Menjadi Profesional Yang Tangguh [ Be Resilient Professional ]

Byjmzachariascom

Menjadi Profesional Yang Tangguh [ Be Resilient Professional ]

Dalam menjalankan bisnis tidak lepas dari strategi bisnis untuk mencapai tujuan perusahaan atau bisnis tersebut. Di sisi lain strategi bisnis tidak hanya domain pembicaraan mengenai kompetior, keunggulan kompetitif, konsumen berikut market serta hal lainnya namun sisi manusianya. Iya, manusia (people) yang menggerakkan [driving] proses bisnis, yakni pekerja (karyawan, baca profesional). Keunggulan kompetitif (competitive advantage) merupakan jargon yang sering kita dengar, namun itu bukan hal itu poinnya. Poin utama yang perlu jadi perhatian adalah kondisi persaingan yang kian sengit apalagi saat ini kita memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) di sisi perburuan kesempatan kerja (profesional) dan di sisi lain meski banyak kesempatan kerja namun perusahaan pemburu tenaga kerja (perusahaan) kesulitan untuk mendapat bibit unggul (talent). Hal ini juga yang menjadi benang merah sesi Akademi Berbagi Jakarta Januari 2016 pagi tadi, yang membahas lebih dalam pada sisi profesionalitas dalam hal ini to be resilient professional (profesional yang tangguh). Saya mencoba merangkai ulang sesi Akber Jakata edisi pertama untuk tahun 2016 ini dalam tulisan yang santai dan mengalir ala saya bercerita, namun tetap pada benang merah apa yang telah dipaparkan panelis tadi pagi.

Saat Yanti Nisro (Deputy Managing Director Deka Marketing Research) menceritakan keresahan manajemen terhadap sulitnya mencari kandidat talent untuk posisi tertentu di jajaran manajemen dari Indonesia (profesional dari Indonesia). Kondisi ini sontak mengingatkan saya 20 tahun silam, dimana waktu itu eksekutif dari perusahaan otomotif nasional juga mengeluhkan hal yang sama, singkat cerita talent yang memenuhi kualifikasi malah di dapat dari luar Indonesia. Yanti Nisro menambahkan [saat memperlihatkan slide presentasi dengan latar belakang foto beberapa bayi], menggarisbawahi bahwa kita manusia semua berasal dan dilahirkan dengan kondisi mula-mula, yang praktis sama. Yang membedakan ya proses, cara masing-masing individu berproses, bertumbuh dan berkembang. Dalam konteks ini problem/kondisi [sulitnya mendapatkan talent dari Indonesia untuk posisi tertentu], Yanti Nisro menekankan 5 hal penting bagi profesional muda untuk ‘tahan banting’ atau tangguh [lihat foto di bawah] di tengah pergulatan yang sangat kompetitif ini.

YN_AkberJan2016
Yanti Nisro memaparkan 5 hal penting bagi profesional tangguh [resilient professional]

Yanti Nisro menambahkan bahwa kalau berbicara tentang kandidat yang pintar (smart) di Indonesia tidak kalah dengan yang di luar sana, sudah banyak yang smart dalam arti level kepandaiannya tidak terlalu berbeda jauh. Namun dari sisi kepercayaan diri (confident), ini merupaka poin kunci yang harus ditingkatkan jika mau berdaya saing sama dengan talent lain dari luar seperti India misalnya. Saya setuju sekali dan coba menambahkan hal yang senada [entah tadi sempat disinggung Mbak Yanti atau tidak, saya lupa … soalnya tadi juga sibuk foto-foto untuk atribut pada artikel ini 🙂 ]. Ini yang menurut saya tentang mind-set (pola pikir) yang dibentuk dari kultur/lingkungan tertentu. Oh, ya lanjut lagi dengan pembahasan Yanti Nisro tentang obvervasi dari pengalamannya di lapangan bahwa profesional muda kita cenderung cepat/mudah menyerah, Be Persistent! Dengan tantangan yang harus dihadapi, di sisi lain perlu diisi juga dengan Have Fun, ini bicara tentang keseimbangan. Yanti menceritakan pengalaman traveling ke Selandia Baru, yang tidak terlepas dari tantangan di awal perjalan yang menuntutnya untuk Be Persistent tadi, untuk kemudian jalani liburan dan kembali ke Jakarta dengan setumpuk tugas yang menanti sebagai konsekuensi setelah have fun 🙂 .
Perluas pergaulan, nilai ini yang saya tangkap dari poin berikutnya Get Connected. Selain bekerja sebagai profesional Yanit Nisro juga aktif sebagai volunteer, hal ini menurutnya membantu membuka lagi horison pergaulannya selain yang didapat dari lingkungan kerjanya. Pada poin terkahir tentang Be Creative seperti yang tampak di atas, saya coba mengaitkan dengan poin sebelumnya Get Connected, bahwa memperluas pergaulan berkontribusi signifikan untuk kreatif, memberi ruang untuk melihat dari beberapa aspek pengalaman dan latar belakang dsb. Oh, saya barusan teringat lagi kalau Mbak Yanti sempat mengatakan [saya mencoba merangkumnya] bahwa lingkunganmu itu sesuatu yang mempengaruhimu, contoh sederhanannya kalau kita disekeliling orang/lingkungan yang tahan banting, kita menjadi terpacu untuk tahan tangguh, begitu juga dengan lingkungan yang kompetitif dan lainnya.Jadi belajarlah dan ambilah pengaruh yang baik dari lingkunganmu.
Be a resilient and world-class professional. Indonesia is waiting for you.” menjadi penutup sesi presentasi Yanti Nisro sekaligus harapannya untik professional muda.

AC_AkberJktJan16
Ainun Chomsun menjelaskan pentingnya sinergi 3 proses Belajar-Bekerja-Volunteer

Senada dengan bahasan di atas, panelis berikutnya Ainun Chomsun (Profesional, Aktivis/Volunteer & Founder Akademi Berbagi] memulai sesinya dengan menekankan tentang Komitmen dan Konsistensi. Dengan bahasa yang lugas dan buat suasana semakin cair, bahwa komitmen ini memang wajib dibutuhkan, bukan seperti ‘hubungan tanpa status [tanpa komitmen]’ he2x. Menurutnya di Indonesia frasa Punish-Reward ala ‘Carrot & Stick’ [arti kiasan kelinci dengan wortel untuk hadiah & tongkat untuk hukuman] masih relevan untuk menertibkan selama kita belum bisa diandalkan komitmennya.
Lantas bagaimana melatih dan hidup berkomitmen? Ainun Chomsun membagikan pengalamannya, ia belajar untuk berkomitmen lewat kegiatan volunteer, bagaimana menjaga komitmen dengan tanpa imbalan seperti lewat kerja.Sehingga Ainun Chomsun menekankan profesional muda, untuk aktif menjadi relawan di mana saja [lihat 3 kotak merah pada foto di atas.] Jika kita melihat 3 kotak merah di atas, itu terdiri dari 3 proses: Belajar, Bekerja dan Volunteer, dimana pada masing-masing kotak, ia menjabarkannya dengan singkat padat. Kalau tidak terlalu jelas seperti yang nampak pada foto di atas, berikut penjabarannya:
-BELAJAR (Proses, Waktu, Rendah Hati)
-BEKERJA (Goals, Sistem, Team Work, Reward-Punishment)
-Voluteer (Berbagi, Leadership, Motives, Organisasi, Networking)

Ainun Chomsun menekankan untuk belajar dari hal kecil [yang sering diremehkan] seperti disiplin waktu, ia memberi contoh pengalamannya bersentuhan dengan protokol kenegaraan dengan agenda protokol yang disusun dengan cermat sampai kegiatan per menit. Hal itu memberi dampak untuk disiplin berikut konsekuensinya kalau tidak disiplin waktu seperti berapa kerugian/membengkaknya biaya dampak dari keterlambatan. Bagi mahasiswa yang sebentar lagi lulus/lulusan baru, Ainun Chomsun berpesan untuk mencoba mendapat pengalaman lewat bekerja dulu di perusahaan/orgasasi yang punya sistem, belajar tentang team-work, leadership dan pangalaman lainnya. Ainun menutup sesinya untuk profesional muda untuk Take Action, bangun jejak karir baik di dunia kerja maupun sebagai volunteer.

ds_akberjan2016
Dian Siswarini membagi pengalaman dan tips menjadi profesional tangguh

Proses, iya tentang proses, saya coba mengaitkan relevansi proses dengan poin-poin sebelumnya, dengan struktur bangunan bahasan yang dibawakan oleh Ibu Dian Siswarini (CEO XL Axiata) yang memulai sesinya dengan pengalamannya yang penuh warna. Kalau dilihat dari latar belakang posisinya sebagai CEO wanita, mungkin termasuk langka ditinjau dari pemimpin korporat wanita saat ini. Meski sebelumnya pernah ada beberapa mantan CEO wanita seperti (Hermien R. Sarengat mantan CEO of GE Technology Indonesia, Betti Alisjahbana CEO of IBM Indonesia) dengan prestasi ini diharapkan mendorong semangat profesinal muda bahwa perempuan/wanita mampu menjapai cita-citanya setinggi langit dan punya kesempatan yang sama.

Dian Siswarini memulai sesi dengan sharing nilai-nilai yang menekankan bahwa apa yang dicapai selama 20 tahun karirnya bergabung dengan XL (1996), itu melawati beberapa proses. Apalagi bidang yang menjadi awal karirnya (engineering) termasuk bidang yang didominasi kaum pria seperti kegiatan naik-turun memanjat tower BTS (30, 60 bahkan 90 meter tingginya), test di lapangan (drive test mulai pukul 23.00-02.00 3 hari dalam seminggu), menjangkau daerah baru/pelosok (remote area) beserta tantangan untuk mengaksesnya. Itu membuatnya untuk cepat belajar beradaptasi dengan lingkunan sekaligus tantanganya (learning agility). Dan tidak itu saja, dari proses-proses yang harus dijalaninya itu juga timbul Coping Mechanism, frasa kata tersebut yang sering diucapkan Dian Siswarini [saya coba menterjemahkannya sebagai mekanisme untuk menyelesaikan masalah/tantangan]. Jadi setelah cepat belajar beradaptasi dengan lingkunan sekaligus tantanganya (learning agility) dibarengi dengan proses Coping Mechanism [setidaknya dua hal ini coba saya simpulkan/hubungkan dari paparan Ibu Dian sebelumnya].

Untuk jalani proses, termasuk proses jangka panjang pun kita harus punya goal, itu yang saya tangkap dari paparan pengalaman Ibu Dian bahkan saat interview pertama rekruitmennya di XL, mengatakan long-term goal-nya menjadi CEO dan sempat membuat pihak yang menginterviewnya tersenyum. Ibu Dian mengatakan itu jawaban yang spontan saat yang ditanya tentang cita-citanya [idem dengan saya juga pernah ditanya seorang CMO salah satu operator telko dan jawaban saya jg sama, bule itu tertawa ha2x]. Sepertinya tidak penting [tidak terlalu serius untuk dipikirkan], namun saya ingin menunjukan salah satu cuplik proses yang Ibu Dian sharingkan tadi, sometimes it works to guide us subconsciously (kadang-kadang efektif menuntun kita walau kadang kita tidak menyadari setidaknya bisa kita lihat dari contoh lain lagi yang senada, rekam jejak seorang lulusan terbaik pendidikan militer yang sejak awal lulus menetapkan target karir dengan goal akhir menjadi jenderal bintang empat yang akhirnya berhasil mencapai posisi tertinggi di kemiliteran.

Kepemimpinan wanita dalam perusahaan, menginggatkan saya akan tugas yang tidak mudah karena dengan tangung jawab dan beban kerja di kantor tidak serta merta menghilangkan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu di rumah. Hal ini berbeda dengan kepemipinan pria, dengan kondisi yang ‘lebih menguntungkan’ karena beban kerja rumah tangga sudah ditangani oleh istri. Dian Siswarini membagi pengalamannya melewati proses dan tantangan itu, dan tidak singkat. Dukungan (support) suami beserta keluarga membantunya untuk melewati proses/tantangan tersebut. Ada satu poin penting yang saya dapat dan ini penting serta menjadi perhatian profesional muda wanita dalam meniti karir, dukungan terhadap karir Anda dari pasangan suami dan keluarga itu sangat penting, semakin awal dikomunikasikan semakin baik apalagi yang sudah atau akan menjalani kehidupan rumah tangga.

Dian Siswarini pun juga sharing tentang komitmen dan disiplin waktu sebagai hal yang menjadi modal penting untuk berhasil dengan apa yang kita lakukan. Ada kalimat bijak yang didapatnya selama berinteraksi dengan berbagai latar budaya seperti yang dibagikan pada kami sesi tadi “If we under commitment, who will?” Konteks arti yang saya tangkap, kalau kita kurang komitmen terhadap apa yang harus kita kerjakan, lalu siapa lagi yang harus melakukan komitmen kita. Benar! Memang kita lah yang harus bertanggung jawab terhadap komitmen kita, baik itu ada bos kita yang mengawasi atau tidak. Selama kita punya komitmen dan itu diandalkan, trust tumbuh dan no matter your boss around you or not, dalam hal ini jargon ‘pengawasan melekat terus menerus’ menjadi tidak relevan bagi orang yang punya komitmen, it’s not big deal!

QnAAkberJktJan16
Sesi akhir tanya jawab dengan seluruh panelis.

Sesi terakhir tanya jawab ini semakin menarik baik dengan interaksi peserta berikut pandangan komprehensif dari panelis, mulai dari pertanyaan berkaitan role model untuk profesional muda (millennials) seperti Mark Zuckerberg yang sukses namun kuliahnya tidak selesai, bagiamana tips bagi professional muda yang berlatar belakang pendidikan keteknikan atau engineering (fakultas teknik) saat akan memulai bisnis start-up untuk masuk ke pekerjaan dan urusan bidang manajemen, marketing dll serta pertanyaan yang berkaitan dengan wanita menjadi profesional tangguh. Pada sesi jawab, Ainun Chomsun menekankan bahwa secara statistik potensi/talenta spesial seperti Mark Zuckerber bak 1 dari berapa juta atau bahkan lebih, dengan kata lain contoh pengalaman seperti Mark Zuckerberg itu tidak bisa digeneralisasi bahwa untuk menjadi sukses tidak perlu lulus kuliah. Dian Siswarini yang berlatarbelakang pendidikan dan pekerja awalnya di bidang engineeing menambahkan, nasihat atasannya dahulu, jika ingin masuk ke bidang lain “unlearn what you learn in engineering” ini konteksnya ke beradaptasi dengan cara pandang dan bertindak dengan lingkungan yang berbeda/baru. Do Extra Mile, frasa untuk melakukan sesuatu yang melebihi (ekstra) dari yang diekspektasikan (tidak seperti rata2x kebanyakan atau dalam istilah asing disebut mediocre alias sedang-sedang saja), ini dipercaya Yanti Nisro sebagai tips untuk jadi profesional yang tangguh di tengah persaingan yang sengit. Komunikasi pun menjadi hal pokok, diamini oleh Yanti Nisron, dan Dian Siswarini menambahkan bagaimana menyampaikan pendapat efektif, mendengar dan menjual ide itu sangat fundamental. Berkaitan karir profesional dan peran sebagai wanita, Yanti Nisro menekankan iklim sosial masyarakat kita sangat kondusif, tidak seperti di dunia barat dimana segala sesuatu polanya lebih individual minded. Dian Sisworini menambahkan justru wanita bisa memanfaatkan contra intuitive terhadap pandangan bahwa wanita tidak bisa mengerjakan ini atau itu sebagai dorongan bahwa wanita bisa menjadi lebih baik. Ainun Chomsun pun punya pendapat lain stigma keraguan kepemimpinan wanita, baginya hal itu dibuktikannya mulai dari ruang lingkup lingkungan, dibesarkan dari ibu yang punya latar belakang kepemimpinan di bidang organisasi dan perusahaan, Ainun percaya bahwa wanita pun bisa jadi pemimpin.

*image credit: JM Zacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply