Spirit Entrepreneur-StartUp dan Inovasi di Jaman Digital.

Byjmzachariascom

Spirit Entrepreneur-StartUp dan Inovasi di Jaman Digital.

Perkembangan digital yang berdampak bagi hampir semua aspek kehidupan masyarakat, tidak terkecuali finansial (ekonomi digital) yang semakin berprospek, menarik banyak pihak untuk ikut masuk dalam market digital ini. Keunggulan aspek digital yang tawarkan efesiensi yang tinggi, memotong value chain proses tradisional seperti pada aplikasi pemprosesan dalam bisnis, dagang, pengadaan sampai pada proses distribusinya dll. Hal ini menarik minat pelaku bisnis untuk masuk ke bisnis digital ini.

Melihat perkembangan teknologi digital terutama yang berbasis internet (online) ini, tidak terlepas dari sejarah Kebangkitan ke 2 ‘2nd Wave‘ (penerus generasi 1st wave duo Steve Jobs & Steve Wozniak (perangkat komputer Apple) , Bill Gates & Paul Allen (aplikasi perangkat lunak Microsoft), juga Andy Grove, Robert Noyce dan Gordon Moore (komponen prosesor Intel) generasi revolusioner personal computer). Generasi 2nd Wave ini pada tahun 1990-an yang didominasi kalangan Silicon Valey dirintis sejak tahun 50an, saat itu (tahun 1990an) Jerry Yang & David Filo (Yahoo, Search Egine), Evan Williams (pencipta Blog, Blogger.com sebelum diakusisi Google menjadi Blogspot dan juga cofounder microblog Twitter), Sergey Brin & Larry Page (Google, Search Engine), Jeff Bezos (Amazon, ecommerce) dll. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai penyempurnaan dalam layanan yang sejenis maupun inovasi layanan serta model bisnis baru seperti munculnya jasa pembayaran online Pay Pal yang didirikan oleh 9 pendekar yg dikenal dgn ‘Paypal Mafia‘ yang setelah dibeli eBay alumninya menyebar dengan inovasi baru mereka lainnya seperti Ellon Musk (Tesla, SpaceX & Solar Cell?, Reid Hofman (LinkedIN, Venture Capital/VC), Jawed Karim (Youtube sebelum diakusisi Google) Pieter Thiel (VC/investor yg jg sbg pemodal FaceBook); inovasi layanan lain seperti Facebook (media sosial, Mark Zuckerberg), Jan Koum (WhatsApp, ), serta inovasi lainnya (crowdsourching berupa layanan sharing penginapan (AirBnB) & transportasi (Uber) yang sedang marak di sharing economy ini), SalesForce (layanan cloud) dan masih banyak lagi.

Ide brilian yang dituangkan dalam eksekusi konsisten dari bisnis start-up di atas pun mulai memberikan kontribusi dan prospek di Amerika Serikat yang menjadi tempat inkubasi layanan online sekaligus barometer industri digital dunia. Industri digital sudah tidak bisa lepas keterkaitannya dengan platform internet, baik untuk fungsi komunikasi, pengukuran, pemprosesan, transportasi konten tanpa ada penghalang baik dari sisi waktu, jarak dan aspek lain yang jadi penghambat dari implementasi dari cara konvesional. Gaungnya pun berdampak memberi ‘ripple effect’ geliat munculnya industri digital mulai pertengahan 90 an cikal bakal ecommerce AliBaba yang dibidani Jack Ma di Tiongkok, juga media online tanah air Detik.com yang masih bertahan sampai saat ini, disamping banyak entitas yang hadir setelah itu seperti Start-Up Trabas dengan produknya Linux Merdeka dan masih banyak lainnya termasuk yang kemudian berguguran seperti portal Astaga.Com, layanan belanja LippoShop dll. Namun ditengah euforia perkembangan industri awal 90-an, kita perlu melihat sejarah perkembangan indsutri digital bahwa pada tahun 1987/1988 sudah hadir perusahaan software nasional yang sampai saat ini masih eksis seperti Andal Software yang dirintis oleh Indra Sosrodjojo dan Sigma Caraka (yang kini lebih dikenal sebagai Telkom Sigma, setelah diakusisi PT Telkom).

Kalau pada akhir 90-an masa tumbuh kembangnya digital dan layanan online pertama kali di tanah air, sebelum masuk dalam pusaran tantangan bisnis untuk tetap bertahan. Di sisi lain awal 2000-an merupakan tonggkan lahirnya gelombang kebangkitan digital (kebangkitan ke 2 setelah era akhir 90-an) di tanah air yang digerakkan munculnya star-up yang didukung SDM dan infrastruktur yang lebih siap dibandingkan era mulai tren internet pada tahun 90-an. Dalam kurun 5 tahun sejak berdiri start-up yang bertransformasi menjadi besar serta mulai dilirik pemodal/VC dari manca negara seperti Koprol, TokoPedia, BukaLapak. Indonesia menjadi spot radar dari investor asing dan pemlain manca negara apalagi saat krisis dunia pasca 2008 yang memberi dampak langsung di negara-negara Amerika dan Eropa. Dengan kondisi ekonomi yang masih stabil (lebih baik dari negara-negara lain) dalam menghadapi dampak pasca krisis ekonomi 2008/2009 dan juga performa industri digital di tanah air dengan market penetrasi yang menjanjikan menjadi pendorong masuknya pemain dan juga pemodal industri digital.

Masuk pemain asing dan pemodal manca negara, di satu sisi memberi sinyal bahwa iklim berusaha di Indonesia prospektif, namun di sisi lain sekaligus sebagai tanda peringatan bagi entitas pelaku industri digital beserta seluruh pemangku kepentingan (stake holder) terhadap dampak yang bisa ditimbulkan.
Tumbuh kembangnya start-up selain menggembirakan dari sisi ekonomi sebagai opsi penggerak ekonomi baru lewat sektor kewirausahaan (enterpreneurship) namun juga harus dilihat dari aspek perkembangan inovasi. Iya, bisnis dan industri digital tidak lepas dari inovasi. Inovasi bisa dalam bentuk layanan baru yang ditawarkan, business model baru, adopsi teknologi baru untuk layanan konvensional dsb. Setidaknya menurut saya, inovasi dalam dunia bisnis, inovasi harus dapat menjawab need dan want dari konsumen. Yakni mengatasi persoalan/kebutuhan yang dihadapi konsumen (consumer need) dan menawarkan suatu hal pencapaian baru dari suatu keinginan konsumen (consumer want) Bahkan salah satu pendiri Pay Pal yg juga seorang investor Pieter Theil dalam sebuah wawancara tv pernah mengatakan bahwa inovator yang tumbuh saat ini harus membuat hal yang sama sekali baru (yang belum ada). Pieter Theil mencontohkan inovasi itu berarti jangan buat yang sudah ada jangan meniru apa yang dilakukan Mark Zuckerberg (social media), Larry & Sergey (search engine), Steve Jobs (komputer & notebook) dll. Pieter Thiel sendiri sedang mendanai suatu inovasi yang tidak kalah ‘gila’ inovasi supaya manusia bisa hidup lebih lama (modifikasi DNA) agar bisa lebih dari seratus tahun. Sepertinya tidak masuk akal alias mungkin dibilang gila. Namun seperti kata Henry Ford saat itu kalau konsumen ditanya apa yang diinginkan, mereke akan menjawab kuda yang semakin cepat, bukan kendaraan mobil seperti yang ada pada benak Ford.


Video Pemaparan Innovasi dengan Start-Up Spirit oleh Stefan Gross-Selbeck (MD of BCG Digital Ventures) pada even TED@BCG di Berling Berlin

Jadi saat ini dimana pandangan tentang start-up mulai positif, termasuk proporsi mahasiswa dan lulusan baru yang semakin besar untuk membangaun mimpi dengan start-up; dab juga golongan profesional middle-age (umur 30-40 tahunan) yang mulai punya alternatif untuk mengejar the next dream-nya melalui tahapan baru salah satunya keluar dari zona nyaman dan menjadi entrepreneur dan membangun start-up.
Kembali pada industri digital dan start-up, inovasi adalah mutlak untuk bertahan dan memenangkan kompetisi (memenangkan hati konsumen). Bahkan Steve Jobs, sebagaimana yang diceritakan kembali oleh penulis Adam Lashinsky dalam Buku Inside Apple: How America’s Most Admired–and Secretive–Company Really Works selama memimpin Apple selalu menekankan bahwa perusahaan tersebut tetaplah seperti start-up, begitu juga sikap sama yang diambil oleh Jack Ma. Dalam hal ini, yang kita perlu lihat bukan skalabilitas perkembangan perusahaan yang besar, namun spirit perusahaan start-up (entrepreneurship spirit) yang mendasari proses-proses yang dikerjakan.

Menurut saya apa yang membedakan seorang entrepreneur dengan yang bukan entrepreneur meskipun masing-masing pada bisnis yang sama. Seorang entrepreneur memulai segala sesuatu dengan mimpi besar (punya visi), dan visi jadi bahan bakar sekaligus fokus sekaligus untuk setia (komitmen+persistent) untuk wujudkan mimpi dengan langkah nyata meski hasilnya belum terlihat, termasuk hadapi pahitnya bisnis (jatuh bangun berkali-kali), long-term result yang jadi horison pandangannya. Sedangkan yang bukan entreprenuer (tidak punya entrepreneur spirit) lebih melihat prospek jangka pendek s/d menengah dulu baru melangkah, no matter bidang/jenis bisnisnya seperti apa, sejauh untung bisa didapat. Pendekatannya pun pragmatis. Tidak heran pemain seperti ini, tidak punya produk kompetitif dan juga DNA/karakter yang kuat, belum lagi jika bicara pada idealisme. Jadi meski kapital sang entreprenuer tidak sebesar pemain besar, namun jika digarap dengan inovasi plus sentuhan autentik yang membuat nya tidak saja bertahan dan kompetitif namun juga sulit ditiru.

Hal ini menjadi sensor bagi kita sebagai manusia Indonesia mengingat negara kita sudah menjadi pasar besar dan dimasuki banyak pemain industri digital. Jangan hanya melihat yang hingar bingar saja, sesuatu yang bisa digenjot dengan modal kapital yang besar. Kita harus konsern juga dari perkembangan industri digital di tanah air, dari sisi peletakan fondasi pengembangan inovasi dalam yang kontinu (sustainable) ke arah jangka panjang, termasuk menyediakan sumber daya inovasi yang berasal dari tunas-tunas muda Indonesia dan kontribusinya tidak melulu pada uang, namun juga memikirkan kontribusi untuk meningkatkan daya ungkit (leverage) insan manusia Indonesia lain yang berlu didukung seperti sektor informal (ekonomi kecil), rekan-rekan difabel, kaum purna tugas/pensiunan (lansia), atau yang mengalami hambatan/keterbatasan akses karena penyakit tertentu serta wilayah-wilayah Indonesia (pelosok) yang masih belum terjangkau dan menikmati pembangunan secara merata.

Kedepan, saat industri digital tumbuh pesat, saya optimis akan lahir banyak entreprenuer baru. Dan tidak itu saja, selain sukses dalam berbisnis, mereka juga punya hati dan cinta untuk negeri ini lewat misi sosial, pemberdayaan lewat bisnis yang mereka lakukan. Mereke tidak saja layak disebut entreprenuer yang cemerlang, secemerlang otak yang melahirkan inovasi namun juga entrepreneur yang keseimbangan jiwa, mereka yang punya hati yang mulia.

*image credit: NutdanaiApikhomboonwaroot-FreeDigitalPhotos.Net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply