualan produk yang terkadang dalam konsep sampai eksekusinya dilakukan sekedarnya (cenderung sebagai pelangkap penjualan). Namun gimmick harus berperan sebagai pendorong (men-drive) impuls konsumen untuk membeli.

2. Value proposition. Dalam hal ini, jika Anda memberikan gimmick menarik namun menambahkan beban terlalu banyak pada sisi komponen harga sehingga membuat harga jual tidak rasional, forget it! Kita harus sadari kontribusi gimmick seperti poin pertama, untuk mendorong pembelian, bukan jadi faktor yang mengganggu strategi penjualan. Sekalipun akhirnya berkontribusi pada kenaikan harga jual produk, namun jika masih tetap kompetitif (harga kompetitif) tetap menjadi opsi menarik untuk mendapatkannya sebagai gimmick pada paket promo dibandingkan membelinya secara terpisah. Tentu lain cerita dengan perkecualian seperti gimmick yang ditawarkan merupakan limited edition dan mendapat ‘subsidi’ dari program sales marketing pada periode tertentu, karena berbagai pertimbangan pengadaan gimmick ini menambah beban cost dan tidak dimasukan ke struktur harga,dengan pertimbangan untuk tujuan jangka menengah misalnya, cost ini akan terbayarkan dengan capaian dari indikator lainnya seperti akusisi pelanggan, peningkatan customer experiece (QoE) yang pada akhirnya mempengaruhi hubungan customer dalam bentuk loyalty (quality of engagement-nya). Dalam hal ini, riset terhadap ketertarikan khusus konsumen pada gimmick tersebut juga menjadi proses yang strategis.

3. Eksplorasi. Perlunya menggali potensi-potensi manfaat dari gimmick beserta relasinya terhadap kehidupan target market yang dibidik. Seperti kisah di atas. Bisa jadi tas handy gimmick dari brand minuman contoh di atas dirancang untuk tempat penyimpan pernak-pernik dalam kegiatan outdoor dalam hal ini minuman brand tsb diasosiakan sebagai penunjang kegiatan outdoor. Namun khusus seperti case saya, dimana saya sudah memiliki tas handy sejenis yang dimaksud, memperluas ruang lingkup potensi/kegunaan dari tas handy tersebut sangat-sangat membantu khusus bagi konsumen yang sudah mempunya gimmick seperti tas tadi dengan dengan fungsi sejenis, salah satunya untuk membuka horison lain penggunaannya untuk keperluan yang lain seperti tas handy untuk tempat menyimpan beberapa buku yang dapat dibawa sekaligus.

Pada akhirnya prinsip gimmick sama seperti prinsip memberi hadiah pada seseorang yang bersifat personal, dengan menganalisa seberapa jauh manfaatnya yang mendekati kebutuhan penerima, hal tersebut tidak saja makin baik bagi si pemberi, namun [sisi yang paling penting] membuat si penerima senang. Tidak hanya dari sisi manfaat, untuk gimmick yang akan digunakan dalam kegiatan sehari-hari, pesan visual dari warna, logo dan tekstual tag-line beserta pesan brand hendaknya didesain dengan cermat. Dengan demikian pesan visual tersebut menjadi mudah untuk secara kontinyu terekpose ke pikiran alam bawah sadar (subconscious mind). Pada akhirnya dampaknya positif pada brand awareness terjaga, loyalti pelanggan terbina, customer enggagement semakin baik dan menunjang program dan strategi sales marketing ke depan. Dengan demikian, bukan tidak mungkin hasilnya besar diperoleh dengan budget yang ekonimis (seefisien mungkin) sekalipun, jika dalam perencanaan, eksekusi dan tindakan yang cermat dan tepat.

*Keterangan foto artikel di atas: JM Zacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.