Category Archive Marketing

Byjmzachariascom

Mastering product value during transaction .

Have you ever felt remorse after buying or selling a product because the price was too low to sell or buy at a price that quite expensive? In the bid process, the decision rejection for buying and selling product as part of dynamic transaction process. Quite dynamic, because of many factors that affected with its weight respectively. It could be the same product, but done by the other party, at different times and places, wouldn’t give same effect.

The product price remains an important concern for buyers and sellers. Generally the price is used as an indicator of the important decisions in the transaction. Transactional process ideally leads to proportionality price for both (the buyer and seller). Proportional condition relate to the price achieved at the scale is not too high or low and close to the suitability of the value of the product.

The product value is strategic part of its transaction. Direct implication toward price, uniqueness, authenticity, the benefits offered by the seller and also buyer desire. Mapping the price of the product by the value of benefits, quite much common approach in buying and selling process known as value proposition. This approach maps the domain price toward how big the benefits achieved. The aspect of the value of the product was significantly contributes to price’s structure with the following formula:

Price = Cost + Value + Profit

The price elasticity setting depends on how dynamic variable of cost, value and profit set according the following scenario:

Minimum Profit. Price set to minimum level as long as meet the minimum profit.

Cost adjustment. The cost reduced by producing optimum number of product that meet the minimum production quota.

Value Optimization. The value of a product can be set based on knowledge combined within ability and also sensitivity to the value proposition.

The ability to calculate the product value could not be separated on knowledge of the characteristics of the product and its value. The value of the product can be measured up to particular value. The example of product value that measured universally, such gold, fuel, oil, mining and various commodities. These product values are relatively segmented as unique items, antiques, artwork, historical value goods, commodities etc. The variable of the product value represented aspect of benefits, uniqueness, authenticity, momentum, and also deals with supply and demand.

Assessment sensitivity of the product value helps in determining the appropriateness of a product at particular price range. Simple overview of case studies below with examples of variable values are included and also ignored in price calculation.

A fisherman found the plate when fishing around deep sea. Then the plate offered in the flea market at a price as common used plate price. At the same time a scuba diver, also found similar plate in the seabed. Back to home, that plate examined precisely under consultation by the expert. Final conclusion, the plate is as a plate antique treasure of Ming Dynasty’s fleet that sank. Armed with the information about history of that plate, the price offered could be much higher than the selling price of the previous fisherman. Variable knowledge of these values contribute to the difference prices offered between two plates.

Even premium product remains attractive to buy if offering exceptional product value. Resell it at a competitive price is not quite difficult, as long as the privilege value well maintained, especially if you manage to give value added, and become another ‘special product’ and offer to the right target market.

The ability to calculate product value including cost structure, of course, supported the process of learning (learning by doing) from time to time. Armed with the experience and ability to dissect the structure of costs, the value of the product as well as comparison of prices offered by competitors, will assist in the determination of a reasonable and competitive price of the product. Ability exact calculation and realistic for the combination of those above variables, will impact on the price elasticity of product’s ability to compete in an increasingly dynamic market. Of course also be a complements the competitive aspect of you as a business person.

*This article originally appeared on jmzacharias.com/kuasai-nilai-produk in bahasa Indonesia.
*image credit: renjith krishnan-freedigitalphotos.net

——

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

7 hal penting komunikasi brand lewat media sosial

Beberapa hari lalu saya menulis tentang iklan suatu brand yang konsisten hadir dalam iklan setiap special season-nya (bulan puasa) dan mendapat respon positif di sosial media. Melalui riset kecil termasuk pengamatan di lapangan, iklan Above The Line (ATL) tersebut memberi dampak pada penjualan (sales lead) selain respon viral di media sosial. Yang menjadi tanda tanya, meski dengan respon viral yang menggembirakan, namun tidak [belum] terlihat akun resmi dari perusahaan brand tersebut yang memfasilitasi viral media sosial tersebut.

Di saat jalur komunikasi yang berubah sejak boomingnya Web 2.0 dalam hal ini kanal media sosial dengan komunikasi yang lebih horizontal dan viral yang menjadi kekuatan penopang utama. Strategi marketing pun masuk ke kanal media sosial secara signifikan pada aktifitas planning dan budgeting bagi program aktivasi pad kanal media sosial. Lalu bagiamana respon konsumen berkaitan pendekatan brand beserta program marketingnya? Ada satu rilis baru-baru ini yang menarik emarketer.com (survei Maret 2015) di kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia menunjukkan mayoritas responden konsumen Indonesia senang mem-follow akun media sosial brand seperti yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

190799

Setelah memperhatikan aspek yang penting dan juga mendorong implementasi [kesuksesan] program marketing online dalam hal ini melalui kanal media sosial, ada 7 hal utama yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pelaksanaan program marketing lewat kanal media sosial.:

1. Konsistensi nama akun media sosial

Seperti halnya domain website (*.com, *.web.id dll) yang tidak saja berfungsi sebagai alamat online dalam pencarian dan sentral kegiatan online, namun dalam perkembangan waktu bertransformasi juga sebagai branding di ranah online. Tidak terkecuali akun media sosial yang merupakan akses lain dari media online. Konsistensi penulisan nama akun (username, @) media sosial pun harus diperhatikan  agar tidak membingungkan konsumen saat mengakses berbagai akun media sosial, sekaligus menjadikannya sebagai penguat branding.

2. Karakterisitik fungsi tiap media sosial.

Penggunaan berbagai media sosial tidak saja menambah akses kanal komunikasi, namun juga menawarkan kustomisasi fungsi sesuai dengan karakteristik keungggulan dan karakterisik pengguna dari masing-masing media sosial. Jika penggunaan semua kanal media sosial dengan diisi konten yang sama dan juga dalam pendekatan sama (konten copy-paste), dapat menimbulkan kebosanan dan kebingungan konsumen yang mengakses beragam jenis media sosial yang berbeda sekaligus (contoh Twitter, Facebook, Youtube dll) dengan konten yang sama, akan tumpang tindih informasi yang sama dengan bahasa dan pendekatan komunikasi yang sama dari berbagai kanal tersebut. Hal ini tidak dimaksudkan menghilangkan konten penting yang harus ditampilkan pada semua media sosial, namun lebih ke arah diversifikasi pendekatannya yang lebih beragam [disesuaikan karakteristik media sosial dan penggunanya] dengan tetap konsisten pada tujuan dan pesan yang dikirimkan tetap sama. Pada saat bersamaan dengan respon konsumen yang tinggi, kanal media sosial pun tidak saja berfungsi sebagai kanal branding dan komunikasi saja namun juga melebar pada layanan konsumen. Pada titik ini bisa jadi titik kritis ketidaksiapan bagi beberapa brand dalam merespon konsumen dengan berbagai maksud dan tujuannya (bertanya, komplain dll).
Garuda pun akhirnya membuat akun twitter tambahan layanan pelanggan (@Garuda_Cares), akun untuk program promo @Garuda_Promo, akun untuk kategori khusus spt sponsor & fans klub bola Liverpool FC @LFCGaruda melengkapi akun perusahaan yang sudah ada u/ info umum (@IndonesiaGaruda). Begitu juga akun twitter OLX Indonesia (@OLX_Indonesia dan @OLXID_Care

3. Komunikasi dua arah (Web 2.0)

Media sosial bangkit dengan kekuatan web 2.0 yang memungkinkan komunikasi dua arah, yang memungkinakan pembaca (viewer) dapat cepat dan mendapat tempat dalam merespon status/informasi yang dibaca/dilihat. Media sosial pun menopang eksistensi komunikasi horisontal yang tentu memberi warna baru dari komunikasi vertikal seperti komunikasi iklan above the line dsb. Memang platform web 2.0 dalam hal ini media sosial berkembang cepat sebagai sarana untuk berkomunikasi yang lebih flat secara timbal balik dan cepat, sehangga dalam perkembangannya terus bertumbuh cepat dan membentuk jaringan yang semakin besar dan terus menjangkau kumpulan jejaring lainnya. Hal ini lah serta potensi meraih perhatian (awareness) dan sebagai media menjaga hubungan dengan pelanggan (customer engagement) yang menarik brand untuk terjun dalam progran marketing online melalui media sosial.

Berdasar pengamatan saya tidak semua media sosial brand yang eksis punya kebijakan [siap] untuk berinteraksi dengan konsumen (komunikasi dua arah) termasuk menampilkan saran/usul konsumen pada time line di luar program yang telah direncanakan. Berdasar pengamatan saya ada satu akun media sosial yang dapat dijadikan contoh dalam komunikasi dua arah salah satunya brand buah-buahan SunPride pada kanal akun twitternya @SunprideID yang turut memberi ruang gerak konsumen yang memberi informasi pada time line-nya baik dalam bentuk retweet ataupun respon melalui reply. Hal ini jauh lebih baik dari apa yg dilakukan oleh beberapa akun brand lain yang meski melakukan komunikasi dengan konsumennya melalui pertanyaan seperti curah pendapat terhadap tema hashtag (#) tertentu yang menjadi program aktifasi, setelah respon komentar-komentar yang masuk, kemudian hanya dibiarkan bertengger tanpa mendapat respon balik, yang terjadi hanyalah komunikasi satu arah.

TwitPisangNadal
4. Kesiapan akses 24/7

Booming-nya internet membuka akses yang tidak terbatas oleh tempat dan waktu (24/7, 24 jam selama 7 hari setiap minggunya). Karakteristik itu membuat demand konsumen yang melakukan kontak (bertanya atau mengajukan komplain) memiliki tuntutan respon yang cepat dan tepat. Saya pernah melakukan berapa kali kontak melalui akun resmi dari beberapa perusahaan nasional dan dunia sekalipun, namun tidak mendapatkan respon meski saat itu saya hanya memberikan saran konstruktif. Kesiapan 24/7 tidak saja membutuhkkan tindakan respon yang cepat, namun juga monitoring berkaitan dengan respon konsumen di media sosial dapat dipantau secara real-time. Brand minuman Gatorade di AS memiliki semaacm command room untuk memantau kondisi terkini dari respon dari stategi online marketing sampai di kanal media sosial sekalipun. Bahkan Twitter sendiri sekarang sudah menyediakan analytics tool-nya untuk keperluan monitoring aktivitas twitter kita beserta pengukuran dan perhitungan responnya seperti contoh tampilan di bawah ini:

ContohTwittrAnalytcs640x302

Kesiapan 24/7 lebih diutamakan untuk bisnis dengan karakteristik operasional 24/7 termasuk lintas waktu (lintas negara) salah satunya bisnis penerbangan, pelayaran, perdagangan internasional. Selama ini untuk bisnis lainnya diterapkan jam operasional untuk respon layanan pelanggan (customer care) mengikuti jam operasional kerja (hari dan jam kerja).

5. Pendekatan responsif dan humanis.

Dalam komunikasi dengan follower, pola  komunukasinya pun sebagaimana karakteristik media sosial yang flat (horisontal) casual (tidak kaku) dan komunikasi timbal balik memberi ruang konsumen untuk merespon (web 2.0). Media sosial pun tidak bisa tidak hanya berkisar pada program marketing. Komunikasi timbal balik (web 2.0) memungkin konsumen untuk merespon (baik dlm bentuk saran, pertanyaan atau keluhan). Untuk layanan pelanggan melalui media sosial setelah komunikasi responsif dilakukan dengan tidak lupa untuk memberi nama dari petugas CS yang bertugas (yang berkomunikasi saat itu). Hal ini diterapakan dengan baik oleh CS Garuda pada akun (@Garuda_Cares) dan @LazadaID.

6. Otentik (Authentic)

Dalam istilah komunikasi, otentik (authentic) dimaksudkan apa yang disampaikan apa adanya, tulus dan tidak ada kepura-puraan. Dalam hal ini jika bisnis UKM atau start-up biasanya komunikasi ditangani langsung oleh sang pemilik. Boleh dikatakan sang pemilik/pendiri yang tahu DNA (roh-nya) bisnis dan perusahaan yang dipimpin yang secara langsung maupun tidak langsung harus dijaga dalam strategi brandingnya juga. Biasanya untuk bisnis dan perusahaan yang telah berkembang dengan ukuran besar. Penanganan dan operasionalnya tidak selalu oleh sang pemilik. Tantangannya bagaimana karyawan yang bertugas dapat meresapi DNA bisnis dan perusahaannya dalam menjalankan komunikasi brandingnya dan dalam akun media sosial akan sangat nyata terlihat (dalam bentuk komunikasi timbal balik). Lalu bagaimana caranya, salah satunya lewat dengan budaya perusahaan dimana didalamnya ada nilai-nilai, visi perusahaan. Disisi lain dalam branding, strategi ini dapat diterapkan untuk level perorangan (personal branding) yang lazim bagi figur publik (artis, pengarang, politikus, tokoh, olah ragawan dll). Era keterbukaan dan partisipasi dalam komunikasi yang menjadi horisontal ini, para figur publik pun membuka kanal komunikasi via media sosial. Namun lantaran kesibukan dan keengganan untuk meluangkan waktu berkomunikasi dengan followernya, komunikasi figur publik pun ditangani oleh tim (admin). Ini seperti yang terlihat beberapa tahun terakhir seperti pada akun twitter @BarackObama yang ditangani oleh admin.

.

Memang tidak salah, namun keterbatasan untuk berkomunikasi lugas dan timbal balik dengan spontan menjadi hambatan untuk menjadikan kanal media sosial yang mendekatkan diri dengan follower dalam komunikasi yang riil, apa adanya, bebas dari formalitas dan tentu saja konstrain waktu dalam merespon. Baru beberapa waktu kemudian sang presiden bisa langsung ngetwit sendiri dengan akun @POTUS sesuai dengan callsign sang presiden yang biasa diberikan oleh pengawalnya Secret Service. Simak twitnya pertama per tanggal 18 Mei 2015

7. Relevansi

Sama seperti pendekatan komunikasi lainnya, relevansi merupakan bagian yang strategis. Dalam hal ini relevansi yang dimaksud tidak saja dari sisi konten (what) namun relevan pada siapa target market viewer/konsumer (who), cara pendekatannya (how), waktu (when dan where) saat komunikasi dilakukan ada alasan yang tepat (why) pendekatan-pendekatan di atas di lakukan.
Kalau berbicara tentang konteks secara keseluruhan aspek di atas sudah banyak contoh dapat dilihat penerapannya oleh brand-brand dalam implementasi pendekatan media sosial mereka. Mulai dari pemanfaatan berbagai media (video, infografik) dengan berbagai konten (inspirasi, informasi, tips dll), relevasi kebutuhan sehari-hari (frekuensi keberadaan aktifitas harian: pagi, siang, sore dan malam), menyambut season2x tertentu (akhir pekan, hari besar, libur panjang), aktualisasi diri yang relevan dengan semangat dan interest target market (hobi, program sosial) dsb.

Bahkan produsen minuman Coca Cola di Indonesia mempunyai semacam tim (in house social media team) dan lab tempat riset untuk keperluan melihat tren apa yang menjadi perhatian khalayak yang juga menjadi perhatian konsumennya sebagai target marketnya. Pendekatan melihat apa yang terjadi dengan segala aspek sosial bisa dibilang mirip (mengadopsi) pendekatan etnography dalam menyusun strategi target market pada program marketing (branding dll).

Serta dalam kondisi kritis pun (bencana), melalui kanal media sosial yang layaknya mitra komunikasi di media sosial hadir dalam konteks relasi emosional berkaitan bencana atau kecelakaan yang terjadi. Bahkan pada saat kondisi kritis tersebut, informasi yang tidak relevan namun pada waktu dan ruang lingkup tidak tepat akan mendapat protes dari netters, seperti contoh kejadian beberapa saat Malaysia Airlines MH17 jatuh di daerah Ukrania (daerah konflik antara Ukrania dan pemberontak). Saat itu dugaan sementara pesawat terkena misil. Beberapa saat setelah kejadian ada suatu tweet dari suatu maskapai ( klik ) detail beritanya) yg sdg terbang mengabarkan bahwa maskapai tersebut tidak melalui jalur rute wilayah udara Ukrania tersebut. Meskipun tidak ada relevansi langsung dengan kejadian MH17, namun konteks waktu yang tidak tepat itu lah yang membuat twit tersebut diprotes dan ditarik disertai permohonan maaf.

Pada akhirnya, jelas masih banyak poin-poin yng perlu diperhatikan. Namun dengan memperhaikan 7 hal di atas, membantu dalam mengarahkan kembali operasional strategi marketing melalui kanal sosial media. Penerapannya akan selalu berhubungan dengan konteks, kondisi di lapangan berikut karakteristik produk, brand, market, market, aspek lainnya. Kuncinya peka terhadap perubahan dan terus berinovasi.

Di bawah ini ditampilkan beberapa contoh dari beberapa poin di atas, tweet embeded dari berbagai akun sebagai berikut:

i. Contoh Pendekatan responsif dan humanis, sekaligus relevan

Pendekatan responsif dan humanis dari Liverpoll FC atas twit di bawah ini:

ii. Contoh Komunikasi Dua Arah

iii. Contoh Komunikasi Otentik.

Berita tentang respon pesepak bola David Luiz atas surat dari anak berumur 9 tahun yang menguatkan David untuk tidak bersedih dapat dilihat pada tautan ini.

iv. Beberapa twit dgn info, pesan inspiratif, kocak komunikatif dll

Komunikasi periodik pagi, siang dan malam lengkap dengan kondisi cuacu dan foto spot menarik kota Istambul Turki oleh biro pariwisata kota Istambul.

Pesan inspiratif dari Nike

Komunikatif, responsif sekaligus kocak 🙂

*Keterangan foto artikel di atas: captured dari akun twitter @Garuda_Cares

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Iklan Sirup Marjan Mulai Marak : Tanda Bulan Puasa Sudah Dekat ?

Ada beberapa hal yang menarik tentang iklan tvc sirup marjan dengan tema ramadhan (tvc bagian ke dua, preview dibawah ini) yang makin masif frekuensinya seminggu lebih menjelang bulan ramadhan di berbagai stasiun tv terutama saat prime time dan slot waktu lain dimana pemirsa masih menyisakan perhatiannya sambil mengerjakan hal lain.

Pada hari pertama puasa kemarin waktu sedang mengantri depan kasir sebuah mini market suatu kawasan perumahan, perhatian saya langsung tersedot pada seorang Bapak yang sedang belanja 1 botol sirup hijau dengan rasa melon seperti tvc yang ditampilkan di atas. Sambil menunggu di belakangnya, mata saya kembali menyapu rak sirup minimarket yang letaknya di rak depan dekat kasir (depan pintu masuk), sirup yang dimaksud hampir ludes (tinggal 2 botol) dibandingkan ‘saudara sekandung’ sirup merah rasa cocopandan/stroberi.
Timbul pertanyaan dalam hati, apakah ini efek iklan yang masif tadi? Rasa penasaran saya menuntun saya melakukan riset kecil-kecilan di media sosial yaitu twitter. Dari hasil penelusuran, viral iklan sirup marjan dengan tema puasa sudah mulai hadir per tanggal 2 April 2015, seperti tampilan di bawah ini:

Twit yang pertama kali muncul tanggal 2 April berkaitan dengan iklan sirup marjan bertema puasa. Dari kalimat di atas tersebut: “Kalau iklan sirup marjan udah mulai.banyak muncul di tivi itu tanda bulan puasa akan segara tiba….“. Belum jelas tvc mana yang dimaksud atau twit tersebut sebagai pengingat (pemanasan) menunggu keberadaan iklan puasa sirup marjan yang selama beberapa tahun belakang konsisten menjadi penanda persiapan untuk menyambut bulan ramadan.
Awal Mei [9 Mei 2015] ada twit berkicau mengomentari tvc sirup marjan yang mulai beredar.

Menariknya iklan tvc sirup marjan dibuat dalam bentuk cerita bersambung, dan pada tvc bagian pertama ini (cuplikan di bawah ini), dibuat sebagai ‘pemanasan’ kehadiran iklan sirup marjan yang secara konsisten hadir menyambut datangnya bulan ramadhan. Pesan yang disampaikan tidak berat, namun sarat pesan visual dengan ciri konteks kegiatan atau aktifitas masyarakat Indonesia sampai lingkup keluarga yang bercengkrama sambil menikmati produk yang dikampanyekan. Dengan kreatif penegasan pesan visual melalui setting tempat, kostum dan dandanan yang kental dengan sosial kemasyarakatan yang berhubungan dengan lanjutan cerita bersambung berikutnya dan dalam hal ini sebelum masuk pada iklan utama (cerita selanjutnya) dengan tema puasa dan berlanjut tema lebaran.

Di tengah maraknya viral yang berhubungan dengan iklan tvc sirup marjan dari para netters (twit2x), saya mencoba mencari akun resmi twitter yang mengelola iklan via channel media sosial. Hanya beberapa akun (sekitar 9 akun) yang menggunakan kombinasi kata/frasa sirup, marjan dan belum ada satupun terlihat sebagai akun representasi dari brand sirup marjan (cmiw). Melihat efek viral dari iklan tvc dan momentumnya yang tepat (dipersepsikan dengan baik oleh konsumen) erat hubungannya momentum bulan Ramadhan, tentu potensi mengelola efek viral dalam bentuk program aktivasi dan kampanye marketing lainnya akan sangat efektif dilakukan dengan peran serta dari tim online marketing dalam hal ini melalui kanal media sosial brand yang bersangkutan dikombinasikan dengan berbagai info yang bisa diakses melalui platform website (portal) mulai dari info produk, program aktifasi serta kampanye above the line (ATL), below the line (BTL), online dan offline campaign. Dari hasil pemantuan website (portal) khusus brand yang dimaksud belum ada, produk beserta infonya (brand yang dimaksud) hanya dikaitkan pada portal perusahaan (produsen/partner pemegang lisensi di Indonesia).
Meninggat brand yang cukup kuat apalagi saat bulan ramadhan selama beberapa tahun belakang ini, me-maintain brand awareness yang sudah top of mind ini, sebaiknya tidak hanya iklan TVC via ATL namun juga dikombinasikan lewat keberadaan via online (media sosial dan website/portal), mengingat modal respon positif viral yang timbul dengan partisipasi para netter lewat komunikasi sosial media yang melekat dengan asosiasi yang kuat keberadaan iklan sirup marjan dengan momentum bulan ramadhan.

Kembali pada potensi viral termasuk yang berpengaruh pada sales lead dan customer engagement dari iklan tvc sirup marjan, saya mencoba memilah-milah hal-hal positif apa saja yang dapat diambil sebagai pelajaran (lesson learned) dari kesuksesan iklan tvc ini, dalam beberapa poin berikut:

1. Konsistensi Dalam pemantauan saya dan eksplorasi melalui Youtube iklan sirup Marjan edisi bulan ramadhan/lebaran yang sempat tersimpan rekaman tvc-nya tercatat sejak 2010. Berlanjut dengan berbagai versi cerita setiap tahunnya (2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015). Konsistensi yang dimaksud kehadiran saat menyambut dan selama ramadhan serta saat lebaran.

2. Produk yg relevan dengan momen spesial. Dalam kesuksesan program marketing tidak hanya pada sisi komunikasi iklannya, relevansi iklannya dengan produk yang tepat sekaligus pas momentumnya pada situasi/momen spesial seperti ramadhan seperti waktu berbuka puasa dan bersilahturahmi saat lebaran. Kalau berbicara tentang produk, tidak lepas dari dukungan distribusi (ketersedian), harga, variasi produk dll. Relevansi dengan momen spesial seperti bulan ramadhan (buka puasa) dan lebaran ini, dengan konsistensi kehadirannya membuat konsumen akrab (menjadikannya sebagai pengingat ‘momen spesial’), apalagi kalau menyentuh sisi-sisi humanisme (emosional) konsumennya.

3. Penyampaian pesan yang membumi dengan target marketnya. Dengan durasi sekitar 15 detik, komunikasi efektif adalah kunci. Mulai dari kepada siapa (target market) iklan itu kita komunikasikan serta bagaimana konteksnya (waktu/momentum berikut caranya). Cara berkomunikasi dalam iklan tvc berdurasi 15 detik dengan strategi yang direncanakan dengan tepat (relevansinya) lewat tampilan visual (setting tempat, kostum, dandanan karakter/persepsi talent sesuai dengan tema), efek audio membuat otak rileks [siap] menerima pesan serta komunikasi verbal yang sarat makna. Kesemuanya itu memberi efek asosiasi agar ingat pada produk yang dikampanyekan berikut pesan yang disampaikan. Strategi pemilihan setting tema seperti aktifitas/kegiatan sosial masyarakat Indonesia yang menyentuh sampai ke tingkat keluarga, membuat iklan tvc ini dapat diterima sebagai sesuatu realita yang ada diantara ruang lingkup masyarkat sosial konsumennya. Saya menyederhanakannya sebagai pendekatan yang membumi. Dengan beragam tema settingnya, iklan tvc tidak lupa:
-menampilkan/menyertakan bentuk visual produk khususnya untuk produk tangible (baik dalam bentuk botol beserta warna sirupnya sebagai varian produknya) sebagai elemen pengingat konsumen saat belanja di depan rak botol sirup yang juga ada produk kompetitor,
-menegaskan brand [brand awareness] dan tagline [message delivery] seperti (Iklan TVC Sirup Marjan 2015 bagian pertama dan dua )

4. Menimbulkan efek viral kesuksesan iklan selain mampu mempengaruhi sales lead dalam hal ini meningkatkan penjualan (jangka pendek), juga memampukan konsumen untuk mengingat akan produk (brand awareness) baik lewat perbicangan umum (viral) dalam bentuk joke, meme dsb. Seperti beberapa twit di bawah ini: *Sekian dulu tulisan saya, have fun membaca twit-twit dan meme lucu yang beredar media sosial twitter. nb: barusan setelah artikel ini selesai ditulis, sudah ada iklan tvc bagian tiga lho di tv

*Keterangan foto artikel[bagian atas]: captured iklan tvc sirup marjan bagian dua

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Hasnul Suhaimi dan Perkembangan Industri Telekomunikasi Indonesia

Perkembangan industri telekomunikasi khususnya komunikasi bergerak, mulai bertumbuh signifikan sejak teknologi GSM masuk di Indonesia (1994) menggantikan teknologi AMPS dengan segala keunggulannnya mulai cakupannya, mobilitas roaming serta ukuran dan harga ponsel yang menjadi lebih terjangkau konsumen. Sejarah operator GSM dimulai dari Satelindo (1994), Telkomsel (1995) dan XL (1996) kala itu. Menarik melihat perkembangan telekomunikasi bergerak dalam kurun waktu lebih dari dua dasa warsa, saya pribadi mengklasifikasinya dalam periode tersebut sebagai berikut: fase adaptasi dan pertumbuhan (1994-2006), fase yield (2007-2010), konsolidasi operator (2011- ? ).

Pada masa awal saat adaptasi teknologi baru (GSM) diikuti pertumbuhan yang signifikan (masa keemasan) tentu menarik hadirnya operator baru lainnya seperti IM3 yang dimiliki Indosat (saat itu core business-nya di bidang SLI: Sambungan Langsung Internasional berikut layanan satelit) dan memiliki saham di Telkomsel. Setelah menjual seluruh sahamnya di Telkomsel, Indosat mengakusisi Satelindo dan melakukan merger dengan IM3 menjadi operator GSM Indosat. Sekitar 2005 hadir operator baru dengan teknologi alternatif lainnya (CDMA) seperti Mobile 8, Esia, Flexi (Telkom), Star One (Indosat), Ceria (Sampoerna Telekom, di sekitar Sumatera), kemudian dilanjutkan hadirnya Lippo Telekom (mulai dari Jawa Timur yang kemudian melebur jadi Natrindo Selular dan diakusisi oleh Maxis Malaysia dan Saudi Telekom, kemudian menjadi Axis dan pada 2013 diakusisi XL Axiata), Charoen Phokpand membeli lisensi 3G yang kemudian bermitra dengan Huthchinson (Three).

Mengiringi Perjalanan Tiga Operator Telekomunikasi
Dalam kurun waktu hampir 20 tahun banyak perubahan signifikan yang terjadi menandakan dinamika industri komunikasi bergerak di tanah air. Dan tentunya banyak pihak yang berperan dan memberi sumbangsih di dalamnya, rasanya terlalu banyak kalau disebutkan satu per satu. Menariknya ada sosok istimewa yang berkiprah pada perjalanan operator GSM tiga besar (Tellkomsel, Indosat dan XL Axiata). Sosok tersebut adalah Hasnul Suhaimi yang telah berkarir selama 33 tahun ini, tidak hanya bertangan dingin menghadapi tantangan dalam perjalanan memimpin ke tiga operator besar tersebut, namun juga ikut memberi pembelajaran pada publik baik dalam menjalankan good corporate governance termasuk di dalamnya transparansi informasi pada para stakeholder.
Berikut milestone perjalanan karir berikut portfolionya yang dapat menjadi pembelajaran dan inspirasi kita bersama:

Pengadaan Teknologi dan Investasi Besar
Pada akhir 90-an meski saat itu jumlah pemain masih sedikit, karakteristik pengguna ponsel GSM menunjukkan pola pergerakan dinamis termasuk roaming terutama saat perjalanan bisnis dan perjalanan antar kota. Saat itu XL (ProXL) bermain segmen premium dengan kampanye XL Bening-nya menawarkan free-roaming untuk penerima panggilan. Sedangkan Telkomsel(Simpati) yang coverage area saat itu hanya per provinsi, dimana saat itu jika pelanggannya melakukan perjalanan ke luar coverage area meski hanya menerima panggilan telepon akan terkena biaya roaming. Hal itu tidak jarang bagi konsumen Telkomsel bila saat berpergian keluar kota, jika menerima telepon akan menjawab singkat dan cepat sambil menekankan kalau sedang berada di luar kota agar terkena biaya roaming seminimal mungkin.

Menarik melihat korelasi pengalaman berkomunikasi saat itu dengan pengalaman seorang Hasnul Suhaimi yang sejak tahun 1998 ditugaskan menjadi Direktur Niaga Telkomsel, dimana pada tahun tersebut terjadi krisis moneter berdampak ke semua lini, tidak terkecuali daya beli serta demand juga yang menurun termasuk produk pasca bayar HALO (subscription fee per bulan Rp 65.000) meski tarif percakapan per menit 30% lebih murah dari produk kompetitor. Selain itu, problem daya saing produk prabayar andalan Telkomsel Simpati saat itu seperti roaming & coverage area sebagaimana sudah disinggung sebelumnya.

Hasnul pun memperjuangkan implementasi Inteligent Network yang berperan dalam pengaturan fitur-fitur layanan berikut dengan model pentarifannya secara dinamis. Telkomsel saat itu kemudian menawarkan free-roaming bagi penerima panggilan telepon meski berada di luar coverage areanya sepanjang masih di dalam negeri. Yang jelas keberadaan Inteligent Netwrok memberi fleksibilitas dalam pemberlakuan layanan fitur dengan berbagai model pentarifan berikut kompleksitasnya dengan sumber daya yang lebih efisien. Setelah keberhasilan mengembangkan dan meluncurkan Simpati Nusantara dan kartu HALO Keluarga yang mengdongkrak peningkatan (pertumbuhan) 10% dari pangsa pasar sebelumnya, kemudian masuk masa keemasannya sempat menyentuh dua per tiga pangsa pasar dengan Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) margin melebihi 70% seperti yang dituturkan Hasnul mengenang keberhasilan tersebut.
Paket HALO Kelurga ini merupakan inovasi dan solusi kartu HALO sebelumnya yang dikembangkan agar memungkinkan anggota keluarga menikmati layanan kartu HALO dengan konsep paket hemat keluarga saat itu dengan subscription fee per bulan untuk:
-Kartu Utama : Rp. 65.000,00
-Kartu Tambahan 1: Rp 45.000,00
-Kartu Tambabahan 2-5 : Rp 25.000,00

20150311_103123

Penguasaan Medan, Strategi dan Target

Dua tahun setelah ditugaskan di Telkomsel (2000) Hasnul diminta kembali ke Indosat, mendapat tugas untuk membidani operator baru IM3 yang direncanakan hadir pada tahun 2001. Pada saat itu (2000) pasar sudah didominasi oleh ke tiga pionir operator GSM besar yang masing-masing memiliki keunggulan komparatifnya masing-masing oleh tiga operator besar: Telkomsel (Coverage), Satelindo (Price) dan XL (Quality). IM3 yang akan hadir mau tidak mau harus punya keunggulan kompetitif, di satu sisi competitive adventage mapping, seperti coverage, price and quality sudah ada leadernya. Hasnul melihat niche market dari value added service yang masih bisa digarap. Target market yang disasar saat itu adalah anak muda. Totalitas menyasar target anak muda dilakukan Hasnul beserta timnya termasuk berkonsultasi pada tokoh yang tahu pasar anak muda saat itu, dengan membahas meliputi Segmen, Targeting, Positioning, Product Feature, Consumer Benefit, Place, Promo dan semuanya on the track. Rencana harga pun yang ditetapkan hanya 10% lebih rendah dari market leader saat itu (Telkomsel). Saat seminggu sebelum lauching, Hasnul mendapatkan masukkan dari berbagai sumber bahwa price setting 10% lebih rendah dari market leader tersebut, cukup sensitive bagi anak muda sebagaimana yang menjadi main target IM3. Begitu mendapati hal itu bisa menjadi persoalan serius, apalagi pricing yang salah saat launching dampaknya sangat kritikal. Saat itu dalam waktu seminggu sebelum launching Hasnul beserta tim diperhadapkan isu pricing lebih tepatnya penentuan harga untuk lebih rendah dari pricing semula (10% lebih murah dari market leader) sampai opsi free pricing. Koordinasi lintas departemen pun dilakukan sampai dicapainya pricing starter-kit sim-card yang berkisar Rp. 5.000,00.

Setelah berkonsolidasi serta mendengar masukan dari dealer dan pelaku industri yang tahu pasar anak muda, termasuk mengenai sisi pricing yang cukup sensitive terutama pada segmen anak muda. Dengan investasi awal, IM3 meluncurkan layanannya dengan program dan competitive advantage dan targetnya sebagai berikut
-Launching di 6 kota Batam, Semarang, Surabaya, Bandung, Jakarta dan Bali. Saat itu berkontribusi 60 % dari market nasional,
-menggunakan frekuensi GSM 1800 MHz, dengan pertimbangan meksi coverage lebih pendek namun kapasitasnya 4 kali lebih bayak dibanding GSM 900 MHz,
-target market 58% segmen anak muda di 6 kota.

Strategi akusisi pelanggan dilakukan dengan memberi free-call selama 3 bulan. Hasilnya dalam 3 bulan market share pelanggan mencapai 5%, trafik naik namun masih belum ada revenue, di sisi lain pelanggan happy dengan program tersebut. Setelah masa honey-moon 3 bulan gratis, saatnya pemberlakuan tarif. Atas beberapa masukan termasuk dari dealer di lapangan, prediksi dampak dari time to chage setelah 3 bulan gratis, akan ada penurunan sebanyak 50%. Suatu tantangan lain yang harus dihadapi, mengingat tidak mudah untuk mengubah kondisi (pra-kondisi kan) apa lagi transisi ke pola yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya dalam hal ini mulai pemberlakuan tarif (berbayar). Kemudian pendekatan inovatif dilakukan, seminggu sebelum pemberlakuan tarif (berbayar) pelanggan dikirimi sms yang mengucapkan terima kasih atas kesetiaannya menggunakan layanan IM3 sambil diberi insentif pengiriman pulsa sebesar Rp 25.000 yang dapat digunakan saat pemberlakukan tarif. Bukan hanya itu saja, insentif lainnya tarif yang dikenakan pada bulan pertama hanya 50% dari tarif normal. Berkurangnya jumlah pelanggan pada masa transisi pun tidak dapat dihindarkan, kalkulasi sekitar 20%. Dari implementasinya, jumlah pelanggan berkurang hanya sekitar 5 % (tidak seperti kalkulasi awal 20 %).
Dalam 3 tahun target market tercapai. Pada tahun 2005 pelanggan IM3 mencapai 3 juta (8 % market share).

Babak Baru: Privatisasi, Stabilisasi dan Kompetisi
Saat Indosat menjual sahamnya di Telkomsel, yang hasilnya digunakan untuk mengakusisi Satelindo untuk kemudian di merger dengan IM3 dalam satu binsis induk operator GSM Indosat. Di tahun 2003 Hasnul diangkat menjadi salah satu direktur Indosat (Direktur Niaga), sebelum tiga tahun kemudian (2005) menjadi Direktur Utama Indosat. Babak baru dengan Indosat berserta tiga tantangan besar yang harus dihadapi saat itu:
1.Privatisasi Indosat, yang sebagian besar sahamnya dijual ke STT Singapura
2.Stabilisasi pasca akusisi Satelindo dan merger Satelindo-IM3
3.Kompetisi pasca Telkom diijinkan masuk pasar internasional dan Indosat masuk pasar domestik.

Merebut Pangsa Pasar: Menggeser Peringkat Dua
Setelah membidangi IM3 sejak 2000 yang menjadi cikal bakal operator GSM Indosat, meninggalkan Indosat (Juni 2006) Hasnul menerima tantangan baru untuk meningkatkan pertumbuhan dan pangsa pasar operator GSM lainnya XL.
Tantangan baru menahkodai XL adalah mendongkrak pertumbuhan XL sehingga merebut pangsa pasar sekaligus naik kelas menjadi peringkat dua pemimpin pasar. Pada masa itu XL memang berada di jajaran top three, dibawah Telkomsel (pemimpin pasar dan Indosat. Pada saat Hasnul masuk XL (September 2006) selisih market share XL dengan peringkat dua sekitar 10%. Target yang lebih realistis dibanding dengan pemimpin pasar saat itu dengan selisih market size lebih dari 50%. Meski XL mencapai performansi bagus pada tahun 2006, namun pada awal 2007 performansi pertumbuhan cenderung stagnan selama enam bulan. Berbagai program dan insentif seperti diskon, bonus bahkan dua kali menurunkan tarif tarif percakapan menjadi Rp 25 per detik (Rp 1.500 per menit, Februari 2007), kemudian pada kuartal ke 2 (April 2007) menjadi Rp 10 per detik (Rp 600 per menit) pun tidak cukup meningkatkan target penjualan (pertumbuhan). Di sisi lain berdasarkan pengamatannya kompetitor mampu bertumbuh rata-rata 25% y.o.y dengan kata lain market sedang bertumbuh (growing). Inilah yang mendorongnya untuk melakukan gebrakan dengan ide-ide yang out of the box.

20150311_101655

Kemudian dipelajari akar permasalahannya, value preposition XL saat itu serba nanggung (tidak premium … tidak juga low cost), menganggab paling murah diantara tiga pemain besar, namun tidak cukup untuk menggeser preferensi konsumen pada pemain nomor satu saat itu. Di sisi lain ada market di luar itu yang diisi operator-operator CDMA, namun value preposition XL khususnya sisi pricing yang masih dianggap masih lebih tinggi. Pada saat itu CDMA dipandang teknologi baru dan mampu menekan biaya, sehingga terjadi semacam dikotomi antara pasar GSM dengan harga mahal dengan coverage yang lebih luas dengan pasar untuk CDMA yang bertarif lebih murah dengan coverage terbatas.

Berkaitan dengan target yang dibebankan oleh induk perusahaan pada Hasnul untuk menaikan pertumbuhan XL sehingga bisa menduduki peringkat ke dua, Hasnul realistis melihat kondisi tersebut, pivoting dilakukan dalam bentuk perubahan strategi akusisi konsumen ke konsumen yang menjadi target market operator CDMA, cara yang ditempuh dengan kembali menurunkan harga namun di sisi lain harus tetap beri kontribusi keuntungan bagi perusahaan. Di sini lah tantangannya, apalagi kondisi keuangan perusahaan sudah ditekan dengan dua kali penurunan tarif, belum lagi tarif rata-rata percakapan CDMA saat itu sekitar Rp 60-70 per menit. Sedangkan tarif percakapan per menit yang terakhir sekitar Rp 600 per menit (Rp 1 per detik). Setelah berkoordinasi dengan tim Corporate Strategi-nya, langkah yang perlu ditempuh dengan penurun tarif per menit harus disertai penurunan pengeluaran lain seperti investasi dan biaya per menitnya sambil volume trafik nya dinaikan (harus besar). Hasnul kemudian berdiskusi dengan Direktur Keuangan dan Direktur Network Service saat itu, dengan wacana menurunkan tarif selevel dengan operator CDMA dengan kapasitas trafik yang 4 kali lebih banyak. Dari aspek jaringan dan biaya (keuangan) tidak ada masalah, wacana pun segera diaktualisasikan dengan tim kecil (Blue Thunder) yang dibentuk oleh Hasnul (Juli 2007) dengan tugas selama dua bulan untuk membuat rekomendasi perhitungan tarif selevel tarif CDMA beserta bagaimana implentasinya dan analisa dampaknya termasuk terhadap jaringan dan biaya lainnya. Tim yang terdiri yang beranggotakan 7 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda seperti sales, marketing, keuangan dan teknik dengan beragam level manajerial dari junior manager, manager, general manager hingga vice president. Sebagai leader Hasnul terus memantau perkembangan kerja Blue Thunder dan sampai dua minggu menjelang tenggat, tim belum menghasilkan sesuatu yang signifikan. Dalam waktu tersisa untuk memacu kerja tim, Hasnul menantang mereka untuk berpacu dengan dirinya dalam menyelesaikan tugas tersebut. Agar lebih obyektif ditunjukkan direksi sebagai juri. Pada tenggat waktu yang ditentukan akhirnya Blue Thunder berhasil menyelesaikan tugasnya dan hasilnya lah yang dipilih untuk diimplementasikan. Hasnul pun segera membawa rencana tersebut untuk dilaporkan pada pemegang saham. Pemegang saham setuju dengan skema penurunan tarif XL yang baru saat itu dengan syarat minute of usage harus naik. Hal ini pun harus disertai empat langkah utama dalam eksekusinya:
1.Menurunkan tarif sebesar 90 %, dari Rp 600 per menit menjadi Rp 60 per menit (Rp 1 per detik).
2.Meningkatkan pelanggan sebanyak-banyaknya. Tantangannya opsinya hanya didukung dengan sumber daya yang sudah ada, bekerja lebih efisien dan produktif.
3.Menaikan trafik. Menaikan trafik 4 kali dengan penyesuaian perubahan trafik per pelanggan, jumlah pelanggan yang meningkat serta operasional dan penyediaan infrastrukturnya.
4.Menurunkan biaya, dengan cost cutting dan efiseinsi pada semua kegiatan perusahaan.
Langkah utama tersebut harus berkontribusi pada profit margin dan pertumbuhannya.

Menarik mencermati strategi insentif tarif (penuruan tarif 90%) pada langkah pertama, sekaligus berkontribusi meningkatkan pelanggan sebanyak-banyaknya (langkah ke dua) dan juga peningkatan trafik sebagaimana target peningkatan trafik 4 kali. Pada saat itu voice usage per user hanya 40 menit per bulan (1,3 menit per hari, sekitar 57 detik/panggilan telepon), jadi voice usage per user setiap kali telepon masih di bawah 1 menit. Agar berkontribusi pada peningkatan trafik dan profit margin, model perhitungan diskon 90% mulai setelah dua menit pertama. Dengan skema perhitungan ini, akan menarik konsumen untuk makin lama berkomunikasi dengan telepon seluler akan mendapat akumulasi pemberlakukan diskon 90% tarif percakapan. Hal inilah yang merubah kebiasaan dalam berkomunikasi, meningkatkan voice of usage per user per bulan (dari 40 menjadi 500 minute of usage per user per bulan) serta juga memberi opsi menarik untuk berkomunikasi dengan murah yang pada akhirnya menarik semakin banyak pelanggan (langkah ke dua).

Penurunan tarif (Rp 1/detik) mendapat perhatian konsumen, memaksa tidak hanya operator CDMA yang semula menjadi target kompetisi, namun pemain top three pun turun gunung untuk head-to-head dalam perang tarif. Hasnul beserta tim-nya harus putar otak untuk menemukan inovasi lainnya gratis telpon dan sms mulai 00.00-06.00. Hal ini berdasarkan hasil riset pada jam non-peak hour pada jam tidur jaringan pun menjadi tidak sibuk, dengan demikian promo telepon bebas mulai jam 00.00-06.00 menjadi gimmick untuk memikat konsumen yang pada keseharian tetap butuh berkomunikasi pada jam sibuk. Dalam menyiasati perkembangan iklim kompetisi, berbagai program dan paket yang dapat dipilih oleh konsumen secara fleksibel lewat *123#. Program-program baru selanjutnya tetap dapat memberi insentif konsumen yang sempat merasakan fasilitas dari program sebelumnya yang sudah habis, agar tetap bertahan (customer retention).

20150311_102638

Akhirnya dalam tahun ke empat (2010, mundur setahun dari visi awal 123) XL berhasil menduduki peringkat ke dua, dengan membukukan pendapatan naik 3x lipat, durasi percakapan per user 400-500 menit per bulan (naik 4x lipat, sebelumnya cuma 40 menit per bulan)

HSinClass20072010result

Pada kompetisi yang ketat ini, mulai tahun 2007 tidak hanya pada perang harga serta juga perang iklan. Saya pun menjadi saksi kerasnya perang iklan serta sempat mendokumentasikan artikel yang dimuat pada Majalah Selular (November 2007). Melihat gejala perang harga yang begitu sengit, sampai Menteri Kominfo saat itu turun tangan menentukan tarif batas bawah. Pada akhir tahun 2010 Hasnul mencanangkan XL tidak menarget pertumbuhan yang terlalu agresif, perlunya seluruh stakeholder (pemangku kepentingan) ikut menjaga industri telekomunikasi seluler, menghentikan perang harga yang telah berlangsung berlarut-larut (Koran Jawa Pos, Selasa 13 Maret 2012, halaman 3). Hasnul beralasan karena harga sudah hampir sama rendahnya (equalibrium sudah terbentuk) dan tidak ada ruang untuk elastisitas harga. Termasuk dengan jumlah operator sebanyak 10 operator pada 2010 [jumlah operator terbanyak pada tahun 2009, 11 operator: Telkomsel, Indosat,XL, Esia, Flexi, Mobile 8, Starone, Ceria, Three, Smart dan Axis] dengan kondisi market yang jenuh, berikut pangsa pasar didominasi pemain tiga besar, tantangan besar yang harus dihadapi pemain lain mendorong perlunya konsilidasi, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah wawancara dengan New Wave Marketing Marketeers April 2011. Tentang perlunya konsolidasi akhirnya ramai diwacanakan kembali pada tahun 2013/2014 (Referensi Selular Indonesia 2014). Saya melihat konsteks tantangan yang ada tidak hanya makin padat dan kecilnya market size yang bisa diperebutkan, namun juga konsolidasi teknologi dalam jangka panjang seperti pada teknologi CDMA untuk pindah ke lompatan teknologi lain LTE agar untuk bertahan, serta dalam konteks secara makro, konsolidasi lebih ke arah aksi korporasi dalam bentuk akusisi/merger. Dan terlihat beberapa konsolidasi yang terjadi, Mobile 8 dan Smart (SmartFren), XL Axiata mengakusisi Axis, migrasi Flexi dari fixed wireless access ke gsm (apakah akan dilebur menjadi Kartu AS Telkomsel, belum ada pemberitahuan lebih lanjut), berikut beberapa penjajakan merger beberapa pemain lain yang tidak berakhir dengan kesepakatan.

Pemimpin Ikon Perusahaan dan Berperan Mencerdaskan Publik
Saya mengikuti banyak informasi publik dari seorang Hasnul Suhaimi baik melalui wawancara dengan media, seminar, kuliah, blog, sosial media serta buku mengenai dirinya baik yang ditulis orang lain (‘The CEO Way’, penulis Rizagana, Tristar Publishing) maupun buku ditulisnya sendiri (‘Everyone can Lead’, Hasnul Suhaimi, penerbit B first) . Dalam buku karangannya Everyone can Lead, Hasnul menyadari perannya sebagai pemimpin suatu perusahaan yang mengedepankan good corporate governance, bersentuhan dengan publik sehingga perlu membina hubungan intens dengan stakeholder seperti pelanggan (masyarakat umum), regulator, institusi akademis, media massa. Sosok Hasnul ini cukup menonjol sebagai CEO yang rajin memberi informasi, membagi pemikirannya untuk perkembangan ekonomi serta kesiapan putra bangsa untuk berkiprah di industri tanah air serta mempunyai daya saing global.

Beberapa pokok pikiran Hasnul Suhaimi seperti:
-Sejak awal mengingatkan adanya peralihan tren konsumsi layanan voice dan sms ke layanan data (sejak tahun 2008) termasuk perlunya penyediaan layanan komunikasi data dan derivatifnya termasuk aplikasi dan konten layanan digital.
-Saat market sudah masuk fase ekuilibrium dimana elastistas harga sudah tidak berkontribusi signifikasn, perang tarif hendaknya dihentikan (akhir 2010).
-Sesuai dengan market yang sudah saturated mulai 2010 perlunya konsolidasi ke 10 operator yang dipandang tidak efisien dalam hal pembiayaan dibanding dengan prosentasi pendapatan (market size) yang tengah diperebutkan (dikuasai dengan beberapa operator besar).
-Perlunya menyelamatkan market dan industri telekomunikasi dengan Coopetition. Bekerjasama (cooperation) dalam membangun ekosistem telekomunikasi dengan kompetisi yang sehat. Seperti penggunaan Tower BTS bersama, kode RBT seragam serta layanan e-money bekerjasama antar operator dengan perbankan,otoritas keuangan dan entitas lainnya.
-Termasuk berbagai pengalaman keberhasilan seperti yang dibahas sebelumnya serta sharing pengalaman sebagai pelajaran mahal (menaikan tarif pada tahun 2008 dan preactivating starter-kit (akhir 2006).
-Perlunya komponen pendukung operasional yang didukung komponen dan industri nasional sehingga dapat menyeimbangan capex infrastruktur yang didominasi oleh barang impor yang memberi dampak pada penyerapan (penguatan mata uang dolar AS/pelemahan rupiah) yang digunakan dalam belanja infrastruktur.
-Memberdayakan masyarakat dengan program seperti ’XL Young Talent’, ’XL Future Leaders’dll.

Tidak heran dengan gebrakan dan kepemimpinannya berbagai penghargaan diterimanya seperti ’The Best CEO’ versi majalah SWA (2009, 2010), ’CEO Idaman’ versi majalah Warta Ekonomni (2009, 2013), ’Telecom CEO of the Year’ versi Telecom Asia Awards (2011), ’CEO of the Year’ versi Frost & Sulivan Asia Pasific ICT Awards (2011), ’Best CEO of the Year’ versi majalah Selular (2011, 2012, dan 2013).

Kesuksesan Peralihan Karyawan ke Manage Service
Sebagaimana tren yang berlangsung di negara lain, efisiensi menjadi keharusan bagi operator untuk bertahan. Tidak terkecuali dalam pemanfaatan sumber daya. Efisiesi dalam bidang SDM lebih condong pada fokus pada core business operator dengan mentransfer departemen infrastruktur ke unit bisnis manage service yang biasa dikelola oleh vendor jaringan. Vodafone Australia pun juga pernah melakukan transfer karyawannya ke manage service yang dikelola oleh Nokia Australia. XL pun melakukan hal yang tidak jauh berbeda,pada bulan Januari 2012 dengan mentransfer 1200 karyawan ke unit bisnis manage service yang dikelola Huawaei dengan konsensi kerjasama selama 7 tahun (Referensi Selular Indonesia 2013). Menurut pengamatan saya waktu itu proses transfer berlangsung smooth nyaris tidak terdengar gejolak penolakan yang terjadi.

Pada akhir masa kerjanya, performa aksi kegiatan XL Axiata mendatang tidak lepas dari tantangan demi tantangan baru lainnya mulai dari layanan OTT dari (Google, Facebook, Youtube dkk) yang menjadi perhatian (dikeluhkan) banyak operator telko dunia, interstitial ads. dan offdeck ads. yang menjadi keluhan ekosistem internet lain seperti internet publisher (media online) serta toko online yang sumber pendapatan dari iklan online, berikut perubahan landscape telekomunikasi untuk masuk ke layanan digital seperti M-Commerce (XL Elevenia), M-Money, M-Payment, M-Ads, layanan M2M (PoS, Meter Reading, Mobile Surveillance/Tracking and Vending Machine), Internet of Things (IoT), layanan Cloud (Xcloud untuk Usahawan 1.0) memberi energi pada penerus kepemimpinanan pasca Hasnul Suhaimi untuk berlari lebih kencang dan tangkas dalam menghadapi tantangan jaman.

*catatan tambahan:
Mungkin tidak banyak yang tahu, dalam karirnya selama 33 tahun di lapangan (bidang telekomunikasi) sejak teknologi GSM masuk ke Indonesia. Hasnul Suhaimi sempat berkiprah dan berkontribusi (1995) pada bisnis layanan komunikasi internasional (SLI 001), yang saat itu menghadapi kompetisi sengit melawan pendatang baru SLI 008 Satelindo yang berhasil merebut pasar pada tahun pertama kehadirannya.
Keberhasilan kampanye Tactical Ad-nya (SLI 001) yang mungkin masih top of mind sampai sekarang seperti iklan ikan hias dalam kolam, atau asap jet tempur dalam formasi angka 001 serta jinglenya yang juga berhasil mendapatkan penghargaan Citra Pariwara Award serta berhasil menahan laju 008 dengan kerja keras lebih dari 2 tahun.

Keterangan foto: foto saat acara Power Talk di IPMI Business School 11 Maret 2015

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Crowdsourcing and Start-Up in Crowd Economy Era

Crowsourcing … crowdfunding  seem  familiar for us as our daily activity close to internet, news, social media and other channel. Quite common  event can muster the crowd empowered by internet. Yes, it is the crowd, but still long shoot to be classified as crowdsourcing. Ehm, starting spark some headache? I hope not, just follow me get deeper through the  sharing I’ve got in  CSW Summit 2015 in Jakarta  last week and mixed with  some references  from internet.

Crowdsourcing, Crowdfunding and Crowd Economy.

Epi Ludvik Nekaj, the founder of CrowdSourcing Week asserts crowd sourcing is about participation. Crowd sourcing is more than marketing approach, it changes business model and shift paradigm such from banking to crowdfunding platform and  the growth of customization product (co-creation process) supported on crowdsourcing project beside common business model such mass production.

Dennis List, Co-Founder of Rocki also emphasizes crowdfunding more than finance. Crowdfunding campaign need crowd and also  good product. He also adds that in crowdsourcing the value proposition is Win Win (‘WE Mentality’, ‘Think WE’).

Crowdsourcing empowering people to participate in particular mission, including  participation to raise money (crowdfunding) that the whole process called crowd economy. This crowd economy started for reason to cope the impact of global recession since 2008. At that time, that crisis has spread in  every sector affected no job offering,  loan program etc. Then raised crowdsourcing platform such increasing freelance job offering (Elance), crowdfunding platform (Lending Club, Kickstarter) etc to fill in that gap.

Crowdsourcing  vs Social Network.

Crowdsourcing and social network are about crowd. People sometimes think if having huge number of social media follower means getting the crowd. Does it can classify as crowd sourcing? In term of number, it’s crowd but not guarantee in  productivity matter. I put productivity issue here, still relate with what Epi’s thought in his session  (you can see from his slideshare also slide # 27)  about new social currency crowdsourcing=social productivity. He also put good analogy between srowdsourcing and social media.

– Crowdsourcing spawns  innovation

– Social network  spawns connection

Epi states crowdsourcing also is about passion and talent, for people who have passion to be part of  something innovative.

Crowsourcing and Crowd Role

In Crowdsourcing, its  platform muster the crowd participation  to support company/seeker as Dr. Michael Gebert  called it  in his presentation as Conceptual Risk Framework. The crowdsourcing platform can support the mission relate to Crowdfunding, Open Innovation, Social Productivity, Sharing Economy. Based on mission and goal, it could be different form one to another project such raising funding, co-creation, life improvement and others. Epi gives  crowdsourcing platform example like crowdfunding (KickStarter,LendingClub), Open Innovation (LocalMotors), Social Productivity (Xprize, Open Garden) and Sharing Economy  (Uber, Airbnb).

 5P Crowd Economy

The 5 Pillars of Crowd Economy consist of people, purpose, participation, productivity and platform. Regarding implementation of 5P Crowd Economy Epi emphasizes  some points to remind, below:

People.The start-up not only give their priority on  platform first, but starting from people, what the start-up doing  and goal, must answer  people problem, human centric embedded to empowering people and help communities better live.

Purpose.In the long run to create meaningful experience, start-up must be face many valleys, not just expecting jumping on the peak of the mountain. I like Epi’s phrase “Fail & Fast”, don’t  go first or only ready for success, shoot the failures, fast learn from that. He give an example when starting internet service, starting to maintain with reasonable target user (not expect huge number first), learn from that and gradually increasing target. It doesn’t just go directly  to reach high traffic   to impress the angle investor but missed the fundamental thing.

Participation.Beside supporting to get funding through the project, the crowd participation emphasizes on co-creation and shared value during the process and  product value.

Productivity.The productivity along this process must be deliver better, faster, cheaper and more efficient process. And those outcomes fully supported especially in this digital world.

Platform.As  mentioned before not just relying only platform in the first beginning. The platform itself will elaborate with the others as medium to interact  and drive the results. Technolgy fully supporting the platform starting from mobile network, mobile application,  big data, cloud computing, real-time processing, internet of things and many more.

Epi defines crowd economy from those five pillars as a dynamic ecosystem of productive people who participate through a platform with a purpose to achieve mutually beneficial goals.

Crowdsourcing and Crowdfunding Success Story: Rocki

One crowdfunding platform, Kickstater enable the start-up create the market before even launching. To know how it works, refer to crowdsourcing and crowdfunding success story: Rocki which I collected from some sources and got  from Dennis itself. Nick NM Yap and Dennis List (the Rocki founder) started Rocki in conceptual of Project RHM (Revolutionize Home Music) in February 2013. As Dennis told during his interview with blogcritics.org, they focus on develop music and technology especially audio streaming instead of video streaming that was the others focus on at that time. Started in crowdsourcing approach, mustered people with extensive experience in media streaming hardware and software in project team, doing co-creation and developing ROCKI plug-in would enable all speaker to have Wifi audio streaming feature.


Rocki’s proof of concept video during the kickstarter campaign.

Rocki is one  good example of running a successful kickstarter campaign got  initial target $50K in first day (November 25th 2013) and  raising over $220K in 20 days  campaign (December 20th 2013). Dennis also share during that campaign, everything has to do with crowdsourcing such using social media,  press coverage   to reach people (supplier, potential buyer) to involve in and also well prepare for next step including production phase and shipping. Even after getting funding their initial target on 1st day, Dennis tell me, as soon as possible they reserved production line. Beside got more than initial target, they successfully managed product shipping on time within 3 months of the kickstarter funding  and also keep participating crowdsourcing global event. They keep raising the bar through innovation.


Rocki’s product teaser on Youtube during the kickstarter campaign.

If you see the remark on that video teaser during their  kickstarter campaign above, you will notice  the crowdsource supported the video production. The video itself fundamental necessity to successfully pitch  a crowdfunding project. The good one KickStarter provides how to create product video teaser complete with studio that will facilitate  the crowd.


KickStarter’s video making guidance & studio facilities.

At the end of the session Dennis who also secured $1 M funding  for another project (Omate Smartwatch)  gives closing statement, reminding start-up not just focus on the funding part of  crowdfunding,  but need to build the crowd because no one can do all that on their own. So … CROWD it!

*imagre credit: taken while session been held

 

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia?

    Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? This question refer to the Content Marketing existence along the past years and now this year 2015, that used also as the topic discussion of the Jakarta Content Marketing meetup session this month. Content Marketing in several years growing tremendous approach and  its contribution too (Content Marketing Innitiative for Online Shop, Indonesia market 2013). Does Content Marketing still reliable to cope the challenge in 2015? Let’s take a look  the discussion  through this compilation article below.

    Content Marketing-Native Ad
    Content Marketing itself means about to drive action as Patrick Searle (cofounder GetCRAFT) point out in early session. It’s about owning paradigm, investing on it and get the returns. The Native Ad also the hot issue to be addressed in term of its contribution to get read rate times and ROI target, comparing with digital marketing main stream like  display ads has been decreased significantly.  Native Ad plays promising role to give the good impact to its stakeholder and give adaptive approach and more friendly user experience (UX) to consumer, compare to not quite good experieces/pro-contra last year related with intrusive ad that pop-up without giving option to consumer get rid from bothering  their user experiences and raised dispute among digital publisher.
    Brand professional Jasmina Dewi Nashya (E-Commerce Marketing Head at MAP) added that content marketing should has brand perspective adjusted to brand and company strategy and also has relevance with target viewer desire and in line with what consumer care about. From brand  people (client) perspective, she added it’s paramount to keep the brand presence in every Consumer Decision Journey (CDJ), that also must be applied on content marketing approach.

    Sponsored Content and its position from publisher point of view.
    The terminology of content marketing spreads from one industry to another industry. Publisher like online newspaper use Sponsored Content  to refer it. Beside the news as their commodity, empowering content article that get sponsor called Sponsored Content.  David Alexander ( Business Development at Kompas) from his point of view as publisher professional classify Sponsored Content as intersection area of Venn Diagram between Content Marketing and Native Ad. Sponsored Content applied by different approach, it could be beyond branding (not spoken about brand) but their initiative campaign, for example BP within move the next mile campaign. Or also something that provoking interest of subject, that giving awareness, guidance to empowering  for example cashless society (sponsored by one larger bank).
    Those approaches aren’t hard selling focus content but still attached with sponsored brand/company logo. Also important for Sponsored Content stakeholder to keep content transparency and relevance (avoid pretending) so make no room consumer getting trap on the content that consumer really doesn’t want to, eventually could ruin their credibility and business.

    Content Marketing, hard selling and measurement.
    In line with hard selling content, some important lesson-learned shared by Jasmina that too many focus hard selling approach on content gave bad impact from consumer. So need to create content that can steal consumer heart which with minimum hard selling content.
    On the other hand, from top management point of view that sometime push a lot hard selling approach because every program should giving the return with common indicator such as number of conversions and revenue. It’s quite complicated and also challenging to set up good content marketing that attract consumer’s attention but less hard selling. According to her best practice, by using KPI as currency to convince top management to  go through that approach. The KPI might covers unique visitors from where they access (geography), comply the trend (mobile readership trend) and engagement measurement (bounce rate/time spent, page view and sentiment & social engagement). KPI itself not be separated from measurement, Daniel Van Leeuwen (Research & Development Advisor at XM Gravity) also emphasized measuring activity as part of the main triangle to support implementation of content marketing. It’ s such cycle starting from Learning, Building and Measuring phase. Measurement also part of three main factor related with Content Marketing as Haswar Hafid (Client Partner at Facebook) mentioned beside medium and format.

    Content Marketing Strategy.
    Content marketing strategy should be user centric, Daniel explained that content format should be as interface between business goal and user goal/needs. Based his digital agency background, he gives example how NetFlix using the data to determine next program to offer. Another example of user centric case when Mortal Combat Director Kevin Tancharoen making a initial pitch film. Kevin put the Mortal Combat thriller online and got much good responses from consumer. Then led him to develop the feature film version and got distribution supporting from Warner Bros.
    According to the inspiring story above, Daniel also broke down and emphasized   some phases that could be the secret sauce of that success story, the phase starts from do pilot, validation, build/refine and expand.

    From branding (client) perspective, the brand  need fully support from the content to be part of conversation among consumer, and Jasmine added on other side the content stakeholder need to think the impact also beforehand.

    Banner Blindness Fact and Ux matter.
    Daniel also mentioned banner blindness and some facts related such low click through rate (CTR) that show less number who clicked the banner. Still related to Banner Blindness in US, Matthew Green (UX Consultant) highlighted from User Experience (UX) design perspective, with case the lack of Ux design such the editorial box looks like banner that consumer think it as banner that keep it quite far from the CTR target. To many and messy banner layout also cause banner blindness, consumer feels dizzy to go to the content he/she want. UX with good lay-out that ergonomic and provide good/easy navigation to follow is the paramount. Mattew also added in specific that important to keep in mind such visual consistency with design of the page, readable text, simple imagery, be relevant and engagement.

    Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia?
    Sunil Kumar (Digital Director at Starcom) talking from Media Agency perspective, shared key takeways from 2014 that something called Native Ads get spoken and 2015 will be the year of Native Ads that continually need another year to market and mature. LTE launching make possibility the content marketing booming in term of media format and capacity (size) applied successfully at consumer mobile/gadget platform.

    Jasmina pretty optimistic that content marketing well growing in 2015 also underlined video marketing is the next hot babe and whole strategy approach (online and offline) integrated to omni channel as one strategy she would apply.
    Haswar also believed 2015 is a content marketing year. Since media crossover in the term of time spent started from radio era, tv, digital and now mobile era. Mobile is the most personal and engaging medium ever. Mobile at scale and content marketing get more room for expansion and customization. He resumed it in one brief sentence “Marry the right format with the right device.”

    So back to important question. Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? Some might say yes and believe it! Some might wait and see. Some say depending on you, content marketing stakeholder include consumer.

    *This article is compilation of panelist thought and audience discussion at Jakarta Content Marketing Meetup January 14th 2015 hosted by GetCRAFT (link). In this article JM Zacharias just took a role as ‘kitchen helper’ who just arranged ‘dish’ served on plate 🙂

    *imagre credit: taken while discussion been held

     

    About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Satu Lagi … Produk Apple

Seperti yang sudah-sudah, Rabu dinihari waktu bbwi (Selasa 9 September Pacific Time) saya menunggu update hajatan besar peluncuran produk Apple melalui twitter, media online dan sesekali melalui tv kabel jaringan internasional. Sambil update twit-twit yang masuk, terkejut membaca twit Dick Costolo CEO Twitter yang memberitahukan bahwa Apple menyediakan live tweet.

TwitterCostolo_Apple_live

Pada laman Apple live mulai terlihat area sekitar Flint Center Cupertino beberapa awak media telah siap dari subuh sampai fajar menyingsing. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa twit mulai dari foto para undangan yang sudah hampir penuh memenuhi tempat acara. Ok, berarti jari akan siap menari-nari  menekan tombol refresh melihat update terbaru dari produk Apple . Saat menunggu, ponsel pun disandarkan sisi kursi sambil melihat perkembangan melalui tv kabel.

 906 934 Apple Live Sep9th 2014

Tampilan layar ponsel berubah secara otomatis menunjukkan live tweet terakhir dengan tanda bulatan biru di pojok kiri atas lengkap dengan angka yang menunjukkan jumlah twit yang belum di lihat. Langsung saja perhatian tertuju pada layar ponsel, serasa berada di Flint Center mengikuti paparan presentasi dengan foto Tim Cook beserta tim penyaji/demo Apple lainnya, diselingi dengan twit dari para undangan  salah satunya dari jurnalis BBC Stephen Fry.

1129 1134 Apple Live Sep9th 2014

1205 Apple Live Sep9th 2014

Ini terobosan baru, siapa pun, dimana pun yang terkoneksi  internet dapat mengikuti acara tersebut. Sesuatu gebrakan baru ini sudah pasti menghasilkan efek wow selama acara berlangsung, berdampak memperkuat engagement pelanggannya  dan membuka kanal konsumen bukan pengguna produk Apple untuk mengikuti informasi produk baru  Apple, yang membuka peluang untuk melakukan  konversi.

Setahun lalu pada even yang sama untuk iPhone 5S dan iPhone 5C, saya menuliskan artikel menyoroti iPhone 5C yang saat digadang-gadang akan memberi warna baru dengan masuk ke segmen anak muda tersebut lengkap dengan aneka warna casing-nya, dengan garis bawah pertanyaan apakah efektif kehadirannya untuk pasar low cost. Iya, hanya itu yang menarik dicermati dari even Apple yang tradisinya sejak dipegang Steve Jobs selalu memberi warna baru (baca efek wow) setiap acara Apple World. Tahun lalu terasa hampa (tidak ada efek wow) seolah pernak-pernik casing warna yang dapat diganti-ganti merupakan terobosan yang ditawarkan Apple  pasca meninggalnya Steve Jobs.

Dengan gaya pembawaan yang bertolak belakang dengan Steve Jobs, Tim Cook mendapat tantangan dari para pesaingnya sebut saja Jeff Bezos dengan gaya memukau mengumumkan Amazon Fire Phone atau sang ‘Apple dari Timur’ ponsel Xiaomi yang CEO-nya Lei Jun memang pengagum Steve Jobs berikut  gaya pemaparan saat demo pun mirip.
Tim Cook dan jajarannya kali ini membuktikan produk Apple keluar meski tidak dengan kejutan besar [mungkin karena maraknya pemberitaan terutama berkaitan dengan tren wearable] namun langkah revolusi pada   fitur-fitur dan teknologinya memberi lompatan yang berbedaa dibandingkan dengan yang dilakukan para pesaingnya.

1208 1210 Apple Live Sep9th 2014

Hal ini ditunjang karena Apple mengoptimalkan fleksibilitas dalam membuat gebrakan dengan plafon harga iPhone yang premium dimana tidak banyak pesaingnya yang fokus pada kelas yang dipilih Apple untuk head-to-head.

Pada sisi tampilan layar antarmuka (User Interface) mirip, namun membenamkan piranti, fitur, sistem dengan kompleksitas tinggi dari aplikasinya dan material berkualitas prima tentu bermuara pada tinggi harga yang masuk dalam kategori ponsel premium.

Saat demo  fitur dilakukan oleh orang produk, Tim Cook menyingkir ke belakang panggung namun masih tetap eksis melalui live tweetnya:

1237 Apple Live Sep9th 2014

Dari jajaran portofolio yang telah ditampilkan iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Apple juga masuk sebagai penyedia solusi pembayaran transaksi internet dengan meluncurkan Apple Pay. Tentu saja merubah lanskap jaringan pembayaran transaksi online termasuk Pay Pal yang telah lama menjadi partner Apple Store (iTune dll).

1248 1248 Apple Live Sep9th 2014

Sebagaimana gaya komunikasi Steve Jobs yang membuat penasaran sekaligus kejutan, Tim Cook menutup akhir presentasi Apple Pay dengan sela sejenak sebelum mengakhiri pemaparan akhir setelah Apple Pay dan iPhone seri 6, sambil berucap One More Thing,  satu lagi :

1258 0100 Apple Live Sep9th 2014

0115 Apple Live Sep9th 2014

0131 0134 Apple Live Sep9th 2014

Manajemen Apple pun sempat menghadapi krisis bocornya dokumen foto salah satu konsumennya artis yang menyimpannya di iCloud. Dimana tim Apple berhasil mengkonfirmasikan bahwa bocornya tidak pada sistem keamana iCloud namun mekanisme menebak password yang kemudian diatasi dengan two-step authentification. Belum lagi beberapa hari sebelumnya dihebohkan dengan kabarnya bocornya penawaran kontrak berlangganan untuk iPhone produk baru oleh operator di Tiongkok. ‘Huru-hara’ ini berhasil dilokalisir dan ‘dipadamkan’ beberapa hari sebelum hari H. Dan publik mengikuti acara Apple kembali dengan beribu rasa penasaran.

Namun untuk yang satu tadi (membuat penasaran), itu talenta yang dimiliki Steve Jobs yang tidak saja membuat penasaran, Jobs berhasil melakukannya dengan secrecy (tingkat kerahasiaan tinggi). Simak saja bebera cerita pada masanya yang ditulis dalam buku yang ditulis oleh Adam Levinsky

Dari mulai rekrutmen untuk project X pun dilakukan Jobs tanpa sepengatahuan atasan insinyur yang dipinjam (lintas departemen), termasuk sinyal ada penggantian kunci ruangan tertentu yang menandakan menjadi terbatasnya akses ke ruangan tertentu.

Tim Cook  dengan latar belakangnya di bidang distribusi berhasil lepas dari bayang-bayang Steve Jobs dan keraguan analis akan masa depan Apple pasca meninggalnya tokoh karismatik itu, dengan gebrakan revitalisasi di sisi retail dengan  merekrut mantan CEO Burberry dan terakhir masuknya perancang jam ternama menandakan Apple total masuk di wearble technology yang sudah jelas-jelas akan berhadapan dan aktif masuk dalam ranah fasyen. Seperti entitas ‘New Entrants’ pada  Porter Force dimana ada pemain baru  menggebrak industri yang mature dan memaksa pemain-pemainnya untuk menyesuaikan diri salah satu pabrikan jam yang mau tidak mau harus masuk pada era koneksi internet.

Dengan munculnya gebrakan canggih produk  baru Apple serta mulai hilangnya trade mark i pada perangkat dan layanan Apple seperti Apple Watch, Apple Pay dan munculnya beragam ukuran produk iPhone dan iPad [dimana Stete Jobs sangat sensitif pada dimensi produk ttt] beri ruang dan kesempatan bangkitnya era baru Apple sepeninggal Steve Jobs seperti tablet yang berukuran 7 inci, pasca Jobs dikeluarkan iPad mini 7 inci ].

Di sela-sela sesi menarik paparan produk, ada pertunjukan grup musik U2 sudah tentu memberi kejutan kecil bagi pemirsa yang dapat menyaksikan via live streaming.

0148 0150 Apple Live Sep9th 2014

The Flint Center sontak semakin menghentak dengan beat-beat lagu-lagu U2 sekaaligus menandai rilis album baru U2 “Song of Innocence”. Seperti yang tampak pada monitor Apple Live September album baru tersebut merupakan bagian dari promo Apple (iTunes store) dan pada waktu setempat dan diklaim telah diunduh melebih setengah milyar konsumennya.

0152 0155 Apple Live Sep9th 2014

Performa grup musik U2 diakhiri dengan masuknya Tim Cook untuk kemudian mempersilakan para hadiri mengikuti Post-Event ke arah ruang pameran untuk beri kesempatan hadirin merasakan produk Apple yang diluncurkan sambil melakukan dokumentasi untuk keperluan jurnalistik.

0201 0204 Apple Live Sep9th 2014

Acara dilanjutkan dengan menuju ruang pamer produk untuk melihat, merasakan dan memperoleh kesempatan pertama untuk mengambil gambar dari produk terbaru Apple tersebut. Ketty Perry sempat mentwit di sela-sela acara.

0247 0249 Apple Live Sep9th 2014

0249 0315 Apple Live Sep9th 2014

Laman Apple Live signing off menandai berakhirnya rangkaian even peluncuran produk Apple seri 6 ini beserta solusi Apple lainnya. Apple Live Stream terutama Twitter Live ini menjadi gebrakan pendekatan Apple dengan mendayagunakan kanal media sosialnya untuk tetap terhubung dan menjaga hubungan dengan konsumennya.

*image: Apple Live September 2014

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

[ Selamat Hari Batik ] Batik Sumber Yang Terbaharukan

Membaca twit-twit tentang Hari Batik  termasuk juga tampilan menarik yang relevan ala Google.com (lihat gambar doodle di atas), mengingatkan saya pada kunjungan terakhir  di sentra Batik Madura di Bangkalan awal September lalu. Sempat terpikirkan untuk membuat artikelnya, namun ada artikel lain yang harus ditulis sehingga terlupakan. Sampai akhirnya tepat 2 Oktober dibuat  artikel yang berjudul [Selamat Hari Batik] Batik Sumber Yang Terbaharukan ini.

Berawal dari ditetapkannya Batik sebagai warisan pusaka dunia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009, yang kemudian setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Melihat animo masyarakat dalam berbusana batik beberapa tahun terakhir menunjukkan  busana ini dapat diterima sebagai busana kontenporer yang dapat bersaing dengan busana internasional lain. Sekaligus batik selain sebagai warisan budaya juga simbol jati diri industri kreatif rakyat yang sudah menjadi tuan rumah (diterima) di negeri sendiri serta juga mampu eksis dikancah fashion internasional yang didominasi merk global.

Batik telah menjadi bagian warisan para pendahulu kita, dalam perkembanganya sempat “terkungkung” dengan pola dan balutan busana dengan pakem tertentu. Ini mungkin dikarenakan dahulu  dalam hal ini batik tulis dengan pola tertentu merupakan perlambangan status sosial, kebangsawanan, mungkin juga sarat makna penghormatan pada leluhur yang diatur dalam tata cara  dan adat yang ketat. Belum lagi dengan pola yang stagnan berikut  mode balutan busana sehingga terkesan kuno bagi anak muda saat itu. Kalaupun harus digunakan biasanya hanya saat acara resmi keluarga seperti kondangan, foto keluarga dan even resmi kolektif lainnnya.

Bung Karno lah sekitar tahun 1950-an yang punya keinginan mendayagunakan batik sebagai indentitas nasional. Dipanggil lah Ibu Sud (yang kita kenal sebagai pencipta lagu anak, pencinta anak-anak, pengasuh acara anak TVRI beserta Kak Seto era 80an) untuk memikirkan pembudidayaannya sebagai busana identitas nasional. Pada saat itu Ibu Sud sudah mempunyai sanggar batik yang saat ini diteruskan cucunya yang juga terkenal dengan desain motif batik pada Mercy  milik Piyu gitaris PADI sekitar tahun 2011-2012.

Beberapa tahun terakhir mulailah terjadi ‘ledakan’ modernisasi batik dengan sentuhan kreativitas, teknologi, paduannya mode fashion kontenporer serta pengembangannya dipadukan dengan komponen unsur budaya lainnya dalam bingkai industri kreatif. Saya coba memilahnya dalam beberapa poin aspek terkait:

Kreativitas

Kreativitas dalam memasukan pola modern berpadu dengan pola batik seperti menggunakan warna yang cerah (condong menyala), gradasi warna, corak yang berani serta juga mempunyai tema bervariasi baik disesuaikan asal geografis, memasukan unsur identias perusahaan/organisasi termasuk logo perusahaan, logo klub sepakbola, karakter kartun (Disney bekerja sama dengan satu brand nasional)  sebagaimana yang sudah lazim kita jumpai. Belum  lagi jika dipadukan sebagai motif desain produk  lainnya.

Budaya & Identitas

Batik sebagai bagian dari budaya Indonesia otomatis juga sebagai identitas bangsa dalam penyajiannya bisa berbaur dengan unsur budaya dan kesenian lain dalam baik pada seni lukis, sandra tari, termasuk menceritakan sejarah dalam corak dan polanya. Selain menceritakan makna cerita tertentu ada jugayang mempunyai nilai identitas sekaligus semangat pemersatu seperti Batik Lasem (kain 3 negeri,yang menyatukan budaya Thionghoa dan Jawa dalam perpaduan tiga  daerah warna: warna merah perlambangan Lasem, warna biru dari perlambangan Pekalongan dan warna Coklat dari perlambangan Solo) dan Batik Dayak (TiDaYu, Thionghoa-Dayak-Melayu).

Teknologi
Munculnya batik fraktal, dengan pola dihasilkan dari pemograman komputer mulai ramai disosialisasi saat era Menristek Kusmayanto Kardiman. Belum lagi perkembangan teknologi tekstil berikut bahan pewarnaannya dan juga teknik produksinya (printing) serta teknologi penyimpanannya  sebagai barang koleksi bernilai. Di lain pihak pemenuhan bahan baku dalam pembuatan batik modern pun masih menyimpan tantangan, dimana besaran kandungan impornya sangat besar mulai dari kain kualitas tertentu (untuk produk premium dan permintaan ekspor spt sutra dll),  kapas (bahan baku kain katun), pewarna kimia dan lilin.

Korporasi
Dukungan instansi/korporasi dalam bentuk menggunakan seragam, tema busana, juga pemberdayaan  dan usaha batik UKM-UKM  pada program dan acara-acara tertentu. Dengan demikain penyerapan konsumsi (permintaan) busana  batik memberi kontribusi positif terhadap bisnis dan memberi pesan visual , word of mouth berikut pengalamannya.

Individu
Saat ini tidak sedikit orang Indonesia di manca negara dalam berbagai acara sangat nyaman untuk menggunakan batik sebagai busana indentitas bangsa sekaligus kampanye budaya dan industri kreatif nasional. Begitu juga orang asing yang mengapresiasi batik dan juga yang ingin memiliki hubungan pertalian dengan karya seni  bahkan sudah dalam taraf menjadi kolektor. Turis asing pun yang ingin punya tanda mata dan keterikatan dengan Indonesia dalam format busana termasuk dapat diaplikasikan dalam format hubungan dagang (pebisnis asing dengan pebisnis Indonesia) juga dalam hubungan diplomasi (saat duta besar/kepala negara asing menghadiri acara di Indonesia). Mendiang Nelson Mandela menjadi contoh yang bagus pertalian hubungan individu (orang asing) dengan identias batik kita. Hal ini ditunjukan dengan konsistensinya menggunakan dan mengapresiasikan busana khas Indonesia ini salah satunya dibuktikan menjadi  pelanggan tetap butik Iwan Tirta.

Fashion Nasional
Dunia fashion nasional pun sudah mengakomodir busana batik dalam rencangan busana kontemporernya. Tidak hanya dalam corak, namun berbaur dinamis dalam balutan dengan busana kontemporer lainnya seperti balutan busana dengan blue jeans, sack dress batik, scarf batik dll. Belum lagi kolaborasi dengan brand internasional dalam rangka memasukan model batik pada portfolionya. Eksistensi batik dalam konsep fashion kontenporer diharapkan tidak kontra produktif dengan batik klasik yang sudah ada sejak dahulu, namun pada perkembangannya dapat berjalan dalam kolaborasi yang saling mengisi dan melengkapi sesuai denga perannya masing-masing.

Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Koperasi dan UKM,Kementrian Perdagangan, Kementrian BUMN serta kementrian terkait lainnya menjadi penghubung, pasar luar negeri dan  korporasi dengan UKM-UKM serta mengedukasi masyarakat dalam melestarikan batik. Pemerintah juga harus memberi andil dalam perkembangan indutri kreatif  ini melalu menyediakan ifrastruktur yang pendukung seperti akses jalan, jembat, fasilitas tranportasi, pelatihan, pameran, sistem perdagangan yang kondusif dll.
Wacana saat ini seperti Batik Mark, semacam sertifikasi untuk pasar internasional semoga memberi kontribusi positif bagi semua pihak. Termasuk membendung batik cap impor  yang meresahkan pengrajin  lokal.

UKM
UKM sebagai unjung tombak bisnis, beri kontribusi agar batik tetap hidup dan berkembang. Baru-baru ini saya ke Bangkalan Madura, mendatangi sentra Batik Madura. Tempatnya di beberapa kawasan pemukiman, harus masuk gang pemukiman. Menariknya ada satu UKM yang masih di sekitar kawasan gang pemukiman, Tresna Art yang menggabungkan bisnis batik dengan kegiatan crowd sourcing seperti pelatihan membatik gratis pada hari tertentu serta pengunjung bisa merasakan budaya Madura mulai dari sajian gratis minuman dan camilan khas Madura, rumah joglo khas Madura, halaman buah dengan kicauan burung yang menghiasi kawasan pemukiman yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. UKM-UKM di ujung gang pemukiman ini pun menarik wisata luar negeri yang mampir di Surabaya berkat infrastruktur Jembatan Suramadu yang memungkinkan wisatawan mancanegara menjangkau sentra bisnis ini kurang dari dua jam perjalanan dari Surabaya.

Selain Batik Madura (batik proses gentong, sarimbit, manok dara ‘manohara’ dll) masih banyak lagi tentang batik nusantara, seperti Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Lasem, Batik Papua, Batik Gunung Merapi, Batik Salatiga, Batik Sidoarjo, Batik  Gresik, Batik Surabaya, Batik Dayak pasti masih banyak lagi yang belum disinggung satu per satu.

Waktu pertama kali ke sana hamparan ladang kering dan panas menyengat saat menyambut saat memasuki Pulau Madura kemudian mulai berganti dengan senyuman saat lewati teras rumah-rumah pinggir jalan dengan beberapa kain batik yang tengah dijemur serta dijajakan di  warung-warung kecil pinggir jalan. Ini menyakinkan saya (juga kita!) bahwa rakyat bisa hidup dari industri kreatif ini dengan segala sumber dayanya. Sumber daya yang dapat diperbaharui. Tidak terasa kunjungan hampir empat jam pun terasa singkat untuk menghantarkan kami untulk kembali pulang menuju Surabaya.

Lambaian jemuran kain batik yang menari-nari di teras rumah-rumah pinggir jalan, memberi salam sampai-jumpa hantarkan  kami meninggalkan Pulau Madura. Beri harapan industri kreatif ini bisa jadi lokomotif perekonomian rakyat, ekonomi rakyat yang juga menggerakan ekonomi nasional.  Rakyat makmur, ekonomi bangsa kuat.

Selamat Hari Batik Nasional  2 Oktober

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Consumer Insights : Pentingnya Pandangan Konsumen

Produk yang mutahir, laris di pasar sudah tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi pihak yang berada di balik terciptanya suatu produk tersebut. Hal ini tidak terkecuali bagi Doug Dietz, desainer alat pemindai yang berukuran besar MRI keluaran General Electric.
Kebanggaan tersebut  terus melengkapi kehidupan Doug sampai suatu saat kebangaan itu lenyap dan membuatnya  tercengang saat melihat seorang anak ketakutan saat menuju alat MRI yang kokoh berwarna putih tersebut. Kejadian ini sungguh membuatnya terpukul sekaligus mendorongnya melakukan redesain alat MRI khusus bagi pasien anak-anak. Sungguh beruntung Doug dapat langsung melihat apa yang terjadi sesungguhnya reaksi anak terhadap  produk yang didesainnya saat itu. Pengalaman menyakitkan ini merupakan pelajaran mahal, mampu dibayar dengan upaya dan desain baru yang spektakuler.

Apa yang terjadi di lapangan (baca: market/pasar) tidak serta merta  muncul memberi pesan jelas seperti contoh di atas. Lalu lalang data-data mentah dalam bermacam-macam konteks: visual, verbal, kasatmata namun dapat dirasa, untuk proses selajutnya ditampung, dipilah , diolah dan dirangkai menjadi informasi sebagai pendukung keputusan.

Suatu bagian dari program The Apprentice (UK TV Series) ketika seorang calon peserta magang dalam sebuah meeting mengatakan  produk yang akan dikembangkan berkualitas dengan keunggulan terbaik dan dengan yakin produk tersebut akan sukses di market. Sir Alan Sugar (mantan Chairman Amstrad) pun langsung memotong pembicaraan  tersebut sambil berujar “Yang harus Anda lakukan adalah pergi ke lapangan, dengar, lihat dan serap apa yang mereka (konsumen) rasakan dan inginkan!” Singkatnya, meminjam istilah dari Sean Devine  “Launch and Learn“.

Penjualan yang bagus pun bukan menjadi alasan untuk mengaibaikan consumer insights , karena proses bisnis tidak lepas usaha perbaikan  turus menerus (continuous improvementKaizen). Produk yang sedang dijual juga yang dikembangkan tentu harus bersinergi dengan  apa yang dirasakan, dipersepsikan, dibutuhkan, diharapkan oleh pengguna. Hal ini  yang dilakukan Apple (Divisi Music & Entertainment) dengan mengundang artis dan pemimpin di bidang entertainment seperti Harison Ford, Bryan Adams, grup musik metal Mötley Crüe untuk terlibat dalam memberi masukan berharga dari sisi pengguna terhadap produk-produk Apple  untuk industri musik & entertainment saat itu.

Ada contoh lain, entah bagaimana  caranya saya pun sering diminta  kru maskapai Singapore Airlines (on board) untuk mengisi berbagai kuisiner acak  dalam berbagai kesempatan. Sebagai penumpang yang  mendapatkan pelayanan prima selama ini, saya tidak ragu untuk menuliskan apresiasi, input, pandangan tentang pelayanan Singapura Airlines selama ini termasuk hal-hal lain yang masih kurang memuaskan, berhubungan dengan unsur need dan want saya sebagai penumpang. Saya pun tidak ragu untuk memberitahu mereka tentang layanan istimewa kompetitor  yang tidak mereka lakukan.

Di lain pihak secara fair, jika maskapai lain yang pernah saya tumpangi (melayani penumpangnya dengan baik) meminta masukan juga, tidak ada keraguan untuk membagi pandangan  terhadap layanannya beserta masukan  pembanding berkaitan layanan istimewa dari kompetitor  yang pernah saya tumpangi. Hal ini  baik untuk membangun iklim kompetitif secara konstruktif.

Kadang ada keengganan pada situasi tertentu seperti apabila diminta untuk memberi masukan dan saran, khususnya untuk  maskapai yang melekat kuat reputasinya dalam menelantarkan hak/kebutuhan penumpang karena adanya keraguan tentang itikad baik  untuk melakukan perbaikan usaha tersebut. Ini hanya contoh kecil gambaran bagaimana tidak efektifnya proses consumer insights di lapangan khususnya saat konsumen telanjur terkondisikan  bersifat apatis baik dalam bentuk komunikasi verbal, visual maupun alam bawah sadar (sub-consciousness).

Kemajuan teknologi informasi dengan internet sebagai motor penggerak menihilkan hambatan ruang dan waktu. Mendayagunakan program loyalti serta aplikasi online seperti kuisioner online, forum/komunitas, social media, web analytic meningkatkan efektifitas  dan optimasi pengolahan data sebagai bagian dari proses consumer insights . Strategi online di atas menjadi jamak dilakukan oleh perusahaan. Tak jarang ada yang “terperangkap” dengan hanya  menjadikannya sebagai crowd sourcing tanpa perencanaan  matang pengolahan lebih lanjut data-data yang melimpah  sebagai  tindak lanjut oleh pemegang merek (produk).

Starbucks merupakan salah satu perusahaan yang sukses mengelaborasikan keunggulan pendekatan online melalui mystarbucksidea. Portal yang berbasis cloud computing ini  berhasil menampung serta mengolah (dalam bentuk sesi diskusi) puluhan ribu saran dan ide dari pelanggan Starbucks seluruh dunia sebagaimana  tercatat  per 13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) dari portalnya http://mystarbucksidea.force.com

Product Ideas :

  • 32,563 Coffee & Esporesso Drinks ideas,
  • 3,319 Frappuccino® Beverages ideas,
  • 9,535 Teas & Other Drinks ideas,
  • 14,928 Food ideas,
  • 7,830 Merchandise & Music ideas,
  • 15,967 Starbucks Card ideas,
  • 2,717 New Technology ideas,
  • 10,508 Other Product  ideas

Experience Ideas :

  • 7,824 Ordering, Payment, & Pick-Up ideas
  • 14,065 Atmosphere & Locations ideas
  • 10,810 Other Experience ideas

mystarbucksidea

Tampilan portal Mystarbucks Idea beserta ide yang masuk per   13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) .

Menjaring apa  yang dirasakan oleh pelanggan  (need & want-nya), dipadukan dengan  bagaimana kontribusi produk yang ditawarkan terhadap pengalaman mereka (user experience, Ux) merupakan inti dari pendekatan consumer insights . Salah satu faktor kunci proses yang strategis adalah bagaimana  pelanggan dengan senang hati dan bersikap partisipatif memberikan pandangan secara berimbang. Komplain dari pelanggan  merupakan aset berharga  untuk ditindaklanjuti secara obyektif. Mengapa berharga?

Sangat berharga dalam konteks untuk  proses klarifikasi, perbaikan layanan dan kualitas suatu produk. Serta tidak kalah kritikalnya jika ada pelanggan  tidak jadi komplain, memilih bersikap apatis dan mengambil keputusan untuk pindah ke kompetitor, sebuah switching cost yang murah bahkan mendekati gratis ditanggung oleh pesaing dan berkontribusi meningkatkan beban churn-rate.

Tidak Mudah serta Tidak Mustahil (TMTM)  mengimplimentasikan  proses consumer insights . Apakah melalui proses etnografi/netnografi, observasi , customer visit , serta in-depth interview. Serap dan  resapi spirit dalam melaksanakan  consumer insights . Pada akhirnya kualitas pengalaman konsumen dapat diukur (QoEQuality of Experience) dan berkontribusi penting pada seberapa dalam keterikatan pengguna terhadap produk (RoEReturn of Engangement). Paling tidak, dimulai dari belajar pengalaman sehari-hari  dari bentuk sederhana termasuk yang telah berlaku turun temurun seperti kalimat bijak yang terpampang pada dinding pintu keluar sebuah RM Padang, “Jika Anda puas beritahukan kepada kerabat Anda, bila tidak beritahukan  Kami.”

Bagaimana menurut Anda?

* image credit: Damian Brandon-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com . Anda mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Momentum produk berikut dampaknya

Berbicara mengenai kecepatan dan momentum , jadi teringat pengalaman dulu saat masih terlibat dalam pengembangan produk ponsel Siemens Mobile. Sekitar bulan Juli 2003, kami sudah melakukan beberapa testing beberapa unit test sample ponsel SX1 (ponsel digadang-gadang menjadi unggulan di kelas smartphone yang akan dilaunch saat itu, setelah kesuksesan kakaknya ponsel dengan pena sentuh SL45 ).

Target rilis SX1 sekitar awal tahun 2004, namun terjadi penjadwalan ulang dalam waktu tidak ditentukan. Pada saat yang bersamaan, Febuari 2004 kompetitor Nokia merilis versi smartphone mereka Nokia 6600 yang bermain di kelas yang sama dengan ponsel Siemens SX1 . Kehadirannya sebagai smartphone pertama mendapat sambuatan luar biasa.

Sudah bisa ditebak, apa efek yang ditimbulkannya dengan momentum ini khususnya di pasar ponsel saat itu, tentu saja ponsel Nokia 6600 meraup porsi besar kue pasar ponsel smartphone saat itu, disaat vendor-vendor lain belum secara resmi meluncurkan ponsel-ponsel sekelasnya.

Lalu apa efek domino selanjutnya? Begini, saat ponsel SX1 diluncurkan beberapa bulan kemudian, dengan bandrol 4,3 juta rupiah per unit. Mau tidak mau berhadapan ponsel Nokia 6600 yang sudah kuat pijakannya di pasar dan sisi pelanggan (top of mind) dengan harga yang sudah beberapa kali turun menjadi 3,6 juta rupiah per unitnya. Disparitas harga yang cukup besar menjadi faktor dominan di pasar domestik terhadap perang produk di pasar disamping kualitas serta faktor-faktor lainnya.

Belajar dari pengalaman tersebut di atas, faktor kecepatan memang merupakan faktor berkontribusi signifikan, namun pada artikel ini menitikberatkan faktor momentum yang juga  penting dalam bisnis. Mempersiapkan produk yang baik dengan melakukan segala sesuatu dengan cepat itu baik, namun itu belum cukup ! Pertanyaan yang muncul : Apakah produk tersebut diluncurkan pada  saat yang tepat ? Di sinilah momentum memainkan perananan penting.

Faktor kecepatan ini harus bersinergi dengan Momentum! Lebih tepatnya bagiamana bisa mengatur kecepatan dengan peka melihat momentum yang tepat. Bahasa sederhananya dengan melihat timing yang tepat. Memang tidak mudah juga tidak sulit  untuk menentukan momentum yang tepat lewat proses pengalaman, kepekaan terhadap momentum itu menjadi terasah.

Momentum itu sendiri merupakan variabel penting yang ikut menentukan :

– Apakah suatu proses harus dipercepat ?
– atau diperlambat ?
– atau sudah tepat waktu ?

Kecepatan itu penting, demikian juga ketepatan waktu (momentum) merupakan faktor strategis yang harus dimiliki dan diasah kemamampuannya oleh pebisnis dari waktu ke waktu.

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.