Category Archive All Articles

Byjmzachariascom

[ Manajemen ] Krisis Delay Penerbangan 3 Hari di Tahun Baru?

Sebagaimana lazimnya hari libur nasional pas dekat akhir pekan tentu menambah membludaknya pengguna transportasi. Namun berbeda dengan awal liburan panjang menyambut tahun baru Imlek pekan lalu, menimbulkan kekacauan (krisis) dalam pelayanan transportasi udara khususnya milik maskapai Lion Air yang mengakibatkan ketertambatan (delay), pembatalan penerbangan Lion selama 3 hari (18-20 Februari 2015) yang mempangaruhi ribuan penumpangnya di beberapa kota Indonesia termasuk operasional bandara berikut maskapai lain yang terkena dampaknya. Penerbangan domestik dengan area bentuk geografik kepulauan meliputi penerbangan antar pulau, menjadikan bandara Soekarno Hatta memegang peran vital sebagai pusat transit (master hub) dari beberapa koneksi penerbangan jarak jauh antar pulau termasuk juga tujuan penerbangan luar negeri.

Tentu, jika terjadi kekacauan operasional layanan udara di Bandara Soekarno Hatta efek domino-nya  langsung berpengaruh pada layanan penerbangan terkait. Krisis tersebut dapat berasal dari berbagai faktor, mulai dari adanya kecelakaan di landasan, terganggunya fasilitas vital bandara, kerusakan/keterlambatan pesawat, tidak mendapat/mempunyai ijin penerbangan karena ijin kelaikan operasi dan pesawatnya,  mismanajemen kapasitas angkut dan jumlah tiket yang terjual serta faktor-faktor terkait lainnya.

Jika terjadi krisis atau gejalanya, langkah awal penanganannya pun mulai dari mencari dan  merelokasikan penyebab krisis sehingga tidak membesar  sembari  menghentikan, memperbaiki atau menimalkan kerusakan yang terjadi berikut skala dampaknya. Melaksanakannya tidak semudah membalikan telapak tangan. Penanganan akan semakin kompleks bahkan bertambah fatal apabila tidak didukung oleh sumber daya dalam menghadapi krisis yang memadai, apalagi tanpa adanya standar operasi prosedur (S.O.P).
Menengok dari runtutan kejadian yang mengakibatkan keterlambatan penerbangan sampai 3 hari tersebut, berikut beberapa aspek yang dapat dikaji sebagai bagian dari krisis manajemen:

Pra Krisis

Sebagaimana penganggulangan krisis umumnya, semakin awal penanggulangannya/pendeteksian gejalanya diharapkan semakin memperkecil atau membatasi ruang gerak krisis yang berpotensi semakin besar dan melebar dampaknya yang menggangu pihak lain. Karena itulah tahap preventif meski terkesan sebagai bagian dari rutinitas namun kritikal perannya dan dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari tahap pra-krisis. Tahapan dimana proses cek berkala dilakukan dengan memperhatikan ada tidaknya gejala abnormal yang berpotensi menjadi gangguan/masalah dan menyebabkan operasional terganggu serta kecukupan  alokasi kebutuhan yang dipenuhi dengan sumber daya. Keculupan alokasi ini bisa dalam bentuk cek teknis seperti jarak tempuh-bahan bakar, jumlah tiket terjual-kapasitas angkut dll.

Maskapai Emirates sendiri untuk urusan pengawasan kegiatan operasional  dan ketepatan waktu penerbangan, memiliki pusat kendali di Dubai yang disenut Network Control Center, berotorisasi memonitor armadanya secara real-time, mengawasi ketepatan waktu dari operasional pesawat yang sedang dan persiapan akan terbang, serta mengambil keputusan bila ada masalah yang dihadapi pesawatnya termasuk yang berdampak dengan pesawat selanjutnya (connecting-flight). Operasional pusat kendali ini dipimpin oleh pejabat senior  setingkat VP, menunjukkan betapa sentral dan strategis tugas ini berkaitan erat dengan keamanan, keselamatan dan operasional bisnis penerbangan  armada Emirates yang sedang dan akan terbang di seluruh penjuru dunia.

Pusat kendali ini pun bertindak memastikan dan mengontrol setiap proses pesawat dapat berjalan sesuai jadwal mulai dari  bagian bongkar muat kargo (ground dispatcher), cek pesawat, selama penerbangan dll. Jika dari lapangan yang membutuhkan waktu tambahan karena perbaikan/mengatasi masalah, bagian tersebut harus minta otorisasi tambahan waktu dari pusat kendali ini.

Apabila terjadi kondisi yang berdampak layanan penerbangan lainnya termasuk dengan maskapai penerbangan lainnya, pusat kendali segera berkoordinasi dengan entitas terkait termasuk dengan otoritas bandara, air traffic control termasuk juga jika adanya pembatalan penerbangan serta perubahan jadwal yang dilakukan secara real-time.

Penanganan Krisis

Saat krisis mulai berdampak signifikan, penanganan pun meliputi pihak yang terkena dampaknya dalam hal ini penumpang termasuk pihak lain mulai dari  bandara terkait, penerbangan lain yang terkena dampaknya secara langsung. Dampak mulai dari perubahan jadwal terbang (delay), pembatalan penerbangan dimana ini seharusnya telah diatur dalam S.O.P mulai dari aliran informasi/komunikasi penjelasan pada  penumpang,  kompensasi berdasarkan lamanya keterlambatan sampai akomodasi dan penggantian uang (refund). Proses penanganan ini sebagaimana yang diatur dalam S.O.P tidak lah terlalu sulit untuk dilakukan, namun lain ceritanya bila penangannya dilakukan dalam skala  masif seperti yang terjadi pada delay penerbangan selama 3 hari lalu (18-20 Februari 2015), hal ini seperti menimba  air laut dengan ember, namun  terjadi saat tsunami. Pada tahap ini adalah tahapan yang paling krusial, waktu berjalan cepat, tidak ada tindakan, lamban atau salah dalam merespons akan berakibat fatal. Begitu juga dengan aliran informasi (penjelasan) penting dilakukan agar penumpang mendapatkan berita/informasi langsung, penumpang mengais-ngais berita malah mendapatkan berita duluan diekspos oleh media secara luas. Leadership sangat dibutuhkan, tidak saja  pimpinan lapangan namun juga jajaran puncak yang juga jadi  ‘brand ambassador chief’ perusahaan yang selama ini dikenal masyarakat.

Ada peristiwa serupa yang dialami maskapai United Airlines (AS) terjadi pada musim panas 2000. Pada saat itu industri penerbangan di sana masuk pada iklim bisnis yang baru dimana biaya tenaga kerja dan bahan bakar serta struktur uang pensiun menekan semua maskapai penerbangan nasional di sana. Khusus pada United saat itu, para pilotnya memprotes kontrak, walau tidak mengadakan mogok kerja, mereka menyatakan menolak kerja lembur yang berdampak  penundaan dan pembatalan penerbangan tertinggi yang pernah terjadi saat itu. Bandara pun menjadi area berkemah para calon penumpang yang terkatung-katung. Meja pelayanan pelanggan dibanjiri penumpang yang marah karena tidak terurus karena krisis tersebut. Ada salah satu langkah dari manajemen United yang fenomenal, iklan permohonan maaf  yang menampilkan CEO Jim Goodwin dari kabin sebuah pesawat berisi permohonan maaf kepada pelanggan United. Berikut pesannya yang saya kutip dari buku Juicing the Orange Pat Fallon & Fred Senn:

Halo. Saya  Jim Goodwin, CEO United Airlines. Musim panas ini, ribuan orang terganggu perjalannya ketika menggunakan maskapai penerbangan United Airlines. Jika Anda salah satu dari mereka, saya ingin meminta maaf secara pribadi atas nama United. Untuk mengatasi masalah ini, kami mengurangi jadwal penerbangan kami, sehingga kami tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kami tepati. Sebagai pemimpin, United punya rencana besar masa depan, tetapi kami tidak akan ke mana-mana sebelum mengantarkan Anda ke tujuan Anda.

Pesan ini diperlukan untuk menghentikan perdarahan lewat media  dan mesin kasir. Dan ini berhasil dan efeknya positif ke konsumen meskipun cuma sementara dan juga keberadaan pimpinan puncak di tengah krisis memberi dorongan moral bagi karyawannya di lapangan yang sedang mengalami masa sulit di tengah krisis.

Peristiwa yang serupa penerbangan Jet Blue saat hari valentin 2008, yang mencoba terbang, namun tidak diijinkan oleh otoritas bandara karena cuaca buruk, menyebabkan efek domino pada pembatan penerbangan berikut penumpang lain terdampar di bandara. CEO Jet Blue Neelman saat itu langsung meminta maaf di depan publik serta menawarkan kompensasi. Hal yang sama saya lihat saat keberadaan CEO Garuda Indonesia Emirsyah Satar yang langsung terjun ke lapangan saat terjadi kecelakaan Garuda GA 200 di Yogyakarta dan juga CEO Air Asia Tony Fernandes saat peristiwa kecelakaan Air Asia QZ 8501. Ke dua CEO tersebut langsung hadir dan berbicara ke publik atas nama perusahaan, memberi jaminan penanganan bagi pihak keluarga yang mencari tahu perkembangan serta juga memberi dorongan moral bagi karyawan yang sedang bertugas di lapangan. Jika melihat perkembangan terakhir (Kompas Minggu 22 Februari 2015), publik masih menunggu jawaban penyebab kisruhnya keterlambatan dan pembatalan penerbangan yang terjadi selama 3 hari tersebut. Hal ini juga dimanifistasikan dalam bentuk tuntutan publik lewat Change.org

Pasca Krisis

Pasca krisis dilakukan untuk konsolidasi penangan akibat yang disebabkan selama krisis dan tidak dapat diselesaikan secara tuntas selama krisis berlangsung. Akibat-akibat tersebut seperti perbaikan/penyempurnaan sistem dan sumber daya dalam penanganan krisis, penyelesaian keuangan terkait dengan penangan krisis yang membutuhkan langkah komprehensif dgn dukungan dana segar, penyelesaian dengan konsumen seperti pemberian diskon, poin tambahan untuk membership dalam hal ini untuk mempertahankan loyallitas konsumen dan juga menghadapi pemeriksaan dan sanksi dari badan yang berwenang sampai yang terburuk menghadapi tuntutan konsumen/class-action di pengadilan.

Ada contoh menarik inisiatif Jet Blue pasca krisis saat hari valentine tersebut, Chief Intormation Officer Charles Mees, melakukan penyempurnaan sistem dengan membuat database yang dapat mengetahui lokasi kru yg sedang tidak dinas (off-duty) saat dibutuhkan, dimana kru dapat memberikan informasi tersebut secara aktif dalam bentuk sebagai input ke database. Sang CEO Neelman melakukan program cross-training untuk karyawannya terkait dengan manajemen krisis. Dari pengalaman krisis tersebut Neelman mengakui pada saat itu pekerja perusahaanya ingin membantu namun mereka belum pernah dilatih untuk membantu penanganan dalam suasana krisis seperti itu. Itulah titik tolaknya sang CEO memberlakukan program cross-training dalam menghadapi krisis.

Krisis bisa dikarenakan satu faktor yg terjadi seketika atau rangkaian faktor (proses) yang terhubung saling terkait dalam waktu lama seperti faktor manajemen, proses bisnis, faktor ketrampilan termasuk yang berkaitan minimnya sumber daya yang berhubungan dengan kompensasinya (renumerasi dan fasilitas yang diterima karyawan).

Berkaitan dengan krisis, pelayanan konsumen terutama untuk petugas yang berada di garis depan bertemu konsumen. Penanganan konsumen saat terjadi kritis, tidak terlepas dari berbagai faktor, khusus untuk penanganan yang berdampak negatif pada  konsumen dapat di analisa sebagai berikut:

  1. Petugas tidak mengikuti prosedur yang berlaku (lack of obedience)
  2. Petugas ingin membantu tapi tidak tahu caranya & tidak ada panduan S.O.P (lack of skill & system)
  3. Petugas tidak termotivasi oleh perusahaan (lack of engagement)
  4. Petugas frustasi terhadap perusahaan secara sadar acuh tak acuh bahkan bertindak negatif  pada konsumen (lack of attitude)

Untuk faktor  poin 1-2 (lack of obedience, skill ) & system dapat diatasi dengan sosialisasi SOP dan pelatihan ketrampilan yang relevan dengan manajemen krisis. Sedangkan poin 4 (lack of attitude) meliputi mekanisme  teguran, perbaikan sampai mekanisme terminasi kerja.

Khusus untuk faktor lack of engagement  dalam hal ini loyalitas kerjanya, ada penelitian menarik dari Foresee pada tahun 2014 tentang adanya korelasi faktor loyalitas pekerja (employee engagement) dari toko retail terhadap kepuasan pelanggan (customer satisfaction) yang pada akhirnya mempengaruhi hasil penjualan. Dimana tingkat kepuasan pelanggan juga dipengaruhi layanan petugas yang secara signifikan digerakkan oleh loyalitas pekerja (employee engagement).

Tidak dapat dipungkiri gaji dan fasilitas yang memadai jelas mutlak dibutuhkan pekerja, namun bukan itu saja. Suasana kondusif untuk berkembang (baik ketrampilan maupun promosi jabatan), lingkungan menumbuhkan saling percaya dan nyaman serta memberi ruang untuk berkreasi  memberi arti bagi hidup yang juga kebutuhan dari pemenuhan akan makna hidup dari karyawan.

Melihat dari grafik loyalitas pekerja (employee engagement)-kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dari hasil penelitian Foresee pada tahun 2014, untuk perusahaan seperti Apple, Barner Noble dll menunjukkan prestasinya baik dalam hal kepuasan konsumen dan loyalitas karyawannya yang  melewati batas minimum garis dengan nilai 80 dari nilai total 100. Dari gambar tersebut juga, ada yang menarik khususnya melihat Walmart yang tidak melewati batas minimum nilai 80 tersebut. Bila diihubungkan dengan berita pada awal  Februari in, Walmart meningkatkan upah pekerjanya. Dan tidak itu saja, Walmart memberi kesempatan pelatihan untuk berkembang. Kebijakan yang diambil oleh Walmart ini adalah strategis, selain meningkatkan upah, diikuti pemberian pelatihan yang pada akhirnya diharapkan ada perbaikan kualitas dengan indikator (KPI) yang telah ditetapkan dalam hal ini  produktivitas kerja, loyalitas karyawan  (employee engagement), yang mempengaruhi tingkat kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan pada akhirnya memberi dampak pada kesuksesan bisnis.

Blessing in disguise

Iya selalu ada hikmah yang dapat diambil dari krisis sekalipun. Jika bisnis Anda mengalami krisis, cepat ambil tindakan dan bangkit kembali. Inti bisnis itu adalah trust (kepercayaan), lakukan dengan penuh intigritas serta jangan lupa Kaizen … Continous Improvement untuk selalu menjadi lebih baik. Today must be better than Yesterday and Tomorrow will be the best one.

* Image:  JM Zacharias

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia?

    Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? This question refer to the Content Marketing existence along the past years and now this year 2015, that used also as the topic discussion of the Jakarta Content Marketing meetup session this month. Content Marketing in several years growing tremendous approach and  its contribution too (Content Marketing Innitiative for Online Shop, Indonesia market 2013). Does Content Marketing still reliable to cope the challenge in 2015? Let’s take a look  the discussion  through this compilation article below.

    Content Marketing-Native Ad
    Content Marketing itself means about to drive action as Patrick Searle (cofounder GetCRAFT) point out in early session. It’s about owning paradigm, investing on it and get the returns. The Native Ad also the hot issue to be addressed in term of its contribution to get read rate times and ROI target, comparing with digital marketing main stream like  display ads has been decreased significantly.  Native Ad plays promising role to give the good impact to its stakeholder and give adaptive approach and more friendly user experience (UX) to consumer, compare to not quite good experieces/pro-contra last year related with intrusive ad that pop-up without giving option to consumer get rid from bothering  their user experiences and raised dispute among digital publisher.
    Brand professional Jasmina Dewi Nashya (E-Commerce Marketing Head at MAP) added that content marketing should has brand perspective adjusted to brand and company strategy and also has relevance with target viewer desire and in line with what consumer care about. From brand  people (client) perspective, she added it’s paramount to keep the brand presence in every Consumer Decision Journey (CDJ), that also must be applied on content marketing approach.

    Sponsored Content and its position from publisher point of view.
    The terminology of content marketing spreads from one industry to another industry. Publisher like online newspaper use Sponsored Content  to refer it. Beside the news as their commodity, empowering content article that get sponsor called Sponsored Content.  David Alexander ( Business Development at Kompas) from his point of view as publisher professional classify Sponsored Content as intersection area of Venn Diagram between Content Marketing and Native Ad. Sponsored Content applied by different approach, it could be beyond branding (not spoken about brand) but their initiative campaign, for example BP within move the next mile campaign. Or also something that provoking interest of subject, that giving awareness, guidance to empowering  for example cashless society (sponsored by one larger bank).
    Those approaches aren’t hard selling focus content but still attached with sponsored brand/company logo. Also important for Sponsored Content stakeholder to keep content transparency and relevance (avoid pretending) so make no room consumer getting trap on the content that consumer really doesn’t want to, eventually could ruin their credibility and business.

    Content Marketing, hard selling and measurement.
    In line with hard selling content, some important lesson-learned shared by Jasmina that too many focus hard selling approach on content gave bad impact from consumer. So need to create content that can steal consumer heart which with minimum hard selling content.
    On the other hand, from top management point of view that sometime push a lot hard selling approach because every program should giving the return with common indicator such as number of conversions and revenue. It’s quite complicated and also challenging to set up good content marketing that attract consumer’s attention but less hard selling. According to her best practice, by using KPI as currency to convince top management to  go through that approach. The KPI might covers unique visitors from where they access (geography), comply the trend (mobile readership trend) and engagement measurement (bounce rate/time spent, page view and sentiment & social engagement). KPI itself not be separated from measurement, Daniel Van Leeuwen (Research & Development Advisor at XM Gravity) also emphasized measuring activity as part of the main triangle to support implementation of content marketing. It’ s such cycle starting from Learning, Building and Measuring phase. Measurement also part of three main factor related with Content Marketing as Haswar Hafid (Client Partner at Facebook) mentioned beside medium and format.

    Content Marketing Strategy.
    Content marketing strategy should be user centric, Daniel explained that content format should be as interface between business goal and user goal/needs. Based his digital agency background, he gives example how NetFlix using the data to determine next program to offer. Another example of user centric case when Mortal Combat Director Kevin Tancharoen making a initial pitch film. Kevin put the Mortal Combat thriller online and got much good responses from consumer. Then led him to develop the feature film version and got distribution supporting from Warner Bros.
    According to the inspiring story above, Daniel also broke down and emphasized   some phases that could be the secret sauce of that success story, the phase starts from do pilot, validation, build/refine and expand.

    From branding (client) perspective, the brand  need fully support from the content to be part of conversation among consumer, and Jasmine added on other side the content stakeholder need to think the impact also beforehand.

    Banner Blindness Fact and Ux matter.
    Daniel also mentioned banner blindness and some facts related such low click through rate (CTR) that show less number who clicked the banner. Still related to Banner Blindness in US, Matthew Green (UX Consultant) highlighted from User Experience (UX) design perspective, with case the lack of Ux design such the editorial box looks like banner that consumer think it as banner that keep it quite far from the CTR target. To many and messy banner layout also cause banner blindness, consumer feels dizzy to go to the content he/she want. UX with good lay-out that ergonomic and provide good/easy navigation to follow is the paramount. Mattew also added in specific that important to keep in mind such visual consistency with design of the page, readable text, simple imagery, be relevant and engagement.

    Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia?
    Sunil Kumar (Digital Director at Starcom) talking from Media Agency perspective, shared key takeways from 2014 that something called Native Ads get spoken and 2015 will be the year of Native Ads that continually need another year to market and mature. LTE launching make possibility the content marketing booming in term of media format and capacity (size) applied successfully at consumer mobile/gadget platform.

    Jasmina pretty optimistic that content marketing well growing in 2015 also underlined video marketing is the next hot babe and whole strategy approach (online and offline) integrated to omni channel as one strategy she would apply.
    Haswar also believed 2015 is a content marketing year. Since media crossover in the term of time spent started from radio era, tv, digital and now mobile era. Mobile is the most personal and engaging medium ever. Mobile at scale and content marketing get more room for expansion and customization. He resumed it in one brief sentence “Marry the right format with the right device.”

    So back to important question. Is 2015 the Year of Content Marketing in Indonesia? Some might say yes and believe it! Some might wait and see. Some say depending on you, content marketing stakeholder include consumer.

    *This article is compilation of panelist thought and audience discussion at Jakarta Content Marketing Meetup January 14th 2015 hosted by GetCRAFT (link). In this article JM Zacharias just took a role as ‘kitchen helper’ who just arranged ‘dish’ served on plate 🙂

    *imagre credit: taken while discussion been held

     

    About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Happy New Year Again … Resolution Again !!

Happy New Year again !! Yeah … in 2015. It’s annually celebration through many common ways: sending and receiving greeting card, text message,exchange gifts, visiting colleague/beloved family and others activities [new year eve in hotel,townhall, TV program, traveling, and anything else]. In all those activities, we set the resolution, send best wishes to beloved family and friends for properous life in upcoming year.

You and me might be already listed some wishes & resolution and for sure always hope the upcoming year should be much better. One thing came up in my mind, do we apply the proven successful indicator that manages how the process on track or need to do pivoting before getting the resolution completed. Otherwise  those resolutions at the end will be acted as “empty promising resolution ” … words without meaning.

I list that concern with big question mark. The resolution should be adjusted into action plan. The question is how measure the process. It helps us to know exactly how close the progress, outcome to the resolution. Whether need some pivoting or not before the end of 2015.

Once put resolution into action plan, the step needs to be taken such requirement mapping, resource management, schedulling, progress tracking and etc. In implementation of the planning, sometimes doesn’t goes as planned and on the other hand new momentum raise up that need the room of flexibility to do pivoting. And also breaking down into small target per milestone (time frame) and parameters that consist of under control and out control variable(third party involvement for cooperation) could help much to ease the implementation of action plan in order to meet the resolution goal. At the end those parameters would help and guide in process, measurement and evaluation of the resolution completion. Also target per milestone help to manage the effort more reasonable to achieve resolution goal and evaluated at the end of 20015.

Sounds quite complicated. Believe me it works, but need strong willpower, consistency and preseverance. Try it step by step eventhough small step and target per milestone gradually but sure. It will pay off.
Let’s  start this year with such breakthrough way & very challenging things to achieve. Cause we live to have purpose that valued life by moving forward, growing up,accomplish challenge of the resolution successfully and SMART-ly [Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time Bound].
What do you think?

About the author: JM Zacharias (@jmzacharias) currently works as a business strategist, professional career in the fields of product, sales and marketing more than a decade. His professional career experience in various industries including retail, consumer electronics, information and telecommunications technology both Business to Customer (B2C) and Business to Business (B2B). Having diverse experience in national, multinational companies, and startup; in the areas of technology, marketing and sales management, cross-culture climate among nations in his career portfolio in the Asia Pacific region and Southeast Asia helped him enrich and widen preperspective to continue to learn and share. Communicating ideas and business strategy are some of his activities beside writing article,delivering training and consultancy activities. Detailed information can be viewed on JMZacharias.Com Business Strategy & Technology www.jmzacharias.com. You can also contact him through this link

Byjmzachariascom

Satu Lagi … Produk Apple

Seperti yang sudah-sudah, Rabu dinihari waktu bbwi (Selasa 9 September Pacific Time) saya menunggu update hajatan besar peluncuran produk Apple melalui twitter, media online dan sesekali melalui tv kabel jaringan internasional. Sambil update twit-twit yang masuk, terkejut membaca twit Dick Costolo CEO Twitter yang memberitahukan bahwa Apple menyediakan live tweet.

TwitterCostolo_Apple_live

Pada laman Apple live mulai terlihat area sekitar Flint Center Cupertino beberapa awak media telah siap dari subuh sampai fajar menyingsing. Kemudian dilanjutkan dengan beberapa twit mulai dari foto para undangan yang sudah hampir penuh memenuhi tempat acara. Ok, berarti jari akan siap menari-nari  menekan tombol refresh melihat update terbaru dari produk Apple . Saat menunggu, ponsel pun disandarkan sisi kursi sambil melihat perkembangan melalui tv kabel.

 906 934 Apple Live Sep9th 2014

Tampilan layar ponsel berubah secara otomatis menunjukkan live tweet terakhir dengan tanda bulatan biru di pojok kiri atas lengkap dengan angka yang menunjukkan jumlah twit yang belum di lihat. Langsung saja perhatian tertuju pada layar ponsel, serasa berada di Flint Center mengikuti paparan presentasi dengan foto Tim Cook beserta tim penyaji/demo Apple lainnya, diselingi dengan twit dari para undangan  salah satunya dari jurnalis BBC Stephen Fry.

1129 1134 Apple Live Sep9th 2014

1205 Apple Live Sep9th 2014

Ini terobosan baru, siapa pun, dimana pun yang terkoneksi  internet dapat mengikuti acara tersebut. Sesuatu gebrakan baru ini sudah pasti menghasilkan efek wow selama acara berlangsung, berdampak memperkuat engagement pelanggannya  dan membuka kanal konsumen bukan pengguna produk Apple untuk mengikuti informasi produk baru  Apple, yang membuka peluang untuk melakukan  konversi.

Setahun lalu pada even yang sama untuk iPhone 5S dan iPhone 5C, saya menuliskan artikel menyoroti iPhone 5C yang saat digadang-gadang akan memberi warna baru dengan masuk ke segmen anak muda tersebut lengkap dengan aneka warna casing-nya, dengan garis bawah pertanyaan apakah efektif kehadirannya untuk pasar low cost. Iya, hanya itu yang menarik dicermati dari even Apple yang tradisinya sejak dipegang Steve Jobs selalu memberi warna baru (baca efek wow) setiap acara Apple World. Tahun lalu terasa hampa (tidak ada efek wow) seolah pernak-pernik casing warna yang dapat diganti-ganti merupakan terobosan yang ditawarkan Apple  pasca meninggalnya Steve Jobs.

Dengan gaya pembawaan yang bertolak belakang dengan Steve Jobs, Tim Cook mendapat tantangan dari para pesaingnya sebut saja Jeff Bezos dengan gaya memukau mengumumkan Amazon Fire Phone atau sang ‘Apple dari Timur’ ponsel Xiaomi yang CEO-nya Lei Jun memang pengagum Steve Jobs berikut  gaya pemaparan saat demo pun mirip.
Tim Cook dan jajarannya kali ini membuktikan produk Apple keluar meski tidak dengan kejutan besar [mungkin karena maraknya pemberitaan terutama berkaitan dengan tren wearable] namun langkah revolusi pada   fitur-fitur dan teknologinya memberi lompatan yang berbedaa dibandingkan dengan yang dilakukan para pesaingnya.

1208 1210 Apple Live Sep9th 2014

Hal ini ditunjang karena Apple mengoptimalkan fleksibilitas dalam membuat gebrakan dengan plafon harga iPhone yang premium dimana tidak banyak pesaingnya yang fokus pada kelas yang dipilih Apple untuk head-to-head.

Pada sisi tampilan layar antarmuka (User Interface) mirip, namun membenamkan piranti, fitur, sistem dengan kompleksitas tinggi dari aplikasinya dan material berkualitas prima tentu bermuara pada tinggi harga yang masuk dalam kategori ponsel premium.

Saat demo  fitur dilakukan oleh orang produk, Tim Cook menyingkir ke belakang panggung namun masih tetap eksis melalui live tweetnya:

1237 Apple Live Sep9th 2014

Dari jajaran portofolio yang telah ditampilkan iPhone 6 dan iPhone 6 Plus. Apple juga masuk sebagai penyedia solusi pembayaran transaksi internet dengan meluncurkan Apple Pay. Tentu saja merubah lanskap jaringan pembayaran transaksi online termasuk Pay Pal yang telah lama menjadi partner Apple Store (iTune dll).

1248 1248 Apple Live Sep9th 2014

Sebagaimana gaya komunikasi Steve Jobs yang membuat penasaran sekaligus kejutan, Tim Cook menutup akhir presentasi Apple Pay dengan sela sejenak sebelum mengakhiri pemaparan akhir setelah Apple Pay dan iPhone seri 6, sambil berucap One More Thing,  satu lagi :

1258 0100 Apple Live Sep9th 2014

0115 Apple Live Sep9th 2014

0131 0134 Apple Live Sep9th 2014

Manajemen Apple pun sempat menghadapi krisis bocornya dokumen foto salah satu konsumennya artis yang menyimpannya di iCloud. Dimana tim Apple berhasil mengkonfirmasikan bahwa bocornya tidak pada sistem keamana iCloud namun mekanisme menebak password yang kemudian diatasi dengan two-step authentification. Belum lagi beberapa hari sebelumnya dihebohkan dengan kabarnya bocornya penawaran kontrak berlangganan untuk iPhone produk baru oleh operator di Tiongkok. ‘Huru-hara’ ini berhasil dilokalisir dan ‘dipadamkan’ beberapa hari sebelum hari H. Dan publik mengikuti acara Apple kembali dengan beribu rasa penasaran.

Namun untuk yang satu tadi (membuat penasaran), itu talenta yang dimiliki Steve Jobs yang tidak saja membuat penasaran, Jobs berhasil melakukannya dengan secrecy (tingkat kerahasiaan tinggi). Simak saja bebera cerita pada masanya yang ditulis dalam buku yang ditulis oleh Adam Levinsky

Dari mulai rekrutmen untuk project X pun dilakukan Jobs tanpa sepengatahuan atasan insinyur yang dipinjam (lintas departemen), termasuk sinyal ada penggantian kunci ruangan tertentu yang menandakan menjadi terbatasnya akses ke ruangan tertentu.

Tim Cook  dengan latar belakangnya di bidang distribusi berhasil lepas dari bayang-bayang Steve Jobs dan keraguan analis akan masa depan Apple pasca meninggalnya tokoh karismatik itu, dengan gebrakan revitalisasi di sisi retail dengan  merekrut mantan CEO Burberry dan terakhir masuknya perancang jam ternama menandakan Apple total masuk di wearble technology yang sudah jelas-jelas akan berhadapan dan aktif masuk dalam ranah fasyen. Seperti entitas ‘New Entrants’ pada  Porter Force dimana ada pemain baru  menggebrak industri yang mature dan memaksa pemain-pemainnya untuk menyesuaikan diri salah satu pabrikan jam yang mau tidak mau harus masuk pada era koneksi internet.

Dengan munculnya gebrakan canggih produk  baru Apple serta mulai hilangnya trade mark i pada perangkat dan layanan Apple seperti Apple Watch, Apple Pay dan munculnya beragam ukuran produk iPhone dan iPad [dimana Stete Jobs sangat sensitif pada dimensi produk ttt] beri ruang dan kesempatan bangkitnya era baru Apple sepeninggal Steve Jobs seperti tablet yang berukuran 7 inci, pasca Jobs dikeluarkan iPad mini 7 inci ].

Di sela-sela sesi menarik paparan produk, ada pertunjukan grup musik U2 sudah tentu memberi kejutan kecil bagi pemirsa yang dapat menyaksikan via live streaming.

0148 0150 Apple Live Sep9th 2014

The Flint Center sontak semakin menghentak dengan beat-beat lagu-lagu U2 sekaaligus menandai rilis album baru U2 “Song of Innocence”. Seperti yang tampak pada monitor Apple Live September album baru tersebut merupakan bagian dari promo Apple (iTunes store) dan pada waktu setempat dan diklaim telah diunduh melebih setengah milyar konsumennya.

0152 0155 Apple Live Sep9th 2014

Performa grup musik U2 diakhiri dengan masuknya Tim Cook untuk kemudian mempersilakan para hadiri mengikuti Post-Event ke arah ruang pameran untuk beri kesempatan hadirin merasakan produk Apple yang diluncurkan sambil melakukan dokumentasi untuk keperluan jurnalistik.

0201 0204 Apple Live Sep9th 2014

Acara dilanjutkan dengan menuju ruang pamer produk untuk melihat, merasakan dan memperoleh kesempatan pertama untuk mengambil gambar dari produk terbaru Apple tersebut. Ketty Perry sempat mentwit di sela-sela acara.

0247 0249 Apple Live Sep9th 2014

0249 0315 Apple Live Sep9th 2014

Laman Apple Live signing off menandai berakhirnya rangkaian even peluncuran produk Apple seri 6 ini beserta solusi Apple lainnya. Apple Live Stream terutama Twitter Live ini menjadi gebrakan pendekatan Apple dengan mendayagunakan kanal media sosialnya untuk tetap terhubung dan menjaga hubungan dengan konsumennya.

*image: Apple Live September 2014

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

[Book Lauching] 21 Million Good Jobs and Double Digit Growth

Kamis kemarin (9 Oktober 2014)  saya menghadiri peluncuran buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru“. Tentu penerbitan buku dan acara book launching yang dikemas dalam pemaparan dan talk show yang menarik ini, merupakan momentum yang tepat di saat pemerintahan yang baru siap take-off menjalankan amanat rakyat secara resmi mulai 20 Oktober nanti. Saya pun juga sebelumnya menggunakan momentum pemerintahan baru ini untuk mengkaji masalah dan tantangan yang berhubungan erat dengan kebijakan pemerintah khususnya terhadap iklim bisnis. Senang juga mengetahui melalui acara kemarin dan penerbitan buku ini dilakukan lembaga yang concern dengan kebijakan publik dengan langkah-langkah nyata sebagaimana yang dilakukan oleh Transformasi (Pusat Transformasi Kebijakan Publik) yang didukung Rajawali Foundation.

Gagasan untuk menerbitkan buku ini tidak lepas dari dimulai gagasan Peter Sondakh (Rajawali Foundation) pentingnya mengkaji tentang sasaran yang dibutuhkan untuk dapat mentransformasikan  Indonesia. Gustav F Papanek, Raden Pardede dan Suahasil Nazara kemudian melakukan penelitian dan kajian rumusan strategi untuk meraih pertumbuhan  ekonomi di atas 10 % (double digit growth) dan penciptaan 21 juta lapangan kerja baru dalam lima tahun.

Gustav F Papanek (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) melalui paparan video mengatakan bahwa saat ini Tiongkok yang menguasai sekitar 34 % manufaktur dunia, sedang alami isu peningkatan labour cost (upah pekerja) pada industri manufaktur. Dan ini memberi peluang negara-negara tidak terkecuali Indonesia berikut dengan bonus demografinya sebagai tempat relokasi industri manukfatur Tiongkok salah satu akibat dari meningkatnya upah yang signifikan pada struktur biaya operasionalnya. Peluang ini mirip dengan peluang relokasi ditangkap Tiongkok dulu (sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya), pada awal tahun 1990 saat ada kejenuhan di negara-negara tetangga Tiongkok seperti Jepang, Taiwan dan Hong Kong. Papanek yang sejak tahun 1962 berkiprah melalui  kontribusinya pada ekonomi Indonesia, menambahkan daerah upah pekerja yang tinggi tidak menjadi daya tarik bagi investor padat karya dalam hal ini foreign direct investment (FDI), upah pekerja di Indonesia saja masih  tiga kali lipat dari upah pekerja Bangladesh dan sekitar dua kali lipat upah pekerja di Ho Chin MinCity (Vietnam) dan Mumbai (India). Profil kabupaten kota dalam membangun dan membuka investasi pada karya juga disajikan dalam paparan video melalui profil Kabupaten Semarang dengan UMR sekitar 1,2 juta rupiah (masih bisa bersaing dengan Bangladesh) dengan menggalakan programnya lima kawasan industrinya antara lain: Priangapus (250 Ha), Bawen (200 Ha), Tengaran Barat dan Tengaran Timur dan satu lagi lainnya yang dihubungkan tol untuk akses ke bandara atau pelabuhan terdekat. Salah satu investor  yang diwawancarai mengatakan dukungan berinvestasi dari pemda setempat berikut struktur pembiayaan operasional seperti  UMR yang kompetitif mendukung iklim berusaha. Berbicara tentang Foreign Direct Investment (FDI),  Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya mengatakan bahwa FDI yang masuk harus  mengalir ke sektor primer (alam, pertanian, perikanan, energi yang terbarukan). Saat ini FDI masih banyak ke mengalir ke sektor sekunder (teknologi dll) dan sektor tersier (sektor kreatif). Peningkatan FDI sendiri jangan dilihat sebagai dikotomi  nasionalis dan asing, Edimon Ginting memberi contoh Tiongkok dengan FDI yang besar, disisi lain Tiongkok tetap bangsa yang mandiri (berdikari).

Raden Pardede (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”) membuka paparan singkatnya bahwa pada buku ini dapat dirangkum dalam dua keyword (Pilihan dan Peluang). Pilihan, Business as Usual lakukan bisnis seperti biasanya (pertumbuhan 5 %  &  1 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun) atau Peluang, Reformasi Tegas  (pertumbuhan 10 %  & 4 Juta Pekerjaan Layak setiap tahun). Pertumbuhan dua digit (double digit growth) sudah  dapat dilihat pada sektor yang kompetitif salah satunya ICT (Informatin Communication and Telecommunication) sebagaimana yang diungkapkan Edimon Ginting pembahas pada sesi selanjutnya. Ninuk Pambudi dalam bahasannya pada sesi talkshow menyoroti industri yang tidak tumbuh karena importansi barang jadi yang meningkat dan FDI yang masuk melihat Indonesia sebagai market dimana Indonesia masuk  dalam 20 negara  dengan ekonomi terbesar, namun mengalami ketimpangan kemakmuran dan jebakan pertumbuhan ekonomi untuk itu terobosan kebijakan sebagaimana yang diwacanakan buku ini adalah mutlak. Menindaklanjuti terobosan kebijakan Raden Pardede menambahkan peluang tersebut didukung oleh bonus demografi, relokasi investasi dari Tiongkok, bonus demografi, bertambahnya produksi domestik barang jadi (substitusi impor), peningkatan ekspor padat karya,   dan lainnya yang dibahas mendalam pada buku yang diterjamahkan dalam dua bahasa ini (bahasa inggris dan indonesia). Peluang tersebut dapat dilakukan dengan transformasi tenaga kerja (SDM) yang mayoritas berada di sektor informal dan pertanian ke sektor manufaktur. Pada sesi pidato   Menteri Kordinator Ekonomi Chairul Tanjung menyinggung produktivitas pekerja kita yang hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD. Di sisi lain, infrastruktur masih belum dapat berkontribusi maksimal pada pertumbuhan  ekonomi. Saat ini alokasi untuk infrastruktur baru 6,5 % dari PDB. Masih belum kompetitif jika dibandingkan dengan alokasi untuk infrastruktur di Tiongkok sekitar 10% dari PDB,sebagaimana yang dipaparkan Tony Prasetiantono pembahas dalam sesi selanjutnya. Pada kondisi saat ini perbaikan di sektor peneriman pajak lebih efektif  diprioritas pada sisi peningkatan tax ratio (menjangkau lebih banyak wajib pajak) dahulu dibandingkan peningkatan tax rate-nya. Tony Prasetiantono juga sepakat dengan pendekatan ini, di mana menurutnya saat ini tax ratio-nya masih sekitar 11% bisa ditingkatkan ke idealnya 17%.

Suahasil Nazara (penulis buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru”), memaparkan dengan komposisi tingkat hidup masyarakat yang masih didominasi level “rentan” (40%) dan dibawah garis kemiskinan (11%), tugas untuk mengurangi proporsi dominan tersebut dilakukan dengan cara memberi perlindungan sosial dan pekerjaan (active employment program). Arif Budimanta pembahas pada sesi selanjutnya menyoroti bagaimana pertumbuhan ekonomi 6 % tahun 2010 dengan penciptaan 3,3 juta lapangan pekerjaan dan tahun 2012 dengan petumbuhan 6,7% yang hanya 1,1 juta penciptaan lapangan pekerjaan. Mengutip press release Pusat Transformasi Kebijakan Publik untuk acara ini, setiap tahun di Indonesia muncul 2 juta angkatan kerja baru, dengan rata-rata pertumbuhan Indonesia hanya berkisar 5-6 persen, hanya 800 ribu angkatan kerja  baru yang terserap dalam lapangan kerja yang tercipta setiap tahunnya. Sedangkan 1,2 juta angkatan baru sisanya harus menganggur atau bekerja di sektor informal dengan upah minim dan kualitas rendah.

Berkaitan dengan kemiskinan, Gustav F Papanek menambahkan dalam paparan videonya bahwa pemerintah harus dapat menstabilisasikan harga makanan karena untuk keluarga miskin (low income) lebih dari 50% dari pendapatannya digunakan untuk makanan. Suahasil Nazara memberi contoh, kalau harga beras tiba-tiba naik, itu sangat berpengaruh pada belanja konsumsi golongan ini. Ada yang menarik dari paparan Suahasil Nazara pada sesi kemarin hitungan-hitungan kasar alokasi upah pekerja untuk yang dibawah garis kemiskinan (saya tidak mencatat persis sampel angkanya awal, perhitungan garis besar ini hanya memberi gambaran bahwa alokasi anggaran sebesar itu masih bisa ditutupi dari alokasi anggran subsidi bbm) misal:  ambil contoh 1 orang per keluarga miskin atau 20% dari golongan dibawah garis kemiskinan, upah per hari 40 ribu rupiah (5 hari kerja) dibutuhkan anggaran 40 Triliun. Darimana anggaran didapat, potong dari anggaran alokasi subsidi BBM per tahun. Hasil pengumpulan data saya, alokasi subsidi BBM kita pertahun sampai 300 Triliun. Kaya sebelum tua, ungkapan Suahasil Nazara ini dimaksudkan memberi makna untuk memaksimalkan kesempatan di usia produktif dari bonus demografi ini sebelum masuk  aging population.

Pada sesi berikutnya rangkaian dari Book Launching “21 Million Good Jobs and Double Digit Growth” ini Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung dalam sambutannya memberi pencerahan pada sisi perekonomian nasional, yang saya rangkum dalam poin-poin penting sebagai berikut:

-Kita harus cepat memanfaatkan bonus demografi ini sekitar 20-25 tahun ke depan, sebelum dominasi manusia usia produktif beralih masuk ke aging population.

-Saat ini pertumbuhan ekonomi ditopang lewat kontribusi besar domestic consumption (60%). Jika tidak siap penyediannya terhadap kebutuhan tersebut, terpaksa import  dan hal ini mengakibatkan deficit trade account dan current account.

-Produktivitas pekerja kita hampir 50% hanya lulusan dan tidak tamat SD.

-Indonesia terlalu besar, terlalu majemuk untuk dibangun satu kelompok saja. Perlu adanya kerjasama eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Menarik mengelaborasi pemikiran dari buku “Pilihan Ekonomi yang Dihadapi Presiden Baru” berikut dengan pemaparan dari tim penulis beserta diskusi dengan para pembahas dan undangan, seperti wacana bonus demografi yang muncul sekali dalam satu siklus hidup,beri dorongan segera kerja keras. Selamat bekerja untuk pemerintahan baru dan mari bekerja bersama-sama dalam kolaborasi  elemen-elamen  masyarakat Indonesia.

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

[ Selamat Hari Batik ] Batik Sumber Yang Terbaharukan

Membaca twit-twit tentang Hari Batik  termasuk juga tampilan menarik yang relevan ala Google.com (lihat gambar doodle di atas), mengingatkan saya pada kunjungan terakhir  di sentra Batik Madura di Bangkalan awal September lalu. Sempat terpikirkan untuk membuat artikelnya, namun ada artikel lain yang harus ditulis sehingga terlupakan. Sampai akhirnya tepat 2 Oktober dibuat  artikel yang berjudul [Selamat Hari Batik] Batik Sumber Yang Terbaharukan ini.

Berawal dari ditetapkannya Batik sebagai warisan pusaka dunia oleh Unesco pada tanggal 2 Oktober 2009, yang kemudian setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional. Melihat animo masyarakat dalam berbusana batik beberapa tahun terakhir menunjukkan  busana ini dapat diterima sebagai busana kontenporer yang dapat bersaing dengan busana internasional lain. Sekaligus batik selain sebagai warisan budaya juga simbol jati diri industri kreatif rakyat yang sudah menjadi tuan rumah (diterima) di negeri sendiri serta juga mampu eksis dikancah fashion internasional yang didominasi merk global.

Batik telah menjadi bagian warisan para pendahulu kita, dalam perkembanganya sempat “terkungkung” dengan pola dan balutan busana dengan pakem tertentu. Ini mungkin dikarenakan dahulu  dalam hal ini batik tulis dengan pola tertentu merupakan perlambangan status sosial, kebangsawanan, mungkin juga sarat makna penghormatan pada leluhur yang diatur dalam tata cara  dan adat yang ketat. Belum lagi dengan pola yang stagnan berikut  mode balutan busana sehingga terkesan kuno bagi anak muda saat itu. Kalaupun harus digunakan biasanya hanya saat acara resmi keluarga seperti kondangan, foto keluarga dan even resmi kolektif lainnnya.

Bung Karno lah sekitar tahun 1950-an yang punya keinginan mendayagunakan batik sebagai indentitas nasional. Dipanggil lah Ibu Sud (yang kita kenal sebagai pencipta lagu anak, pencinta anak-anak, pengasuh acara anak TVRI beserta Kak Seto era 80an) untuk memikirkan pembudidayaannya sebagai busana identitas nasional. Pada saat itu Ibu Sud sudah mempunyai sanggar batik yang saat ini diteruskan cucunya yang juga terkenal dengan desain motif batik pada Mercy  milik Piyu gitaris PADI sekitar tahun 2011-2012.

Beberapa tahun terakhir mulailah terjadi ‘ledakan’ modernisasi batik dengan sentuhan kreativitas, teknologi, paduannya mode fashion kontenporer serta pengembangannya dipadukan dengan komponen unsur budaya lainnya dalam bingkai industri kreatif. Saya coba memilahnya dalam beberapa poin aspek terkait:

Kreativitas

Kreativitas dalam memasukan pola modern berpadu dengan pola batik seperti menggunakan warna yang cerah (condong menyala), gradasi warna, corak yang berani serta juga mempunyai tema bervariasi baik disesuaikan asal geografis, memasukan unsur identias perusahaan/organisasi termasuk logo perusahaan, logo klub sepakbola, karakter kartun (Disney bekerja sama dengan satu brand nasional)  sebagaimana yang sudah lazim kita jumpai. Belum  lagi jika dipadukan sebagai motif desain produk  lainnya.

Budaya & Identitas

Batik sebagai bagian dari budaya Indonesia otomatis juga sebagai identitas bangsa dalam penyajiannya bisa berbaur dengan unsur budaya dan kesenian lain dalam baik pada seni lukis, sandra tari, termasuk menceritakan sejarah dalam corak dan polanya. Selain menceritakan makna cerita tertentu ada jugayang mempunyai nilai identitas sekaligus semangat pemersatu seperti Batik Lasem (kain 3 negeri,yang menyatukan budaya Thionghoa dan Jawa dalam perpaduan tiga  daerah warna: warna merah perlambangan Lasem, warna biru dari perlambangan Pekalongan dan warna Coklat dari perlambangan Solo) dan Batik Dayak (TiDaYu, Thionghoa-Dayak-Melayu).

Teknologi
Munculnya batik fraktal, dengan pola dihasilkan dari pemograman komputer mulai ramai disosialisasi saat era Menristek Kusmayanto Kardiman. Belum lagi perkembangan teknologi tekstil berikut bahan pewarnaannya dan juga teknik produksinya (printing) serta teknologi penyimpanannya  sebagai barang koleksi bernilai. Di lain pihak pemenuhan bahan baku dalam pembuatan batik modern pun masih menyimpan tantangan, dimana besaran kandungan impornya sangat besar mulai dari kain kualitas tertentu (untuk produk premium dan permintaan ekspor spt sutra dll),  kapas (bahan baku kain katun), pewarna kimia dan lilin.

Korporasi
Dukungan instansi/korporasi dalam bentuk menggunakan seragam, tema busana, juga pemberdayaan  dan usaha batik UKM-UKM  pada program dan acara-acara tertentu. Dengan demikain penyerapan konsumsi (permintaan) busana  batik memberi kontribusi positif terhadap bisnis dan memberi pesan visual , word of mouth berikut pengalamannya.

Individu
Saat ini tidak sedikit orang Indonesia di manca negara dalam berbagai acara sangat nyaman untuk menggunakan batik sebagai busana indentitas bangsa sekaligus kampanye budaya dan industri kreatif nasional. Begitu juga orang asing yang mengapresiasi batik dan juga yang ingin memiliki hubungan pertalian dengan karya seni  bahkan sudah dalam taraf menjadi kolektor. Turis asing pun yang ingin punya tanda mata dan keterikatan dengan Indonesia dalam format busana termasuk dapat diaplikasikan dalam format hubungan dagang (pebisnis asing dengan pebisnis Indonesia) juga dalam hubungan diplomasi (saat duta besar/kepala negara asing menghadiri acara di Indonesia). Mendiang Nelson Mandela menjadi contoh yang bagus pertalian hubungan individu (orang asing) dengan identias batik kita. Hal ini ditunjukan dengan konsistensinya menggunakan dan mengapresiasikan busana khas Indonesia ini salah satunya dibuktikan menjadi  pelanggan tetap butik Iwan Tirta.

Fashion Nasional
Dunia fashion nasional pun sudah mengakomodir busana batik dalam rencangan busana kontemporernya. Tidak hanya dalam corak, namun berbaur dinamis dalam balutan dengan busana kontemporer lainnya seperti balutan busana dengan blue jeans, sack dress batik, scarf batik dll. Belum lagi kolaborasi dengan brand internasional dalam rangka memasukan model batik pada portfolionya. Eksistensi batik dalam konsep fashion kontenporer diharapkan tidak kontra produktif dengan batik klasik yang sudah ada sejak dahulu, namun pada perkembangannya dapat berjalan dalam kolaborasi yang saling mengisi dan melengkapi sesuai denga perannya masing-masing.

Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementrian Koperasi dan UKM,Kementrian Perdagangan, Kementrian BUMN serta kementrian terkait lainnya menjadi penghubung, pasar luar negeri dan  korporasi dengan UKM-UKM serta mengedukasi masyarakat dalam melestarikan batik. Pemerintah juga harus memberi andil dalam perkembangan indutri kreatif  ini melalu menyediakan ifrastruktur yang pendukung seperti akses jalan, jembat, fasilitas tranportasi, pelatihan, pameran, sistem perdagangan yang kondusif dll.
Wacana saat ini seperti Batik Mark, semacam sertifikasi untuk pasar internasional semoga memberi kontribusi positif bagi semua pihak. Termasuk membendung batik cap impor  yang meresahkan pengrajin  lokal.

UKM
UKM sebagai unjung tombak bisnis, beri kontribusi agar batik tetap hidup dan berkembang. Baru-baru ini saya ke Bangkalan Madura, mendatangi sentra Batik Madura. Tempatnya di beberapa kawasan pemukiman, harus masuk gang pemukiman. Menariknya ada satu UKM yang masih di sekitar kawasan gang pemukiman, Tresna Art yang menggabungkan bisnis batik dengan kegiatan crowd sourcing seperti pelatihan membatik gratis pada hari tertentu serta pengunjung bisa merasakan budaya Madura mulai dari sajian gratis minuman dan camilan khas Madura, rumah joglo khas Madura, halaman buah dengan kicauan burung yang menghiasi kawasan pemukiman yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. UKM-UKM di ujung gang pemukiman ini pun menarik wisata luar negeri yang mampir di Surabaya berkat infrastruktur Jembatan Suramadu yang memungkinkan wisatawan mancanegara menjangkau sentra bisnis ini kurang dari dua jam perjalanan dari Surabaya.

Selain Batik Madura (batik proses gentong, sarimbit, manok dara ‘manohara’ dll) masih banyak lagi tentang batik nusantara, seperti Batik Solo, Batik Pekalongan, Batik Lasem, Batik Papua, Batik Gunung Merapi, Batik Salatiga, Batik Sidoarjo, Batik  Gresik, Batik Surabaya, Batik Dayak pasti masih banyak lagi yang belum disinggung satu per satu.

Waktu pertama kali ke sana hamparan ladang kering dan panas menyengat saat menyambut saat memasuki Pulau Madura kemudian mulai berganti dengan senyuman saat lewati teras rumah-rumah pinggir jalan dengan beberapa kain batik yang tengah dijemur serta dijajakan di  warung-warung kecil pinggir jalan. Ini menyakinkan saya (juga kita!) bahwa rakyat bisa hidup dari industri kreatif ini dengan segala sumber dayanya. Sumber daya yang dapat diperbaharui. Tidak terasa kunjungan hampir empat jam pun terasa singkat untuk menghantarkan kami untulk kembali pulang menuju Surabaya.

Lambaian jemuran kain batik yang menari-nari di teras rumah-rumah pinggir jalan, memberi salam sampai-jumpa hantarkan  kami meninggalkan Pulau Madura. Beri harapan industri kreatif ini bisa jadi lokomotif perekonomian rakyat, ekonomi rakyat yang juga menggerakan ekonomi nasional.  Rakyat makmur, ekonomi bangsa kuat.

Selamat Hari Batik Nasional  2 Oktober

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Whatever you do, respect comes first.

I recieved small card of four main values on my first day working at Nokia couple years ago. One of those values that I’m strongly believe [until now] that always be applied anywhere, anytime and with anyone.  It’s respect . It’s not so strange heard about it but will be mean a lot if it can be implemented correctly.

Before talking so far, I attached the meaning of  respect from Oxford Dictionary define respect: ” respect: ~ (for sb/sth) polite behaviour towards or care for sb/sth that you think is important.”It’s quite cover about respect.  I just wanna add another side of  it, not only with treat politely but correctly also and refer to above definition (from Oxford Dictionary) the entity of doing respect is somebody or something as :

somebody to somebody relationship (i.e : between people, people and his/her God)

somebody to something relationship (ie: people with system/environtment).

Sometimes, for the last entity (somebody to something) in particular almost without enough concern. First case, if somebody doesn’t feel brave to break traffic regulation due to any traffic police around him, that means respect as somebody to somebody entity ( in this case: he and traffic police). Second case, if there is no traffic police around him and he still don’t have willingness to break the traffic regulation, means he already give respect as somebody to something (in this case: he and system/traffic regulation). It applied on daily business, organization for instance respect employee to company culture  (somebody to something) in daily working.

Respect should be natural (not artificial). Of course people should be treat one another with respect no reserve!.  But sometimes some people treat respect based on their own particular interest. Don’t treat respect as comodity! If it happened, the respect can’t be implemented balance in proper proportion.

Respect will be empowered and growing together with wisdom as a part of our mature life. The wisdom will help to treat respect correctly in right time and right place. I learned how to treat respect and wisdom in any difference of opinion from my high school colleagues couple years ago. They (Nugoroho and Setiawan) have sharp different point a view in every scout movement race meeting. Always there are no meeting points between them due to they represent of two organisation that always be rival one another. What I learned from them, they kept maintain their personal relationship with respect eventhough they always opposited each other when they represented their organisation in any forums.

Based on the lesson learned above, whatever you do respect comes first.
“Respect the respect value by doing respect correctly and be humble!”
If you have any relevant things to share, I’m looking forward to your thought.

* This article  republished from my previous blog with some adjustment.

Image: the billboard around transit area Changi airport

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade. Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman di perusahaan multinasional, nasional serta startup pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen serta iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada JMZacharias.Com Strategi Bisnis & Teknologi . Anda dapat mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Consumer Insights : Pentingnya Pandangan Konsumen

Produk yang mutahir, laris di pasar sudah tentu merupakan kebanggaan tersendiri bagi pihak yang berada di balik terciptanya suatu produk tersebut. Hal ini tidak terkecuali bagi Doug Dietz, desainer alat pemindai yang berukuran besar MRI keluaran General Electric.
Kebanggaan tersebut  terus melengkapi kehidupan Doug sampai suatu saat kebangaan itu lenyap dan membuatnya  tercengang saat melihat seorang anak ketakutan saat menuju alat MRI yang kokoh berwarna putih tersebut. Kejadian ini sungguh membuatnya terpukul sekaligus mendorongnya melakukan redesain alat MRI khusus bagi pasien anak-anak. Sungguh beruntung Doug dapat langsung melihat apa yang terjadi sesungguhnya reaksi anak terhadap  produk yang didesainnya saat itu. Pengalaman menyakitkan ini merupakan pelajaran mahal, mampu dibayar dengan upaya dan desain baru yang spektakuler.

Apa yang terjadi di lapangan (baca: market/pasar) tidak serta merta  muncul memberi pesan jelas seperti contoh di atas. Lalu lalang data-data mentah dalam bermacam-macam konteks: visual, verbal, kasatmata namun dapat dirasa, untuk proses selajutnya ditampung, dipilah , diolah dan dirangkai menjadi informasi sebagai pendukung keputusan.

Suatu bagian dari program The Apprentice (UK TV Series) ketika seorang calon peserta magang dalam sebuah meeting mengatakan  produk yang akan dikembangkan berkualitas dengan keunggulan terbaik dan dengan yakin produk tersebut akan sukses di market. Sir Alan Sugar (mantan Chairman Amstrad) pun langsung memotong pembicaraan  tersebut sambil berujar “Yang harus Anda lakukan adalah pergi ke lapangan, dengar, lihat dan serap apa yang mereka (konsumen) rasakan dan inginkan!” Singkatnya, meminjam istilah dari Sean Devine  “Launch and Learn“.

Penjualan yang bagus pun bukan menjadi alasan untuk mengaibaikan consumer insights , karena proses bisnis tidak lepas usaha perbaikan  turus menerus (continuous improvementKaizen). Produk yang sedang dijual juga yang dikembangkan tentu harus bersinergi dengan  apa yang dirasakan, dipersepsikan, dibutuhkan, diharapkan oleh pengguna. Hal ini  yang dilakukan Apple (Divisi Music & Entertainment) dengan mengundang artis dan pemimpin di bidang entertainment seperti Harison Ford, Bryan Adams, grup musik metal Mötley Crüe untuk terlibat dalam memberi masukan berharga dari sisi pengguna terhadap produk-produk Apple  untuk industri musik & entertainment saat itu.

Ada contoh lain, entah bagaimana  caranya saya pun sering diminta  kru maskapai Singapore Airlines (on board) untuk mengisi berbagai kuisiner acak  dalam berbagai kesempatan. Sebagai penumpang yang  mendapatkan pelayanan prima selama ini, saya tidak ragu untuk menuliskan apresiasi, input, pandangan tentang pelayanan Singapura Airlines selama ini termasuk hal-hal lain yang masih kurang memuaskan, berhubungan dengan unsur need dan want saya sebagai penumpang. Saya pun tidak ragu untuk memberitahu mereka tentang layanan istimewa kompetitor  yang tidak mereka lakukan.

Di lain pihak secara fair, jika maskapai lain yang pernah saya tumpangi (melayani penumpangnya dengan baik) meminta masukan juga, tidak ada keraguan untuk membagi pandangan  terhadap layanannya beserta masukan  pembanding berkaitan layanan istimewa dari kompetitor  yang pernah saya tumpangi. Hal ini  baik untuk membangun iklim kompetitif secara konstruktif.

Kadang ada keengganan pada situasi tertentu seperti apabila diminta untuk memberi masukan dan saran, khususnya untuk  maskapai yang melekat kuat reputasinya dalam menelantarkan hak/kebutuhan penumpang karena adanya keraguan tentang itikad baik  untuk melakukan perbaikan usaha tersebut. Ini hanya contoh kecil gambaran bagaimana tidak efektifnya proses consumer insights di lapangan khususnya saat konsumen telanjur terkondisikan  bersifat apatis baik dalam bentuk komunikasi verbal, visual maupun alam bawah sadar (sub-consciousness).

Kemajuan teknologi informasi dengan internet sebagai motor penggerak menihilkan hambatan ruang dan waktu. Mendayagunakan program loyalti serta aplikasi online seperti kuisioner online, forum/komunitas, social media, web analytic meningkatkan efektifitas  dan optimasi pengolahan data sebagai bagian dari proses consumer insights . Strategi online di atas menjadi jamak dilakukan oleh perusahaan. Tak jarang ada yang “terperangkap” dengan hanya  menjadikannya sebagai crowd sourcing tanpa perencanaan  matang pengolahan lebih lanjut data-data yang melimpah  sebagai  tindak lanjut oleh pemegang merek (produk).

Starbucks merupakan salah satu perusahaan yang sukses mengelaborasikan keunggulan pendekatan online melalui mystarbucksidea. Portal yang berbasis cloud computing ini  berhasil menampung serta mengolah (dalam bentuk sesi diskusi) puluhan ribu saran dan ide dari pelanggan Starbucks seluruh dunia sebagaimana  tercatat  per 13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) dari portalnya http://mystarbucksidea.force.com

Product Ideas :

  • 32,563 Coffee & Esporesso Drinks ideas,
  • 3,319 Frappuccino® Beverages ideas,
  • 9,535 Teas & Other Drinks ideas,
  • 14,928 Food ideas,
  • 7,830 Merchandise & Music ideas,
  • 15,967 Starbucks Card ideas,
  • 2,717 New Technology ideas,
  • 10,508 Other Product  ideas

Experience Ideas :

  • 7,824 Ordering, Payment, & Pick-Up ideas
  • 14,065 Atmosphere & Locations ideas
  • 10,810 Other Experience ideas

mystarbucksidea

Tampilan portal Mystarbucks Idea beserta ide yang masuk per   13 Januari 2013 (22:47, UTC +7) .

Menjaring apa  yang dirasakan oleh pelanggan  (need & want-nya), dipadukan dengan  bagaimana kontribusi produk yang ditawarkan terhadap pengalaman mereka (user experience, Ux) merupakan inti dari pendekatan consumer insights . Salah satu faktor kunci proses yang strategis adalah bagaimana  pelanggan dengan senang hati dan bersikap partisipatif memberikan pandangan secara berimbang. Komplain dari pelanggan  merupakan aset berharga  untuk ditindaklanjuti secara obyektif. Mengapa berharga?

Sangat berharga dalam konteks untuk  proses klarifikasi, perbaikan layanan dan kualitas suatu produk. Serta tidak kalah kritikalnya jika ada pelanggan  tidak jadi komplain, memilih bersikap apatis dan mengambil keputusan untuk pindah ke kompetitor, sebuah switching cost yang murah bahkan mendekati gratis ditanggung oleh pesaing dan berkontribusi meningkatkan beban churn-rate.

Tidak Mudah serta Tidak Mustahil (TMTM)  mengimplimentasikan  proses consumer insights . Apakah melalui proses etnografi/netnografi, observasi , customer visit , serta in-depth interview. Serap dan  resapi spirit dalam melaksanakan  consumer insights . Pada akhirnya kualitas pengalaman konsumen dapat diukur (QoEQuality of Experience) dan berkontribusi penting pada seberapa dalam keterikatan pengguna terhadap produk (RoEReturn of Engangement). Paling tidak, dimulai dari belajar pengalaman sehari-hari  dari bentuk sederhana termasuk yang telah berlaku turun temurun seperti kalimat bijak yang terpampang pada dinding pintu keluar sebuah RM Padang, “Jika Anda puas beritahukan kepada kerabat Anda, bila tidak beritahukan  Kami.”

Bagaimana menurut Anda?

* image credit: Damian Brandon-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi. Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com . Anda mengubungi melalui tautan kami.

Byjmzachariascom

Visi Kemandirian DNA Industri Telekomunikasi Kita

Semaraknya pelaksanaan rangkaian kegiatan pilpres 2014 mulai pendaftaran capres-cawapres sosialisasi, kampanye, pemaparan visi dan program pemerintahan periode 2014-2019 sampai interaksi langsung capres-cawapres dengan rakyat, momentum ini pas untuk mengemukakan keinginan akan kemandirian (kedaulatan) bangsa ini terutama pada sektor-sektor yang berhubungan hajat hidup orang banyak (rakyat). Kali ini khusus pada bidang industri/bisnis telekomunikasi saja yang juga menyentuh hajat hidup orang banyak dan berkontribusi penting untuk perkekonomian dalam abad digital ini. Keinginan untuk memperkuat kemandirian DNA (Device, Network dan Application)  industri telekomunikasi kita tidak lepas untuk memperbaiki situasi dan kondisi sampai dengan  saat ini serta melanjutkan sekaligus meningkatkan hal-hal positif yang telah dilakukan.

DEVICE (Perangkat)

Perkembangan industri perangkat di tanah air perlu didukung dengan berbagai usaha contoh insentif & proteksinya terhadap usaha meningkatkan sektor ekonomi dan membuka lapangan kerja seperti investasi dalam membangun sentra manufaktur dalam memproduksi alat telekomunikasi. Kepastian akan kebijakan pemerintah yang jelas dan konsisten, harus dijalankan bersinergi antar  departemen dan pemerintah daerah terkait (pemda propinsi dan kabupaten kota) seperti insentif pajak dan ekspor impor, perijinan, ketersedian pasokan energi seperti suplai listrik, kebijakan tenaga kerja  dan kebijakan pemuatan konten/komponen lokal. Kejelasan dan keselarasan kebijakan sebelumnya dan akan datang (wacana) hendaknya tidak saling tumpang tindih apalagi kotra produktif. Masih segar dalam ingatan batalnya rencana investasi produsen ponsel termasuk yang terakhir kabar produsen asal Korea Selatan mengalihkan investasi pembangunan pabrik ponsel ke Vietnam bisa menjadi pelajaran berharga, dimana  insentif tax-holiday dan skema pajak yang tidak kompetitif seperti yang ditawarkan negara lain, serta besaran pajak impor komponen  dan  wacana ponsel akan dikenakan pajak barang mewah masih menjadi perhatian utama bagi investor.

Dengan efisiensi biaya yang dapat ditingkatkan, produktifitas dan pertumbuhan produk alat telekomunikasi akan berada pada grafik yang menunjukan tren positif dan harga ponsel pun dapat ditekan seekonomis mungkin dan rakyat pun punya akses pada opsi-opsi produk telekomunikasi yang ada. Beberapa tahun lalu (2005) badan yang menaungi asosiasi GSM se dunia pernah menggalakkan program ponsel murah untuk menjangkau daerah yang masih belum terkoneksi dalam programnya Connect the Unconnected.

Selain aspek ekonomi, kepastian hukum dalam kegiatan bisnis juga merupakan hal strategis yang perlu diprioritaskan. Kebijakan hukum dan implementasinya melindungi konsumen, distributor, pengecer yang berkerjasama dengan pemegang merek resmi (berijin);  dari pungutan liar pada jalur distribusi, barang-barang/komponen black market, ponsel rekondisi, pemalsuan sampai pelanggaran hak cipta.

NETWORK (Insfrastruktur Jaringan)

Efektifitas dari implementasi program kerja yang berkaitan dengan infrastruktur jaringan dimulai dari menata sumber daya yang ada seperti lebar pita frekuensi, area cakupan layanan, jumlah optimal dari  pemain di sektor industri dengan sumber daya frekusensi radio yang terbatas. Evaluasi manajemen frekuensi mulai dari keteraturan alokasi rentang frekuensi radio berikut dengan jenis usaha/bidang kerja pemegang ijin frekuensi, termasuk penertibatan frekuensi atau daya pancar yang tidak memiliki atau sesuai ijin peruntukannya.

Beberapa tahun terakhir efisiensi pada sektor operator telekomunikasi bergerak (nirkabel) berdampak pelepasan aset dan manajemen menara BTS, alih daya tenaga kerja ke perusahaan penyedia servis. Tumbuhnya bisnis model baru ini juga diikuti dengan pendirian perusahaan baru yang menggarap bidang baru ini, apalagi dengan jumlah operator pemegang frekuensi yang cukup besar jika dibandingkan dengan negara lain. Namun pada tahun terakhir  operator-operator mulai mengkonsolidasi dengan strategi akusisi, jumlah pemain berkurang, efisiensi setelah proses integrasi memberi dampak pada pengurangan jumlah infrastruktur yang (redudan/dobel) dan tentu saja memukul perusahaan penyedia alih daya serta juga penyedia infrastruktur seperti manajeman menara BTS dan penyedia infrastruktur lainnya.

Infrastruktur dalam kapasitasnya pendukung layanan informasi dan komunikasi pada wilayah Indonesia yang merupakan negara kepulauan, keberadaan satelit sangat strategis sebagai transmisi penghubung dari beragam alat komunikasi ini. Menurut ahli satelit, orbit satelit yang ideal adalah di sepanjang garis khatulistiwa dan penempatannya tidak berdasar letak status hukum geografis seperti di daratan, namun terbuka untuk setiap satelit baru bisa dipasangkan pada orbit tertentu yang masih kosong (siapa cepat dia dapat memilih opsi dari orbit lebih dahulu). Mengingat Indonesia yang mempunyai garis khatulistiwa yang panjang (bahkan mungkin terpanjang untuk suatu negara) dan pertumbuhan  jumlah penduduk (konsumen) yang tinggi, kebutuhan akan kapasitas transmisi satelit akan bertambah besar dengan potensi ekonominya serta jumlah satelit dan penempatannya pada orbit sepanjang khatulistiwa adalah suatu kebutuhan yang harus direncanakan dengan tepat.

Selain itu, upaya untuk meningkatkan ekonomi dan pendidikan dapat dilakukan  dengan program memperluas penetrasi broadband  ke luar jawa untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif via e-commerce serta mendapatkan pendidikan dan kesempatan yang sama untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi lewat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan sosial budaya dari penjuru bumi (global) yang dapat diakses secara online.  Kalaupun saat ini pemasangan infrastruktur telekomunikasi (BTS) pada pedalaman masih terkendala dengan biaya dan studi kelayakan ekonomis seperti return of investment dll, ada solusi baru yang dapat diterapkan oleh pemerintah dengan program khusus OpenBTS BTS berplatform open source dengan tingkat biaya dan peruntukkannya dapat ditekan untuk daerah yang tidak terjamah layanan komersial nirkabel. Dengan penyedian ponsel yang didukung infrastruktur di daerah pedalaman, akan memacu kegiatan ekonomi dimana peran bank juga sangat dibutuhkan. Bila infrastruktur perbankan secara fisik belum ada, infrastruktur perbankan secara online menjalankan peran bank secara fisik. Kisah sukses masyarakat di pedalaman Kenya yang kegiatan ekonominya di dukung dengan mobile banking yang dikenal dengan M-PESA bisa menjadi contoh disamping kisah sukses lainnya seperti petani dan nelayan India yang dapat memantau harga komiditasnya dari beberapa opsi pasar dan tempat lelang yang ada.

Efektifitas penggunaan bandwidth untuk layanan seperti  OTT (Over The Top layanan internet berbandwitdh besar yang menumpang infrastruktur telekomunikasi) terutama ke luar negeri perlu diatur dengan baik  profit sharing secara fair, serta juga  adanya lokalisasi server seperti untuk keperluan online messaging dalam negeri sehingga tidak perlu harus dikirim ke server pusat luar negeri setiap kali mengirim atau menerima pesan. Penggunaan bandwidth yang tidak efektif akan mempengaruhi cost-effective yang pada akhirnya juga membebani biaya yang harus dibayar konsumen (rakyat).

APPLICATION (Aplikasi)

Industri aplikasi saat ini sedang booming khususnya di emerging market Asia Pasifik khususnya ASEAN  dan perkembangannya bagus didukung dengan karakteristik bisnis yang bisa dimulai dari usaha sampingan dengan modal infrastruktur  terbatas sekalipun ditunjang dengan modal intektual (brainware) dari angkatan muda yang kreatif. Atmosfir keterbukaan informasi dan kebebasan berkreasi menjadi modal dasar dalam proses kreatif dan negara harus menjaminnya. Pada perkembangannya perlu intensitas dalam membantu tunas-tunas muda untuk bertumbuh dan bermetaforsa menjadi entrepreneur  yang didukung pemberian insentif khususnya perusahaan/UKM yang bergerak di sektor ekonomi kreatif, bantuan mentorship dari pelaku bisnis dan kesempatan kerjasama dengan lembaga dunia, venture capital yang turut menumbuhkembangan usaha bisnis putra bangsa. Indonesia pun kaya dengan SDM dengan kemampuan teknologi kreatif yang kompetitif dan diperhitungkan di market global. Berpuas diri dengan menjadi jadi tenaga kerja kreatif pada bisnis asing (content provider) yang dimilik oleh anak muda negara lain, bukan merupakan sikap yang heroik dalam membangun bangsa dengan segala pendayagunaan potensi yang dimiliki. Pada akhirnya kerjasama antar berbagai pihak seperti kerjasama tripatrit yang melibatkan pemerintah, swasta & lembaga penelitian/pendidikan dalam pengembangan proyek bersama, memberi kontribusi yang cukup signifikan meski dimulai dari hal-hal kecil  akan terus berkembang dan bersinergi serta saling memperkuat kemandirian dan kedualatan  bangsa beserta aset-asetnya.

Sekilas pemikiran untuk membanguna, memperkuat kedaulatan bangsa lewat kemandirian DNA telekomunikasi kita.

* image credit: dokumentasi pribadi saat bertugas di Sydney Australia

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi.  Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com

Byjmzachariascom

Menjadi Kreatif ? Siapa Takut !

Menjadi kreatif, siapa takut ! Tapi bagaimana melakukan prosesnya untuk menjadi kreatif ? Ada pertanyaan, keraguan berkaitan dengan menjadikan diri kita kreatif. Mengapa harus menjadi kreatif? Atau banyak alasan untuk menguatkan bahwa dirinya bukan tipe kreatif. Berikut ini ada 9 hal yang penting diperhatikan untuk menjadi kreatif :

1. Mengapa harus menjadi kreatif? Apa pentingnya?

Mulai dulu dari apa pentingnya menjadi kreatif, singkatnya mengapa harus menjadi kreatif. Dalam pengembangan produk sampai implementasi program marketing di lapangan, proses kreatif terkadang dikesampingkan dianggap sebagai kegiatan yang memakan waktu dan biaya, dibandingkan dengan proses bisnis lainnya yang tinggal mengikuti market trend setter yang ada (me too approach). Padahal kreatifitas dapat diposisikan sebagai faktor utama pengungkit terobosan suatu produk (baca inovasi) dengan pendekatan yang unik (out of the box).

2. Sisi kritikal dalam proses kreatif.

Albert Einstein pernah berkata “If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first fifty-five minutes determining the proper question to ask, for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes.” Dengan kumpulan pertanyaan (permasalahan) yang ada, coba jawab dengan solusi menyeluruh, menyentuh inti permasalahan termasuk dengan solusi pendekatan “nyeleneh” dengan [think out of the box] approach solution .

3. Sumber daya berkreatif.

Carmine Gallo dalam bukunya The Innovation Secrets of Steve Jobs mengatakan semakin beragam pengalaman dan pengetahuan, menghasilkan hubungan-hubungan (korelasi) di otak. Input-input segar dari korelasi tersebut menghasilkan asosiasi yang mengstimulasikan ide-ide kreatif. Tanamkan gagasan asosiasi dari pengalaman berbeda untuk mengaktifkan proses kreatif. Terbukalah terhadap pengalaman berbeda serta perlebar horison pandangan, informasi yang masuk serta pengetahuan. Banyak sarana untuk usaha ini melalui film, novel, musik dengan genre berbeda, melakukan petualangan perjalanan dan kegiatan lainnya yang menambah perbendaharaan asosiasi yang aktif dalam otak.

4. Metoda berkreatif.

Steve Jobs, sosok sentra di balik keunggulan produk Apple mengasosiakan ajaran Zen yang berkaitan dengan ketenangan (damai) terhadap problem suara berisik fan pada notebook, mengalirlah pada pertanyaan-pertayaan yang dapat diimaginasikan untuk mengungkit ide kreatif sbb:

-Mengapa? Mengapa fan pada notebook mengganggu ketenangan?
-Mengapa Tidak? Mengapa tidak jika fungsi fan dengan suara berisik digantikan alat lain (solusi lain) yang berhubungan fungsi fan sebagai penghantar panas (buangan dari energi listrik yang digunakan).
-Bagaimana Jika? Bagaimana jika mengganti fungsi fan dengan menciptakan sistem power Mac yang tidak menimbulkan panas tertentu sehingga menggantikan piranti fan.

Lalu munculah inovasi notebook Mac (Apple) tanpa fan ini, yang berarti tanpa suara berisik putaran fan, menjadi value produk Apple.

5. Meminjam dan meramu gagasan.

Steve Jobs berujar “Creativity is connecting things.” Connecting things, tindakan menghubungkan hal-hal dengan pendekatan asosiasi ini merupakan kata kunci proses kreatif yang tidak saja menciptakan ide baru namun juga mengelaborasi ide-ide kecil yang berserakan menjadi suatu ide besar (grand idea) yang dashyat. David Kord Murrays menyebutnya “meminjam kebrilianan” untuk saling meminjam ide, menghubungkan serta mengkombinasikan dan menyempurnakan ide-ide tersebut, sebagaimana yang dituangkan dalam buku Borrowing Brilliance. Contoh relevan dengan hal “meminjam kebrilianan” seperti MacSafe konektor listirk Mac yang diperkenalkan saat Mac World 2006. Idenya diadopsi dari konektor listrik penanak nasi yang digunakan di Jepang. Konektor penanak nasi tersebut menempal aman menggunakan magnet, sehingga jika kabelnya tersangkut kaki (tertarik) maka kabel konektor tersebut akan lepas hubungan magnetnya dan tidak menyebabkan penanak nasi ikut tertarik atau terbalik.

6. Jaringan pergaulan dan wawasan.

Salah satu cara untuk semakin kreatif dengan jalan memperluas lingkaran pergaulan sosial, bergaul dengan orang dengan latar belakang yang berbeda, sebagaimana pendapat Jonah Lehrer pengarang buku How Creativity Works. Lehrer menambahkan suatu studi dari 766 lulusan Stanford Business School yang membangun perusahaannya sendiri. Lulusan yang mempunyai lingkaran pergaulan dengan teman-teman yang beragam latar belakangnya, tiga kali lebih inovatif dibandingkan yang tidak memiliki teman yang beragam latar belakangnya. Kemampuan inovasi tersebut ditunjukan dengan sejumlah hak cipta dan merek yang mereka miliki.

7. Kerja otak dalam berkreatif.

Proses kreatif berhubungan erat dengan kerja otak tepatnya otak kanan. Neuro science merupakan disiplin ilmu mempelajari kerja dan fungsi otak yang berhubungan dengan aktifitas manusia. Untuk memahami bagaimana otak akan mendukung proses kreatif optimal, dimulai dari:

Bahan bakar otak (oksigen) agar tersedia cukup untuk kinerja otak. Mekanisme mengikat oksigen oleh hemoglobin dalam darah, didistribusikan melalui jantung ke otak, hendaknya didukung dengan olahraga (memperbaiki kemampuan VO2Max; kemampuan untuk menghirup O2 maksimal), makanan (termasuk yang mengandung asam lemak omega-3 seperti: ikan salmon) dan ruang yang cukup untuk sirkulasi udara.
Kesegaran otak yang berhubungan dengan waktu kerja dan waktu istirahat otak. Waktu istirahat otak sekitar 7-8 jam per hari dalam kondisi tidur deep dreamless sleep pada gelombang otak delta (delta state).
Pengalaman baru yang menyegarkan (refresh) kerja otak, terutama saat otak dalam kondisi puncak dalam waktu lama atau saat kondisi pikiran jenuh. Luangkan waktu untuk berjalan kecil meninggalkan meja kerja setiap 1,5 -2 jam sekali baik berjalan menuju kamar kecil, pantry untuk membuat kopi sambil bercengkrama dengan kolega , atau sejenak keluar gedung untuk menghirup udara segar merupakan kegiatan positif untuk membangkitkan kesegaran yang dibutuhkan dalam suatu proses kreatif. Ron Friedman dalam artikelnya menyebut secara neurological, momen untuk “bebas” sementara dari meja kerja adalah kesempatan hemisphere dari otak kita untuk hidup.

8. Pola pikir.

Ada faktor yang tidak kalah penting, yakni pola pikir (mind set). Kesimpulan penelitian yang dilakukan peniliti Univ. Harvard : pola pikir seseorang berkontribusi besar untuk menyakinkan seseorang apakah merasa dirinya kreatif atau tidak. Berpikir & bersikap positif (dalam hal ini: kreatif) dapat diaktulisasikan dalam berbagai cara termasuk melalui kegiatan afimasi (pengulangan keyakinan/tekad secara terus menerus), visualisasi (mengimaginasikan keyakinan/tekad) serta didukung perasaan/emosi (antusiasme), diharapkan pada pikiran bawah sadar tertanam keyakinan/tekad bahwa Anda kreatif serta mendorong melakukan kegiatan kreatif setiap saat. Untuk menjadi semakin kreatif dibutuhkan semakin banyak intensitas dan peningkatan kualitas kegiatan kreatif yang saling berkontribusi dengan pola pikir (mind set ) positif sebagai daya dorongnya.

9. Hambatan diri untuk berkreatif.

David Kelly (professor design Universitras Stanford) saat menjadi pembicara tamu TEDTalks memaparkan pentingnya proses untuk merubah suatu paradigma, contoh kasus eksekutif merasa bukan bertipe kreatif, David berujar “if they stick the process, they stick with it, the end of doing amizing thing and they surprissed them self just how innovative they and their team really are”. Semakin intens melewati proces untuk mengalahkan ketakutan (fear & self judgment: seperti phobia atau perasaan lain seperti tidak kreatif dll), semakin tinggi kepercayaan diri, semakin meningkat Self Efficacy. Metoda berkaitan rangkaian proses untuk mengalahkan phobia, meningkatkan Self Efficacy ini terbukti efektif dan telah teruji sejak dicetuskan oleh Albert Bandura (profesor psikologi Universitas Stanford).

Nah, bila hal penting berkreatif diperhatikan untuk menduking proses berkreatif termasuk segala sesuatunya lengkap (termasuk sumber daya) mendukung terciptanya proses kreatif, kreatifitas merupakan hasil yang pantas didapat. Kreatifitas bukan hanya domain perancang, pengembang produk atau marketer, namun kita semua lapisan masyarakat. Kreatifitas juga lah merupakan elemen penting manusia untuk hidup dan memberi kontribusi positif pada hidup.

Bukan kah untuk mengatasi permasalahan hidup kita harus kreatif juga?

Mau jadi kreatif  ? Siapa Takut !

* image credit: sixninepixels-freedigitalphotos.net

Tentang Penulis : JM Zacharias ( @jmzacharias ) saat ini berprofesi sebagai business strategist, berkarir profesional dalam bidang produk, sales dan marketing lebih dari satu dekade.  Pengalaman karir profesionalannya di berbagai industri meliputi retail, consumer electronic, teknnologi informasi dan telekomunikasi baik Business to Customer (B2C) maupun Business to Business (B2B). Dengan beragam pengalaman  di perusahaan multinasional dan nasional pada bidang teknologi, sales marketing dan manajemen. Iklim kerja lintas budaya antar bangsa dalam portofolio karirnya di  kawasan Asia Pasifik dan Asia Tenggara turut memperkaya wawasan dan melebarkan preperspektif untuk terus belajar dan berbagi.  Mengkomunikasikan ide dan strategi bisnis dilakukannya dalam bentuk artikel, pelatihan dan kegiatan konsultasi. Informasi detail dapat di lihat pada www.jmzacharias.com