Tag Archive pandu

Byjmzachariascom

B.J. Habibie, Peletak Dasar Kemajuan Teknologi dan Mengawal Pemerintahan Pasca Gerakan Reformasi

Sewaktu kuliah dulu, tepatnya saat membaca handout materi kuliah kekuatan material, mata sejenak berhenti dan fokus pada suatu formula dengan nama yang tidak asing bagi saya, formula Habibie! Formula yang menghitung perambatan tegangan yang dapat memprediksikan keretakan (crack) pada sebuah material, mungkin inilah sehingga Habibie dikenal sebagai ‘Mr. Crack’. Rasa kagum melihat rumus tersebut yang jadi bukti nyata karya anak bangsa yang diakui dalam literatur ilmu pengetahuan. Nama Habibie (Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie) sudah saya kenal sejak masih di bangku sekolah dulu. Namanya selalu masuk dan menjadi bagian dari anggota kabinet pembangunan selama beberapa periode, yang biasa dicetak dalam poster anggota kabinet pembangunan saat itu. Baru saat memasuki kuliah pada sebuah institut yang dikhususkan pada bidang teknologi, saya mendapat kesempatan mengunjungi dan praktek kerja di beberapa perusahaan yang masuk dalam Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) dimana Menristek Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang juga merangkap sebagai Kepala BPIS selain menjadi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebuah badan yang saat itu gencar menyekolahkan putra-putri terbaik lulusan SMA pada institusi pendidikan bergengsi di mancanegara seperti Eropa dan Amerika Serikat dalam program beasiswa STAID.

Kembali pada beberapa perusahaan BPIS seperti PAL, Pindad, Boma Bisma Indra, Barata, IPTN, Krakatau Steel, INKA dll, makna industri strategis pada singkatan BPIS memang signifikan, apalagi kalau melihat fase Indonesia saat itu yang sedang giat-giatnya membangun. Industri yang menyediakan infrastruktur, berikut teknologi sebagai penggerak mata rantai lainnya dalam menjalankan pembangunan. Pada kunjungan 24 tahun silam, saya mendengar dari insiyur-insinyur perusahaan BPIS selalu menggarisbawahi pada kami, bagaimana strategi untuk melakukan lompatan teknologi dalam mengejar ketertinggalan dari negara maju lainnya, yaitu “Berawal dari akhir dan berakhir di awal.” yang merupakan strategi buah pemikiran Habibie. Kelahiran BPIS ini tidak lepas dari keinginan Presiden Soeharto yang saat itu (1974) memanggil pulang Habibie untuk berkarya membangun bangsa. Habibie mengatakan saat itu, seperti yang diceritakan pada wawancara sebuah program tv nasional, bahwa beliau mengatakan pada Presiden Soeharto saat itu, bahwa dirinya hanya tahu membuat pesawat. Soeharto pun setuju dan mendukung industri dirgantara nasional sambil meminta Habibie untuk mempersiapkan industri strategis lainnya seperti perkapalan, perkeretaapian dsb, yang akhirnya semua itu direalisasikan dan dikoordinir dalam suatu badan yang kita kenal dengan BPIS. Dalam sebuah pertemuan dengan masyarakat di Indonesia di Tokyo (2012), beliau menggarisbawahi inspirasi penguasaaan industri strategis untuk negara maritim seperti Indonesia khususnya pada kapal laut dan kapal terbang saat Habibie mendengarkan pidato Bung Karno saat berkunjung ke Jerman (1955). Tahun 1974, Habibie memulai cikal bakal industri penerbangan dengan tim yang berjumlah 20 orang.


Sumber: Youtube (MNCTV Official)

Menariknya, untuk mengejar ketertinggalan bangsa kita terhadap kemajuan industri negara lain (negara maju seperti Jerman, Belanda, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat dll) sebuah strategi “Berawal dari akhir dan berakhir di awal.” yang dicetuskan B.J. Habibie untuk melakukan lompatan ke teknologi termuktahir seperti langsung fokus pada industri & teknologi pesawat (PT Dirgantara Indonesia-PTDI yg dulu dikenal IPTN, PT Nurtanio) dan kapal laut (PT PAL Indonesia) yang teknologi paling lengkap dan terkini. Setelah itu, menguasai industri di bawahnya dimana penerapan teknologi lebih mudah sehingga lebih cepat untuk melakukan proses reengineering. Strategi ini berjalan dengan baik, industri pesawat terbang kita mampu menciptakan pesawat dengan teknologi terkini pada saat itu fly-by-wire (terkomputerisasi) CN-235, N-250, helicopter dll. Proses untuk menciptakan kendaraan transportasi lain pun contoh mobil dilakukan dalam program mobil nasional Maleo saat itu pun bukan merupakan hal yang sulit. Saat Habibie menjadi Wakil Presiden, beliau tidak boleh merangkap jabatan lain, sehingga harus menyerahkan kepemimpinannya pd BPIS yang telah berkembang menjadi 48.000 karyawan dengan turn-over USD 10 juta. Sayang pada waktu itu, krisis moneter menerpa dan kebijakan IMF sebagai pendonor disaat Indonesia membutuh bantuannya untuk recover pasca krisis moneter. Kebijakan pengetatan IMF tersebut turut mempengaruhi mempengaruhi industri strategis tersebut. Saya jadi teringat satu adegan yang cukup mengharukan di film Habibie & Ainun (2012) yang menggambarkan kesedihannya, saat pemeran Habibie dalam film tersebut kembali mengunjungi IPTN pasca krisis moneter, masuk hangar yang telah berhenti beropreasi, tempat dimana dahulu Habibie menghabiskan waktunya berkarya sebagai sumbangsihnya pada negara dalam bentuk terciptanya pesawat terbang kebanggaan bangsa.

Berbekal pendidikan luar negeri dan pengalaman pada industri dirgantara Jerman, tidak membuat Habibie kehilangan akar kebangsaannya, itu tidak lepas dari pembudayaan. Terminologi pembudayaan ini beberapa kali saya dengar diucapkan beliau. Pembudayaan inilah yang turut membentuknya baik dari nilai kehidupan yang diwariskan oleh ayah, ibu, keluarga besar, proses kehidupan masa kecilnya dan lingkungannya yang membentuk dirinya dari waktu ke waktu. Habibie sendiri berangkat kuliah ke Jerman tanpa beasiswa negara sebagaimana teman-teman Indonesia lainnya yang kuliah di Jerman. Namun dengan perjuangan dan tekad orang tuanya (janji ibunda Habibie, Raden Ayu Toeti Saptomarini semenjak ayahanda Habibie wafat) untuk menyekolahkannya hingga pendidikan tingggi. Hidup di negeri orang mengharuskannya berjuang dengan kiriman uang yang tidak sebesar dan selancar kiriman uang teman-temannya yang mendapatkan beasiswa negara. Tidak menghalanginya untuk menyelesaikan kuliah S3 (Doktoral) dalam usia 28 tahun. Desertasinya yang kemudian melahirkan teori yang dapat digunakan untuk menghitung pengaruh sirip ekor roket sesaat setelah diluncurkan kemudian saat jatuh pada ketinggian terntentu dan masuk pada udara yang makin padat mengalami pemanasan kinetik (kinetic heating) yang menyebabkan pemanasan pada sirip menyebabkan seberapa besar potensi sirip roket retak/patah.
Tekadnya yang kuat setelah berjuang dalam menuntut ilmu di Jerman dengan tantangan yang tidak ringan, dan setelah sukses berkarirpada industri kedirgantaraan Jerman, tidak menyurutkan niatnya untuk kembali kembali dan mengabdi pada Ibu Pertiwi ini merupakan wujud nyata dari pembudayaan dalam hal ini nilai kebangsaan dan keinginan menjadi ‘Mata Air’ sebagaimana yang pernah diajarkan ayahanda Habibie (Alwi Abdul Jalil Habibie). Dalam buku Rudi. Kisah Masa Muda Sang Visioner yang ditulis Gina S. Noer, Habibie menceritakan kembali obrolan dalam perajalanan pulang kereta dari Bonn ke Aachen bersama sahabatnya Lim Keng Kie (teman SMA di Bandung dan saat kuliah di Jerman), katanya saat itu pada sahabatnya “Hör mal zu, wir sind die Aufbau Generation, weisst du was das bedeutet?” yang kira-kira terjemahan dalam bahasa Indonesia “Ingatlah, kita ini adalah generasi pembangunan, tahukah kita akan tanggung jawabnya?”


Sumber: Youtube (Fimela TV-FIMELA Network)

Hal lain yang menarik dari B.J. Habibie selain pengetahuan, keahlian dan pengalamannya pada industri dirgantara saat diserahi tugas oleh Presiden Soeharto untuk mempelopori pengembangan industri tanah air, Habibie melihat konsep negara kepulauan ini bisa ‘dipersatukan’ transportasi dengan pesawat ukuran sedang yang memungkinkan mendarat di banyak tempat pelosok negeri. Dan sampai saat ini, pendekatan pemikiran ini masih relevan, khususnya banyaknya jalur transportasi yang dibuka karena perkembangan ekonomi daerah yang masih bertumpu pada transportasi antar hub (antar pulau dan antar kota, bukan trans/antar benua yang membutuhkan pesawat berukuran besar dan kapasitas besar). Hal ini jugalah (perkembangan ekonomi dan pertumbuhan industri transportasi) pada beberapa tahun terakhir ini, B.J Habibie bersama putranya dan anak bangsa membangun pesawat modern berukuran sedang R80 yang dibuat oleh industri anak bangsa. Dimana pesawat R80 ini dirancang moda transportasi untuk melayani negara kepulauan seperti Indonesia dan regional (negara-negara ASEAN) yang diproyeksikan siap pada tahun 2018.

Kita coba melongok pada masa kecil dan muda Habibie yang tidak mudah terpancing untuk berkelahi atau emosi saat dicemooh, namun keberaniannya dituangkan dalam bentuk kepemimpinan yang dalam kondisi tertentu harus menunjukkan ketegasan didukung pandangan yang komprehensif dalam memutuskan. Habibie sendiri sejak usia sekolah aktif di kepanduan (pramuka). Kepemimpinanannya teruji saat genting pasca tranisisi pemerintahan menuju era reformasi, sebagai pemimpin yang saat itu harus memerintahkan mengganti pucuk pimpinan suatu kesatuan paling lambat sampai matahari terbenam hari itu juga (Buku Detik-Detik Yang Menentukan; Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, penulis B.J. Habibie,).

Saya pernah bertemu muka dua kali dengan beliau, pertama saat Menristek BJ Habibie memberikan kuliah umum. Dan yang kedua saat mantan presiden RI ke 3 ini berada di sebuah mal, beliau dengan sikapnya yang egaliter, menyambut pengunjung lainnya yang menyapa dan bersalaman dengannya. Meski saya tidak mengenal secara langsung dari dekat, namun berkeinginan kuat untuk mengenal lebih dekat dengan sosok Habibie, saya lakukan dengan menggali informasi dan pencerahan pengalaman serta pemikiran tentang Habibie dari berbagai media, baik media cetak, media elektronik, media internet, buku serta film yang berkaitan dengan sosoknya. Puji syukur beliau membuka ruang lebar-lebar dengan sikapnya humanis dan kebapakan untuk memberi pencerahan dan semangat bagi generasi penerus bangsa melalui berbagai kesempatan dan kanal media yang ada.

Sosok Habibie yang secara fisik terpelihara kesegarannya (fit), merupakan anugerah dari Tuhan yang tidak terkira, mengingat mulai dari kecil sampai saat aktif berdinas sebagai abdi negara sosok beliau akrab dengan waktu tidur harian yang relatif pendek (rata-rata 4 jam/hari). Dan dari liputan suatu program tv swasta, setelah pensiun Habibie punya banyak waktu untuk menjaga kondisi fisiknya dengan jalan cepat bahkan bisa sampai 25x mengelilingi sekitar rumahnya jika dikonverikan sekitar 7 km dan saat aktif berdinas Habibie berolahraga renang. Menurut penuturannya pada sesi liputan tv tersebut, Habibie pun tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi gadget berikut aplikasinya seperti memantau kondisi tubuh dengan perangkat wearable di pergelangan tangannya untuk membantu keseharian mamantau dan memanjemen jumlah waktu tidurnya dengan jumlah jam tidur yang cukup.

Habibie dalam beberapa kesaksian orang yang pernah bekerjasama dengannya, merupakan sosok yang kompetitif dan optimis menatap masa depan. Inovasi hadir untuk menjawab tantangan dan optimisnya tentang masa depan. Kalau bicara tentang inovasi, erat kaitannya dengan proses kreatif. Proses kreatif ini tidak saja diperlukan dalam bekerja, namun semestinya menjadi bagian hidup. Proses kreatif ini juga menjadi bagian dari kehidupan Habibie, sebagaimana yang yang diliput suatu stasiun tv swasta pada keseharian Habibie termasuk kesehariannya berkaitan dengan kuliner. Kreatifitasnya terus muncul termasuk termasuk saat di meja makan, inovasi kuliner rempang (rempeyek pisang) bentuk seperti rempeyek kacang namun isinya diganti dengan pisang serta apel goreng seperti pisang goreng dibuatnya sekaligus dengan maksud lainnya untuk membantu industri pertanian dalam negeri meningkatkan komsumsi buah lokal melalui inovasi.

Kecintaannya membaca dan belajar ilmu pengetahuan, membuka cakrawala pemikiran sekaligus wawasannya sejak kecil yang sudah membayangkan bagaimana balon udara sebagai alat tranportasi bekerja, kisah Wright Bersaudara dalam proyek pesawat terbang, yang ikut menjadi bahan bakar visinya untuk menjadi pembuat pesawat terbang suatu hari kelak. Visi itu terus ada dan mengantarnya untuk melanjutkan pendidikan, karir pada industri dirgantara di kemudian hari. Visi tersebut terus tetap eksis berkat kerja keras, sikap optimisnya dan tekad sekuat baja. Bahkan suatu kali seperti yang dikisahkan dalam Buku Rudi. Kisah Muda Sang Visioner ini, saat mahasiswa di Jerman mencari sponsor perusahaan besar Jerman untuk Seminar Pembangunan, Habibie selalu mengatakan “Saya masa depan Indonesia.” saat menjawab pertanyaaan perwakilan perusahaan Jerman saat itu mengenai apa hubungannya peran Habibie (mahasiswa Indonesia di rantau) dengan Pembangunan Indonesia.

Satu hal lagi yang saya kagumi dari sosok B.J. Habibie, yang memberitahukan keputusan dan sikapnya sejak awal bahwa akan menolak pencalonannya kembali sebagai Presiden RI periode berikutnya, apabila pidato pertanggungjawabannya ditolak. Pada saat itu (1999) dalam kondisi yang tidak bebas dari kepentingan dan intrik politik sekaligus tidak stabil pasca turunnya Soeharto, laporan pertanggungan jawab Presiden saat itu tidak diterima, meski kepemimpinannya dalam 517 hari memberi fondasi yang kuat dalam bidang ekonomi, politik, hukum, tata negara dll seperti perundangan UU Kebebasan Pers, UU Anti Monopoli (UU Persaingan Sehat), perubahan UU Partai Politik, UU Otonomi Daerah dll, memberi otonomi sehingga Gubernur Bank Indonesia dan Jaksa Agung otonom dengan berada diluar struktur kabinet, sekaligus suasana stabilitas nasional yang aman kondusif pada masa peralihan untuk masuk ke era reformasi. Habibie menggambarkan situasi saat pertama beliau mengambil tanggung jawab suksesi kepemimpinan pasca gerakan reformasi dengan mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan hal-hal yang tidak menentu pada akibat kerusuhan Mei 1998, krisis moneter dan warisan kebijakan Order Baru dll.

Ada hal lain yang menarik dari sosok Habibie. Jika Anda jeli melihat beberapa wawancara/peliputan tv dengan seting ruangan lapang dengan anak tangga berputar berlatar belakang rak buku yang tertata rapi sekaligus indah. Jelas, bahwa sang pemilik rumah yang memiliki seperti perpusatakan pribadi tersebut merupakan sosok yang cinta buku. Kalau punya kesempatan membaca Buku Rudy. Kisah Masa Muda Sang Visioner, jelas runtutan kecintaannya pada buku sejak kecil. Buku karya Jules Verne novel petualangan dalam bahasa Belanda pun sejak kecil menemaninya saat jam istirahat sekolah di sudut pekarangan sekolah. Saat terbang pertama kalinya menuju Jerman buku tebal dalam berbahasa Belanda De Idioot yang ditulis Fyodor M. Dostoyevsky yang menemaninya, disamping buku lain-lainnya seperti buku ilmu pengetahuan, buku puisi Goethe seperti puisi “Der Erlkönig” dll.

Sosok teknokrat tidak menjadikan Habibie fokus hanya pada ilmu pengetahuan dan teknologi saja, namun membuka diri juga pada seni dengan kegiatannya seperti puisi (membaca dan menulis puisi), menyanyi termasuk pernah menjadi vokalis band waktu SMA dan kuliah (termasuk menyanyi lagu keroncong juga seperti Sepasang Mata Bola, Awan Lembayung dll), mendengarkan musik yang menenangkan (musik klasik, lagu Warsaw Concerto gubahan Richard Addinsell dan masih banyak lagi). Dalam berbagai kesempatan wawacara dan liputan tv, Habibie berpendapat pentingnya sinergi Budaya (Pembudayaan), Agama, penguasana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Tentang pembudayaan ini yang juga berkontribusi akar nasionalisme (cinta tanah air) sekaligus sebagai kata kunci, pembudayaan yang berasal dari orang tua, lingkungan, budaya dsb. Habibie yang lahir dari orang tua dengan berlatar belakang lintas budaya Bugis, Gorontalo, Jawa ini dibesarkan dan tumbuh kembang, termasuk merantau di usia belia ke 13 sampai dewasa di beberapa kota seperti Pare Pare, Makassar, Jakarta, Bandung, Aachen, Hamburg, Muenchen dll membuatnya semakin kaya dalam proses pembudayaan ini, akibat akulturasi dengan budaya di tempat baru, lingkungan dan orang yang budayanya berbeda-beda dan belajar untuk saling menghargai perbedaan sekaligus menerima hal yang baik. Kalau dalam tinjuan manajemen saat ini, bekerja dan bersosialisasi dalam lingkungan yang beraneka ragam, memberi bahan bakar dan daya dorong dalam berkreasi (kreatifitas). Dibesarkan dengan pendidikan agama Islam yang kuat, di lain pihak Habibie remaja bisa berbaur dengan lingkunagan yang agak berbeda seperti saat bersekolah di Sekolah Kristen Dago Bandung maupun saat tinggal di Jerman pada suatu kota yang sebagian besar beragama Katolik.

