[ Product Review ] Film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)

Byjmzachariascom

[ Product Review ] Film Rudy Habibie (Habibie & Ainun 2)

Saya berkesempatan menonton pemutaran perdana film Rudy Habibie. Menulis review film ini bukannya tanpa alasan, selain satu minggu sebelumnya saya menulis artikel tentang Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie serta kali ini berkaitan dengan film Rudy Habibie ini saya menulisnya dalam bingkai film review sebagai product review sehingga bisa hadir pada portal ini. Review film pada alenia berikutnya tidak membahas cerita dengan maksud menghindari spoiler, namun lebih pada unsur-unsur , teknik bagian-bagian dari film yg membuat cerita terinspirasi dari kisah (inspired by true story) ini menjadi hidup dan layak ditonton. Dan review ini dibuat dari sudut pandang pribadi sebagai penonton sebagaimana layaknya user dalam hubungannya dengan produk dalam hal ini film, yang tidak hanya baik dari sisi kualitas saja namun juga bagiamana aspek dalam menyentuh sisi user experience-nya.

Adegan dibuka langsung menaikan tensi ketegangan. Surprise! Seru! Menarik penonton untuk langsung fokus sejak menit pertama dan digarap dengan bagus diluar dugaan saya dan saya tidak bisa mengatakan pada setting apa adegan tersebut. Pengalaman saya (menyaksikan adegan pertama pembuka film) yang surprise ini mirip dengan pengalaman membaca buku The Astronout Wives Club kisah istri astonot yang juga pilot pesawat tempur, tensi ketegangan bahkan sudah muncul di halaman 1. Ini bukan hanya bicara tentang menaruh adegan menegangkan sebagai pembuka, namun yang lebih penting untuk dilihat bagaimana menggarapnya sekaligus mengkontruksikan alur naik turunnya emosi, ketegangan dll secara keseluruhan. Itu yang menarik dari film Rudy Habibie ini.

Kekuatan dari dari film Rudy Habibie ini, tidak terpaku pada kekuatan dialog saja, namun berpadu dengan ekspresi tanpa dialog yang didukung dengan rentetan adegan sebelumnya serta setting lokasi dan musik. Musik mengisi rongga saat suasana terbangun baik melalaui dialog, ekspresi dipadu dengan sudut pengambilan gambar yang bergerak dinamis yang memperkuat dari pesan yang ingin disampaikan pada penonton. Visual penonton dimanjakan komposisi set yang ada, juga tata gerak (koreografi) serta dengan fashion yang digunakan para pemeran dan yang menarik perhatian saya fashion mode eropa dari Illona, saya sampai mencatat kombinasi warna baret, syal, mantel dan blus untuk beberapa adegan. Selain setting lokasi, komposisi dan sudut pengambilan gambar, sisi properti pun mampu membawa suasana ke masa lampau dengan setting di Jerman. Keren! Apalagi saya baru tahu kemudian ada beberapa setting lokasi Jerman yang dibuat di Yogyakarta, Indonesia.
Film ini digarap detail sejak menit pertama dan berkesinambungan sampai pada menit terakhir. Mengapa saya katakan detail dan berkesinambungan, teknik kamera dalam mengambil fokus spot obyek khusus seperti kitab suci Al Qur’an, apel yang sudah digigit sedikit dll ini menjadi asosiasi sekaligus jembatan yang menghubungkan dengan adegan sebelumnya/berikutnya. Iya, tadi saya katakan obyek tersebut sebagai asosiasi karena penggambarannya visual tanpa dukungan dialog verbal namun mudah ‘nancep’ di benak penonton untuk menyambung (sebagai jembatan) untuk menjaga alur kesatuan pesan dari beberapa adegan lainnya. Saya sempat mengingat frekuensi spot khusus pada obyek buku dan Al Qur’an, apel yang sudah digigit sedikit masing-masing dua kali dalam waktu berbeda-beda. Bersumber dari cerita masa kecil dan masa muda Habibie yang ditulis pada buku Rudy Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner, membuat film ini harus mampu untuk membawa keseruan dan pesan dari buku itu dalam sebuah panggung audi visual besar namun dengan kendala waktu. Alur cerita dibagi adegan-adegan yang berkorelasi meski tidak harus pada runtutan adegean yang berurutan. Di sisi inilah penulisan skenario ditulis dengan detail untuk menciptakan benang merah hubungan antar adegan yang tidak berurutan tersebut, seperti dua adegan pertemuan Rudy dengan Romo Mangun, beberapa adegan berkaitan dengan kopi serta batik yang ditampilkan secara smooth.
Teknik spot visual pada obyek khusus dan beberapa tokoh peran yang menemani alur cerita tidak bisa seratus persen dituangkan semua, namun kemunculannya pada adegan memberi tanda (marking) pada keseluruhan cerita dan sudah cukup membantu untuk mendapat konstruksi kisah dengan proporsional. Kalau mau mendapat gambaran secara lebih utuh, membaca buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner menjadi opsi selanjutnya.

Kekuatan dialog pun terpancar dari pemilihan frasa kata dan ritme pengucapannya dalam beberapa kalimat yang bisa menjadi inspirasi, renungan yang sekaligus bisa mengaduk-aduk emosi baik sedih, gembira, kocak, takut, tegang, berpikir keras – semua jadi satu membantu peralihan dari satu adegan tegang, kocak, kemudian mejadi tegang dengan pola yang bervariasi. Menarik sekaligus membuat mengikuti film berdurasi 142 menit tanpa ada perasaan bosan. Perasaan semua campur aduk dalam suatu frame waktu tertentu, kalau diibaratkan seperti naik roller coaster seru semua jadi satu!
Bicara pada kekuatan dialog tidak lepas juga, ungkapan dan frasa spontan yang menjadi penanda kekuatan di masing-masing karakter. Sebagaimana film biasanya, setiap peran mempunyai karakternya masing-masing dan sudah pasti berbeda atau unik. Menariknya yang mendapat perhatian saya, ada satu peran dengan karakter yang lucu, namun pada adegan lainnya karakter tersebut bisa menjadi sangat serius dalam setting konflik. Ini menarik, dalam arti dinamika perubahan pembawaannya ada namun tidak sampai merusak potret karakternya.

Perpindahan adegan dengan setting lokasi yang berbeda-beda (setting lokasi saat masa kecil di Pare-Pare, Gorontalo, Bandung dan masa kuliah saat di Jerman), dilakukan smooth sehingga meski dalam waktu cepat penonton bisa dibawa terbang kembali melalui ‘terowongan waktu’menuju setting antar waktu tersebut, namun tidak memutuskan konteks cerita dari adegan utama pada waktu tersebut. Penonton dibawa ke adegan pada setting waktu lain untuk memperkuat pesan yang ingin diberikan pada adegan utama tertentu. Pada film ini selain seperti yang saya katakana sebelumnya disusun detail juga cermat dalam melihat pada adegan-adegan mana, penguatan frasa tertentu yang menjadi ispirasi utama dari kisah ini. Ilustrasi musik film ini bak layer/lapisan lembut namun kuat bingkai suasana happy, tegang, sedih dll.

Setting lokasi dan adegan pada film ini sungguh komplit mulai dari yang berbubungan dengan alam desa, perang, nilai dan suasana kekeluargaan dan sosial kemasyarakatan, serta pemandangan alam di negeri yang jauh, Jerman lengkap dengan geografisnya yang sangat berbeda (sub-tropis, salju), sosial kemasyarakatan, profesional kerja, perjuangan terhadap tantangan , kehidupan pendidikan, romantika, pergerakan pelajar di Eropa berikut kebhinekaan dalam bingkai nasionaliems sampai pada persinggungan toleransi bergama dalam konteks hormat menghormati dalam menjalankan ibadah. Berikut trailer Film Rudy Habibie (sumber: MD Pictures)


trailer Film Rudy Habibie (sumber: MD Pictures via youtube.com)

Kebetulan sebelum menonton film Rudy Habibie, saya sudah membaca buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner juga sehingga saya tahu betul frame-frame utama yang menjadi platform cerita ini. Biasanya untuk film-film yang diangkat dari buku/novel,muncul keraguan akan kemungkinan cerita diangkat ke layar lebar gagal untuk menyamai kesuksesan (ekspetasi) pembaca buku/novel edisi cetaknya. Keraguan itu wajar karena keterbatasan waktu dan ruang dalam memfasilitasi semua stake holder (pemangku kepentingan) dalam memproduksi film. Khusus untuk Film Rudy Habibie berbeda dan unik. Fenomena membandingkan film dengan buku/novel yang menjadi sumber cerita, tidak berlaku dalam Film Rudy Habibie dan Buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner. Mengapa? Karena film Rudi Habibie dan buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner sama-sama punya keunggulannya masing-masing. Ke dua entitas ini (film dan buku) bisa saling melengkapi (komplementer). Itu relasi yang paling tepat menggambarkan film Rudy Habibie dan buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner.
Sehingga dalam kondisi apapun ke dua hasil karya ini bisa dinikmati, baik sebagai karya yang berdiri sendiri maupun sebagai karya yang saling komplementer dan dapat dinikmati dengan urutan proses berbeda-beda. Bisa membaca versi bukunya dulu, baru menonton filmnya atau kebalikannya. Dengan demikian bagi yang belum membaca buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner, bisa langsung nonton film Rudy Habibie. Kemudian kalau ada hal yang ingin diketahui lebih jauh bisa membaca buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner. Bagi yang sudah baca buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner, jika nonton film Habibie akan mendapat sesuatu yang baru dari kisah Rudy Habibie tersebut. Bahkan kalau belum ketemu, bisa kembali membaca bukunya atau menonton kembali filmnya. Itu yang saya sebut saling melengkapi (komplementer). Satu hal lain yang perlu digarisbawahi film Rudy Habibie ini merupakan ‘inspiredby true story’ dan buku Rudy-Kisah Masa Muda Sang Visioner based on true story. Lepas dari itu, salah satu indikator lain dari kesuksesan film, setelah selesai menonton masih meninggalkan rasa ingin tahu tentang suatu hal dari film itu dan itu bisa mendorong adanya diskusi atau percakapan yang nantinya menjadi Word-of-Mouth dan bila medianya internet sperti lewat blog dan media sosial membuat pembahasan berkaitan film ini menjadi viral.

Film Rudy Habibie ini kaya dan berdimensi luas, menceritakan kisah dengan inpirasinya. Tidak itu saja, film Rudy Habibie ini juga memberi nilai pelajaran sekaligus pengalaman yang bagi generasi muda. Satu lagi, untuk setiap film yang keren dan memberi kesan mendalam, saya selalu ingat pada adegan tertentu yang jadi ikon/signature dari film itu di benak saya seperti salah satunya adegan di stasiun itu.
Begitu film berakhir, khusus untuk karya film yang bagus, saya selalu duduk dan melihat siapa-siapa pendukung film sampai akhir sekaligus sebagai wujud apresiasi atas peran mereka (kru film). Di saat penonton sudah banyak meninggalkan theater, menariknya, setelah itu ada adegan pemeran utama berlari (durasi sekitar 60-90 detik), kontan ada 2 orang penonton bioskop yang sedang menuruni anak tangga theater berhenti di sebelah tepat dimana saya masih duduk! Jadi waktu itu tinggal 3 orang penonton yang masih setia mengamati apa yang ditampilkan setelah nama kru pendukung ditampilkan. Rupanya ada kejutan sedikit info tentang rencana ke depan. Seperti apa? Makanya nonton sampai habis ya 🙂

*image credit: foto saat menunggu sebelum masuk menonton Film Rudy Habibie

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional, nasional  serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply