StartUp dan Revolusi Industri Digital

Byjmzachariascom

StartUp dan Revolusi Industri Digital

Perubahan, kata yang pada artikel saya terakhir ( Perubahan, Adaptasi dan Action di era Sharing Economy ) saya gunakan sebagai kata kunci dari hingar bingarnya lanskap industri digital termasuk di Indonesia. Bahkan pada dua hari belakangan ini, saya mengukuti beberapa sharing session yang diisi oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya dan tentu beri pencerahan juga menyinggung tentang perubahan, perubahan pada lansekap bisnis akhir-akhir ini yang berkaitan dengan teknologi digital.
Tidak terpikir sebelumnya untuk kemudian muncul ide untuk mengelaborasi poin-poin pencerahan tersebut dalam artikel ini. Namun, karena setelah saya berpikir poin-poin penting empat tokoh tersebut meski dari sharing session yang berbeda, namun masih mempunyai benang merah yang sama dan dapat dielaborasi menjadi informasi yang bermanfaat. Tugas saya di sini hanyalah membuat aliran pemikiran dari empat tokoh di atas, dengan gaya bahasa bercerita disertai juga sedikit tambahan bahasan saya agar dapat menyambung simpul-simpul pemikiran ke empat tokoh tersebut agar rekaman pemikiran dalam artikel ini mengalir smooth dibaca, sebagaimana yang biasa saya lakukan dalam meringkas pemikiran pencerahan dari berbagai sharing session dalam bentuk artikel kompilasi sharing session tersebut.

2016-04-08_11.38.08


Perubahan
Handry Satriago (CEO General Electic Indonesia) membuka sesi Kuliah Umum Paramadina Graduate School (Kamis malam, 7 April 2016) dengan pemaparan tentang revolusi yang terjadi dunia bisnis. Paradigma bisnis pun berubah, seperti paradigma yang umum sebelum tahun 2000 seperti ‘don’t touch anything you can’t control‘ berubah drastis menjadi bisnis yang berubah cepat dengan ketidakpastian tinggi/tidak terkontrol (almost can’t be controlled). Parameternya salah satunya dapat dilihat The Fortune 500 (500 perusahaan rangking atas) dimana perusahaan digital Alphabet, Amazon, Apple dll secara signifikan ada pada The Fortune 500 saat ini jika dibandingkan dengan kurun waktu dekade silam.
Bicara the Fortune 500 ini, saya jadi ingat pemuda belasan tahun William ‘Bill’ Gates yang mengatakan dengan yakin pada teman sekolahnya (SMA) Paul Allen saat itu, bahwa dia yakin akan buat perusahaan kelak, yang akan masuk ke Fortune 500, sambil menunjukkan majalah langganan orang tuanya yang berisi daftar Fortune 500 kala itu (sumber: Buku Otobografi Paul Allen, Idea Man). Dan pada akhirnya beberapa tahun berlalu, tercapai sudah tekad dan salah satu cita-cita Bill Gates membawa startup nya Microsoft bersama cofounder Paul Allendan, Microsoft masuk Fortune 500.

Kembali pada pemaparan Handry Satriago, perubahan itu sudah terjadi sejak sebelum reveolusi industri sekalipun, dimana saat tenaga manusia digantikan dengan kendaraan dengan tenaga hewan dalam hal ini kuda. Perubahan ini membawa konsekuensi mengeliminasi tenaga non-skil (unskilled labor). Disusul perubahan paradigma saat revolusi industri Hendry Ford mendorong produksi massal sebagaimana yang kita kenal sebagai cikal bakal industri manufaktur saat ini, sampai terakhir era digital yang menawarkan efisiensi pada semua aspek termasuk model bisnis baru. Dan menurut saya, perubahan dengan adanya bisnis yang didorong dengan digitalisasi, membuat peran industri manufaktur yang dulu menjadi sentra dalam pengadaan produk, mulai mencari keseimbangan baru dengan hadirnya model bisnis kustomisasi produk, salah satu contoh dengan 3D Printing dengan 3D Printer yang terjangkau dengan kemampuan teknologi dalam presisi, ketersedian bahan sampai pada kekuatan bahan (saya coba tampilkan seperti apa penerapannya dalam demo Portable 3D Printing di bawah ini). Bahkan Handry Satriago menambahkan bahwa industri manufaktur juga sekarang giat dalam 3D Printing ini, salah satunya ambisi salah satu pabrikan ford untuk mencetak bodi mobil dengan teknologi 3D Printing.

Perubahan arah dan paradigma bisnis, menurut Handry Satriargo harus diikuti pada perubahan (penyesuaian) pada sisi leadership (manajemen kepemimpinan) dalam hal ini kepemipinan dalam organisasi, dimana perusahaan bisnis merupakan entitas organisasi. Handry Satriago menekankan aspek fleksibilitas dan adatif pada kepemimpinan dan manajemen organisasi termasuk struktur organisasi, merupakan kunci dalam menghadapi perubahan.
Shinta Dhanuwardoyo (CEO & founder bubu) pada lain kesempatan, sharing session CMOChat Binus Business School (Rabu, 6 April 2016), juga menyinggung bahwa pada perubahan yang begitu cepat, bahkan ada startup yang struktur organisasinya bersifat dinamis (dimaksudkan agar fleksibel mencari bentuk dan juga dalam menghadapi perubahan). Pembahasan di atas, singkatnya perubahan dalam lanskap bisnis, juga mempengaruhi perubahan pada aspek lain.


StartUp & Ketidakpastian
Kalau mengambil terminologi dari penggagas metoda Lean Startup, Eric Ries suatu perusahaan/organisasi yang masuk dalam klasifikasi startup jika perjalanan perusahaanya masih dalam tahap serba ketidakpastian. Startup ini bermula dan banyak bermunculan setelah itu berkat platform era digital komputerisasi/perangkat elektronik dan mendapat dorongan daya ungkit yang luar biasa saat era Internet. Saya coba merunut kembali pada sejarahnya, dimana perusahaan berbasis digital yang besar saat ini, awal mulanya juga meruapakan startup yang besar seperti contohnya dimulai dari generasi 1st wave duo Steve Jobs & Steve Wozniak (perangkat komputer Apple) , Bill Gates & Paul Allen (aplikasi perangkat lunak Microsoft), juga Andy Grove, Robert Noyce dan Gordon Moore (komponen prosesor Intel) generasi revolusioner personal computer). Generasi 2nd Wave ini pada tahun 1990-an yang didominasi kalangan Silicon Valey dirintis sejak tahun 50an, saat itu (tahun 1990an) Jerry Yang & David Filo (Yahoo, Search Egine), Evan Williams (pencipta Blog, Blogger.com sebelum diakusisi Google menjadi Blogspot dan juga cofounder microblog Twitter), Sergey Brin & Larry Page (Google, Search Engine), Jeff Bezos (Amazon, ecommerce) dll. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai penyempurnaan dalam layanan yang sejenis maupun inovasi layanan serta model bisnis baru seperti munculnya jasa pembayaran online Pay Pal yang didirikan oleh 9 pendekar yg dikenal dgn ‘Paypal Mafia‘ yang setelah dibeli eBay alumninya menyebar dengan inovasi baru mereka lainnya seperti Ellon Musk (Tesla, SpaceX & Solar Cell?, Reid Hofman (LinkedIN, Venture Capital/VC), Jawed Karim (Youtube sebelum diakusisi Google) Pieter Thiel (VC/investor yg jg sbg pemodal FaceBook); inovasi layanan lain seperti Facebook (media sosial, Mark Zuckerberg), Jan Koum (WhatsApp, ), serta inovasi lainnya (crowdsourching berupa layanan sharing penginapan (AirBnB) & transportasi (Uber) yang sedang marak di sharing economy ini), SalesForce (layanan cloud) dan masih banyak lagi. (Sumber Artikel JM Zacharias Spirit Entrepreneur-StartUp dan Inovasi di Jaman Digital.


Bagaimana StartUp Indonesia Memandang Dirinya Sendiri
Sebelum kita bicara lebih jauh startup dengan pemangku kepentingan/stake holder lainnya. Ada baiknya kita menilik bagaimana startup Indonesia memandang dirinya sendiri. Dalam hal ini saya tidak mencoba mengeneralisasikan, namun menilik pada salah satu startup yang sedang naik daun dan saya pernah mengikuti sharing session CEO dan founder Tokopedia William Tanuwijaya pada CMOChat Binus Business School. Menarik melihat pemaparan William Tanuwijaya dalam memandang Tokopedia sebagai perusahaan internet (berbasis internet) bukan ecommerce! William Tanuwijaya memposisikan Internet sebagai platform bisnis Tokopedia. Saya mencoba menarik pandangan tersebut dengan kondisi Tokopedia saat ini dalam bentuk eCommerce, dan menurut saya berdasarkan pandangan sang CEO Tokopedia di atas, bisa saja dalam perkembangannya ke depan dalam bentuk/bidang lain selain ecommerce. Who knows?
Saya sangat setuju dengan pandangan tersebut, meski saat ini eCommerce, market place, media sosial sedang booming, namun kita jangan terjebak dari silaunya (gemerlapnya) layanan tersebut. Artinya saat ini atau ke depan jangan jadi Me Too atau bagian copy cat dari layanan booming itu saat ini. Kita perlu menggali peran Internet sebagi platform yang memberi daya ungkit bagi produktifitas, bisnis, pemberdayaan. Seperti saat ini, saya menulis draft artikel ini dengan ponsel saya yg terhubung internet di tengah macet lalu-lintas jam pulang kantor sekitar Slipi menuju Sudirman Jakarta.


Funding dan Pitching
Peran dan proses tumbuh kembangnya startup bukan menjadi perhatian entrepreneur saja, namun pemangku kepentingan lainnya seperti pemberi pinjaman (venture capital) serta juga pemerintah baik dari sisi insentif kebijakan maupun mendorong tumbuh kembangnya startup menjadi pilar eknomi bangsa, dalam hal ini dalam perannya sebagai penyedia lapangan kerja dan pada akhirnya kesuksesannya juga dalam bentuk partispasinya dalam menjadi pembayar pajak yang potensial.

Sandiaga Uno memaparkan pada session sharing CMOChat Bisnus Business School (Rabu, 6 April 2016) bahwa di kalangan pengusaha nasional pun menaruh perhatin UMKM dalam bentuk startup digital ini apalagi potensi digital di tanah air potensinya besar sekali (huge!). Pada kesempatan itu saya sempat menanyakan langsung pada Sandiaga Uno berkaitan banyaknya funding yang masuk dari venture capital luar negeri dan dalam negeri hanya mengarah pada startup sektor yang booming saat ini seperti e-commerce & layanan transportas berbasis aplikasi, yang semuanya terkonsentrasi di Pulau Jawa dalam hal ini sebagian besar di Ibukota Jakarta, bagaimana roadmap dari venture capital dalam negeri untuk membantu pemberdayaan startup di luar Jawa dengan menggali karekteritik dari keunggulan sosio dan demografinya. Sandiaga Uno pun menjawab meski belum banyak venture capital dalam negeri yang juga memfokuskan (memprioritaskan) pemberdayaan startup yang lebih merata meliputi kota-kota di Indonesia, namun sudah ada funding yang menyasar daerah-daerah tertentu di luar pulau Jawa.

Shinta Dhanuwardoyo yang juga punya pengalaman dalam peran venture capital, juga keliling Indonesia untuk melakukan mentorship (pembimbingan) bagi entrepreneur dan calon entreprenuer serta aktif dalam memberi funding dan juga sebagai jembatan komunikasi dan inisiasi dengan beberapa program inisiatif funding dengan luar negari. Ada beberapa perhatian yang penting bagi startup seperti dalam proses pitching pada angel investor (VC), Shinta Dhanuwardoyo menekankan founder startup tidak saja harus memaparkan strong product, namun juga strong team termasuk di dalamnya strong passsion dan juga being authentic, berikut siapa dan bagaimana profil partner founder seperti Chief Technology Officer, yang memegang peranan penting dibalik layar infrastruktur dan operasional bisnis digital. Pada kesempatan yang sama Sandiaga Uno menambahkan baginya setelah memperhatikan produk, model bisnis, strategi monetization-nya, mengevaluasi bagaimana startup tersebut dapat menunjukkan dampak posisitf (impact) dari bisnis mereka, itu sangat kritikal sebagai faktor dalam penentuan startup mendapatkan funding. Saya sertakan contoh video pitching di Inggris (contoh produk inovatif waterbuoy) yang dikemas dalam program tv Dragon’s Den BBC.

Salah contoh pitching di Inggris yang dikemas dalam program tv Dragon’s Den BBC.


Problema Entrepreneur
Selama pada tahap startup ketidakpastian dalam hal ini masalah menjadi bagian dari perjalanan dari startup, Sandiaga Uno mencatat ada tiga permasalahan yag kerap dihadapi startup [1]. Akses ke market. [2]. Akses ke Funding seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dll. dan [3]. Akses pengembangan SDM seperti pelatihan dll.

Setelah membahas startup, entreprenuership (beserta stake holder lainnya) dan revolusi digital, pada akhirnya yang utama adalah man behind the gun. Faktor manusianya, kesiapan sumber daya manusianya. Saya mencatat pada sharing session tersebut (CMOChat Bisnus Business School, Rabu, 6 April 2016) ada penanya yang juga memaparkan bahwa institusi pendidikan juga telah melakukan pendidikan entrepreneurship, namun begitu lulus lulusan tersebut diterima di perusahaan besar, spirit untuk memulai entrepreneurship nya pun sirna. Shinta Dhanuwardoyo menjawab berdasarkan pengalamannya bahwa pelatihan entrepreneurship itu juga harus juga menyentuh pola pikir. Saya setuju sekali! Ya, karena saya juga mengalaminya. Masih ingat di benak saya, saat pertama kali mahasiswa baru (16 tahun lalu) mendapat briefing pertama kali oleh Prof. Soedjana Sapi’ie (Guru Besar Teknik Elektro ITB), beliau mengatakan bahwa program ini juga akan melatih dan mencetak entrepreneur setelah lulus. Setelah lulus mungkin tidak semua langsung jadi entrepreneur, namun berjalannya waktu kemudian ada juga yang terjun menjadi entrepreneur.

Pendidikan entrepreneur tidak serta merta mencetak entrepreneur dalam waktu singkat, butuh proses bergantung masing-masing individu. Pendidikan entrepreneur itu sampai kapan pun akan berguna (tidak sia-sia). Mengapa? Manuasia dianugrahi kemampuan beradaptasi pada perubahan, pada ketidakpastian dan pada saat itulah momentum manusia berjuang, dan pendidikan/pengalaman entrepreneurship menjadi modal yang sangat membantu pada waktunya. Percayalah!

*Jika Anda tertarik membaca artikel kompilasi pemikiran dari berbagai sharing session lainnya, silakan mengakses tautan artikel kompilasi sharing session .

image credit: zirconicusso-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com .  Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

About the author

jmzachariascom administrator

JM Zacharias: | Business Strategist | Writer | Guest Speaker | Trainer | Consultant | @Product Marketing, Productivity & Business Strategy.

Leave a Reply