Ada satu petikan wawancara test pilot IPTN, Kapten. Esther Gayatri Saleh yang juga merupakan test pilot perempuan pertama dan mungkin sampai sekarang masih merupakan satu-satunya test pilot perempuan di Indonesia bahkan Asia. Setelah menyelesaikan sekolah pilot di Amerika Serikat, Esther pulang ke Indonesia dan melamar sebagai pilot. Prosesnya tidak mudah, terlebih saat itu pekerjaan menerbangkan pesawat dalam hal ini pilot dianggap pekerjaan maskulin dan didominasi pilot pria. Sebagaimana yang dituturkannya dalam wawancara sebuah koran nasional, sampai akhirnya Esther memberanikan diri menulis surat pada Menristek B.J. Habibie yang juga menjadi orang nomor satu di IPTN saat itu, tentang keinginannya menjadi pilot. Habibie melihat jauh ke depan bahwa pada profesi tidak ada pemisahan gender, semua mempunyai kesempatan yang sama (gender equality) selama memenuhi syarat dan lulus tes. Gayung bersambut, Esther pun mendapat kesempatan mengikuti prosedur rekrutmen sampai akhirnya dinyatakan lulus dan diterima sebagai test pilot IPTN dan aktif menjalankan tugasnya sejak tahun 1985.

Kembali pada sosok Habibie dengan segala prestasi dan legasinya bagi bangsa, juga merupakan manusia biasa, yang tidak luput dari masa dimana dirinya sempat down dilanda kesedihan yang luar biasa saat wafatnya sang istri dr.(med) Hasri Ainun Besari. Kemudian beliau bangkit dan tekadnya untuk kuat dengan kegiatan menulis segala perasaan dan tentang almarhumah dan cinta mereka dalam sebuah buku yang kemudian difilmkan Habibie & Ainun (2012). Habibie percaya hubungan cintanya dengan Ainun tidak dapat dipisahkan, yang berbeda hanya wujudnya. Pandangan Habibie bahwa manusia terdiri dari hardware (raga/tubuh) dan super intelegence software (jiwa, roh, bathin dan nurani). Super intelligence software ini lah yang terus mengikat hubungan mereka.

Proses dalam kehidupan Habibie yang kalau dianalogi proses metamorfosa , mulai dari remaja, kemudian mahasiswa jenius di Jerman, kemudian mulai menapak karirnya sebagai insinyur sampai jenjang karir eksekutif yang gemilang di perusahaan ternama Jerman. Kemudian pulang ke Indonesia memulai lembaran baru sebagai teknokrat, panggilan tugas memanggil untuk masuk pada tanggung jawab dan ranah yang lebih besar yakni menjadi negarawan sampai paripurna sebagai abdi negara, tidak mengahalanginya untuk tetap berkontribusi sebagai Bapak dan Eyang bagi generasi penerus bangsa ini. Sebuah peran yang lengkap.
Saya belajar dari keteladaan beliau dalam memelihara rasa saling percaya dalam cinta dan kebersamaan dengan saling menerima apa adanya sepanjang masa, selalu ada di hati karena memiliki super intelligence software yang bisa menjadi panutan bagi pasangan generasi penerus dalam membina rumah tangga dengan cinta dan kesetiaan. Habibie menekankan pentingnya Intelectual Compatability dalam membina rumah tangga. Saya belum menangkap penjabaran beliau tentang Intelectual Compatibility ini. Berdasarkan pencarian di internet, penjelasan dari istilah tersebut mungkin secara ringkas dapat dipahami sebagai berikut; merujuk pada harmoni dalam sharing pikiran, ide dan pendapat dalam relesi kehidupan berumah tangga. Nanti kalau punya kesempatan bertemu beliau, hal ini akan saya tanyakan ☺.

Selamat Ulang Tahun Bapak Habibie ke 80 (25 Juni 2016), semoga dilimpahkan kesehatan dan umur panjang serta keberkahan dan senantiasa berkontribusi bagi sesama. Amien.

*image credit: B.J. Habibie

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.