Kartini Kartini Jaman Digital

Byjmzachariascom

Kartini Kartini Jaman Digital

Tanggal 21 April biasanya dimeriahkan dengan penggunaan kebaya dimana-mana mulai dari anak sekolah, serta tidak terkecuali oleh karyawan pelayanan publik, layanan pelanggan sentra bisnis perusahaan swasta. Perayaan dengan berbagai kegiatan pun banyak dilakukan serta semakin bervariasi mengikuti tren dan juga membahas isu dan tantangan yang berhubungan dengan semangat Kartini dalam horison pandangan masa kini. Sebelum membahas seperti apa spirit Kartini dalam hal ini kerangka emansipasi wanita di letakkan untuk menjawab tantangan jaman, tidak ada salahnya kita menengok poin-poin penting dari Kartini yang bisa ditarik pada sumbu konteks kekinian.

Mungkin ada yang penasaran mengapa saya membahas spirit Kartini (emansipasi wanita) di portal strategi bisnis ini. Ya, tidak jauh dengan modal bisnis dalam hal ini human capital/ People (Sumber Daya Manusiannya, SDM) yang sangat strategis dalam pelaksanaan strategi bisnis. Termasuk saat seorang eksekutif baru (leader) masuk dalam struktur organisasi perusahaan, apa yang dilakukan sebelum menjalankan strategi bisnisnya biasanya dilakukan obvservasi dimulai dari melihat sisi SDM-nya, Proses/Sistem yang berjalan di organisasi kemudian merumuskan strategi. Dalam hal ini yang berhubungan dengan sisi SDM termasuk dalam hal mind set (pola pikir) dalam berkerja, berkomunikasi, berkolaborasi dll yang merupakan dari proses bisnis yang saling terkait. Hal ini tidak terlepas terhadap sejauh mana kesempatan dalam proses pemberdayaan, komunikasi dan proses strategis lainnya tanpa melihat perbeda-bedaan seperti yang berkaitan dengan SARA serta hal lain seperti mendapatkan perlakuaan yang sama tanpa memandang jenis kelamin (gender equality) dll.

R.A. Kartini, Kontribusi dan Konteks Kekinian
Raden Ajeng Kartini hadir pada awal abad 19, tidak hanya dapat dilihat dalam semangat pemberdayaan perempuan semata saat itu, seperti mendidik remaja putri di beranda rumahnya. Namun lebih dari itu, dengan kemampuan berkomunikasi dan literasi dalam bahasa Belanda yang sangat baik. Kartini mampu menembus atmosfir pemikiran dan pergerakan feminisme yang sedang tumbuh di Eropa pada masanya. Kemampuan menjalin hubungan (networking) dengan penulis terkenal di Belanda dimulai dengan perkenalan dan hubungannya yang akrab dengan Marie Ovink-Soer seorang pengarang novel yang produktif dan terkenal di negeri kincir angin tersebut.

Kemudian Kartini berinisiatif menulis surat pada Johanna van Woude yang merupakan pengasuh Majalah De Hollandsche Lelie dan perempuan pertama anggota Masyarakat Sastra Belanda. Permintaan Kartini pada suratnya kepada Johanna van Woude, untuk menerbitkan iklan kecil majalah gaya hidup perempuan di negeri Belanda tersebut yang berbunyi: “Raden Ajeng Kartini, putri Bupati Jepara, … , ingin berkenalan dengan seorang ‘teman pena wanita’untuk saling surat-menyurat. Yang dicari ialah seorang gadis dari Belanda yang berumur sebaya dengannya dan mempunyai banyak perhatian terhadap zaman modern serta perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa,” seperti yang di kutip Sitisoemandari Soeroto dalam Kartini Sebuah Biografi.
Pada tahun 1899 tersebut, dimana pada masa di lingkungannya yang masih terbelenggu dengan kolonialisme, feodalisme yang juga berimbas pada pengekakangan kebebasaan kaum perempuan seperti pingitan (dipingit), tidak punya hak bicara dan kawin atas pilihan orang tua termasuk pada calon suami yang berpoligami sekalipun yang pada saat itu merupakan sesuatu yang lazim.
Kartini pada saat itu berumur 20 tahun (baru sekitar 1 tahun bebas setelah dari 4 tahun jalani pingitan) namun pemikirannya sudah melakukan beberapa lompatan dari pemikiran gadis seusianya pada aspek perubahan-perubahan demokrasi yang sedang berkembang di seluruh Eropa kala itu. Termasuk liberté, égalité, fraternité semangat Revolusi Perancis (kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan) tidak asing bagi Kartini lewat kebiasaannya yang semakin intens membaca dan menulis terutama saat 4 tahun dipingit.

Dari iklan tersebut membuka perkenalannya dengan banyak pihak di Belanda mulai dari Estelle “Stella” Zeehandelaar (aktifis feminis Belanda & anggota Sociaal-Democratische Arbeiders Partij yang disingkat SDAP), Henri Hubertus van Kol (tokoh partai SDAP yang juga anggota Parlemen Belanda), Nellie van Kol Porreij (editor Hollandsche Lelie), Jacques Henrij Abendanon (Direktur Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda), Rosa Manuela Abendanon-Mandri, E.C. Abdendanon, Hendrik de Booy (ajudan Gubernur Jenderal Rooseboom), Hilda Gerarda de Booy-Boissevain, G.K. Anton (guru besar ilmu kenegaraan di Jena, Jerman). (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal 19).

Korespensinya dengan Estelle “Stella” Zeehandelaar pun membuka cakrawala pemikiran yang lebih luas, Kartini mengenal konsep adeldom verplicht, kebangsawanan menanggung kewajiban. Kartini meski keturunan darah biru menemukan perspektif baru dalam penentangannya pada feodalisme dengan konsep adeldom verplicht. Mungkin itu benang merah keberpihakannya pada rakyat seperti membuka sekolah perempuan Jawa (Juni 1903), mengembangkan usaha bisnis rakyat seperti perintisan bisnis ukiran Jepara, pemikirannya dalam tulisan tentang batik serta memperhatikan nasib pengrajin emas dan tenun. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa).

Dalam korespensinya dengan teman-temanya di Belanda seperti pada Stella, Kartini dengan lugas menceritakan perhatiannnya mulai dari tradisi perjodohan, poligami, monopoli manajemen opium oleh pemerintahan kolonial, nasib perempuan Jawa yang tertindas, kebijakan politik kolonial yang merugikan pribumi, pendidikan pada perempuan (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa). Pemikirannya tentang pendidikan pada perempuan tidak saja pada pendidikan dasar sekolah, namun pada prinsip eksistensi perempuan (wanita) dalam rumah tangga. Kartini berpendapat pendidikan pada kaum perempuan juga menyentuh bagaimana perempuan mengatur keuangan dalam rumah tangga sebagai dasar untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih besar lagi, yakni ekonomi masyarakat. Pemikiran Kartini jika dilihat pada konteks di jamannya, merupakan gebrakan terhadap nilai dan kondisi yang dianut pada masa itu. Mungkin dengan paradigma/pandangan yang lazim pada saat itu, pemikiran dan gerakan Kartini dapat dilihat sebagai sesuatu yang radikal ‘menentang kemampanan’ nilai feodal saat itu dimana hal itu juga dirasakan/diterima oleh ayah Kartini, Kartini dan adik2xnya berkaitan dengan respon dan penilaian dari keluarga kaum bangsawan. Tidak itu saja, sekaligus sebagai ancaman pada pemerintah kolonial saaat itu, sebagaimana terbaca saat dibatalkannya keberangkatan Kartini untuk sekolah di Belanda di kemudian hari.

Semangatnya dengan bekal pendidikannya (Sekolah Rendah Eropa, Europeeche Lagere School) untuk menyongsong diterimanya beasiswa bersekolah di negeri Belanda, kandas akibat politik internal pemerintah kolonial Hindia Belanda, yang lewat balasan sang Gubernur Jenderal mempertanyakan apakah putri-putri Bupati Jepara tersebut, hanya akan dididik atau diperkerjakan setelah selesai mengikuti pendidikan. Ayah Kartini pun menarik permohonan beasiswa setelah mengetahui sang Gubernur Jenderal mempertanyakan hal tersebut. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal 82-83). Pada tahun berikutnya, ada harapan lain muncul untuk Kartini melanjutkan sekolahnya di Belanda, saat Henri Hubertus van Kol (anggota perlemen Belanda) datang ke Jepara, setelah mendengar keinginan Kartini dan kemudian memintanya untuk membuat proposal/permohonan studi di Belanda kepada Ratu Belanda lewat perantaraan van Kol. Lewat perjuangan van Kol, Menteri Seberang Lautan Belanda A.W.F Idenburg menyetujui beasiswa Kartini. Namun lagi-lagi harapan Kartini tersebut kembali mendapat tekanan dari politikus penentang Politik Etis dan feodal pribumi. Kandas lagi harapan untuk menuntut ilmu pada salah satu negara di kawasan Eropa tersebut.

Peran Ayah
Peran orang tua dalam tumbuh kembangnya anak adalah strategis, baik dari sisi ayah dan ibu. Namun pada saat nilai kemasyarakatan pada masa Kartini, yang kurang kondusif bagi kaum perempuan dalam hal ini hak kaum perempuan. Peran ayah Kartini menjadi sentral, menunjukkan peran sosok ayah yang progresif dalam memperjuangkan hak perempuan (anak perempuannya). Lihat saja bagaimana Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (ayah Kartini) memfasilitasi Kartini dengan bahan bacaan dari luar negeri, memberi kesempatan berkomunikasi dengan koleganya pejabat-pejabat Hindia Belanda (orang Belanda), berkorespondensi dan melakukan penelitian sosial beberapa tempat di Jepara berikut menuliskan artikel (salah satunya seperti Het Huwelijk bij de Kodja’s tentang upacara perkawinan suku Koja di Jepara yang dimuat dalam Bijdragen tot de Taal-land-en Volkenkunde van Ned-Indie, Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia Tenggara dan Oseania vol. 50 nomor 1 tahun 1898, hal. 695-702), menyudahi tradisi pingitan menginjak tahun ke 4, menyetujui Kartini menjadi guru pada sekolah percobaan yang dibukanya (sekolah perempuan Jawa), memperbolehkan Kartini melanjutkan sekolah di Belanda, serta tidak mendesaknya untuk segera menikah, dan kesemuanya itu merupakan andil sang ayah memberi ruang gerak dan dinamisasi pertumbuhan Kartini beserta adik-adiknya. Bahkan karena sang ayah segan meminta putrinya untuk lekas-lekas menikah sebagaiman tradisi pada saat itu. Hal itu lah yang mengundang cibiran di lingkungan sekitar dan juga mempengaruhi kondisi kesehatan sang ayah (jatuh sakit). Kartini pun mengalah, menikah pada usia 24 tahun dengan Bupati Rembang Djojoadiningrat. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal 60, 106).

J.H. Abendanon (Direktur Departmen Pendidikan, Agama dan Industri Hindia Belanda), mengakui dan menyatakan pada ayah Kartini bahwa baru pertama kali menemui bupati yang terbuka, berpikiran maju, dengan menyekolahkan putri-putrinya. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal 80).

Dalam pelbagai kesempatan Kartini diajak mengikuti perayaan umum seperti perayaan penobatan Ratu Wilhelmina di Semarang, mengikuti acara pentahbisan pendeta John Hubert yang berasal dari Rusia, serta memperebolehkan Kartini melihat kapal Belanda yang awak kapal-nya mayoritas laki-laki, bersandar di Jepara, yang mana kebebasan-kebebasan seperti itumerupakan hal sangat langka bagi kaum perempuan pada saat itu. Lihat saja bagaimana gembiranya Kartini menggambarkan susasana hatinya, saat mendapat kesempatan untuk bisa pergi lagi/keluar dari Jepara seperti ke Semarang bersama adiknya Roekmini dan Kardinah, sebagaimana yang dituliskan dalam suratnya 25 Mei 1899 kepada Estelle “Stella” Zeehandelaar yang disitir Sitisoemnadari Soeroto dalam bukunya , Kartini: Sebuah Biografi: “Sungguh, ini adalah kemenangan kami, kemenangan yang begitu kami dambakan. Adalah hal aneh bagi gadis-gadis sekelas kami muncul di keramaian, orang-orang mulai menggosip dan memperbincangkannya, ‘dunia’ menjadi terheran-heran. Hei bersulanglah untuk kami. Dunia serasa menjadi milik kami“. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal. 44).

Kalau ditarik secara universal peran ayah Kartini dalam memberi keleluasan untuk tumbuh kembangnya putrinya, pada jaman ini kita bisa melihat gambaran yang mirip bagaimana sikap dan perlakuan sayang ayah Malala. Malala Yousafzay remaja putri Pakistan (Peraih Nobel Perdamiaan 2014 menjadi korban serangan Taliban, karena ikut aktif memperjuangkan hak mendapatkan pendidikan yang sama bagi kaum perempuan. Sebagaimana yang diceritakan dalam buku dan film dokumenter I’m Malala. Malala menjawab pada sesi tanya jawab film dokumenter tersebut, jika tidak ada peran serta orang tuanya dalam hal ini sang ayah, maka saat ini dia sudah menggendongkan 2 anak sebagaimana perempuan sebayanya yang berusia belasan tahun yang sudah harus dinikahkan oleh orang tua mereka.
Kita bisa mengikuti benang merah bagaimana seorang ayah memberi kesempatan bagi putrinya ruang gerak anak perempuannya untuk tumbuh, khususnya pada kondisi tradisi masyarakat yang mengekang persamaan hak bagi kaum perempuan, sebagaimana yang diceritakan dalam forum TED di Kanada dalam video dibawah ini. Transkrip interaktifnya dapat diunduh pada pada situs TED

Peran Kakak Laki-Laki
Ada dua sosok-sosok laki-laki yang mendukung dan sekaligus dikagumi Kartini. Salah satunya sudah pasti ayah tercinta, dan yang satunya lagi kakak laki-lakinya Raden Mas Panji Sosrokartono yang akrab dipanggil Kartono. Kartono sosok cerdas, lulusan cum laude Universitas Leiden Belanda yang juga poligot (menguasai banyak bahasa asing), yang memulai karirnya sebagai wartawan perang Perang Dunia I, kemudian menjadi Kepala Penerjemah Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB) yang saat itu berkedudukan di Jenewa Swis ini sebelum kembali ke tanah air untuk berjuang ini, sangat menyayangi adiknya yang mulai gemar membaca buku. Sang kakak pun menjadi pelindung dan teman dalam pingitan yang sunyi. (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal. 61). Kartono membawakan bacaan untuk Kartini yang membuka cakrawala pemikiran adiknya itu untuk mendukung bakat menulis Kartini. Dari bacaan yang dibawakan oleh sang kakak, Kartini melahap pengetahuan, informasi dan isu-isu terhangat mulai dari emansipasi sampai Revolusi Prancis.

Perjuangan Kartini Masa Kini
Perjuangan Kartini pada masanya secara umum dapat disimpulkan sebagai perjuangan melawan streotip yang dibebankan pada perempuan saat itu atas nama feodalisme sekaligus kolonialisme. Maka Kartini bangkit dan berjuang untuk mematahkan streotip tersebut dengan keberaniannya untuk tampil sekaligus dengan gerakan pembaharuannya. Jaman terus berubah, tantangan yang dihadapi Kartini berbeda dengan tantangan yang dihadapi perempuan/wanita masa kini. Namun benang merahnya masih sama, melawan streotip yang dibebankan pada perempuan/wanita. Ambil contoh saat ini, masih ada pandangan [tidak semua] yang memandang perempuan/wanita indentik dengan lemah, penakut, tidak berani untuk bertindak dll. Begini saya beri contoh, jika Anda pernah mendengar/melihat ada demo yang memprotes dan mengirim pesan pada suatu institusi/pejabat/perorangan (laki-laki) bagi yang didemo dengan ‘dihadiahi’ atau ditunjukan [maaf] pakaian dalam wanita sebagai simbol. Tentu Anda bisa menangkap maksud si pendemo sekaligus ini bukti pelecehan yang dikomunikasikan tidak secara verbal melainkan jelas secara visual. Untuk melihat konteks fenomena universal ini sekaligus pemberdayaan bagi perempuan/wanita, mari simak tiga video di bawah ini:


Video Always #LikeAGirl yang berkaitan dengan mind-set.


Video Always #LikeAGirl – tentang bagaimana tantangan sekitar yang membatasi perempuan dan bagaimana seharusnya mereka bersikap.


Video bagaimana sejak kecil partner perempuan (laki-laki) tahu bagaimana memperlakukan perempuan dengan respek.

Dan tentu saja Perjuangan Kartini Masa Kini tidak hanya sebagaimana yang kita lihat dan kita bahas sebelumnya tadi. Dibutuhkan kepedulian, kepekaan untuk merasakan permasalahan dan tantangan baru lainnya di masyarakat, serta keberanian untuk mengemukakan pendapat (asertif) dan bertindak (pro aktif). Pada suatu kesempatan (sharing session) bulan April ini dengan pembicara wanita yang juga pelopor bisnis IT di Indonesia Shinta Dhanuwardoyo yang akrab dikenal Shinta Bubu (CEO & Founder Bubu), saya menanyakan apakah masih ada isu tentang gender equality yang dihadapinya sampai saat ini. Mengapa saya menanyakan hal itu, karena pada beberapa tahun silam sekitar tahun 90an di awal kebangkitan Teknologi Infomrasi (IT) dimana pelaku industri IT saat itu laki-laki sehingga bila ada CEO IT wanita mereka tidak percaya/kaget, sedikit meragukannya hal ini juga seperti yang dialami CEO Wanita Ping Fu saat itu (CEO Geomagic) yang diceritakan pada bukunya ‘Bend, Not Break: A Life in Two Worlds‘. Hal yang sama pernah dialami Shinta Bubu, namun pada awal-awal saja, selanjutnya perkembangannya yang cukup menggembirakan. Mengingat di beberapa negara lain kepemimpinan wanita (kesempatannya) di bisnis belum menunjukkan prospek yang cerah. Kita berbangga dengan capaian tersebut, namun terus berjuang, peduli dan peka pada ‘ketimpangan’, permasalahan baru yang terjadi. Omong-omong, saya baru mendapat data persentase enteprener wanita Indonesia dan ini bisa menjadi tantangan kita bersama, sebagaiamana yang dirilis
World Economic Forum seperti pada data grafis berikut ini:

geLq8IGVVbyvxwkN6ZL8L6xv6K1J3LqpDT1oibs_6KE

Tantangan tidak lepas dari hidup, namun ada jalan. Bank Dunia pun melalui Presiden Bank Dunia bulan April ini baru saja meluncurkan dana bantuan pendidikan bagi perempuan. Ini merupakan salah satu cara untuk memberdayakan perempuan.

Penutup
Emansipasiwanita tidak saja domain wanita, namun butuh peran serta pria entah itu sebagai mitra kerja, teman sekolah/kuliah, ayah/calon ayah atau suami/calon suami, yang berhubungan dengan perempuan/wanita. Kalau dulu jaman Kartini berjuang menghadapi tantangan pada masanya masing-masing, berjuaag melawan streotip pada masanya, Anda para wanita … juga menjadi Kartini Kartini Jaman Digital yang mempunyai peran yang tidak kalah strategisnya. Dulu Kartini maju didukung oleh Kartono sang kakak tercinta, maka pemuda kaum pria saat ini juga bisa menjadi Kartono Kartono Jaman Digital yang berbagi peran dalam kolaborasi bersama Kartini Kartini Jaman Digital.

Selamat Hari Kartini. Happy Kartini’s 137th Birthday

-End-

*Catatan Pinggir:
Kartini tidak saja dengan kemampuan pemikiran yang progresif, kritis dan lugas dalam menyingkapi ketidakadilan/persamaan hak dalam konteks emansipasi, lewat tulisannya yang dikumpulkan dari surat korespondesi dengan Rosa Abendanon dan Stella seperti yang bisa di baca pada buku Door Duisternis Tot Licht, yang dalan bahasa Indonesia terbitan edisi Armyn Pane (Penerbit Balai Pustaka) dan penerbit lainnya, Penerbit Narasi, terlihat bakat yang besar dalam literasi dari seorang Kartini, kalimatnya tidak saja indah, lugas serta sarat makna. Tidak heran Kartini juga ingin menjadi penulis yang diperhitungkan dalam dunia sastra sebagaimana yang diceritakan Kartini dalam surat pada Stella 11 Oktober 1901 (sumber : Buku Gelap Terang Hidup Kartini, Seri buku Tempo: Perempuan-Perempuan Perkasa, hal. 48). Selain itu, Kartini sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya diawal tulisan ini, kehidupan, talenta, kiprah dan kontribusi Kartini secara ringkas juga dapat dilihat lewat video (Trailler Documentary of KARTINI “Inspiring Woman” by Stefanus Andhika ) berikut:

*image credit: Google doodles kartini day 2016

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply