Tag Archive film nasional

Byjmzachariascom

Plaform Industri Film Nasional : Film Bagus dan Strategi Bisnis.

Menarik menyaksikan tontonan film berkualitas [film bagus] karya anak bangsa dan mendapat sambutan luar biasa konsumen. Menyambung kutipan saya pada artikel sebelumnya (review film Rudy Habibie bahwa konsumen (user) dalam hubungannya dengan produk, dalam hal ini penonton dan film, yang tidak hanya baik dari sisi kualitas saja namun juga bagaimana aspek dalam menyentuh sisi user experience-nya. Sederhanannya film bagus dari sisi kualitas baik mulai dari dari kualitas produk (sebagai pencapaian dalam berkarya), yang bersentuhan dengan Quality of Experience dari penonton yang juga dipengaruhi faktor lain yang di luar kualitas film berhubungan dengan kegiatan bisnis. Karena kita berbicara film komersial, tentu tidak lepas dari strategi bisnis selain kualitas dari materi produk, dalam hal ini film. Dalam penulisan berkaitan dengan domain film nasional, pada artikel ini saya menggunakan salah satu film nasional yang pemutaran perdananya sejak 30 Juni lalu (Film Rudy Habibie), kegiatan2x promosinya yang juga saya ikuti dan amati di berbagai temapt dan media.

Topik dari film ini yang masih merupakan kelanjutan dari dua artikel saya sebelumnya namun pada artikel ketiga ini lebih membahas strategi bisnis film nasional dimana dalam beberapa minggu terakhir saya mengikuti kegiatan promosi film Rudy Habibie. Boleh dikatakan ini versi terakhir dari edisi trilogi artikel saya, setelah sebelumnya (pada artikel ke dua) saya menulis tentang review film Rudy Habibie dan berkaitan dengan sosok di film tersebut artikel pertama (profil B.J. Habibie sendiri).
Pada artikel ini akan dibagi menjadi dalam dua bagian utama yang berkaitan I.Situasi dan II. Saran untuk Inovasi [Strategi Bisnis] ke Depan

I. Situasi dan Kondisi
Berkaitan situasi dan kondisi yang berhubungan dengan strategi yang harus diterapkan di lapangan terhitung saat pemutaran perdana film Rudy Habibie mulai 30 Juni 2016, saya meringkasnya dalam beberapa aspek sebagai berikut:

a. Rentang target market: Film Rudy Habibie ini menyasar rentang target market penonton yang lebar (hampir segala kalangan) mulai dari sisi usia (remaja s/d dewasa), jenis kelamin, pekerjaan dan lain sebagainya. Rentang usia target market yang lebar mulai dari remaja sampai dengan dewasa, diisi dengan penempatan pemeran (cast) yang juga merepresentasikan idola dari target market yang dituju termasuk penempatan cast Bastian yang cukup strategis, mencuri perhatian jangkau anak-anak/remaja juga serta lagu Mata Air yang dibawakan CJR, Original Soundtrack Film Rudy Habibie selain OST utama yg dinyanyikan Cakra Khan dan pemeran lain seperti Reza Rahadian, Chelsea Islan, Ernest Prakasa, Pandji, Boris Bokir dll.

b. Momentum. Momentum film Rudy Habibie berdekatan dengan rangkaian acara yang berhubungan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 80 tahun Bapak. B.J. Habibie kemudian disambung dengan lebaran. Kedua event penting ini menarik perhatian media, netizen, menjadi panggung yang strategis dalam mempromosikan film sekaligus mengundang perhatiaan (awareness), dan ketertarikan (interest) untuk menonton film Rudy Habibie.

c. Distribusi. Jika menyasar momentum lebaran, tentu saja mempertimbangkan mobilitas target market yang mayoritas mudik ini menjadi kritikal, karena mobilitas orang mudik lebaran memakan waktu yang tidak sebentar (lebih dari tiga hari). Dengan mobilitas ini, distribusi film menjadi perhatian utama berikut jumlah layar serta frekuensi dan jadwal pemutaran tiap harinya serta penyebaran lokasi bioskop yang mempunyai karakteristik kepadatan jumlah penonton yang bervariasi dari suatu lokasi terhadap lokasi bioskop lainnya.

d. Kompetitor Event lebaran, khususnya mulai dari satu hari setelah lebaran (H+1) menjadi opsi mulai membanjirnya penonton bioskop. Untuk lebaran tahun 2016 ini, ada lima film nasional yang diputar selama lebaran. Lalu bagiamana peta distribusi penonton terhadap lima film nasional tersebut. Akan kah lima film tersebut akan saling ‘bertempur’ dalam memikat target marketnya? Mapping distribusi penonton bisa bermacam-macam dari satu lokasi bioskop ke lokasi lainnya. Bisa dipengaruhi demografi mulai daya beli (alokasi anggaran untuk menonton lebih dari satu kali baik untuk film yang sama atau film yang berbeda), sejauh mana perbedaan materi, set cerita dan genre berikut keberadaan pemeran utama pada masing-masing film. Hal tersebut merupakan parameter yang bisa disusun dalam melakukan pemetaan dari keunggulan komparatif dari lima film nasional tersebut. Dari situ akan lebih mudah untuk melakukan proyeksi distribusi target market pada lima film nasional termasuk mengetahui kompetitor film terdekat berikut penyesuaiannya untuk ‘mengamankan’ agar target jumlah penonton dari hari ke hari agar dapat dicapai. Dalam hal ini kegiatan dan strategi promosi film-film lain (kompetitor) dipandang dalam kaca mata positif sebagai ‘sparing-partner‘ dalam melihat kondisi (pendekatan strategi) baik ke sisi internal dan dari eksternal. Meski film Rudy Habibie tetap bertahan memasuki minggu ke tiga ini (sejak pemutaran perdana Kamis, 30 Juli 2016) dengan respon yang masih positif seperti informasi per tanggal 16 Juli 2016 (s/d hari ke 17 ) . Perhatian saya juga tertuju pada salah satu film nasional lainnya (Koala Kumal) yang pemutaran perdana sehari sebelum lebaran H-1 (Selasa, 5 Juli 2016), namun juga memperlihatkan grafik jumlah penonton yang menakjubkan berdasarkan data per 16 Juli 2016 (s/d hari ke 12 ). *Data tersebut hanya data perbandingan pada tanggal tersebut, jadi bukan data terkini

e. Peran Sosial Media
Di jaman digital, peran media sosial turut memberikan potensi saluran komunikasi sekaligus promosi dan menjalin engagement jauh-jauh hari. Selain melalui channel resmi akun media sosial, keberadaan sosok sentral dibalik layar pun beri kontribusi yang signifikan. Respon positif terhadap salah satu film nasional lainnya seperti Koala Kumal yang saya juga singgung di atas tidak lepas dari kegiatan menjaga komunikasi dengan target market yang kalau saya istilahkan sebagai investasi relasional (dalam marketing dikenal sebagai engagement) yang terbina sejak kesuksesan buku Koala Kumal, terus dijaga lewat kanal media sosial baik lewat twitter maupun Youtube bahkan aktifitas perhatian viewers meningkat saat Raditya Dika mulai men-share potongan suasana proses mulai dari pre-production seperti mencari set untuk lokasi syuting, kemudian masuk sisi di balik layar saat syuting, kemudian dilanjutkan potongan kegiatan post-production bahkan lanjut dengan kontak dengan penonton dan calon target market lewat live streaming youtube. Kebetulan peran penulis novel, sutradara, pemeran utama semua berada pada satu sosok Raditya Dika dan jangan lupa perannya juga sebagai influencer dalam dunia digital khususnya bagi target market usia remaja sangat besar dan strategis! Kombinasi tersebut yang dimanfaatkan dengan baik untuk mendukung film ini yang menyasar hanya fokus target market usia remaja. Bahkan saya yang jelas-jelas bukan target market dari film komedi untuk remaja ini, akhirnya memutuskan menonton film ini, tidak lepas dari pengaruh engagement yang dibangun saat saya melihat vlog Raditya Dika khususnya yang berkaitan dengan pre-production, production sampai post-production dari film ini yang sempat diukur aktivitas dan responya khusus untuk komunikasi #KoalaKumal di twitter. Fenomena sharing kegiatan pre-production suatu film yang akan diproduksi sebagai bagian dari strategi promosi dan mulai terlihat saat Film Keluarga Kartini awal Juli ini sudah mulai share kegiatan pre-production melalui media cetak, sosial media dan lainnya.

Kembali pada Film Rudy Habibie, peran strategis seperti di atas juga dilakukan dengan baik oleh produser Film Rudy Habibie yang cukup menonjol dalam urusan interaksi dengan target market, yakni Manoj Punjabi (produser film Rudy Habibie) yang total ‘turun gunung’ saat meet & greet dan nonton bareng di beberapa kota Indonesia serta sangat aktif dalam mengotimalkan peran kanal digital dalam hal ini media sosial termasuk melalui akun pribadinya yang gencar promosi dan merespon komentar penonton. Bahkan sang produser ini pun juga mulai share kegiatan pre-production film seperti tahap finalisasi skrip dari film berikutnya lainnya di media sosialnya.

II. Saran untuk Inovasi [Strategi Bisnis] ke Depan

1. Inovasi Strategi terhadap Elastisitas Target Market
Dengan target penonton yang rentangnya cukup lebar, selain melihat dari sisi kuantitas segmen usia mana yang paling banyak (proporsi yang paling besar/dominan) untuk kemudian menjadi prioritas dalam strategi promosi. Namun di sisi lain dengan rentang target market yang lebar, memungkinkan untuk penerapan perencananan strategi menjadi lebih dinamis karena terbuka ruang yang cukup elastis dalam penerapan strategi promosi yang adaptif dengan karakteristik target penonton tersebut. Dalam hal ini jika target penonton mulai dari usia remaja sampai dewasa. Penerapan strategi promosi pun tidak melulu terkonsentrasi pada usia remaja saja misalnya hanya dengan konsep Meet & Greet hanya segmen target market remaja saja dengan game, komunikasi dan berselfie dengan para pemeran film dll.

Namun bisa dilakukan untuk target market dewasa dalam bentuk kegiatan Special Meet & Greetnya juga dengan format agak berbeda, seperti bisa dalam bentuk 20 menit talk-show sebelum nonton bareng. Event ini bisa digunakan untuk menggali sejauh mana ekspektasi dan pertayaan sebelum menyaksikan film dan kemudian survey tingkat kepuasan dan komentar setelah menonton dari penonton yang sama (yang sebelum menonton mengungkapkan ekspetasi/pertanyaan). Elastisitas dalam penerapan strategi promosi inilah yang saya maksud.

Dengan target market yang cukup lebar seperti film ini (usia remaja s/d dewasa), kita juga harus lihat karakteristik dari masing-masing target market tersebut. Ambil contoh target market usia muda (remaja) lebih ‘militan’ urusan untuk menonton, dalam artian dengan segala daya upaya untuk menonton film idolanya dan ada keterbatasan dana untuk nonton berulang kali serta kemampuan untuk membiayai penonton-penonton lain. Dan dari penelusuran respon penonton film Rudy Habibie di twitter, saya temukan juga bahwa penonton remaja yang sudah menonton, kemudian merekomendasikan keluarganya untuk menonton film Rudy Habibie ini.
Untuk target market dewasa, biasanya tidak semilitan seperti yang muda. Meski suka dengan idola atau tertarik dengan rekomendasi film, namun kesibukan atau hal lain membuatnya tidak selalu bisa memprioritaskannya untuk menonton (ini yang saya sebut ‘militansi’ yang melekat pada penonton usia remaja/muda). Namun target market dewasa punya power untuk memfasilitasi/membawa sejumlah penonton untuk nonton bareng seperti mulai dari keluarga, organisasi atau perusahan. Ini letak sisi strategisnya dari target market penonton usia dewasa.
Dengan memetakan karakteristik masing-masing target market dengan dilanjutkan dengan kombinasi sekaligus fleksibilitas dalam penerapan strategi di lapangan, sangat mendukung pencapaian target pada akhirnya.

Satu lagi materi film Rudy Habibie ini selain target marketnya di Indonesia, bisa dioptimalkan pada masyarkat Indonesia dan diaspora yang berada (bekerja/sekolah) di luar negeri serta orang asing yang punya keterikatan batin dengan Indonesia dan yang tertarik dengan kisah B.J. Habibie seperti warga Jerman dimana Jerman menjadi tempat Habibie menempuh pendidikan dan bekerja pada industri aviasi sebelum kembali ke Indonesia. Dengan demikian untuk target market yang berada di luar negeri, bisa menggunakan momentum ini untuk mempromosikan dan mengadakan pemutaran film yang terpusat pada satu lokasi strategis di Eropa (untuk menghemat biaya) misal kota di Jerman selama 1-2 minggu, sehingga target market dari kota-kota di Eropa punya kesempatan untuk mengalokasikan waktunya untuk pergi menonton. Film Rudy Habibie pun juga menunjukkan spot-spot lokasi menarik Indonesia, sehingga bisa bekerja sama co-branding Wonderful Indonesia dengan Kementrian Pariwisata, dan badan dan kementrian terkait lainnya seperti Bandan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kementrian Kominfo dan Kementrian Luar Negeri.

2. Pendekatan Konteks.
Pendekataan strategi promosi biasanya lebih fokus pada konten tentang apa (tentang film, What?) dan siapa (sosok peran berikut pemerannya, Who?) yang dikomunikasikan dengan target market. It’s OK. Target market pun bisa beralih dari mulai perhatian terhadap film (Awareness)-> tertarik, mencari tahu lebih banyak (Interest)-> ingin, sudah punya rencara untuk menonton (Desire) -> Bertindak, memesan tiket pre-sale (Action) sehingga keseluruhan tahapan AIDA dilalui. Mission’s accomplished! Namun untuk sekarang itu tidak cukup, kalau ingin sukses yang berkelanjutan di masa mendatang.

Relasi dengan target market yang sudah membeli tiket, tetap harus dipelihara termasuk selepas ‘transaksi’ (selesai menonton). Komunikasi lewat media sosial memungkinkan menjangkau penonton atau pun target market yang ingin dijangkau. Pendekatan target market bisa memanfaatkan fasilitas promosi yang disediakan penyedia media sosial (Advertorial yang disediakan platform media sosial seperti Twitter Ad., Facebook Ad.), yang memungkinkan menjangkau target market dengan lebih tepat berdasarkan profiling seperti usia, lokasi dan perilaku dalam komunikasi media sosial.

Kembali pada pendekatan Konteks yang lebih menekankan pada How-nya . Bagaiamana relasi penonton yang kemudian diharapkan menjadi penonton loyal (pelanggan) untuk tetap terjaga komunikasi (relasinya) dan kalau bisa membantu memberi rekomendasi pada teman-teman lainnya untuk menonton. Untuk itu perlu usaha kreatif di area How-nya; bagaiaman agar penonton tetap enggaged (tetap terjalin hubungannya) bisa dalam bentuk [i]Komunikasi timbal balik (merespon komunikasi penonton di media sosial sehingga komunikasi yang sebelumnya satu arah (one-way communication), menjadi dua arah (two-way communication) , bahkan jadi(multi-way communocation_ yang direspon oleh pengguna-pengguan medsos lainnya), [ii]me-manage dalam bentuk seperti usaha mendokumentasi respon pendapat, rekomendasi, pujian penonton yang bisa bantu dukung promosi film seperti contoh kompilasi respon twit penonton Film Rudy Habibie sekaligus sebagai dokumen (memorabilia) dari sebuah kesuksesan suatu film. Ini bisa beri impact bagus namun dengan syarat harus otentik. Tidak ada rekayasa! Dan tidak itu saja, jika pola komunikasi yang responsif terhadap masukan dari penonton, tidak hanya memperkuat engagement namun penonton bisa menjadi ‘ambassador’ dalam merekomendasi film bagus seperti obrolan ‘sudah nonton belum? bagus lho’.

3. Bundling dan Co-Branding
Saat memontum sedang ramai berkaitan dengan program promosi film. Bisa dikombinasikan dengan turunan produk lainnya. Turunan produk yang sama maksud berkaitan dengan produk yang relevan. Kalau dalam pendekatan strategi promosi biasanya sebagaimana yang kita kenal dengan Cross-Selling sekaligus Co-Branding seperti contoh promosi branding bersama yang telah dilakukan seperti single OST Rudy Habibie Mencari Cinta Sejati yang dinyanyikan Cakra Khan, coffee dan batik, , bersamaan dengan promosi film Rudy Habibie bulan Juli ini dan juga menjadi spot dalam adegan dalam film tersebut seiring dengan komitmen B.J. Habibie dalam membantu produksi dalam negeri. Namun kedepan pendekatan yang saya maksud dengan pendekatan promosi Co-Branding dan penjualan produk turunan yang saling mendukung seperti penjualan tiket film dengan bundling buku kisahnya yang biasanya juga diproduksi begitu juga sebaliknya di tempat pembelian buku bisa sekalian mendapat hadiah undian voucher tiket menonton.

4. Cross Channeling.
Kegiatan/program promosi biasanya baik melalui tv, radio, media sosial, media cetak dll. Namun yang biasa terjadi kegiatan promosi seperti contoh wawancara dengan pemeran (cast), sutradara serta produser di TV disiarkan melalui broadcast TV dan selesai begitu siaran program tv tersebut selesai. Dan untuk beberapa wawancara tv tersebut di-upload di akun Youtube stasiun tv yang bersangkutan seperti contoh-contoh berikut ini. Jika konten wawancara tv tersedia secara online pada akun resmi untuk publik. Strategi cross-channeling dari konten yang tersedia di akun Youtube resmi stasiun tv tersebut, dimana tautannya bisa di-share lewat pesan media sosial. Dengan demikian juga akan terjadi co-branding dari sisi perusahaan film dan stasiun tv. Begitu juga konten yang diupload pada suatu media sosial katakan Youtube yang info kontennya dapat dikomunikasikan lewat media sosial lainnya seperti Twitter/Facebook dll.

5. Loyalty Program
Loyalty program merupakan salah satu cara untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan engagement konsumen. Loyalty program tidak saja menguntungkan konsumen semata, namun melalui loyalty program seperti membership, akan membatu dalam pemetaan (mapping) dan distribusi pola konsumsi produk konsumen. Misal membership card dibuat oleh perusahaan film yang sudah mapan dan terkenal kualitas produksinya, sehingga konsumen berminat mendaftarkan diri. Dengan membership card memungkinkan pemesanan cashless seperti via online untuk tiket pre-sale, termasuk fleksibilitas kerjasama dengan produk lain dalam sisi cross-selling, co-branding serta memungkinkan opsi pembelian tiket (penukaran tiket) dengan poin yang telah dikumpulkan sebelumnya. Opsi pembelian online pun dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan bank menggunakan akun rekening dan layanan pembayaran bank tertentu. Dengan loyalty program seperti membership pengguna bisa menyimpan poin-poin yang didapat dari transaksi sebelumnya dan bisa ditukarkan untuk menyicil membeli tiket pada lebaran selanjutnya (tahun depan) sehingga dengan fasilitas/fitur ini mencicil lewat poin yang dikumpulkan ini memungkinkan konsumen menghemat alokasi anggaran tunai dalam membeli tiket menonton saat lebaran berikutnya serta juga memungkinkan untuk menonoton film nasional bermutu lainnya saat lebaran dengan anggaran yang telah disiapkan jauh-jauh hari dan bisa lebih dari satu kali. Jika konsep loyalty program membership ini diterapkan bersama-sama, memungkinkan penonton yang dulu hanya punya anggaran untuk nonton satu kali saja pada saat lebaran, akan mempunyai kesempatan untuk menonton beberapa film saat lebaran. Sehingga momen film nasional saat lebaran bukan untuk memperebutkan penonoton namun dari jauh hari proses engagement dengan konsumen telah dilakukan untuk menonton lebih banyak lagi film nasional.

6. Mendayagunakan adegan/frasa untuk jadi bagian dari tema program aktifasi.
Beberapa spot adegan tertentu dapat dijadikan petunjuk untuk menjawab sayembara/kuis tertentu yang dapat menarik partisipasi target market. Fungsi sayembara/kuis yang berhubungan dengan petunjuk pada adegan tertentu, bisa membuat penasaran dan dorongan untuk menuntaskan tantangan tertentu. Bicara tentang penasaran, bahkan pada artikel review film Rudi Habibie saya menulis kalau setelah credit nama kru dan pemeran kemudian dilanjutkan adegan pemeran utama berlari-lari dalam beberapa detik. Ternyata ada saja yang respon bertanya dan di beberapa twitter penasaran dengan hal tersebut, apakah kemudian menonton kembali saya tidak tahu namun ada yang kembali menonton untuk hal tersebut. Yang jelas sebagaimana hipotesa awal saya pada artikel review film Rudy Habibie, sebuah film bagus akan meninggalkan sesuatu topik yang jadi misteri yang mendorong untuk menggali info lebih detail dengan menonton kembali, ternyata memang ada juga yang menonton film Rudy Habibie sampai lima kali. Termasuk ada yang membahasnya pada spot adegan tertentu termasuk yang lainnya dari frame bahasan yang biasanya seperti ada yang membahas bagaimana pemeran utama mampu memanage memori dalam mengingat pesanan yang banyak tersebut berikut adegan berkesan lainnya.

7. Optimalisasi
Khusus untuk produk film berkelanjutan seperti trilogi. Optimalisasi yang saya maksudkan sebagai modal, seperti contoh jumlah follower akun media sosial yang sekarang ada untuk dimaanfaatkan lagi (dioptimalisasikan) pada kegiatan promosi untuk film selanjutnya yang masih berhubungan ini. Itu hanya contoh konsepnya, agar modal partisipasi konsumen/target market masih terus dipelihara dan dimanfaatkan secara optimal. Jadi tidak mulai dari nol lagi jumlah followernya untuk film selanjutnya, jika bisa masih dapat dioptimalkan. Atau paling tidak jika harus dibuat akun medsos yang baru untuk kegiatan promosi film, modal follower pada akun film sebelumnya bisa diarahkan untuk ‘transfer’ ke akun medsos film berikutnya.
Hal ini akan lebih mudah jika dikonsep jauh-jauh hari. Ambil contoh saja untuk akun twitter misalnya begitu dari awal sudah tahu/dikonsep film trilogi Contoh Ajaaaa , maka dibuatkan akunnya @ContohAjaaaa misal baru pada bagian nama (alias) bisa ditulis #JudulFilmKe saat film pertama dirilis (jadi kalau judul film pertama CiekSajo nampak penulisannya seperti #CiekSajo @ContohAjaaaa, begitu selanjutnya saat film ke dua dirilis (misal judulnya DuoLah) penulisannya nama alias saja yang diubah namun masih menggunakan akun yang sama @ContohAjaaaa seperti contoh #DuoLah @ContohAjaaaa, begitu juga saat pemutaran film terakhir dari triloginya, untuk judul ke tiga (misal judulnya TigoYa) standar penulisannya masih sama #TigoYa @ContohAjaaaa. Dengan demikian basis follower yang digunakan untuk ke tiga film tersebut sama dan terbuka kemungkinan malah terus bertambah untuk film berikutnya.

Bicara tentang optimalisasi pada strategi promosi di komunikasi media sosial, penggunaan tanda tagar (#) seperti pada twitter, hendaknya sebelum pemutaran film perdana sudah dikomunikasikan dengan baik. Sebelumnya saya sempat untuk twit pertama kali menggunakan tagar #FilmRudyHabibie karena belum ada konfirmasi/penggunaan tagar resmi untuk semua pesan tentang film ini dari akun resmi film ini, khususnya saat setelah peluncurannya. Kemudian baru mulai ramai digunakan tagar #RudyHabibie dan sejak itu untuk komunikasi twitter berhubungan dengan film ini, semua sudah seragam menggunakan tagar tersebut.
Dengan penkonsepan dan penggunaan tagar yang konsisten dari awal, sehingga saat penonton akan mengirim respon sudah bisa langsung menggunakan tanda pagar tersebut. Konsistensi penggunaan tanda pagar (tagar) yang sudah ditentukan, sangatlah bermanfaat membuat segala pesan yang masuk dapat dimonitor dengan lebih terpusat sebagaimana fungsi dari tagar (#) tersebut.

Penutup
Pada akhirnya kesuksesan film dalam arti secara keseluruhan, baik dari sisi mencapai ekspetasi penonton, sisi hiburan sekaligus media untuk mendidik masyarakat harus ditopang pada bisnis modelnya dan strategi bisnis yang menghasilkan manfaat bagi para stake holder-nya mulai dari pekerja seni (pemeran dan kru), produser, pengusaha bioskop di daerah, pemerintah dan pengusaha lainnya yang menjadi mitra bisnis serta entitas lain yang tidak berhubungan secara langsung. Dengan demikian ini akan bermuara pada pertumbuhan dari industri film nasional yang juga memperkokoh perananannya sebagai media seni karya anak bangsa yang mencerdaskan insan dan tunas bangsa. Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? Jayalah Film Nasional.

*image credit: foto JM Zacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.